Perjalanan ke Iran akhirnya terwujud. Tepatnya tanggal 6 Januari 2010 saya beserta istri berangkat menuju Iran dengan menggunakan pesawat Qatar Airways. Sore itu nyaris saja saya tertinggal, karena taksi yang menjemput saya menuju bandara Soekarno-Hatta dari rumah persinggahan di daerah Pondok Kopi milik seorang teman semasa SMA, tak kunjung tiba. Kendati taksi tidak juga muncul, waktu itu tidak ada perasaan khawatir, apalagi pengalaman selama menggunakan pesawat lokal, dan internasional menunjukkan keterlambataan jadwal keberangkatan. Oleh sebab itu, meskipun Qatar Airways menuju Iran harusnya akan berangkat pukul 18.15. WIB namun saat itu perasaan saya tetap tenang, selisih waktu yang tersisa masih cukup untuk mengantar saya hingga tiba di Bandara Internasional Sukarno-Hatta.
Sepemahamn saya masih ada selisih waktu satu jam lebih di Bandara Sukarno Hatta, dengan demikian berdasarkan pengalaman, maka saya memiliki masih cukup waktu. Saat taxi mulai meluncur dari Kebun Kopi menuju Bandara Internasional Sukarno Hatta, Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, Direktur ICAS yang berkebangsaan Iran menelpon, menanyakan posisi taxi yang saya tumpangi. Dengan Inggris aksen Iran dia menanyakan posisi saya dan menjelaskan dimana posisi dirinya. Kepadanya saya menjelaskan bahwa saya berada di taxi menuju Bandara Internasional Sukarno-Hatta, dan dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapai bandara. Sebaliknya diapun menjelaskan bahwa posisinya ketika itu telah mendekati Bandara, dan menurut perkiraannya saya akan terlambat. Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tahu benar berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai menuju pesawat terbang, mengingat perjalanan internasional sarat dengan berbagai pemeriksaan administrasi, ticketing dan bagasi yang keseluruhannya memakan cukup banyak waktu.
Kemudian ia menugaskan asistennya bernama Muhamad Nur kembali memastikan dimana posisi saya. Ketika itu sayapun mengatakan bahwa diperlukan waktu satu jam dari posisi saya ketika itu untuk sampai ke bandara. Taklama setelah itu, saya pun tiba di Bandara Sukarno-Hatta, kemudian segera konfirmasi tiket, mengurus begasi, dan di tempat yang sama seorang bule yang nampaknya bagian dari petugas Qatar Airways meminta saya untuk bergegas, katanya waktu tinggal 15 menit. Di depan petugas ticket saya mengatakan bahwa saya ingin menunggu seorang teman, langsung bule itu menjawab tidak bisa, karena tidak lagi ada waktu. Mengetahui hal itu saya pun menelpon Prof. Dr Fazeli menanyakan posisinya. Saat itu ternyata dia telah berada di entrance alias pintu masuk, namun karena saya tidak terlalu paham dengan apa yang dimaksudnya, maka saya pun celingukan mencarinya dari berbagai arah. Saya mengira entrance adalah pintu masuk ke bandara, sehingga sempat terbesit dibenak bahwa ternyata saya tiba lebih dahulu ketimbang sang Professor itu.
Setelah pengurusan tiket dan bagasi selesai saya menanyakan dimana saya harus membayar fiskal untuk bepergian ke luar negeri, kemudian petugas ticket menunjukkan tempatnya sehingga saya bersama istri sesegera mungkin mengurusnya. Dengan C1 dan menunjukkan NPWP, serta paspor biru saya pun akhirnya bebas biaya fiskal, meskipun saat mengurusnya petugas loket meminta saya menujukkan surat nikah bukan C1, akhirnya petugas pun dapat menerima penjelasan saya tentang C-1 itu. Kemudian saya bergegas, mengingat waktu semakin singkat menuju antrian loket pemeriksaan, dan saat tiba giliran petugas pun meminta saya dan istri mengisi formulir data identitas, dan keterangan passport.
Saat mengisi formulir kamipun sempat dibuat bingung atas pertanyaan yang terdapat pada formulir, meskipun pengisian semacam itu bukan pertama dan baru sama sekali, setidaknya pengalaman saya ke luar negeri sebelumnya membuat saya memiliki pengetahuan berkenaan dengan pengisian formulir seperti itu, lagi saya pun bertanya kepada petugas loket pemeriksaan, dan merekapun dengan senang hati membantu. Akhirnya kami berdua segera masuk, mencari gate menuju pesawat Qaatar Airways yang akan berangkat menuju Doha. Karena waktu makin singkat istri saya nampak sedikit cemas, apalagi perjalanan dari gate menuju pesawat cukup jauh karena di gate bernomor kecil. Tidak lama kemudian saya pun sampai ditempat pemeriksan ticket terakhir, kemudian naik ke dalam ruang pesawat. Seorang bule yang sebelumnya meminta saya bergegas karena waktu yang terbatas pun terlihat di loket pemeriksaan itu. Sayapun merasa tenang, meski pemeriksaan di situ meminta kami untuk membuka sepatu dan sebagainya.
Di loket pemeriksaan terakhir itu juga saya mendengar bule yang meminta saya bergegas berkata masih ada satu orang lagi yang ditunggu selain saya dan istri, demikian percakapannya dengan petugas pemeriksaan. Kemudian saya bersama istri menuju pesawat hingga menemukan nomor kursi kami, dan ketika itulah saya melihat Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tengah menyusun barangnya dalam sebuah locker yang tersedia, dan saya kemudian memegang badannya, tak lama dia kemudian memperkenalkan saya dan istri kepada istrinya.
Sayapun akhirnya siap berangkat ke Taheran bersama Prof. Dr. Seyyed Ahamad Fazeli dan keluarganya. Di dalam pesawat kami banyak berdialog, apalagi dia membawa serta anaknya yang lucu, yang terlihat imut, dan pemberani. Saya dan istri terhibur dengan prilaku anaknya itu. Prof. Dr. Fazeli pun bercerita banyak tentang rencananya kelak di Iran untuk kepentingan kegiataan Sabbatical Leave yang akan saya lakukan. Selama di udara istri saya sempat berpindah tempat duduk untuk bermain bersama puterinya yang masih berusia kecil dan lucu itu, mereka bermain dengan menggunakan bahasa masing-masing, nampak bahwa komunikasi bisa berlangsung dua arah.
Sementara kami berdialog, istri saya asyik bermain dengan si kecil puteri Prof. Dr. Fazeli, dan sesekali nampak istri sayapun berdialog dengan istri sang Profesor. Entah apa saja yang mereka bicarakan, karena kami berdua tengah asik mendiskusikan berbagai hal. Prof. Dr. Fazeli memberitahukan saya bahwa sesampainya di Bandara Imam Khomeini seseorang akan menjemput saya menuju asrama atau tempat tinggal yang telah dipersiapkan selama saya berada di Iran, khusunya di kota Qum. Ia juga akan mengatur pertemuan saya dengan para expert di lembaganya, yakni Universitas Al-Mustafa International. Dia juga menyebut beberapa nama diantaranya Dr. Haji. Selama dalam perjalanan dia menceritakan bahwa sistem pendidikan di Iran memungkinkan seseorang untuk benar-benar menjadi seorang scholar, bukan hanya sekedar mendapat gelar sarjana, BA, Master, doctor dan sebagainya.
Seorang scholar katanya bukan hanya seorang sarjana, dia adalah lebih dari itu, yakni produsen teori. Dia juga menjanjikan kepada saya untuk bertemu dengan beberapa exspert, diantaranya adalah expert yang menguasai masalah ekonomi sebagaimana yang akan saya kaji. Di minggu pertama mungkin saya harus menunggu terlebih dahulu, karena program baru mulai berjalan efektif setelah satu minggu. Dia akan menyiapkan segalanya bagi saya dan istri. Istrinya juga nanti akan mengajak istri saya mendatangi pusat kajian perempuan. Prof. Fazeli juga mengatakan bahwa agendanya selama satu bulan di Iran adalah seminar yang hasilnya akana menjadi bahan pembuatan policy bagi lembaga pendidikan dibawah naungan Jamiatul Mustafa seluruh dunia.
Perjalanan dari Jakarta menuju Doha yang memakan waktu lebih dari 5 jam itu akhirnya tiba jua. Pesawat landing di bandara internasional Doha. Kamipun turun dari pesawat menuju pos pemeriksaan untuk kemudian menunggu diruang transit selama beberapa saat, menunggu pesawat Qatar lain yang akan mengantarkan kami menuju bandara internasional Imam Khomeini. Selama menunggu saya pun memandangi arus penumpang yang sangat ramai, mereka memiliki berbagai tujuan. Namun di bandara Doha suasana Arab terasa sangat kental. Bahasa Arab telah menjadi bahasa konversasi dari orang-orang yang duduk di sekitar saya. Tidak lupa saya pandangi saudara-saudara saya setanah air yang mayoritas wanita, mereka rupanya TKW yang telah banyak berjasa memberi devisa kepada Negeri Pertiwi, dan tengah menanti pesawat menuju Yordania, dan beberapa menuju tempat lainnya. Memang sebelum kami singgah di Doha, di pesawat saya menyaksikan betapa jumlah mereka begitu mendominasi penumpang Qatar Airways. Seolah mereka mencharter pesawat yang saya tumpangi itu. Luar biasa.
Akhirnya waktupun tiba, pesawat yang membawa kami terbang menuju bandara Imam Khomeini akan segera diberangkatkan, dan kamipun bergegas checking tiket, kemudian menuju mobil bus yang mengantarkan kami menuju pesawat. Setelah beberapa saat menunggu di dalam bus kamipun segera naik kedalam pesawat dan saat itu saya pun berbeda seat dengan Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, kali ini seat kami berjauhan, tidak seperti sebelumnya, dimana kami duduk bersebelahan. Di pesawat saya melihat ada banyak wanita yang tidak berkerudung, dalam hati saya berkata bahwa mungkin mereka ini adalah orang Iran yang sudah lama tinggal di luar negeri dan ingin mengunjungi sanak familinya di Iran. Saya juga menyaksikan lelaki Arab atau Iran yang pergi bersama seorang teman wanitanya, meskipun dari segi usia tampaknya mereka berkisar 45-an tahun. Mereka berdua cukup akrab, dan si wanita agaknya bule, alias orang barat, karena logat Inggrisnya kental sekali. Ada juga wanita tua berjilbab yang pergi bersama keluarga besarnya. Di pesawat itu suasana Iran sudah mulai terasa kental.
Seperti biasanya, waktu santap makanan pun tiba. Para pramugari berwajah Asia dan pramugara berwajah Afrika dengan senyumnya yang ramah menjangkau kami dengan menawarkan makanan, dan minuman. Menjelang urutan saya, sayapun segera membangunkan istri yang tertidur pulas di sisi kanan saya, dengan maksud agar dapat memilih jenis minuman yang diinginkannya. Perjalanan yang menyenangkan itu tanpa terasa akhirnya membawa kami memasuki wilayah Iran, dan tak lama kemudian pilot pesawatpun mengumumnkan bahwa sebentar lagi pesawat mendarat di bandara Internasional Imam Khomeini. Para penumpang wanita pun mulai bergegas mengenakan tutup kepala, dengan rambut sebagian yang masih terurai. Pemandangan ini tampaknya persis seperti cerita teman-teman di Fisipol UGM yang sering bolak-balik mengunjungi Aceh Nanggro Darosalam. Dimana mentup wajah dan rambut merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap wanita yang hendak memasuki wilayah Aceh. Dalam hati saya berkata, ternyata di Iran kondisinya sangat longgar, toleran, ini persis saya saksikan pada diri wanita-wanita yang duduk di kiri depan saya, demikian juga wanita yang berambut agak blonde yang menurut perkiraan saya adalah wanita keturunan Iran yang telah bermukim lama di luar negeri.
Dalam hati saya mengucapkan Alhamdullillah, karena akhirnya sampai juga di negeri para mullah yang selama ini hanya saya kenal lewat berita televisi, cerita, dan bacaan-bacaan. Saya pun bergegas turun. Kamipun akhirnya berpisah lagi karena Prof Dr. Fazeli melewati pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang yang khusus warga negara Iran, sementara saya masuk dalam pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang asing. Sebelum berpisah, Prof. Dr. Fazeli juga mengatakan kepada saya bahwa pengurusan visa on arrival akan berlangsung sangat mudah, dia pun kemudian menunjukkan tempat pengurusan itu kepada saya, sembari mengatakan bahwa nanti ada seseorang yang akan menjemput kedatangan saya, serta langsung membawa ke asrama, setelah itu dia pun meninggalkan saya.
Kamipun meliwati pintu pengecekan, setelah pengecekan visa istri selesai, kini giliran saya yang menanyakan tempat pengurusan visa on arrival untuk satu bulan. Meskipun memakan waktu, akhirnya pengurusan itu pun selesai. Sejumlah uang Europa harus saya bayarkan di loket pengurusan visa meski pembayaran itu bisa dilakukan dengan dollar Amerika dengan jumlah setara. Beberapa orang anak muda Eropa yang juga mengurus visa on arrival sempat menanyakan problem saya, dialog kecil antar kamipun sempat berlangsung. Anak-anak itu ternyata memiliki kerjasama dibidang arsitektur dengan orang Iran, bahkan mereka menyebut kunjungannya ketika itu merupakan kunjungaan kedua kalinya.
Setelah semua urusan visa on arrival selesai, saya pun mencari istri yang sudah lebih dahulu berada di lantai bawah, rupanya ia telah siap dengan barang-barang bawaan kami yang ada dibagasi. Segera kamipun mengambil troli, menaikkan barang-barang di atas troli, dan segera menukarkan sebagian uang dollar yang kami miliki dengan uang real Iran. Upaya menukarkan uang dollar Amerika ke real Iran sebenarnya jauh hari sudah saya lakukan, namun ternyata di money changer Yogyakarta tidak tersedia, bahkan menurut salah seorang petugas money changer tersebut di Jakarta pun uang real Iran tidak tersedia. Setelah itu kami pun bergegas keluar, melalui pintu pemeriksaan barang bawaan. Saya pandangi seorang wanita cukup usia dengan mengenakan cadur (jilbab khas Iran) berwarna hitam bertugas memantau barang bawaan kami di pintu menuju kearah luar. Kemudian, kamipun akhirnya duduk menunggu petugas yang akan menjemput di atas bangku yang terjejer panjang dan bersaf-saf untuk para penunggu di bandara Imam Khomeini.
Berhadapan di tempat saya duduk tiga orang wanita mengenakan celanan panjang ketat, jeans berwarna biru, sepatu panjang, tampil sangat modis, nampaknya mereka juga tengah menunggu sanak keluarganya. Tiga wanita yang tampil modis itu mengingatkan saya pada mahasiswi-wahasiswi yang kerap saya lihat diberbagai pusat perbelanjaan atau mal-mal yang ada di beberapa kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Yogyakarta. Pemandangan tiga wanita Iran ini juga mengingatkan saya pada buku yang berkisah tentang pesona Iran yang ditulis sepasang suami istri Indonesia yang pernah bermukim delapan tahun di Iran. Dalam hati saya benar, wanita muda Iran jika sudah bersolek luar biasa, modis abis, gak jauh beda dengan wanita-wanita muda yang pernah saya lihat di mal-mal Indonesia, bahkan dengan tinggi badan yang melebihi wanita Indonesia, wanita Iran terkesan lebih berbeda.
Selama beberapa saat sayapun bertanya-tanya dalam hati, siapa yang akan menjemput saya. Apakah dia adalah sosok yang sudah saya kenal, atau dia adalah orang yang baru sama sekali. Saat itu penumpang yang sepesawat dengan saya nampak sudah tidak terlihat lagi, kebanyakan mereka sudah meninggalkan bandara, dijemput atau naik taksi meninggalkan bandara Imam Khomeini. Saya pun segera mencari Iran sell, sim card yang dianjurkan oleh Prof. Dr. Fazeli agar dapat berkontak dan berkomunikasi dengannya. Sayangnya di bandara saya tidak mendapatkannya, di sebuah coffee net yang seharusnya menjual ternyata setelah saya tanyakan tidak juga ada. Walhasil saya hanya bisa celingukan, menunggu dan menunggu. Terkadang terdengar beberapa kali suara seseorang petugas melalui pengeras suara memanggil nama yang mirip-mirip dengan ajaan nama saya, tetapi alamat dan tujuan tidak terdengar jelas, jadi saya tidak menganggap nama yang disuarakan adalah nama saya. Sampai suatu ketika, saat saya memutuskan untuk sholat, kemudian bergegas mencari tempat wudlu dan mushalla. Usai berwudlu, saya pun kemudian pergi mencari tempat ibadah, dan ternyata seseorang bertubuh gemuk, berwajah ke Arab-Arab-an menanyakan kepada saya “Supraga”, Qom. Akhirnya saya tanyakan dalam bahasa Inggris apakah orang yang dimaksudkan benar-benar adalah saya? Namun sayangnya, dia tidak bisa berbahasa Inggris.
Akhirnya saya lihat sehelai kertas yang dibawa bertuliskan Dr. Supraga, dan sayapun yakin kalau yang dimaksudkan adalah saya. Apalagi yang dituju adalah kota Qom, itu pasti saya. Demikian lah keyakinan saya, dan akhirnya saya pun mantab, sayapun segera menghampiri istri, dan segera begegas menuju mobil yang dikendarainya. Diluar bandara udara udara serasa dingin sekali, dan sayapun cepat mengenakan jacket yang telah saya persiapkan dari Jakarta. Setelah semua barang masuk di begasi, kamipun berangkat menuju Qom. Selama diperjalanan sesekali waktu saya menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa Inggris kepadanya, tetapi dia menjawabnya dalam bahasa Persia. Tetapi saya melihat lelaki tambun yang mengendarai mobil ini ramah. Dia juga menjelaskan kepada saya bahwa jalan yang tengah kami lalui adalah jalan menuju Qom. Disepanjang jalan saya melihat papan penunjuk yang menyebutkan bahwa kota Qom berjarak 90-an KM dari bandara Imam Khomeini.
Di sepanjang perjalanan menuju Qom, saya menyaksikan betapa lampu-lampu jalan menerangi jalan panjang menuju kota Qom. Ini fenomena yang tidak saya jumpai di Indonesia, sehingga kesan yang terasa adalah rasa aman di sepanjang jalan. Selain itu saya juga menyaksikan bahwa jalan yang saya lalui ternyata terpisah dengan jalan yang dilalui mobil-mobil berat seperti bus dan truck. Sepertinya ada pemisahan yang cukup tegas antara mana jalan yang dilalui kendaraan pribadi atau sedan, atau taxi dengan mobil truck, bus, dan mobil berat jenis lain, sehingga perjalanan jadi terasa nyaman. Sesekali saya menengok ke arah driver ternyata rata-rata kecepatan sebagaimana nampak pada jarum penunjuk kecepatan adalah berkisar 100-120. Lumayan kencang, dan di kiri kanan saya melihat hamparan perbukitan tandus dengan satu dua rumah yang nampak dari kejauhaan.
Kedatangan saya di bandara Imam Khomeini terbilang cukup pagi, yakni jam 4 waktu setempat, mulai terlihat jelas di mata saya bahwa setelah mencapai beberapa puluh kilo meter meninggalkan bandara, sang sopir yang bertubuh tambun dan ramah itu kelihatan mengantuk. Di suatu kedai kecil ia menghentikan mobil, dan mengambil posisi pinggir kanan untuk beberapa menit ia pun memejamkan matanya. Saya juga demikian, taklama setelah itu ia pun turun, mengajak saya untuk ikut bersamanya, meski dengan bahasa Persia yang tidak saya mengerti sama sekali. Ia turun dengan membawa sebuah gelas kosong yang sebelumnya tergeletak di depan speedo meter mobil yang dikendarainya, dan kemudian bercakap-cakap dengan penjaga warung untuk meminta segelas air panas. Tangki air panas yang dimasak dengan menggunakan listrik ternyata tidak memiliki persediaan air panas di pagi buta itu, dibutuhkan waktu sesaat untuk memasak air hingga mendidih, dan nampak ia pun meminta satu buah teh celup dari penjaga warung dan siap menyedunya bersama air panas yang telah dipersiapkannya.
Ketika itu saya pun mengambil dua kotak minuman rasa nanas, serta menawari sang sopir agar ikut mengambilnya. Kemudian saya pun segera membayar tiga kotak minuman rasa nanas. Tak berapa lama setelah air mendidih sopir itu kemudian mengambil sebungkus teh sedu yang dituangkan di dalam gelas bersama air panas. Ia juga mengambil sebungkus makanan sejenis kacang yang disantap bersama segelas teh panas di dalam mobilnya, setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota suci Qom. Sepenjang perjalanan itu sang sopir terlihat asik dengan segelas tehnya sembari mengelupasi kulit kacang dengan mulutnya. Satu persatu kancang pun habis disantapnya, kemudian kulitnyapun dilempar lewat cendela kaca mobil yang sengaja dibukanya lebar-lebar. Dan kulit kacangpun berhamburan bersama udara pagi yang dingin menusuk tulang. Di sepanjang perjalanan menuju kota suci Qom aku juga menyaksikan sopir mobil itu menjadi lebih rileks ditemani teh dan kacang, sampai tak terasa fajar pun mulai menyingsing melewati kegelapan. Ketika mulai memasuki kota Qom saya pun mulai melihat keramaian kota di pagi buta. Di pagi yang masih berselimut gelap itu , nampak mobil mulai ramai berlalu lalang. Taklama kamipun sampai di tempat yang dituju, yakni mustama’ Shahid Bahesti number two.
Apartemen internasional Sahid Bahesti, number two, dari luar dan dalam
Sesampainya di apartment sepertinya penjaga telah tahu kedatangan saya, dan langsung saja mereka membantu membawakan tas koper ke ruangan yang akan saya tempati. Sayapun mengucapkan terimakasih kepada sopir yang telah mengantarkan saya hingga sampai di apartement. Tidak lama kemudian kamipun bergiliran mandi, kemudian bersiap-siap istirahat, karena badan mulai terasa capai dan rasa kantukpun mulai tak terbendung lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar