Jauh hari sebelum berangkat ke Iran komunikasi saya berjalan relative bagus dengan rekan-rekan di Iran. Beberapa kolega di departmen sosiologi, Fakultas Ilmu sosial dan Kemanusiaan (Social Sciences and Humanities) terus membantu dan merespon saya melalui email yang saya tulis kepada mereka, terutama seputar keinginan saya untuk melakukan kegiatan sabbatical leave di department of Sociology, Faculty of Social Sciences and Humanities, University of Shiraz, Iran. Sebagai bentuk keseriusan mereka, maka sebelum memutuskan permohonan saya, rapat jurusan pun mereka adakan, intinya mereka menerima permohonan saya untuk melakukan kegiatan Sabbatical Leave di department Sociology, di universitas papan atas tersebut. Komunikasi via email terus saya lakukan, sebaliknya merekapun selalu membalas email yang saya kirimkan, meskipun terkadang balasan dari Iran sedikit agak lambat.
Sementara proses komunikasi via email berjalan, suatu kali seorang teman di Universitas Gadjah Mada, dari Fakultas Peternakan memberi saya kesempatan berkenalan dengan salah seorang rekannya dari Iran datang ke Universitas Gadjah Mada untuk menghadiri sebuah seminar Internasional. Ketika hari H seminar internasionalnya tiba, sayapun akhirnya bertemu dengan rekan teman saya dari negeri Iran tersebut, namanya adalah Dr. Nassiri, dari Ramin University, Ahwaz Iran. Pertemuan saya terbilang singkat dengannya, hanya berlangsung beberapa kali di selala-sela acara seminar yang padad di UGM. Dari beberapa sesi pertemuan dengan Doktor Iran tersebut, saya pun pernah pergi bersama keluarga mengantarkannya ke suatu pameran komputer di Yogya, rupanya ia bersama istri berminat melihat-lihat pameran komputer yang saat itu berlangsung di Yogyakarta expo center. Di sela-sela pertemuan itu saya menceritakan rencana saya untuk melakukan kegiatan Sabbatical Leave di Universitas Shiraz, Iran, dan sayapun menceriterakan proses komunikasi dengan kolega Sosiolog dari Shiraz University yang telah berjalan selama ini.
Ketika itu Dr. Nassiri pun berjanji akan membantu saya merealisasi rencana untuk pergi ke Shiraz University. Sayapun tidak tahu bagaimana caranya ia membantu? Apalagi saya sadar bahwa teman UGM saya itu berasal dari fakultas berbeda dan tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan disiplin ilmu yang saya geluti. Teman UGM saya, seorang Doktor dari Fakultas Peternakan itu cuma pernah berkata bahwa Dr. Nassiri itu punya banyak teman, katanya, mungkin saja dia akan mengontak teman-temannya yang memiliki relasi dekat dengan pengurus Department di Universitas Shiraz yang akan saya kunjungi.
Benar, setelah Dr. Nassiri kembali ke Iran diapun merekomendasi saya untuk menghubungi Prof. Dr. Shahvali, salah seorang temannya di Shiraz University.
Tak lama setelah itu, sayapun berkontak via email dengan Prof. Dr. Shahvali yang merupakan salah seorang tenaga edukatif di Shiraz University. Melalui email sayapun akhirnya tahu jika Prof. Dr. Shahvali adalah salah seorang dosen Fakultas Pertanian (agriculture) di Universitas itu, dan yang menarik dia pernah menjabat sebagai Direktur Kerjasama Internasional di Universitas tersebut, dan baru saja mengakhiri jabatannya itu setahun lalu. Tak lama setelah perkenalan itu Ia kemudian mulai membantu saya menghubungi orang-orang yang sebelumnya membantu saya di Department of Sociology di Shiraz University, yakni Dr. Saeid Zahed, dan Dr. Muqodas. Dan sayapun sejak itu terus mengabarkan kepada sang Profesor tentang perkembangan kemajuan pengurusan izin untuk mendapatkan an acceptance letter dari universitas tersebut. Dengan baik hati diapun membantu saya melalui updating kabar terbaru tentang progress pengurusan surat izin Sabbatical Leave saya, selain menginformasikan langkah yang telah dilakukannya dalam mempercepat penyelesaian pengurusan surat yang menjadi prasyarat untuk mendapatkan visa 3 bulan dari Kedubes Iran.
Sayangnya, sampai waktu saya harus berangkat ke Iran an acceptance dari Shiraz University itupun belum juga tuntas. Setelah beberapa waktu berada di Iran sayapun memberi pemberitahuan kepadanya melalui email, diapun senang sekali dan mengucapkan “Wellcome to Iran” setelah mengetahui bahwa saya akhirnya telah berada di Iran. Kendati saya akhirnya memutuskan untuk tidak sepenuhnya melaksanakan kegiatan Sabbatical Leave saya di Shiraz University, tetapi saya tetap berkeinginan melakukan kunjungan singkat, mendapatkan wawasan dan referensi dari Sociology Department di Shiraz University.
Diluar dugaan saya, Prof. Dr. Shahvali terus membantu saya untuk mewujudkan keinginan saya berkunjung ke Shiraz University dengan cara mengkontak koleganya di Sociology Department, dan terus mendorong dan menjembatani komunikasi saya dengan Jurusan Sosiologi, Faculty of Social Sciences and Humanities, Universitas Shiraz.
Dia juga menjelaskan pula bahwa di bulan Februari, tapatnya hari peringatan wafatnya Imam Ridlo (Reza) AS dia akan pergi ke kota Qom, berziarah ke makam Fatimah Ma’sumah, dan akan mengunjungi saya di apartment tempat tinggal saya. Benar, malam itu tepatnya tgl 14 Februari 2009 telpon saya pun berdering, dan diapun menanyakan alamat apartment saya, karena ternyata dia sudah berada di Ozodegon, tempat yang sebelumnya saya informasikan melalui sms kepadanya ketika saya telah berada di Iran.
Akhirnya diapun tiba di apartemen saya, dengan maksud untuk memberi penjelasan tentang berbagai hal yang akan memudahkan saya kelak jika mengunjungi Shiraz University. Tidak lama setelah kehadirannya di apartement ia meminta bantuan saya membooking hotel untuk bermalam, kemudian saya pun mencari bala bantuan pelajar Indonesia di sana yang pandai berbahasa Parsi untuk mencari hotel sebagaimana amanahnya, dan ternyata malam itu semua hotel penuh, dipadati pengunjung yang datang untuk berziarah ke Hazrat Fatimah Ma’sumah memperingati wafatnya Imam Reza. Rupanya para pengunjung hotel jauh hari telah membooking kamar sehingga tidak satupun tersisa.
Sayapun akhirnya menawarkannya tinggal di apartemen saya. Akhirnya diapun menerima tawaran itu, dan saya bersyukur karena saya sadar bahwa banyak informasi dan pelajaran yang bisa saya dapatkan bersamanya mesti cuma satu malam. Tentu kejadian ini menjadi pengalaman langka dan sangat berharga dalam hidup saya, apalagi tamu saya itu adalah seorang Professor senior, dengan pengalaman hidup yang panjang, baik di dunia akademik, maupun di dunia kehidupan nyata. Satu malam yang akan saya lalui bersamaanya pasti akan menjadi saat berharga dalam hidup saya, apalagi sejak dari awal saya merasakan bantuan sang Profesor ini dengan segala sikap dan kerendahan hatinya.
Bagi saya dia adalah seorang Professor yang langka. Seorang akademisi yang rendah hati. Bila suatu saat Tuhan mengizinkan, maka tibalah saatnya sayapun akan meraih gelar yang sama. Oleh sebab itu, kesempatan satu malam bersama sang Profesor akan menjadi media belajar istimewa yang tak terlupakan sepanjang waktu. Saya telah mendapatkan begitu banyak pelajaran berharga. Itulah Prof. Dr. Shahvali. Ia adalah secercah lentera di dalam perjalanan hidup saya.
Rabu, 17 November 2010
Gereja, Sinema, Tochal, dan Taxi Honum
Di mata kebanyakan orang asing Iran merupakan negeri yang tidak banyak dikenal. Informasi lengkap tentang apa dan bagaimana negeri para mullah ini tidak banyak diketahui orang. Tak terkecuali saya sebagai bagian dari masyarakat muslim Indonesia, yang juga dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Suasana dan warna Iran sebagaimana muncul di berbagai siaran televisi di Tanah Air merupakan produk konstruksi berbagai media internasional seperti Voice of Amerika (VOA), British Broadcasting Coorporation (BBC) yang cenderung menciterakan Iran sebagai negeri yang dikelola oleh sebuah pemerintahan yang represif, otoriter, anti-demokrasi, terbelakang dan masih banyak stereotif lainnya yang serba negative.
Sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memang amat disayangkan, karena hingga detik ini informasi kita tentang dunia muslim lainnya di berbagai belahan dunia masih amat bergantung dari media barat. Kalau toh ada media tandingan Barat, TV kita juga cenderung bersandar pada Al-Jazeera, karena sejauh ini program siaran TV ini dianggap sedikit lebih imbang ketika memberitakan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia muslim, meskipun di mata orang Iran media ini dianggap masih berat sebelah, meskipun jauh lebih baik dibanding dengan media barat dalam sisi pemberitaan.
Di mata barat jelas bahwa Iran adalah negara terbelakang, tidak aman, sarang teroris, dan kesemua pencitraan ini sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan riilnya. Demikianlah yang saya alami pada saat saya berada di Iran selama beberapa bulan. Saya kagum, terhdap keuletan bangsa Iran ketika menghadapi sangsi internasional yang datang bertubi-tubi menghunjamnya. Sepertinya tidak salah jika saya berpandangan bahwa bangsa ini sungguh-sungguh mempraktekkan spirit agama yang selalu meyakini pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan itu juga yang tampaknya telah mendidik mereka menjadi handal dalam mengubah sangsi menjadi peluang. Setidaknya terbukti dengan berbagai capain yang telah mereka raih sejauh ini di bidang sains, sosial mupun politik internasional.
Tidak banyak orang tahu bahwa dinegeri yang berideologi Islam ini, berbagai kebebasan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam bidang agama misalnya, saya setidaknya menyaksikan keanekaragaman agama, dimana masing-masing memiliki hak hidup, misalnya terjadi pada Agama Yahudi, Zoroaster, dan Kristiani. Memang orang Yahudi di Iran menurut informasi yang ada sangat eksklusif. Agama mereka juga tidak ditujukan kepada semua orang, melainkan hanya untuk mereka sendiri. Di zaman Shah Reza Pahlevi peran pedagang kaya Yahudi dalam memberikan dukungan terhadap rezim Iran yang otoriter sangat besar, mereka, sebagaimana ditulis para pengamat, diam-diam menjalankan dukungannya dalam bentuk support financial dan supply informasi seputar keadaan dalam negeri kepada Shah, Amerika dan Israel. Oleh sebab itu, di masa pergolakan revolusi Imam Khomeini sangat mengontrol ketat gerak-gerik mereka. Kendati demikian, setelah kemenangan revolusi islam keberadaan mereka tetap dilindungi.
Selain itu saya juga sempat kaget melihat sebuah gereja Armenia di kota Taheran yang berdiri megah dipinggir sebuah jalan utama. Sejauh ini eksistensi gereja tersebut aman. Letaknya tidak jauh dari toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan belanja bagi orang Asia, seperti cabai, beras, ikan, kecap, tempe, dll.
Tidak hanya itu saja, di Iran ternyata saya menemukan bioskop yang tersebar dibeberapa daerah, di Shiraz misalnya saya menemukan banyak bioskop di tempat-tempat keramaian kota, demikian juga di Esfahan.`Padahal semula saya menyangka pemimpin revolusi dan pemerintah melarang kehadiran cinema. Bioskop-bioskop tersebut pada umumnya memutar film-film produk dalam negeri. Untuk soal kualitas film produk Iran jangan ditanya. Mereka telah memiliki sutradara-sutradara handal, yang kerap memenangi berbagai penghargaan internasional. Film-film mereka biasanya berangkat dari ide sederhana, menyangkut persoalan kehidupan sehari-hari, namun kemampuan sutradara mengeksplorasi gagasan sederhana menjadi rancak ditonton ini menjadi salah satu kehandalan sutradara Iran. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran film-film yang diproduksi sutradara mereka nampak memang begitu menggetarkan jiwa. Oleh sebab itu, waktu saya di Taharan sayapun menyempatkan diri berburu produk film karya sutradara Iran yang namanya telah mendunia itu. Judulnya seperti: The Color of God, The Song of Sparrows, M Like Mother, dll.
Tentu cinema merupakaan salah satu tempat hiburan yang ada di Iran, selain itu masih ditawarkan beberapa tempat hiburan lain, seperti objek wisata bersejarah, pemandangan alam, objek wisata spiritual, dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu objek wisata pemandangan alam menarik di Taheran adalah Tochal. Ini adalah arena rekreasi dan sekaligus arena sport. Sebagai arena rekreasi saya menyaksikan banyak pengunjung yang bersantai di kedai-kedai sambil menikmati pemandangan indah dari atas pegunungan. Di lokasi ini saya juga melihat ekspresi orang lebih leluasa, meskipun para pengunjung wanita tetap mengenakan penutup aurat, terutama kerudung, namun ditempat ini para wanita nampak lebih ekspresif. Tidak jarang saya melihat wanita muda tengah berdiskusi, bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Di arena ini juga saya menjumpai banyak wanita muda dan setengah tua merokok dengan santai, sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan di kedai-kedai. Di bagian lain, masih di tempat objek wisata yang sama, saya melihat banyak mobil sedan lalu-lalang dengan begasi berisi sepatu sky. Di Tochol ini terdapat deretan pegunungan yang puncaknya masih ditutupi salju, sehingga cocok bagi mereka yang suka berselancar dengan papan ski. Sayangnya saya hari itu gagal mencapai puncak gunung tempat anak muda bermain sky, karena kebetulan hari itu bertepatan dengan suasana tahun baru atau Nooroz. Dan sayapun menemukan tidak ada penjual ticket yang bekerja, sehingga saya pun gagal suasana bermain sky anak muda. Mungkin para penjual tiket tengah menikmati suasana libur tahun baru (nooroz) bersama keluarga di rumahnya masing-masing.
Satu lagi fenomena menarik di Iran adalah keberadaan jasa taxi yang pengemudinya para wanita (taxi honum). Jika anda pergi ke kota Qom, anda akan dengan mudah mendapati jasa taxi wanita ini. Biasanya salah satu tanda pembedanya adalah pada warna taxi yang mereka kendarai berwarna hijau, sementara bagi pengendara taxi lelaki, warnanya kuning. Namun perbedaannya diantara kedua penjaja jasa angkutan ini adalah penjaja taxi wanita tarifnya lebih mahal dibanding pria. Saya tidak tahu persis mengapa ada perbedaan tariff di antara keduanya. Yang jelas untuk orang yang masih buta seluk beluk kota Qom taxi wanita biasanya lebih aman. Mereka akan sangat membantu sampai anda menemukan tempat tujuan anda dengan tariff yang pasti dan jauh dari kesan menipu, meskipun kalau anda mujur penjaja taxi priapun terkadang ada yang sama sopan dan baiknya pada tamu dan pendatang baru yang belum mengenal seluk beluk kota Qom. Sementara dari sisi kecepatan, pengemudi taxi wanita tidak kalah kencang dan ngoboinya saat mengendarai taxinya di jalan raya. Seorang mahasiswi sosiologi di Shiraz sambil tertawa memberi tahu saya bahwa juara balap mobil peringkat satu di kota Shiraz bukan lelaki, melainkan wanita. Sayapun akhirnya lama kelamaan bisa mempercayainya. Sayangnya untuk pengendara taxi wanita saya tak berkesempatan mendapatkan dokumentasinya. Karena saya tak ingin berurusan dengan hukum jika mengambil gambar tanpa izin pengendara wanita bersangkutan. Saya berharap lain kali, jika berkunjung lagi ke sana.
Sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memang amat disayangkan, karena hingga detik ini informasi kita tentang dunia muslim lainnya di berbagai belahan dunia masih amat bergantung dari media barat. Kalau toh ada media tandingan Barat, TV kita juga cenderung bersandar pada Al-Jazeera, karena sejauh ini program siaran TV ini dianggap sedikit lebih imbang ketika memberitakan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia muslim, meskipun di mata orang Iran media ini dianggap masih berat sebelah, meskipun jauh lebih baik dibanding dengan media barat dalam sisi pemberitaan.
Di mata barat jelas bahwa Iran adalah negara terbelakang, tidak aman, sarang teroris, dan kesemua pencitraan ini sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan riilnya. Demikianlah yang saya alami pada saat saya berada di Iran selama beberapa bulan. Saya kagum, terhdap keuletan bangsa Iran ketika menghadapi sangsi internasional yang datang bertubi-tubi menghunjamnya. Sepertinya tidak salah jika saya berpandangan bahwa bangsa ini sungguh-sungguh mempraktekkan spirit agama yang selalu meyakini pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan itu juga yang tampaknya telah mendidik mereka menjadi handal dalam mengubah sangsi menjadi peluang. Setidaknya terbukti dengan berbagai capain yang telah mereka raih sejauh ini di bidang sains, sosial mupun politik internasional.
Tidak banyak orang tahu bahwa dinegeri yang berideologi Islam ini, berbagai kebebasan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam bidang agama misalnya, saya setidaknya menyaksikan keanekaragaman agama, dimana masing-masing memiliki hak hidup, misalnya terjadi pada Agama Yahudi, Zoroaster, dan Kristiani. Memang orang Yahudi di Iran menurut informasi yang ada sangat eksklusif. Agama mereka juga tidak ditujukan kepada semua orang, melainkan hanya untuk mereka sendiri. Di zaman Shah Reza Pahlevi peran pedagang kaya Yahudi dalam memberikan dukungan terhadap rezim Iran yang otoriter sangat besar, mereka, sebagaimana ditulis para pengamat, diam-diam menjalankan dukungannya dalam bentuk support financial dan supply informasi seputar keadaan dalam negeri kepada Shah, Amerika dan Israel. Oleh sebab itu, di masa pergolakan revolusi Imam Khomeini sangat mengontrol ketat gerak-gerik mereka. Kendati demikian, setelah kemenangan revolusi islam keberadaan mereka tetap dilindungi.
Selain itu saya juga sempat kaget melihat sebuah gereja Armenia di kota Taheran yang berdiri megah dipinggir sebuah jalan utama. Sejauh ini eksistensi gereja tersebut aman. Letaknya tidak jauh dari toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan belanja bagi orang Asia, seperti cabai, beras, ikan, kecap, tempe, dll.
Tidak hanya itu saja, di Iran ternyata saya menemukan bioskop yang tersebar dibeberapa daerah, di Shiraz misalnya saya menemukan banyak bioskop di tempat-tempat keramaian kota, demikian juga di Esfahan.`Padahal semula saya menyangka pemimpin revolusi dan pemerintah melarang kehadiran cinema. Bioskop-bioskop tersebut pada umumnya memutar film-film produk dalam negeri. Untuk soal kualitas film produk Iran jangan ditanya. Mereka telah memiliki sutradara-sutradara handal, yang kerap memenangi berbagai penghargaan internasional. Film-film mereka biasanya berangkat dari ide sederhana, menyangkut persoalan kehidupan sehari-hari, namun kemampuan sutradara mengeksplorasi gagasan sederhana menjadi rancak ditonton ini menjadi salah satu kehandalan sutradara Iran. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran film-film yang diproduksi sutradara mereka nampak memang begitu menggetarkan jiwa. Oleh sebab itu, waktu saya di Taharan sayapun menyempatkan diri berburu produk film karya sutradara Iran yang namanya telah mendunia itu. Judulnya seperti: The Color of God, The Song of Sparrows, M Like Mother, dll.
Tentu cinema merupakaan salah satu tempat hiburan yang ada di Iran, selain itu masih ditawarkan beberapa tempat hiburan lain, seperti objek wisata bersejarah, pemandangan alam, objek wisata spiritual, dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu objek wisata pemandangan alam menarik di Taheran adalah Tochal. Ini adalah arena rekreasi dan sekaligus arena sport. Sebagai arena rekreasi saya menyaksikan banyak pengunjung yang bersantai di kedai-kedai sambil menikmati pemandangan indah dari atas pegunungan. Di lokasi ini saya juga melihat ekspresi orang lebih leluasa, meskipun para pengunjung wanita tetap mengenakan penutup aurat, terutama kerudung, namun ditempat ini para wanita nampak lebih ekspresif. Tidak jarang saya melihat wanita muda tengah berdiskusi, bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Di arena ini juga saya menjumpai banyak wanita muda dan setengah tua merokok dengan santai, sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan di kedai-kedai. Di bagian lain, masih di tempat objek wisata yang sama, saya melihat banyak mobil sedan lalu-lalang dengan begasi berisi sepatu sky. Di Tochol ini terdapat deretan pegunungan yang puncaknya masih ditutupi salju, sehingga cocok bagi mereka yang suka berselancar dengan papan ski. Sayangnya saya hari itu gagal mencapai puncak gunung tempat anak muda bermain sky, karena kebetulan hari itu bertepatan dengan suasana tahun baru atau Nooroz. Dan sayapun menemukan tidak ada penjual ticket yang bekerja, sehingga saya pun gagal suasana bermain sky anak muda. Mungkin para penjual tiket tengah menikmati suasana libur tahun baru (nooroz) bersama keluarga di rumahnya masing-masing.
Satu lagi fenomena menarik di Iran adalah keberadaan jasa taxi yang pengemudinya para wanita (taxi honum). Jika anda pergi ke kota Qom, anda akan dengan mudah mendapati jasa taxi wanita ini. Biasanya salah satu tanda pembedanya adalah pada warna taxi yang mereka kendarai berwarna hijau, sementara bagi pengendara taxi lelaki, warnanya kuning. Namun perbedaannya diantara kedua penjaja jasa angkutan ini adalah penjaja taxi wanita tarifnya lebih mahal dibanding pria. Saya tidak tahu persis mengapa ada perbedaan tariff di antara keduanya. Yang jelas untuk orang yang masih buta seluk beluk kota Qom taxi wanita biasanya lebih aman. Mereka akan sangat membantu sampai anda menemukan tempat tujuan anda dengan tariff yang pasti dan jauh dari kesan menipu, meskipun kalau anda mujur penjaja taxi priapun terkadang ada yang sama sopan dan baiknya pada tamu dan pendatang baru yang belum mengenal seluk beluk kota Qom. Sementara dari sisi kecepatan, pengemudi taxi wanita tidak kalah kencang dan ngoboinya saat mengendarai taxinya di jalan raya. Seorang mahasiswi sosiologi di Shiraz sambil tertawa memberi tahu saya bahwa juara balap mobil peringkat satu di kota Shiraz bukan lelaki, melainkan wanita. Sayapun akhirnya lama kelamaan bisa mempercayainya. Sayangnya untuk pengendara taxi wanita saya tak berkesempatan mendapatkan dokumentasinya. Karena saya tak ingin berurusan dengan hukum jika mengambil gambar tanpa izin pengendara wanita bersangkutan. Saya berharap lain kali, jika berkunjung lagi ke sana.
Selasa, 16 November 2010
Suara Pluralisme Mahasiswa dari Universitas Shiraz
Universitas Shiraz merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas milik pemerintah di Iran. Banyak anak muda yang bermimpi dapat berkuliah di universitas ini, meskipun untuk mendapatkan kursi di sini mereka harus menyisihkan para pesaing lainnya. Bilaa berhasil menyisihkan para pesaing dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa,, maka berbagai bentuk beasiswa dan bantuan akan diberikan kepada para mahasiswa. Bukan haanya itu saja, sebagai universitas papan atas berbagai fasilitas pun ditemukan di sana, yang berupa pemandangan yang indah, tertata rapih, asrama mahasiswa, perpustakaan yang relative memadahi, cafeteria universitas yang bersih, berbagai fasilitas olah raga, dan bus kampus yang siap hilir mudik mengantar mahasiswa yang bergerak hampir setiap menitnya. Suasana akademik di kampus ini pun denyutnya amat terasa dengan kehadiran berbagai kegiatan intelektual seperti seminar, pameran berbagai jenis bungaa dan tanaman hias. Kesemarakan kampus juga makin Nampak dengan adanya berbagai macam baliho dan spanduk tawaran kegiatan akademik.
Berbagai gedung yang menjulang tinggi amat banyak saya temukan di sana. Gedung-gedung itu sebagaian besar seolah tanpa cat pewarna, pendek kata di lingkungan kampus ini saya menemukan adanya perencanaan atau tata kampus yang terencana dengan baik. Menurut beberapa orang mahasiswa yang selalu bersama dengan saya saat berada di Universitas Shiraz, memang kampus mereka dahulunya merupakaan kampus kesayangan Shah Iran. Oleh sebab itu Nampak bahwa dari segi pemilihan lokasi kampus pun diperhatikan oleh shah, yakni di daerah perbukitan, sehingga kemegahan kampus shiraz sudah nampak dari jarak kejauhan. Sejumlah mahasiswa yang selalu menyertai saya pun bercerita bahwa Shah Iran banyak meniri model-model gedung di kampus dari universitas yang ada di Prancis.
Selama berada di kampus shiraz sayapun menyempatkan diri untuk melksanakan berbagai kegiatan akademik, seperti memberi seminar, mengikuti seminar, berpartisipasi dalam kegiatan kuliah tertentu, menghadiri ujian terbuka doktoral, dan lain-lain. Salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah mendatangi seminar bertema seputar dampak revolusi Islam di dunia. Saya tertarik mengunjungi seminar, disebabkan berbagai alasan, seperti: thema yang ditawarkan menarik, pembicaranya juga adalah seorang Doctor filsafat berkebangsaan Spanyol yang dimasa lalunya merupakan pengikut setia ajaran komunis dan kemudian mengkonversi diri menjadi seorang penganut Islam Shi’ah, pernah tinggal di Iran selama belasan tahun, dan presentasi researchnyapun disampaiakan dalam bahasa Persia.
Sebagai orang asing saya juga kerap bertegur sapa dengan mahasiswa Iran dari berbagai latar belakng fakultas. Saat saya duduk di depan masjid masih di kompleks kampus Universitas Shiraz, dua orang mahasiswa fresh student dari Fakultas Pertanian pun menyapa saya. Keberanian mahasiswa Iran, dan orang Iran pada umumnya untuk menegur sapa orang asing seperti saya terlebih dahulu nampaknya mengisyaratkan rasa ingin tahu dan rasa percaya diri mereka yang kuat. Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang biasa-biasa saja ternyata mahasiswa-mahasiswa tersebut berani mengajak berkenalan dengan orang asing seperti saya. Pengalaman ini setidaknya saya alami berulang kali, bahkan di dalam bus yang kerap sayaa tumpangi di kampus sekalipun.
Di lingkungan kampus Shiraz University saya menemukan pemandangan yang berbeda dengan apa yang saya saksikan di Qom. Di Shiraz University segala bentuk relasi antar mahasiswa terasa lebih longgar, mahasiswa dan mahasiswi relative dapat berdiskusi di antara mereka. Demikian juga suasana apabila kita ada di dalam bus kampus, sekat pembeda antara lelaki dan perempuaan juga relative lebih longgar. Kadang-kadang, kursi bus yang seharusnya menjadi tempat mahasiwi, ternyata seringkali diduduki oleh rombongan mahasiswa. Mungkin karena di dalam teritori kampus, sehingga membandingkan keadaaan diseeputar kampus dengan lingkungan diseputar Qom tidak tepat. Tetapi secara umum suasana masyarakat di Shiraz sangat berbeda. Pengalaman saya memnunjukkan bahwa di Shiraz ketika saya menemukan kesulitan, misalnya saat saya hendak membeli perangko untuk koleksi, maka seorang wanita muda bahkan siaap sedia menunjukkaan dimana tempat untuk mendapatkannya. Ternyata pengalaman saya ini juga dialami oleh seorang pelajar agama Indonesia asal Siduarjo, yang mengatakan bahwa orang-orang Shiraz memang jauh lebih lembut dibandingkan orang Qom. Mungkin kaarakter budaya ini dibentuk oleh iklim dan lingkungan fisik geografis yang secara diametral berbeda pada kedua daerah tersebut.
Seorang mahasiswi di Shiraz juga dalam dialog bersama saya dan istri sebanarnya bertanya mengapa harus ada pemisahan antara lelaki dan perempuan di dalam bus. Karena baginya bagaimanapun juga lelaki adalah sesame makhluk Tuhan yang baik. Dari dialog kecil bersamanya saya juga merasakan bahwa sang mahasiswi memang tengah mengritisi berbagai aturan yang dipersepsinya sebagai pengekangan terhadap kebebesan. Atas pertanyaannya saya justeru membandingkannya dengan Indonesia, yang belakangan ini seringkali menghadapi banyak pengaduan tentang adanya kasus pelecehan seksual di dalam bus akibat tidak ada aturan pembeda antara lelaki dan perempuan. Atas jawaban saya itu nampaknya sang mahasiswi ini tidak puas, dia terus mengajukan gugatan bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Tuhan. Dalam pandangan saya mahasiswi ini sebenarnya sedang berada dalam proses pencarian jati diri, sehingga terus mengkritisi berbagaai keadaan yang ada di seputarnya.
Selain seorang mahasiswi yang masih duduk di tingkat master di salah satu fakultas ilmu humaniora, saya juga selama di berada di kamapus berkenalan dengan beberpa mahasiswa, mereka dengan antusias bercerita tentang masalah sosial politik yang tengah actual di masyakat. Mereka juga menceritakan suasana panas saat pemilihan Presiden di Iran beberapa waktu yang lalu. Pertarungan antara kubu reformis dan lawannya yang tradisional. Kebanyakaan mereka memang sangat kritis terhadap pemerintahan Ahmadinejad yang sedang berkuasa, selain itu mereka juga mengkritisi elit agama yang mendukung pemerintahan Ahmadinedjad. Bahkan di antara mahasiswa yang bersemangat itu ada yang saat ini masih menjalaani hukuman dalam bentuk pengisolasian asrama tempat tinggalnya ke lokasi yang sedikit lebih jauh jaraknya dari kampus shiraz. Ini konon akibat ulahnya dalam menentang dan mengkritik kelompok berkuasa.
Saya tentu saja tidak bisa berbicara banyak terhadap mereka, yang saya bisa lakukan adalah hanya mendengarkan berbagai cerita dan keluhan mereka. Sebagai seorang dosen yang pernah terlibat dalam dunia aktivis mahasiswa saya juga pernah mengalami hal serupa, terutama di era Suharto, betapa saat itu kejengkelan terhadap rezim berkuasa begitu besar, terutama melihat sepak terjang keluarganya yang memonopoli hampir semua aspek ekonomi dan politik yang menguasai hajat hidup orang banyak. Saya ketika itu bersama dengan kebanyakan para aktivis hanyut dalam kritisisme terhadap rezim yang berkuasa.
Berbagai gedung yang menjulang tinggi amat banyak saya temukan di sana. Gedung-gedung itu sebagaian besar seolah tanpa cat pewarna, pendek kata di lingkungan kampus ini saya menemukan adanya perencanaan atau tata kampus yang terencana dengan baik. Menurut beberapa orang mahasiswa yang selalu bersama dengan saya saat berada di Universitas Shiraz, memang kampus mereka dahulunya merupakaan kampus kesayangan Shah Iran. Oleh sebab itu Nampak bahwa dari segi pemilihan lokasi kampus pun diperhatikan oleh shah, yakni di daerah perbukitan, sehingga kemegahan kampus shiraz sudah nampak dari jarak kejauhan. Sejumlah mahasiswa yang selalu menyertai saya pun bercerita bahwa Shah Iran banyak meniri model-model gedung di kampus dari universitas yang ada di Prancis.
Selama berada di kampus shiraz sayapun menyempatkan diri untuk melksanakan berbagai kegiatan akademik, seperti memberi seminar, mengikuti seminar, berpartisipasi dalam kegiatan kuliah tertentu, menghadiri ujian terbuka doktoral, dan lain-lain. Salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah mendatangi seminar bertema seputar dampak revolusi Islam di dunia. Saya tertarik mengunjungi seminar, disebabkan berbagai alasan, seperti: thema yang ditawarkan menarik, pembicaranya juga adalah seorang Doctor filsafat berkebangsaan Spanyol yang dimasa lalunya merupakan pengikut setia ajaran komunis dan kemudian mengkonversi diri menjadi seorang penganut Islam Shi’ah, pernah tinggal di Iran selama belasan tahun, dan presentasi researchnyapun disampaiakan dalam bahasa Persia.
Sebagai orang asing saya juga kerap bertegur sapa dengan mahasiswa Iran dari berbagai latar belakng fakultas. Saat saya duduk di depan masjid masih di kompleks kampus Universitas Shiraz, dua orang mahasiswa fresh student dari Fakultas Pertanian pun menyapa saya. Keberanian mahasiswa Iran, dan orang Iran pada umumnya untuk menegur sapa orang asing seperti saya terlebih dahulu nampaknya mengisyaratkan rasa ingin tahu dan rasa percaya diri mereka yang kuat. Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang biasa-biasa saja ternyata mahasiswa-mahasiswa tersebut berani mengajak berkenalan dengan orang asing seperti saya. Pengalaman ini setidaknya saya alami berulang kali, bahkan di dalam bus yang kerap sayaa tumpangi di kampus sekalipun.
Di lingkungan kampus Shiraz University saya menemukan pemandangan yang berbeda dengan apa yang saya saksikan di Qom. Di Shiraz University segala bentuk relasi antar mahasiswa terasa lebih longgar, mahasiswa dan mahasiswi relative dapat berdiskusi di antara mereka. Demikian juga suasana apabila kita ada di dalam bus kampus, sekat pembeda antara lelaki dan perempuaan juga relative lebih longgar. Kadang-kadang, kursi bus yang seharusnya menjadi tempat mahasiwi, ternyata seringkali diduduki oleh rombongan mahasiswa. Mungkin karena di dalam teritori kampus, sehingga membandingkan keadaaan diseeputar kampus dengan lingkungan diseputar Qom tidak tepat. Tetapi secara umum suasana masyarakat di Shiraz sangat berbeda. Pengalaman saya memnunjukkan bahwa di Shiraz ketika saya menemukan kesulitan, misalnya saat saya hendak membeli perangko untuk koleksi, maka seorang wanita muda bahkan siaap sedia menunjukkaan dimana tempat untuk mendapatkannya. Ternyata pengalaman saya ini juga dialami oleh seorang pelajar agama Indonesia asal Siduarjo, yang mengatakan bahwa orang-orang Shiraz memang jauh lebih lembut dibandingkan orang Qom. Mungkin kaarakter budaya ini dibentuk oleh iklim dan lingkungan fisik geografis yang secara diametral berbeda pada kedua daerah tersebut.
Seorang mahasiswi di Shiraz juga dalam dialog bersama saya dan istri sebanarnya bertanya mengapa harus ada pemisahan antara lelaki dan perempuan di dalam bus. Karena baginya bagaimanapun juga lelaki adalah sesame makhluk Tuhan yang baik. Dari dialog kecil bersamanya saya juga merasakan bahwa sang mahasiswi memang tengah mengritisi berbagai aturan yang dipersepsinya sebagai pengekangan terhadap kebebesan. Atas pertanyaannya saya justeru membandingkannya dengan Indonesia, yang belakangan ini seringkali menghadapi banyak pengaduan tentang adanya kasus pelecehan seksual di dalam bus akibat tidak ada aturan pembeda antara lelaki dan perempuan. Atas jawaban saya itu nampaknya sang mahasiswi ini tidak puas, dia terus mengajukan gugatan bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Tuhan. Dalam pandangan saya mahasiswi ini sebenarnya sedang berada dalam proses pencarian jati diri, sehingga terus mengkritisi berbagaai keadaan yang ada di seputarnya.
Selain seorang mahasiswi yang masih duduk di tingkat master di salah satu fakultas ilmu humaniora, saya juga selama di berada di kamapus berkenalan dengan beberpa mahasiswa, mereka dengan antusias bercerita tentang masalah sosial politik yang tengah actual di masyakat. Mereka juga menceritakan suasana panas saat pemilihan Presiden di Iran beberapa waktu yang lalu. Pertarungan antara kubu reformis dan lawannya yang tradisional. Kebanyakaan mereka memang sangat kritis terhadap pemerintahan Ahmadinejad yang sedang berkuasa, selain itu mereka juga mengkritisi elit agama yang mendukung pemerintahan Ahmadinedjad. Bahkan di antara mahasiswa yang bersemangat itu ada yang saat ini masih menjalaani hukuman dalam bentuk pengisolasian asrama tempat tinggalnya ke lokasi yang sedikit lebih jauh jaraknya dari kampus shiraz. Ini konon akibat ulahnya dalam menentang dan mengkritik kelompok berkuasa.
Saya tentu saja tidak bisa berbicara banyak terhadap mereka, yang saya bisa lakukan adalah hanya mendengarkan berbagai cerita dan keluhan mereka. Sebagai seorang dosen yang pernah terlibat dalam dunia aktivis mahasiswa saya juga pernah mengalami hal serupa, terutama di era Suharto, betapa saat itu kejengkelan terhadap rezim berkuasa begitu besar, terutama melihat sepak terjang keluarganya yang memonopoli hampir semua aspek ekonomi dan politik yang menguasai hajat hidup orang banyak. Saya ketika itu bersama dengan kebanyakan para aktivis hanyut dalam kritisisme terhadap rezim yang berkuasa.
Undangan Makan Malam di Sebuah Keluarga Iran
Salah satu momen yang saya sukai selain melakukan kegiatan serius selama beberapa bulan di Iran adalah datangnya undangan makan malam dari beberapa kolega saya di sana. Ternyata dibutuhkan kepiawaian tersendiri untuk memastikan apakah undangan makan malam itu serius atau sekedar basa-basi. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran saya telah membakali diri dengan berbagai bacaan yang memberikan informasi berharga, satu diantaranya adalah buku yang ditulis Dina dan Otong Sulaimen, berjudul “Di Bawah Kaki Langit Persia”. Sepasang suami istri yang memiliki pengalaman delapan tahun tinggal di Iran ini, melalui bukunya memberikan berbagai informasi berharaga mengenai budaya orang Iran. Salah satu diantaranya adalah tentang kebiasaannya berbasa-basi, kebiasaan ini menurut mereka berdua ternyata lebih parah dari orang Jawa. Di dalam bukunya dia memberikan beberapa contoh karakter seperti itu lengkap dengan event kejadiannya. Tentu saja semula saya tidak terlalu percaya. Saya pikir itu mungkin hanya sebuah peristiwa unik yang secara individual dialami keluarga Dina dan Ottong Sulaeman. Di dalam benak ketika itu saya sempat mengkaitkan budaya dan Islam sebagai agama resmi di sana. Mana mungkin kultur mensubordinasi agama resmi, demikian yang ada dalam pikiran saya ketika membaca buku di atas.
Ternyata apa yang dikemukakan sang penulis buku di atas benar adanya. Berkali-kali saya mengalami berbagai undangan basa-basi dari patner yang baru saya kenal, bahkan dari patner kerja yang memiliki berhubungan intensif dengan saya. Yang lebih lucu lagi suatu kali disebuah akhir dari wawancara yang saya lakukan terhadap seorang informan, saya suatu kali mendapat undangan untuk makan malam. Undangan itu disampaikan dalam bahasa Persia kepada seorang penerjemah saya yang asli Iran. Melalui penerjemah itu kemudian saya balik konfirmasi kepadanya apakah undangan ini serius, atau sekedar basa-basi. Karena setahu saya kultur basa-basi sangat kuat di Iran. Rupanya pertanyaan saya kepada penerjemah disampaikan kembali kepada orang yang mengundang, kemudian pertanyaan itu langsung saja ditanggapinya dengan senyum, lucunya lagi dia justeru mengulas lebih dalam tentang kultur basa basi itu dalam keseharian orang Iran, namun diakhir penjelasannya ditegaskan bahwa undangan yang diajukannya kepada saya jelas bukan basa-basi. Sebagai orang Iran dia menegaskan dirinya mengetahui persis kultur basa basi itu, namun undangan yang ditujukan ke saya serius, bukan basa-basi.
Untuk itu melalui penerjemah Iran yang mendampingi saya ia pun meminta jadwal kegiatan saya, dan dia pun bertanya tentang waktu free yang saya miliki. Kemudian diakhir perjumpaan dia kembali menegaskan akan mengundang saya makan malam bersama keluarganya di rumah. Sampai seluruh kegiatan saya di Iran berakhir ternyata undangan itu tidak juga muncul. Kejadian serupa lainnya masih saya miliki, namun cukuplah cerita itu saya kenang dan simpan sendiri bagi pribadi saya. Sehingga pada akhirnya saya memaklumi dalam titik tertentu pengaruh budaya tidak mudah dikikis tuntas, sekalipun oleh agama. Butuh pergulatan dan dialektika panjang untuk mentransformasi budaya yang sudah berakar di suatu masyarakat.
Kendatipun mulai mengenal basa-basi orang Iran tetapi saya tidak juga ingin memukul rata pada setiap orang. Saya tetap memberi ruang pada kesungguahan sebuah janji sebagaimana spirit yang diajarkan Islam. Salah satu undangan makan malam pertama yang sempat berlangsung datang dari undangan Dr. Shahrial Shojaeipour. Undangan makan malam itu berjalan begitu istimewa, dia menjemput saya dengan mobil Peugeut kesayangannya, dan saya pun diperkenalkannya kepada anggota keluarganya. Suasana makan malam itu menjadi lebih semarak karena beliau juga mengundang tamu istimewanya, yakni Dr. Zaheedi yang ketika muda pernah menjadi pasukan pengawal (guardian) Imam Khomeini.
Malam itu nampak berbagai menu makan special dihidangkan, seperti ash, kabab, dan tak lupa minuman beer Iran yang bebas alkohol. Sayapun mencoba mencicipi berbagai hidangan yang ada, meskipun awalnya lidah sulit menerimanya. Acara diskusi dengan Dr. Zaheedi itu berlangsung hingga larut malam, apalagi tema pembicaraaan berkisar kepemimpinan Imam Khomeini di masa awal revolusi.
Ternyata apa yang dikemukakan sang penulis buku di atas benar adanya. Berkali-kali saya mengalami berbagai undangan basa-basi dari patner yang baru saya kenal, bahkan dari patner kerja yang memiliki berhubungan intensif dengan saya. Yang lebih lucu lagi suatu kali disebuah akhir dari wawancara yang saya lakukan terhadap seorang informan, saya suatu kali mendapat undangan untuk makan malam. Undangan itu disampaikan dalam bahasa Persia kepada seorang penerjemah saya yang asli Iran. Melalui penerjemah itu kemudian saya balik konfirmasi kepadanya apakah undangan ini serius, atau sekedar basa-basi. Karena setahu saya kultur basa-basi sangat kuat di Iran. Rupanya pertanyaan saya kepada penerjemah disampaikan kembali kepada orang yang mengundang, kemudian pertanyaan itu langsung saja ditanggapinya dengan senyum, lucunya lagi dia justeru mengulas lebih dalam tentang kultur basa basi itu dalam keseharian orang Iran, namun diakhir penjelasannya ditegaskan bahwa undangan yang diajukannya kepada saya jelas bukan basa-basi. Sebagai orang Iran dia menegaskan dirinya mengetahui persis kultur basa basi itu, namun undangan yang ditujukan ke saya serius, bukan basa-basi.
Untuk itu melalui penerjemah Iran yang mendampingi saya ia pun meminta jadwal kegiatan saya, dan dia pun bertanya tentang waktu free yang saya miliki. Kemudian diakhir perjumpaan dia kembali menegaskan akan mengundang saya makan malam bersama keluarganya di rumah. Sampai seluruh kegiatan saya di Iran berakhir ternyata undangan itu tidak juga muncul. Kejadian serupa lainnya masih saya miliki, namun cukuplah cerita itu saya kenang dan simpan sendiri bagi pribadi saya. Sehingga pada akhirnya saya memaklumi dalam titik tertentu pengaruh budaya tidak mudah dikikis tuntas, sekalipun oleh agama. Butuh pergulatan dan dialektika panjang untuk mentransformasi budaya yang sudah berakar di suatu masyarakat.
Kendatipun mulai mengenal basa-basi orang Iran tetapi saya tidak juga ingin memukul rata pada setiap orang. Saya tetap memberi ruang pada kesungguahan sebuah janji sebagaimana spirit yang diajarkan Islam. Salah satu undangan makan malam pertama yang sempat berlangsung datang dari undangan Dr. Shahrial Shojaeipour. Undangan makan malam itu berjalan begitu istimewa, dia menjemput saya dengan mobil Peugeut kesayangannya, dan saya pun diperkenalkannya kepada anggota keluarganya. Suasana makan malam itu menjadi lebih semarak karena beliau juga mengundang tamu istimewanya, yakni Dr. Zaheedi yang ketika muda pernah menjadi pasukan pengawal (guardian) Imam Khomeini.
Malam itu nampak berbagai menu makan special dihidangkan, seperti ash, kabab, dan tak lupa minuman beer Iran yang bebas alkohol. Sayapun mencoba mencicipi berbagai hidangan yang ada, meskipun awalnya lidah sulit menerimanya. Acara diskusi dengan Dr. Zaheedi itu berlangsung hingga larut malam, apalagi tema pembicaraaan berkisar kepemimpinan Imam Khomeini di masa awal revolusi.
Senin, 15 November 2010
Produk Indonesia di Iran
Cukup lama saya bolak-balik ke berbagai pasar baik modern maupun tradisional yang ada di Qom, hampir pasti saya tidak menemukan produk Indonesia di sana. Sepatu sebagian besar didatangkan dari Turki, dan juga dari industry lokal Iran sendiri. Harganya relative tidak terlalu jauh berbeda dengan berbagai merek sepatu Cibaduyut yang ada di negeri kita. Jaket yang terpampang di etalase toko-toko di Qom juga sebagian besar kata penjualnya dari Turki. Demikian produk lain seperti celana panjang, sebagian besar didatangkan dari tempat yang sama.
Tetapi di antara produk yang luar biasa banyaknya di Iran, hampir sebagian besar ternyata berasal dari Cina. Memang negeri Tirai Bambu ini sekarang memang produknya sedang meramaikan pasar dunia. Konon di Eropa produk Cina juga cukup meresahkan produk-produk lokal. Jurus yang digunakan produk Cina adalah harganya yang murah, meski kualitasnya dikenal tidak istimewa. Harga jual produk Cina relative murah di bandingkan produk sejenis dari negara Iran, dan negara-negara lain hal ini konon karena upah buruh terkenal rendah di negeri Tirai Bambu itu, selain bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk didapat dengan mudah, dengan harga yang juga rendah, sehingga ongkos produksi yang dikeluarkannya rendah, akibatnya harga jual berbagai produk Cina jadi murah. Selain itu, bangsa Cina juga dikenal piawai dalam menciptakan produk imitasi. Lihat saja produk-produk hand phone (HP) keluaran Cina, dari segi tampilan dia tidak kalah dengan produk Hand Phone (HP) bermerek terkenal, misalnya merek Blackberry dengan Nexian. Tidak kaget jika banyak orang sering tertipu disaat membeli suatu produk karena kurangnya ketelitian, dan kehati-hatian, semata terpukau oleh harga yang lebih murah.
Di Iran sediri produk Cina bermacam-macam, selain produk yang telah disebut di atas, produk lain yang mudah dijumpai adalah dolanan anak-anak, kaos, pakaian, celana, kalung, manik-manik, alat dapur, perabot memasak, alat tulis, bahkan berbagai macam barang mitasi, seperti produk-produk yang berasal dari bahan plastik. Pendek kata, produk Cina telah membanjiri Iran, dan dimasa datang banjiir produk Cina ini akan bertambah, apalagi diplomasi ekonomi yang dilakukan Cina terhadap Iran, ditambah penolakan Cina untuk mengikuti langkah US dalam pemberian sangsi terhdap Iran menyangkut soal pengkayaan uranium yang dilakukan Iran untuk pengembangan proyek pembangkit listrik bertenaga nuklirnya.
Di samping Cina, berbagai produk pertanian yang berasal dari negara Asia lain seperti Filipina juga nampak, misalnya pisang, beras, juga dari Thailand, berupa beras, produk konveksi, dan saya hampir merasa sedih karena tidak satupun produk Indonesia muncul di Iran, untunglah suatu kali ketika saya berada di Shiraz, saya menemukan produk konveksi Indonesia ada di sana. Ada sebuah toko pakaian yang ternyata menjual konveksi asal Indonesia. Nama toko itu adalah Saiba, milik orang Iran bernama Hamidi. Setelah saya wawancarai lebih lanjut, ternyata dia memang kerap berkunjung ke Indonesia untuk mengambil berbagai produk konveksi dari Pekalongan dan Tanah Abang. Yang menarik bahwa pak Hamidi cukup pandai berbahasa Indonesia. Dia juga mengakui selain Indonesia produk konveksi yang dipampang di etalasee tokonya diambil juga dari Thailand dan Cina.
Perasaan saya sedikit agak terhibur setelah bertemu pak Hamidi, di etalase tokonya saya menemukan konveksi yang berbahan dasar kain batik, dan harganya jika dikonversi ke mata uang rupiah berkisar Rp 125.000, di dalam hati saya produk konveksi Indonesia yang dijual di sana kualitasnya memang bukan yang istimewa, hal ini nampak dari kualitas kain batik yang terasa sangat kasar. Tetapi perjumpaan saya dengan produk Indonesia ini tentu sangat menyenangkan, setidaknya di dalam hati saya Indonesia telah ikut ambil bagian dalam kegiatan ekonomi, dan berharap semoga di masa datang produk Indonesia yang masuk ke Iran akan lebih banyak lagi. Selain pertemuan saya dengan Pak Hamidi saya juga melihat produk kecap ABC di Shiraz, tentu perjumpaan ini membuat hati saya makin senang, dalam hati berkata meskipun produk Indonesia hanya ada beberapa item, namun setidaknya keadaan ini masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tentu saja saya berharap di masa datang berbagai produk Indonesia dapat lebih dikenal di Iran melebihi produk dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Apa lagi dibanding tiga negara yang telah disebutkan di kawasan ASEAN Indonesia menduduki penduduk yang jauh lebih besar dari tiga negara itu. Namun sayangnya hingga saat ini jika kita pergi ke toko swalayan untuk mencari beras, maka yang muncul adalah beras Thailand, dan Filipina. Belum lagi kalau kita berbicara pariwisata, orang Iran ternyata lebih familiar dengan Malaysia ke timbang Indonesia, yang menarik negeri jiran itu kini telah menjadi tujuan pendidikan bagi sebagian anak muda Iran. Dalam benak kebanyakan orang Iran, Malaysia saat ini juga menjadi negara tujuan wisata yang cukup penting, hal ini berkat keberhasilan bangsa Malaysia dalam mengkonstruksi citra dirinya sebagai sebuah negeri islam yang aman, bersih, dan maju.
Meskipun konstruksi citra di atas di mata salah seorang Professor dari Ramin University Iran yang beberapa kali pernah bertandang baik ke Indonesia maupun Malaysia sangat berbeda, menurutnya justeru aneh, mengapa justeru Malaysia yang menjadi lebih terkenal di Iran ke timbang Indonesia? Padahal menurutnya Indonesia jauh lebih “istimewa” di banding Malaysia di tinjau dari berbagai macam aspek, baik budaya, jumlah penduduk, keaneka ragaman budaya, makanan, geografis, keramah tamahan penduduk, luas negara, keindahan panorama yang dimiliki, dsb. Sang Professor ini bahkan begitu jatuh hati pada Indonesia dan terus ingin berkunjung ke Indonesia jika memungkinkan. Dia bahkan menunjukkan kepada saya porsi pemberitaan Indonesia di televisi Iran sangat minim, bahkan ramalan cuaca di beberapa acara televisi di Iran pun tidak menyebut Indonesia, kecuali hanya salah satu stasiun televisi Iran, yakni Press TV.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi pada bangsa Indonesia yang notabene memiliki penduduk mayoritas beragama Islam dan terbesar pula jumlahnya di dunia? Tentu saja berbagai alasan bisa dikemukakan, misalnya di jaman rezim Orde Baru nampak bahwa pemerintah sangat khawatir dengan apa yang disebut ekspor revolusi, sehingga hubungan dengan negara Islam tersebut sangat dibatasi. Kendatipun zaman sudah berubah, dan Indonesia telah memasuki era reformasi namun hubungan bilateral dengan negara Islam Iran belum juga dapat berlangsung secara optimal, hal ini ditengarai bahwa adanya “tekanan” atau setidaknya ketakutan negara Indonesia akan stigma yang bakal diperoleh dari negara super power Amerika bila Indonesia terlalu dekat dengan Iran, mengingat hubungan Iran dengan negara super power khususnya Amerika dan Inggris terus berada dalam ketidak harmonisan akibat berbagai macam issue, seperti nuklir, pembelaan membabi buta terhadap Israel, dan politik standar ganda.
Berikutnya karena adanya perbedaan mazhab Islam, dimana Indonesia sebagian besar adalah muslim sunni sementara mayoritas penduduk Iran adalah penganut Islam shia’ah.
Tentu saja dari berbagai alasan yang dikemukakan di atas alasan terakhir nampaknya tidak terlalu relevan, apalagi setelah banyak negara-negara di dunia, seperti Cina, Jepang, dan Korea, terus mempererat hubungan bilateralnya dengan Iran. Sebagai negara Islam Iran memiliki banyak keunggulan disbanding dengan negara Islam lainnya, setidaknya hal ini dapat dilihat dari capaian ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aktualisasi semangat independensinya yang besar. Selain itu sejauh ini dilevel hubungan bilateral yang paling banyak memainkan peranan adalah negara atau pemerintah yang tengah berkuasa, bukan masyarakat ataupun warga negaranya. Berdasarkan argumen di atas, maka sudah saatnya jika kita meninjaau dan memperbaharui hubungan kita dengan Iran, apalagi hal ini diperkuat dengan berbagai alasan politik yang bebas aktif.
Tetapi di antara produk yang luar biasa banyaknya di Iran, hampir sebagian besar ternyata berasal dari Cina. Memang negeri Tirai Bambu ini sekarang memang produknya sedang meramaikan pasar dunia. Konon di Eropa produk Cina juga cukup meresahkan produk-produk lokal. Jurus yang digunakan produk Cina adalah harganya yang murah, meski kualitasnya dikenal tidak istimewa. Harga jual produk Cina relative murah di bandingkan produk sejenis dari negara Iran, dan negara-negara lain hal ini konon karena upah buruh terkenal rendah di negeri Tirai Bambu itu, selain bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk didapat dengan mudah, dengan harga yang juga rendah, sehingga ongkos produksi yang dikeluarkannya rendah, akibatnya harga jual berbagai produk Cina jadi murah. Selain itu, bangsa Cina juga dikenal piawai dalam menciptakan produk imitasi. Lihat saja produk-produk hand phone (HP) keluaran Cina, dari segi tampilan dia tidak kalah dengan produk Hand Phone (HP) bermerek terkenal, misalnya merek Blackberry dengan Nexian. Tidak kaget jika banyak orang sering tertipu disaat membeli suatu produk karena kurangnya ketelitian, dan kehati-hatian, semata terpukau oleh harga yang lebih murah.
Di Iran sediri produk Cina bermacam-macam, selain produk yang telah disebut di atas, produk lain yang mudah dijumpai adalah dolanan anak-anak, kaos, pakaian, celana, kalung, manik-manik, alat dapur, perabot memasak, alat tulis, bahkan berbagai macam barang mitasi, seperti produk-produk yang berasal dari bahan plastik. Pendek kata, produk Cina telah membanjiri Iran, dan dimasa datang banjiir produk Cina ini akan bertambah, apalagi diplomasi ekonomi yang dilakukan Cina terhadap Iran, ditambah penolakan Cina untuk mengikuti langkah US dalam pemberian sangsi terhdap Iran menyangkut soal pengkayaan uranium yang dilakukan Iran untuk pengembangan proyek pembangkit listrik bertenaga nuklirnya.
Di samping Cina, berbagai produk pertanian yang berasal dari negara Asia lain seperti Filipina juga nampak, misalnya pisang, beras, juga dari Thailand, berupa beras, produk konveksi, dan saya hampir merasa sedih karena tidak satupun produk Indonesia muncul di Iran, untunglah suatu kali ketika saya berada di Shiraz, saya menemukan produk konveksi Indonesia ada di sana. Ada sebuah toko pakaian yang ternyata menjual konveksi asal Indonesia. Nama toko itu adalah Saiba, milik orang Iran bernama Hamidi. Setelah saya wawancarai lebih lanjut, ternyata dia memang kerap berkunjung ke Indonesia untuk mengambil berbagai produk konveksi dari Pekalongan dan Tanah Abang. Yang menarik bahwa pak Hamidi cukup pandai berbahasa Indonesia. Dia juga mengakui selain Indonesia produk konveksi yang dipampang di etalasee tokonya diambil juga dari Thailand dan Cina.
Perasaan saya sedikit agak terhibur setelah bertemu pak Hamidi, di etalase tokonya saya menemukan konveksi yang berbahan dasar kain batik, dan harganya jika dikonversi ke mata uang rupiah berkisar Rp 125.000, di dalam hati saya produk konveksi Indonesia yang dijual di sana kualitasnya memang bukan yang istimewa, hal ini nampak dari kualitas kain batik yang terasa sangat kasar. Tetapi perjumpaan saya dengan produk Indonesia ini tentu sangat menyenangkan, setidaknya di dalam hati saya Indonesia telah ikut ambil bagian dalam kegiatan ekonomi, dan berharap semoga di masa datang produk Indonesia yang masuk ke Iran akan lebih banyak lagi. Selain pertemuan saya dengan Pak Hamidi saya juga melihat produk kecap ABC di Shiraz, tentu perjumpaan ini membuat hati saya makin senang, dalam hati berkata meskipun produk Indonesia hanya ada beberapa item, namun setidaknya keadaan ini masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tentu saja saya berharap di masa datang berbagai produk Indonesia dapat lebih dikenal di Iran melebihi produk dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Apa lagi dibanding tiga negara yang telah disebutkan di kawasan ASEAN Indonesia menduduki penduduk yang jauh lebih besar dari tiga negara itu. Namun sayangnya hingga saat ini jika kita pergi ke toko swalayan untuk mencari beras, maka yang muncul adalah beras Thailand, dan Filipina. Belum lagi kalau kita berbicara pariwisata, orang Iran ternyata lebih familiar dengan Malaysia ke timbang Indonesia, yang menarik negeri jiran itu kini telah menjadi tujuan pendidikan bagi sebagian anak muda Iran. Dalam benak kebanyakan orang Iran, Malaysia saat ini juga menjadi negara tujuan wisata yang cukup penting, hal ini berkat keberhasilan bangsa Malaysia dalam mengkonstruksi citra dirinya sebagai sebuah negeri islam yang aman, bersih, dan maju.
Meskipun konstruksi citra di atas di mata salah seorang Professor dari Ramin University Iran yang beberapa kali pernah bertandang baik ke Indonesia maupun Malaysia sangat berbeda, menurutnya justeru aneh, mengapa justeru Malaysia yang menjadi lebih terkenal di Iran ke timbang Indonesia? Padahal menurutnya Indonesia jauh lebih “istimewa” di banding Malaysia di tinjau dari berbagai macam aspek, baik budaya, jumlah penduduk, keaneka ragaman budaya, makanan, geografis, keramah tamahan penduduk, luas negara, keindahan panorama yang dimiliki, dsb. Sang Professor ini bahkan begitu jatuh hati pada Indonesia dan terus ingin berkunjung ke Indonesia jika memungkinkan. Dia bahkan menunjukkan kepada saya porsi pemberitaan Indonesia di televisi Iran sangat minim, bahkan ramalan cuaca di beberapa acara televisi di Iran pun tidak menyebut Indonesia, kecuali hanya salah satu stasiun televisi Iran, yakni Press TV.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi pada bangsa Indonesia yang notabene memiliki penduduk mayoritas beragama Islam dan terbesar pula jumlahnya di dunia? Tentu saja berbagai alasan bisa dikemukakan, misalnya di jaman rezim Orde Baru nampak bahwa pemerintah sangat khawatir dengan apa yang disebut ekspor revolusi, sehingga hubungan dengan negara Islam tersebut sangat dibatasi. Kendatipun zaman sudah berubah, dan Indonesia telah memasuki era reformasi namun hubungan bilateral dengan negara Islam Iran belum juga dapat berlangsung secara optimal, hal ini ditengarai bahwa adanya “tekanan” atau setidaknya ketakutan negara Indonesia akan stigma yang bakal diperoleh dari negara super power Amerika bila Indonesia terlalu dekat dengan Iran, mengingat hubungan Iran dengan negara super power khususnya Amerika dan Inggris terus berada dalam ketidak harmonisan akibat berbagai macam issue, seperti nuklir, pembelaan membabi buta terhadap Israel, dan politik standar ganda.
Berikutnya karena adanya perbedaan mazhab Islam, dimana Indonesia sebagian besar adalah muslim sunni sementara mayoritas penduduk Iran adalah penganut Islam shia’ah.
Tentu saja dari berbagai alasan yang dikemukakan di atas alasan terakhir nampaknya tidak terlalu relevan, apalagi setelah banyak negara-negara di dunia, seperti Cina, Jepang, dan Korea, terus mempererat hubungan bilateralnya dengan Iran. Sebagai negara Islam Iran memiliki banyak keunggulan disbanding dengan negara Islam lainnya, setidaknya hal ini dapat dilihat dari capaian ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aktualisasi semangat independensinya yang besar. Selain itu sejauh ini dilevel hubungan bilateral yang paling banyak memainkan peranan adalah negara atau pemerintah yang tengah berkuasa, bukan masyarakat ataupun warga negaranya. Berdasarkan argumen di atas, maka sudah saatnya jika kita meninjaau dan memperbaharui hubungan kita dengan Iran, apalagi hal ini diperkuat dengan berbagai alasan politik yang bebas aktif.
Iran di Mata Para Pelajar Indonesia
Iran merupakan salah satu negara yang di lirik oleh anak muda Indonesia karena berbagai alasan. Selama berada beberapa bulan di negeri para mullah itu saya mendapat informasi dari mahasiswa kita yang berada di sana bahwa jumlah keseluruhan mereka kurang lebih 250 orang. Sebagian besar mahasiswa Indonesia itu pergi ke Iran untuk belajar agama, filsafat islam di berbagai hauzah ilmiyah yang ada di Iran, terutama di Qom. Memang kota ssuci Qom merupakan salah satu kota suci penting bagi penganut Shia’h, selain itu para marja’ biiasanya memiliki kantor perwakilan di kota tersebut, terutama di Savaye Street. Ambil contoh Kota ini juga sekaligus menjadi salah satu gudang ilmu filsafat islam dan agama. Bahkan beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di sana menjelaskan bahwa sebagai gudang ilmu maka, kota suci Qom dikenal sebagai salah satu kota yang memberi kontribusi signifikan dalam memproduksi berbagai karya pemikiran (buku). Hal ini dapat dilihat dari indeks jumlah buku yang diterbitkan dalam setiap tahunnya, dimana kota suci Qom menurut informasi pelajar di sana, dapat digolongkan yang tertinggi di Iran.
Selain di Qom para pelajar Indonesia ada juga yang tengah menyelesaikan studinya di kota Taheran, bahkan menurut informasi ada juga yang belajar di kota Mashad dan Esfahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mereka banyak yang meneruskan studinya di hauzah-ilmiyah Qom. Mereka yang belajar di Iran tentunya telah melalui berbagai proses seleksi yang berlangsung dalam proses perekrutan. Tentunya mereka adalah orang-orang pilihan, karena telah lolos dalam berbagai tingkat seleksi yang dilakukan lembaga yang merekrutnya. Selain itu seleksi masuk di universitas terkenal, seperti University of Taheran juga bukan merupakan sesuatu yang mudah, karena universitas tersebut dikenal sebagai salah satu universitas papan atas di Iran.
Jumlah 250 orang pelajar Indonesia di Iran tentu saja bukan jumlah yang sedikit, namun jumlah tersebut menurut sumber yang saya dapatkan di sana, dianggap masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang berasal dari negara lain, seperti Malaysia, Pakistan. Namun yang cukup menarik, di kota suci Qom saya menemukan pelajar dari berbagai macam negara asal, seperti Filipina, Cina, Bosnia, Amerika, Maroko, Mauritania, dll. Dari gambaran tersebut maka dapat kita sebutkan bahwa kota Qom adalah kota internasional yang sebagian besar dihuni oleh para pelajar yang ingin mendalami Filsafat Islam, Bahasa Persia, Bank Islam. Semaraknya kota Qom itu dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan terutama hauzah ilmiyah, dan berbagai lembaga research atau ilmu pengetahuan.
Berbagai alasan umumnya dikemukakan oleh para pelajar Indonesia di sana. Sebagian mereka memilih Iran karena pendidikan yang mereka jalankan sepenuhnya gratis alias ditaanggung oleh lembaga yang merekrut mereka, bahkan pemerintah. Selain itu khusus bagi mereka yang studi di Qom, berbagai fasilitas tambahan masih mereka dapatkan, misalnya tidak ada larangan untuk melahirkan, bahkan bagi mereka yang melahirkan, mereka dapat memperoleh bantuan keuangan untuk melahirkan, bantuan untuk penitipan anak, dan lain-lain. Dalam konteks berbagai bantuan ini saya teringat adanya kontras dengan teman-teman yang belajar di negara-negara barat. Tidak hanya itu saja, setahu saya ada larangan bagi mahasiswa yang tengah studi untuk menjalanai proses kehahamilan, dan bila kedapatan hamil, sangsinya cukup berat, yakni bisa dikeluarkan dan dicabut beasiswanya. Tentu saja negara barat pemberi beasiswa ini memiliki alasannya sendiri, seperti efisiensi waktu dan efektivitas belajar, keterbatasan jumlah uang yang diberikan, dan sebaginya. Alasan-alasan tersebut memamng cukup rasional, meskipun terkadang tidak manusiawi juga. Sering kali muncul di dalaam benak pikiran saya, apakah hal ini karena beasiswa di Iran di danai oleh uang uang para imam yang memiliki ketinggian pemahaman keagamaan dan moralitasnya, dan beasiswa darri barat itu di danai oleh perusahaan atau negara yang lebih pragmatis-sekularistik pertimbaangannya? Sayaa belum punya jawaban yang yang memadai dalama hal tersenbut.
Sejumlah mahasiswa juga mengatakan kepada saya bahwa mereka tertarik belajar di Iran, karena negara atau pemerintah memang memberikan dukungan yang kuat pada dunia pendidikan di sana, misalnya harga buku-buku relative jauh lebih murah, hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah memberi subssidi terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam dunia perbukuan, kamus bahasa Inggris terkenal misalnya, di salah satu toko buku Iran berharga Rp 150.000 di sini harganya sudah mencapai Rp 500.000, hal ini bisa terjadi karena buku impor tersebut telah dicetak kembali di Iran, sementara untuk buku-buku impor langsung yang tidak dicetak di Iran harganya sedikit lebih mahal, namun tetap lebih murah dibandingkan dengan harga di toko buku terkenal di Indonesia. Menurut para pelajar Indonesiaa di Iran, harga-harga buku akan jauh lebih murah saat pameran buku internasional (book fair) tiba.
Alasan lain yang tak kalah menarik adalah nara sumber yang otoritataif dalam berbagai bidang, terutama filsafat dengan berbagai macam cabangnya dan ilmu-ilmu islam dengan berbagai macam cabangnya mudah kita temukan di sana. Apa lagi jika menguasai bahasa Persia atau Arab, hal ini disebabkan banyak sumber-sumber otoritatif menggunakan dua bahasa tersebut, meskipun terdapat beberapa yang juga menguasai bahasa Inggris. Selain itu mahasiswa dengan persyaratan tertentu dapat memperoleh fasilitas asrama pelajar yang cukup memadahi. Masih ada peluang lain yang membuat mahasiswa Indonesia merasa lebih betah tinggal di Iran, yakni adanya kegiatan selingan yang dilakukan pihak asrama dimana si pemanang akan mendapatkan berbagai hadiah serta bonus yang menarik. Mulai dari hadiah kipas angin, mesin penyedot debu, hingga tiket pulang ke tanah air.
Seorang pelajar Indonesia di sana terkadang setelah merasakan tinggal selama beberapa tahun mengatakan bahwa mereka sangat betah, karena fasilitas belajar sangat baik, dan nara sumber yang otoritatif mudah ditemui di Iran, tanpa harus melalui jalur birokrasi yang ribet. Selain berbagai fasilitas yang memudahkan di atas, bila mereka ingin mendapatkan uang tambahan biasanya mereka menjalankan kegiatan penerjemaah buku. Kegiatan menterjemah buku biasanya dilakukan di selaa-sela waktu kesibukan mereka. Selain itu beberapa dari mereka aktif juga di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) yang sering menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kegiatan, seperti diskusi, seminar, dan lain-lain.
Hubungan pelajar Indonesia dengan KBRI di Iran memiliki sejarah pasang naik dan surut. Di zaman Orde Baru hubungan KBRI dengan para pelajar kita di sana memang kurang harmonis, hal ini bisa dimengerti karena KBRI lebih banyak memantau, mengontrol, mengarahkan, bahkan seolah memata-matai pelajar Indonesia yang ada di Iran. Kecenderungan semacam ini dapat berlangsung karena rezim Orde Baru yang tengah berkuasa sangat khawatir terhadap gejala ekspor revolusi dari negeri yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai republic Islam Iran. Selain itu Orde Baru sebelum kelahiran ICMI juga sangat phobi terhadap Islam.
Selain dukungan negara yang kuat dalam dunia pendidikan di Iran, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari komitmen para marja’ yang sejak dari dulu memiliki sejarah panjang dalam membangun masyarakat yang agamis, rasional, kritis, dan berkeadilan sosial. Komitmen lembaga agama terhadap dunia pendidikan tidak perlu diragukan, ekspresi tersebut muncul dalam bentuk pembangunan sarana research, lembaga pendidikan, program bantuan beasiswa bagi para pelajar yang tengah mengikuti pendidikan diberbagai jenjang. Seorang pelajar agama di Iran mendapatkan beasiswa (shahriar) untuk biaya pendidikan, biaya buku, hidup, dan lain-lain, dengan besaran yang berbeda-beda, sesuai dengan jenjang pendidikan yang sedang diikutinya. Jenjang pendidikan yang setara dengan S1 tentu lebih rendah disbanding mereka yang tengah menjalani pendidikan di jenjang master (S2), ataupun doctoral (S3). Demikian juga status lajang dan tidaknya seseorang juga ikut menentukan besaran beaseswa yang akan diperolehnya.
Besarnya komitmen para marja’ terhadap dunia pendidikan ini sebagian dapat diamati pada saat tanggal-tanggal awal bulan, dimana ribuan pelajar, tua-muda, dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat pembagian shahriar, yang pusatnya ditempatkan di lokasi sekitar Holly Shrain Fatimah Ma’sumah. Biasanya pengambilan shahriar akan berlangsung selama beberapa hari, sebagaimana telah ditentukan.
Selain di Qom para pelajar Indonesia ada juga yang tengah menyelesaikan studinya di kota Taheran, bahkan menurut informasi ada juga yang belajar di kota Mashad dan Esfahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mereka banyak yang meneruskan studinya di hauzah-ilmiyah Qom. Mereka yang belajar di Iran tentunya telah melalui berbagai proses seleksi yang berlangsung dalam proses perekrutan. Tentunya mereka adalah orang-orang pilihan, karena telah lolos dalam berbagai tingkat seleksi yang dilakukan lembaga yang merekrutnya. Selain itu seleksi masuk di universitas terkenal, seperti University of Taheran juga bukan merupakan sesuatu yang mudah, karena universitas tersebut dikenal sebagai salah satu universitas papan atas di Iran.
Jumlah 250 orang pelajar Indonesia di Iran tentu saja bukan jumlah yang sedikit, namun jumlah tersebut menurut sumber yang saya dapatkan di sana, dianggap masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang berasal dari negara lain, seperti Malaysia, Pakistan. Namun yang cukup menarik, di kota suci Qom saya menemukan pelajar dari berbagai macam negara asal, seperti Filipina, Cina, Bosnia, Amerika, Maroko, Mauritania, dll. Dari gambaran tersebut maka dapat kita sebutkan bahwa kota Qom adalah kota internasional yang sebagian besar dihuni oleh para pelajar yang ingin mendalami Filsafat Islam, Bahasa Persia, Bank Islam. Semaraknya kota Qom itu dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan terutama hauzah ilmiyah, dan berbagai lembaga research atau ilmu pengetahuan.
Berbagai alasan umumnya dikemukakan oleh para pelajar Indonesia di sana. Sebagian mereka memilih Iran karena pendidikan yang mereka jalankan sepenuhnya gratis alias ditaanggung oleh lembaga yang merekrut mereka, bahkan pemerintah. Selain itu khusus bagi mereka yang studi di Qom, berbagai fasilitas tambahan masih mereka dapatkan, misalnya tidak ada larangan untuk melahirkan, bahkan bagi mereka yang melahirkan, mereka dapat memperoleh bantuan keuangan untuk melahirkan, bantuan untuk penitipan anak, dan lain-lain. Dalam konteks berbagai bantuan ini saya teringat adanya kontras dengan teman-teman yang belajar di negara-negara barat. Tidak hanya itu saja, setahu saya ada larangan bagi mahasiswa yang tengah studi untuk menjalanai proses kehahamilan, dan bila kedapatan hamil, sangsinya cukup berat, yakni bisa dikeluarkan dan dicabut beasiswanya. Tentu saja negara barat pemberi beasiswa ini memiliki alasannya sendiri, seperti efisiensi waktu dan efektivitas belajar, keterbatasan jumlah uang yang diberikan, dan sebaginya. Alasan-alasan tersebut memamng cukup rasional, meskipun terkadang tidak manusiawi juga. Sering kali muncul di dalaam benak pikiran saya, apakah hal ini karena beasiswa di Iran di danai oleh uang uang para imam yang memiliki ketinggian pemahaman keagamaan dan moralitasnya, dan beasiswa darri barat itu di danai oleh perusahaan atau negara yang lebih pragmatis-sekularistik pertimbaangannya? Sayaa belum punya jawaban yang yang memadai dalama hal tersenbut.
Sejumlah mahasiswa juga mengatakan kepada saya bahwa mereka tertarik belajar di Iran, karena negara atau pemerintah memang memberikan dukungan yang kuat pada dunia pendidikan di sana, misalnya harga buku-buku relative jauh lebih murah, hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah memberi subssidi terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam dunia perbukuan, kamus bahasa Inggris terkenal misalnya, di salah satu toko buku Iran berharga Rp 150.000 di sini harganya sudah mencapai Rp 500.000, hal ini bisa terjadi karena buku impor tersebut telah dicetak kembali di Iran, sementara untuk buku-buku impor langsung yang tidak dicetak di Iran harganya sedikit lebih mahal, namun tetap lebih murah dibandingkan dengan harga di toko buku terkenal di Indonesia. Menurut para pelajar Indonesiaa di Iran, harga-harga buku akan jauh lebih murah saat pameran buku internasional (book fair) tiba.
Alasan lain yang tak kalah menarik adalah nara sumber yang otoritataif dalam berbagai bidang, terutama filsafat dengan berbagai macam cabangnya dan ilmu-ilmu islam dengan berbagai macam cabangnya mudah kita temukan di sana. Apa lagi jika menguasai bahasa Persia atau Arab, hal ini disebabkan banyak sumber-sumber otoritatif menggunakan dua bahasa tersebut, meskipun terdapat beberapa yang juga menguasai bahasa Inggris. Selain itu mahasiswa dengan persyaratan tertentu dapat memperoleh fasilitas asrama pelajar yang cukup memadahi. Masih ada peluang lain yang membuat mahasiswa Indonesia merasa lebih betah tinggal di Iran, yakni adanya kegiatan selingan yang dilakukan pihak asrama dimana si pemanang akan mendapatkan berbagai hadiah serta bonus yang menarik. Mulai dari hadiah kipas angin, mesin penyedot debu, hingga tiket pulang ke tanah air.
Seorang pelajar Indonesia di sana terkadang setelah merasakan tinggal selama beberapa tahun mengatakan bahwa mereka sangat betah, karena fasilitas belajar sangat baik, dan nara sumber yang otoritatif mudah ditemui di Iran, tanpa harus melalui jalur birokrasi yang ribet. Selain berbagai fasilitas yang memudahkan di atas, bila mereka ingin mendapatkan uang tambahan biasanya mereka menjalankan kegiatan penerjemaah buku. Kegiatan menterjemah buku biasanya dilakukan di selaa-sela waktu kesibukan mereka. Selain itu beberapa dari mereka aktif juga di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) yang sering menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kegiatan, seperti diskusi, seminar, dan lain-lain.
Hubungan pelajar Indonesia dengan KBRI di Iran memiliki sejarah pasang naik dan surut. Di zaman Orde Baru hubungan KBRI dengan para pelajar kita di sana memang kurang harmonis, hal ini bisa dimengerti karena KBRI lebih banyak memantau, mengontrol, mengarahkan, bahkan seolah memata-matai pelajar Indonesia yang ada di Iran. Kecenderungan semacam ini dapat berlangsung karena rezim Orde Baru yang tengah berkuasa sangat khawatir terhadap gejala ekspor revolusi dari negeri yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai republic Islam Iran. Selain itu Orde Baru sebelum kelahiran ICMI juga sangat phobi terhadap Islam.
Selain dukungan negara yang kuat dalam dunia pendidikan di Iran, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari komitmen para marja’ yang sejak dari dulu memiliki sejarah panjang dalam membangun masyarakat yang agamis, rasional, kritis, dan berkeadilan sosial. Komitmen lembaga agama terhadap dunia pendidikan tidak perlu diragukan, ekspresi tersebut muncul dalam bentuk pembangunan sarana research, lembaga pendidikan, program bantuan beasiswa bagi para pelajar yang tengah mengikuti pendidikan diberbagai jenjang. Seorang pelajar agama di Iran mendapatkan beasiswa (shahriar) untuk biaya pendidikan, biaya buku, hidup, dan lain-lain, dengan besaran yang berbeda-beda, sesuai dengan jenjang pendidikan yang sedang diikutinya. Jenjang pendidikan yang setara dengan S1 tentu lebih rendah disbanding mereka yang tengah menjalani pendidikan di jenjang master (S2), ataupun doctoral (S3). Demikian juga status lajang dan tidaknya seseorang juga ikut menentukan besaran beaseswa yang akan diperolehnya.
Besarnya komitmen para marja’ terhadap dunia pendidikan ini sebagian dapat diamati pada saat tanggal-tanggal awal bulan, dimana ribuan pelajar, tua-muda, dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat pembagian shahriar, yang pusatnya ditempatkan di lokasi sekitar Holly Shrain Fatimah Ma’sumah. Biasanya pengambilan shahriar akan berlangsung selama beberapa hari, sebagaimana telah ditentukan.
Menengok Fasilitas Publik di Iran
Mengamati kemajuan pembangunan fasilitas publik di Iran sangatlah menarik. Apalagi jika kita mengetahui bahwa pembangunan di Iran sesungguhnya baru dimulai secara efektif pasca revolusi Islam 1978-an, dimana di tahun itu sebagian besar masyarakat Iran menganggap era pasca revolusi merupakan momentum baru bagi bangsa Iran. Era dimana rezim represif otoriter yang dipimpin Shah atau rezim boneka Inggris dan Amerika telah berhasil ditumbangkan, dan digantikan oleh sebuah rezim pemerintahan baru yang dikendalikan langsung oleh Imam Khomeini, sang arsitek revolusi.
Selama bertahun-tahun membangun tentu pasang surut atau krisis dialami oleh bangsa Iran, ini terutama terjadi di saat anasir-anasir kekuatan lama tidak rela membiarkan bangsa Iran memilih jalannya sendiri. Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun membuat pembangunan yang dilakukan oleh rezim pemerintahan baru dibawah Imam Khomeini tidak dapat berlangsung efektif, apalagi Bani Shadr selaku Presiden pemimpin pemerintahan memiliki motif-motif politik terselubung yang dapat memperlemah efektivitas negara yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Islam Iran lewat sebuah revolusi agama yang menghentak dunia.
Berbagai gelombang besar krisis di masa-masa awal pemerintahan baru pun bisa dilalui dengan baik, meskipun krisis kepemimpinan yang sempat terjadi di masa awal revolusi bisa mensirnakan harapan besar masyarakat Iran untuk hidup mandiri, lepas dari segala bentuk kolonialisme bangsa asing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa krisis selalu memiliki dua sisi, yakni sisi positif dimana setiap keberhasilan mengatasinya akan membuat suatu negara semakin kuat, dan tahan banting, setidaknya itulah yang bisa kita saksikan pada Republik Islam Iran pada saat ini. Sementara di sisi lain, jika kriris tidak mampu di atasi, maka republik Islam yang baru berusia muda tersebut akan kembali jatuh kedalam hagemoni dan kolonialisasi bangsa asing. Untunglah berbagai krisis di era-era awal revolusi berhasil diatasi oleh kepiawaian, dan keteguhan pemimpin dan rakyat Iran yang cinta pada kemandirian. Dan tak ingin mengulang pengalaman suramnya hidup dibawah kendali negara asing.
Berbagai fasilitas publik yang ada membuat saya bertanya-tanya dan mengkomparasikannya dengan Indonesia yang usianya sudah lebih dari setengah abad merdeka, dan praaktis usia pembangunannya juga lebih paanjang dengan usia pembangunan di negara mullah itu. seandainya pemerintah kita menjalankan pembangunan fasilitas publik dengan serius, maka pastilah kondisi fasilitas publik di Indonesia bisa jadi lebih baik dibanding dengan Iran. Jika kita berasumsi pembangunan di Indonesia di mulai sejak jaman Presiden Suharto, maka kondisi kita seharusnya lebih baik, karena kita memulai lebih dahulu melalui program pembangunan yang dilaksanakan oleh negara. Sayangnya kondisi kita tidak demikian, sekali Indonesia tetap Indonesia. Pembangunan diindonesia tetap saja menjadi wacana sendiri yang amat panjang jika didiskusikan.
Salah satu aspek perbedaan yang cukup menonjol jika membandingkan pemandangan antara Jakarta dan Taheran adalah sulitnya kita menemukan gedung-gedung pencakar langit di sana. Namun jika urusan fasilitas publik ada berbagai aspek menonjol yang menarik jika diperbandingkan. Di Jakarta kita memiliki sarana angkutan publik Trans Jakarta, sementara di Taheran mereka memiliki Metro yang juga dipadati sepanjang hari oleh para penumpang sebagaimana halnya di Jakarta. Yang menarik lagi di Taheran dan Iran pada umumnya ticket metro disubsidi oleh pemerintah, sehingga tarifnya jauh dekat sama saja, yakni sekitar Rp 200. Selain metro di Taheran kita masih menemukan kereta bawah tanah yang juga tiketnya bersubsidi meskipun yang agak aneh pedagang asongan sering kali menawarkan baraang dagangaannya di dalam kereta bawah tanah tersebut.
Sebenarrnya dari segi fasilitas public Iran memang telah melakukan berbagai terobosan besar, karena kereta bawah tanah ternyata tidak hanya dibangun di Ibu kota, tetapi fasilitas semacam ini saat ini tengah dipersiapkan pula dibeberapa daerah, misalnya Ahwaz, Shiraz, Isfahan, Mashad, dan beberapa kota-kota penting lainnya. Pemandangan juga akan sangaat lain jika kita bepergian ke beberapa tempat di Iran dengan menggunakan bus kota, selain tiketnya yang murah, berlaku juga kebijakan pembedaan tempat bagi wanita dan pria. Wanita umumnya masuk dari pintu kanan belakang, dan tempat duduknya ada di bagian belakang, sedangkan priya menempati tempat duduk di kanan bagian muka. Mereka menaiki bus lewat pintu kanan muka. Meskipun pemandangan ini akan berbeda jika sepasang suami dan istri bepergian, karena pasangan tersebut boleh menempati kursi dibagian pria.
Tentu keadaan seperti ini tidak berlaku di kampus Shiraz University, karena di kampus batas antara pria dan wanita sedikit agak lebih longgar. Beberapa mahasiswi ada yang mempersoalkan tentang kebijakan pemisahan ini, mereka merasa bahwa pemisahan ini tidak menarik buat mereka, karena dimata mereka lelaki sama dengan wanita, sama-sama makhluk Tuhan yang dimulyakan.
Masih banyak pemandangan lain yang sangat khas Iran, jika kita berjalan-jalan di beberapa kota, kita akan menemukan jalan aspal yang berukuran lebar, mulus, setiap jalan didesain dua jalur namun terpisah satu dengan yang lain. Bahkan pemisahan itu juga dilakukan untuk kendaraan yang berukuran kecil dan besar seperti truck, bus, dengan sedan berukuran kecil. Ini terjadi dibeberapa tempat di Iran. Yang cukup menarik lagi adalah penerangan jalan. Ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi tingkat bahaya berlalu lintas. Terutama kecelakaan antara mobil kecil dan bus. Selain itu hampir sebagian besar jalan raya di Iran memiliki penerangan yang baik, hal ini termasuk di jalan-jalan utama yang lengang penduduknya. Sehingga orang yang bepergiaan merasa lebih aman dan nyaman. Ini sedikit agak berbeda dengan di ndonesia, dimana penerangan jalan pada umunya hanya terdapat di tempat-tempat tertentu yang dianggap penting, terutama terletak di daerah pemukiman manusia.
Tentu tindakan memberi penerangan jalan dilokasi yang tak dihuni manusia bisa saja dinilai inefisiensi dimata para pejabat di Indonesia.
Yang juga cukup menarik adalah taman kota yang banyak dijumpai di pinggiran jalan. Taman-taman seperti itu biasanya digunakan sebagai tempat duduk santai, terkadang dibeberapa tempat dilengkapi dengan air mancur, pepohonan nan rindang, permainan anak-anak, alat olah raga, bahkan terkadang di waktu-waktu tertentu sering kali dipakai sebagai tempat kemah terutama menjelang musim semi (summer). Selain itu taman kota sering kali menjadi tempat pilihan pavorit bagi warga Iran di musim semi untuk mendirikan tenda-tenda kecil sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Meraka biasanya selain bersantai bersama keluarga dengan membawa serta kendaraan pribadi roda empatnya, mereka juga ziarah ke tempat-tempat suci, sebagaimana pemandangan menarik ini dapat dilihat di Kota Suci Qom, dan beberapa tempat lainnya.
Fasilitas telp umum juga tidak luput saya amati, meskipun fasilitas yang satu ini tidak lagi banyak digunakan oleh anggota masyarakat akibat semaraknya kehadiran handphone. Hampir setiap anggota masyarakat memiliki handphone. Namun demikian fasilitas telp umum nampak sebagian besar masih utuh dan terpelihara secara baik. Tidak jarang masih ada satu dua orang yang menggunakan fasilitas telp koin itu.
Selama bertahun-tahun membangun tentu pasang surut atau krisis dialami oleh bangsa Iran, ini terutama terjadi di saat anasir-anasir kekuatan lama tidak rela membiarkan bangsa Iran memilih jalannya sendiri. Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun membuat pembangunan yang dilakukan oleh rezim pemerintahan baru dibawah Imam Khomeini tidak dapat berlangsung efektif, apalagi Bani Shadr selaku Presiden pemimpin pemerintahan memiliki motif-motif politik terselubung yang dapat memperlemah efektivitas negara yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Islam Iran lewat sebuah revolusi agama yang menghentak dunia.
Berbagai gelombang besar krisis di masa-masa awal pemerintahan baru pun bisa dilalui dengan baik, meskipun krisis kepemimpinan yang sempat terjadi di masa awal revolusi bisa mensirnakan harapan besar masyarakat Iran untuk hidup mandiri, lepas dari segala bentuk kolonialisme bangsa asing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa krisis selalu memiliki dua sisi, yakni sisi positif dimana setiap keberhasilan mengatasinya akan membuat suatu negara semakin kuat, dan tahan banting, setidaknya itulah yang bisa kita saksikan pada Republik Islam Iran pada saat ini. Sementara di sisi lain, jika kriris tidak mampu di atasi, maka republik Islam yang baru berusia muda tersebut akan kembali jatuh kedalam hagemoni dan kolonialisasi bangsa asing. Untunglah berbagai krisis di era-era awal revolusi berhasil diatasi oleh kepiawaian, dan keteguhan pemimpin dan rakyat Iran yang cinta pada kemandirian. Dan tak ingin mengulang pengalaman suramnya hidup dibawah kendali negara asing.
Berbagai fasilitas publik yang ada membuat saya bertanya-tanya dan mengkomparasikannya dengan Indonesia yang usianya sudah lebih dari setengah abad merdeka, dan praaktis usia pembangunannya juga lebih paanjang dengan usia pembangunan di negara mullah itu. seandainya pemerintah kita menjalankan pembangunan fasilitas publik dengan serius, maka pastilah kondisi fasilitas publik di Indonesia bisa jadi lebih baik dibanding dengan Iran. Jika kita berasumsi pembangunan di Indonesia di mulai sejak jaman Presiden Suharto, maka kondisi kita seharusnya lebih baik, karena kita memulai lebih dahulu melalui program pembangunan yang dilaksanakan oleh negara. Sayangnya kondisi kita tidak demikian, sekali Indonesia tetap Indonesia. Pembangunan diindonesia tetap saja menjadi wacana sendiri yang amat panjang jika didiskusikan.
Salah satu aspek perbedaan yang cukup menonjol jika membandingkan pemandangan antara Jakarta dan Taheran adalah sulitnya kita menemukan gedung-gedung pencakar langit di sana. Namun jika urusan fasilitas publik ada berbagai aspek menonjol yang menarik jika diperbandingkan. Di Jakarta kita memiliki sarana angkutan publik Trans Jakarta, sementara di Taheran mereka memiliki Metro yang juga dipadati sepanjang hari oleh para penumpang sebagaimana halnya di Jakarta. Yang menarik lagi di Taheran dan Iran pada umumnya ticket metro disubsidi oleh pemerintah, sehingga tarifnya jauh dekat sama saja, yakni sekitar Rp 200. Selain metro di Taheran kita masih menemukan kereta bawah tanah yang juga tiketnya bersubsidi meskipun yang agak aneh pedagang asongan sering kali menawarkan baraang dagangaannya di dalam kereta bawah tanah tersebut.
Sebenarrnya dari segi fasilitas public Iran memang telah melakukan berbagai terobosan besar, karena kereta bawah tanah ternyata tidak hanya dibangun di Ibu kota, tetapi fasilitas semacam ini saat ini tengah dipersiapkan pula dibeberapa daerah, misalnya Ahwaz, Shiraz, Isfahan, Mashad, dan beberapa kota-kota penting lainnya. Pemandangan juga akan sangaat lain jika kita bepergian ke beberapa tempat di Iran dengan menggunakan bus kota, selain tiketnya yang murah, berlaku juga kebijakan pembedaan tempat bagi wanita dan pria. Wanita umumnya masuk dari pintu kanan belakang, dan tempat duduknya ada di bagian belakang, sedangkan priya menempati tempat duduk di kanan bagian muka. Mereka menaiki bus lewat pintu kanan muka. Meskipun pemandangan ini akan berbeda jika sepasang suami dan istri bepergian, karena pasangan tersebut boleh menempati kursi dibagian pria.
Tentu keadaan seperti ini tidak berlaku di kampus Shiraz University, karena di kampus batas antara pria dan wanita sedikit agak lebih longgar. Beberapa mahasiswi ada yang mempersoalkan tentang kebijakan pemisahan ini, mereka merasa bahwa pemisahan ini tidak menarik buat mereka, karena dimata mereka lelaki sama dengan wanita, sama-sama makhluk Tuhan yang dimulyakan.
Masih banyak pemandangan lain yang sangat khas Iran, jika kita berjalan-jalan di beberapa kota, kita akan menemukan jalan aspal yang berukuran lebar, mulus, setiap jalan didesain dua jalur namun terpisah satu dengan yang lain. Bahkan pemisahan itu juga dilakukan untuk kendaraan yang berukuran kecil dan besar seperti truck, bus, dengan sedan berukuran kecil. Ini terjadi dibeberapa tempat di Iran. Yang cukup menarik lagi adalah penerangan jalan. Ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi tingkat bahaya berlalu lintas. Terutama kecelakaan antara mobil kecil dan bus. Selain itu hampir sebagian besar jalan raya di Iran memiliki penerangan yang baik, hal ini termasuk di jalan-jalan utama yang lengang penduduknya. Sehingga orang yang bepergiaan merasa lebih aman dan nyaman. Ini sedikit agak berbeda dengan di ndonesia, dimana penerangan jalan pada umunya hanya terdapat di tempat-tempat tertentu yang dianggap penting, terutama terletak di daerah pemukiman manusia.
Tentu tindakan memberi penerangan jalan dilokasi yang tak dihuni manusia bisa saja dinilai inefisiensi dimata para pejabat di Indonesia.
Yang juga cukup menarik adalah taman kota yang banyak dijumpai di pinggiran jalan. Taman-taman seperti itu biasanya digunakan sebagai tempat duduk santai, terkadang dibeberapa tempat dilengkapi dengan air mancur, pepohonan nan rindang, permainan anak-anak, alat olah raga, bahkan terkadang di waktu-waktu tertentu sering kali dipakai sebagai tempat kemah terutama menjelang musim semi (summer). Selain itu taman kota sering kali menjadi tempat pilihan pavorit bagi warga Iran di musim semi untuk mendirikan tenda-tenda kecil sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Meraka biasanya selain bersantai bersama keluarga dengan membawa serta kendaraan pribadi roda empatnya, mereka juga ziarah ke tempat-tempat suci, sebagaimana pemandangan menarik ini dapat dilihat di Kota Suci Qom, dan beberapa tempat lainnya.
Fasilitas telp umum juga tidak luput saya amati, meskipun fasilitas yang satu ini tidak lagi banyak digunakan oleh anggota masyarakat akibat semaraknya kehadiran handphone. Hampir setiap anggota masyarakat memiliki handphone. Namun demikian fasilitas telp umum nampak sebagian besar masih utuh dan terpelihara secara baik. Tidak jarang masih ada satu dua orang yang menggunakan fasilitas telp koin itu.
Antusiasme Menyambut Hari Kemenangan Revolusi
Jauh hari sebelum saya ke Iran, seorang teman berkebangsaan Iran yang pernah berkunjung ke Yogyakarta untuk mengikuti seminar internasional di Universitas Gadjah Mada mengatakan jika saya dibulan Januari hingga Maret berada di Iran, maka akan banyak peristiwa penting yang akan saya saksikan. Salah satunya adalah perayaan hari kemenangan Revolusi Islam Iran yang telah memasuki usia ke 31 tahun dan kali ini jatuh pada tanggal 11 Februari, atau di kalender Iran perayaan itu dilakukan setiap tanggal 22 Bahman.
Beberapa hari sebelum hari H itu tiba, sejumlah teman di Institute for Short Course and Sabbatical tempat saya merancang berbagai kegiatan akademik, saya juga dapat penjelasan bahwa akan ada really atau pawai besar-besaran, dan di hari nasional itu semua kegiatan akan liburkan, seperti kantor dan sekolah. Pernyataan yang kurang lebih sama juga datang dari teman-teman Indonesia yang tinggal satu apartemen dengan saya, bahkan mereka mengingatkan saya agar jangan sampai melewati momen itu.
Seperti biasanya, kendati hari itu hari libur nasional, namun di pagi hari saya tetap ada sesi pertemuan dengan Dr. Farati, yang materinya akan mengulas lebih lanjut tentang marja’. Bagi saya materi ini penting, karena menurut keyakinan saya sebagai sosiolog, marja’ telah memberi kontribusi yang luar biasa besar di sepanjang sejarah kehidupan masyarakat Iran, termasuk sumbangannya bagi independensi Iran hingga hari ini. Pagi itu, dari dalam mobil taxi yang membawa saya ke institute, saya menyaksikan betapa lengangnya suasana berlalu lintas, pada hal biasanya lalu lalang kendaraan memadati kota Qum. Jalan-jalan nampak sepi, dan beberapa ruas jalan juga ditutup.
Tak lama, saya pun sampai di institute dan memulai kegiatan akademik saya bersama Dr. Farati. Tidak beberapa lama setelah kegiatan dimulai, dari kejauhan terdengar suara orang berorasi dari atas sebuah mobil. Nampaknya suara itu menjadi tanda bahwa kegiatan perayaan kemerdekaan akan dimulai. Dan setelah kegiatan akademik saya selesai, saya bersama seorang penerjemah yang selama ini telah membantu kelancaran kegiatan di Iran pun segera bergegegas menuju “Haram”. Seperti biasanya kamipun segera memesan taksi dan langsung meluncur ke pusat rally di Qom.
Sopir taxi pun mencari jalan agar dapat mengantarkan kami tepat ke lokasi rally tanpa harus terhambat oleh kemacetan dan padatnya lalu lintas menuju lokasi rally. Alhamdullilah taxipun akhirnya berhasil menghantarkan ke lokasi yang kami inginkan. Sayapun bergegas turun dari taxi agar segera dapat menyaksikan dan mengabadikan kegiatan rally yang telah saya nanti-nantikan itu. Dan kamipun berjalan menuju “Haram” tempat rally tengah berlangsung. Mendekati pusat rally, mulai nampak kerumunan orang berlalu-lalang. Lelaki, wanita, tua muda, dengan berbagai kostum nampak memadati lokasi rally. Bahkan dalam rally ini banyak orang tua yang membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil, baik dengan di gendong maupun dengan kereta dorong.
Tidak ada mobilisasi untuk menghadiri acara itu, tetapi nampak antusiasme masyarakat begitu luar biasa untuk mendatangi acara peringatan hari kemenangan “Revolusi Islam Iran” atas berbagai kekuatan imperialisme dan praktek kolonialisme. Nampak semua lapisan masyarakat tumpah ruah di lokasi rally yang dipusatkan di tempat suci utama di kota Qom, yaitu tempat suci Fatimah Ma’sumah. Berbagai foto, spanduk, bendera, yel-yel diusung oleh peserta rally. Sebagian besar saya lihat foto-foto itu bergambar Ayatollah Imam Khomeini, dan Rahbar Imam Khamenei, baik dalam posisi bersama maupun sendirian. Juga foto-foto para shuhada yang tengah di medan laga pertempuran Iran-Irak.
Yang tidak kalah seru arak-arakan juga dipenuhi oleh kibaran bendera Iran, dan tidak kalah menarik juga bendera Hisbullah dengan warna kuningnya. Nampak bahwa Iran dan Hisbullah memiliki hubungan yang sangat dekat. Mungkin bukan hanya karena sama-sama pengikut Shia’ah, atau karena Hasan Nasrallah pernah mengenyam pendidikan di salah satu hauzah yang ada di Qom Iran, atau bahkan karena bagaimana pun cikal bakal pasukan Hisbullah tidak bisa dilepaskan dari jasa Imam Khomeini. Namun sudah pasti di hati dan pikiran rakyat Iran bahwa kemenangan pasukan Hisbullah dalam perang selama 32 hari dengan pasukan Israel yang selama ini telah mempercundangi dunia Arab, dan Islam telah membangkitkan kepercayaan diri baru di kalangan dunia Islam, khusnya penganut Shi’ah. Oleh sebab itu, kehadiran bendera Hisbullah yang ikut menyemarakkan rally tentu memiliki maknanya tertentu di hati masyarakat Iran.
Di kerumunan rally juga nampak berbagai poster yang mengutuk Amerika dan Israel dengan tulisan pendek “Down with Amerika” dan “Down with Israel”. Jumlah poster kutukan terhadap dua negara ini cukup banyak. Ketika saya tanyakan kepada teman Iran saya tentang siapa musuh negara Iran? Dia menjawab dengan jelas dan tegas, musuh negara Iran ada tiga, “Amerika”, “Israel” dan “Inggris”. Ketika saya ajukan pertanyaan lain, bagaimana dengan “Jerman” dan “Prancis”, diapun menjawab tidak, negara kami tidak bermusuhan dengan dua negara itu. Mungkin jawaban ini maknanya akan bisa dimengerti lebih baik jika kita mau membaca sejarah kolonialisme dan imperialisme di Iran. Hubungan yang relatip lebih baik antara Iran dengan Prancis dan Jerman dibanding dengan hubungan Iran dengan Amerika, dan Inggris ini juga bisa dibuktikan lewat banyaknya jumlah mobil buatan Prancis dan Jerman yang hingga kini berseliweran di kota-kota Iran. Mungkin merek mobil Peugeot, Renault dan Mercedez yang jumlahnya relative masih cukup banyak di Iran itu bisa dijadikan salah satu bukti tentang tingkat kedalaman hubungan Iran dengan negara Prancis dan Jerman.
Selain poster kutukan terhadap Amerika dan Israel saya juga melihat bendera dan topi Amerika, di arak-arak oleh massa kerumunan rally. Ketika saya hendak memasuki ruang dalam “Haram” saya bertemu dengan seseorang yang membawa poster bergambar Presiden Bush dan Obama dengan topeng, gigi drakula, dan ular berbisa diwajahnya. Di poster itu, di sebelah gambar Bush tertulis kata off, dan pada Obama tertulis kata on yang kira-kira menyimbolkan bahwa Kebijakan Presiden Obama tak beda dengan pendahulunya, Presiden Bush. Kepemimpinan di Amerika hanya berganti orang, tetapi kebijakannya tetap sama, yakni sama-sama penghisap darah (drakula) dan membahayakan (ular berbisa).
Saat memasuki bangunan “Haram” saya pun sempat melihat dari kejauhan orasi yang sedang berlangsung, sayangnya isi orasi dinyatakan dalam bahasa Persi, sehingga saya akhirnya memutuskan untuk mengambil gambar di sekitar bangunan “Haram” saja. Tidak lama setelah itu, kumandang azan dzuhur dari dalam komplek masjid “Haram” pun terdengar. Peserta rally pun mulai membubarkan diri, dan saya bersama istri, juga teman Iran segera mencari jalan untuk pulang.
Beberapa hari sebelum hari H itu tiba, sejumlah teman di Institute for Short Course and Sabbatical tempat saya merancang berbagai kegiatan akademik, saya juga dapat penjelasan bahwa akan ada really atau pawai besar-besaran, dan di hari nasional itu semua kegiatan akan liburkan, seperti kantor dan sekolah. Pernyataan yang kurang lebih sama juga datang dari teman-teman Indonesia yang tinggal satu apartemen dengan saya, bahkan mereka mengingatkan saya agar jangan sampai melewati momen itu.
Seperti biasanya, kendati hari itu hari libur nasional, namun di pagi hari saya tetap ada sesi pertemuan dengan Dr. Farati, yang materinya akan mengulas lebih lanjut tentang marja’. Bagi saya materi ini penting, karena menurut keyakinan saya sebagai sosiolog, marja’ telah memberi kontribusi yang luar biasa besar di sepanjang sejarah kehidupan masyarakat Iran, termasuk sumbangannya bagi independensi Iran hingga hari ini. Pagi itu, dari dalam mobil taxi yang membawa saya ke institute, saya menyaksikan betapa lengangnya suasana berlalu lintas, pada hal biasanya lalu lalang kendaraan memadati kota Qum. Jalan-jalan nampak sepi, dan beberapa ruas jalan juga ditutup.
Tak lama, saya pun sampai di institute dan memulai kegiatan akademik saya bersama Dr. Farati. Tidak beberapa lama setelah kegiatan dimulai, dari kejauhan terdengar suara orang berorasi dari atas sebuah mobil. Nampaknya suara itu menjadi tanda bahwa kegiatan perayaan kemerdekaan akan dimulai. Dan setelah kegiatan akademik saya selesai, saya bersama seorang penerjemah yang selama ini telah membantu kelancaran kegiatan di Iran pun segera bergegegas menuju “Haram”. Seperti biasanya kamipun segera memesan taksi dan langsung meluncur ke pusat rally di Qom.
Sopir taxi pun mencari jalan agar dapat mengantarkan kami tepat ke lokasi rally tanpa harus terhambat oleh kemacetan dan padatnya lalu lintas menuju lokasi rally. Alhamdullilah taxipun akhirnya berhasil menghantarkan ke lokasi yang kami inginkan. Sayapun bergegas turun dari taxi agar segera dapat menyaksikan dan mengabadikan kegiatan rally yang telah saya nanti-nantikan itu. Dan kamipun berjalan menuju “Haram” tempat rally tengah berlangsung. Mendekati pusat rally, mulai nampak kerumunan orang berlalu-lalang. Lelaki, wanita, tua muda, dengan berbagai kostum nampak memadati lokasi rally. Bahkan dalam rally ini banyak orang tua yang membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil, baik dengan di gendong maupun dengan kereta dorong.
Tidak ada mobilisasi untuk menghadiri acara itu, tetapi nampak antusiasme masyarakat begitu luar biasa untuk mendatangi acara peringatan hari kemenangan “Revolusi Islam Iran” atas berbagai kekuatan imperialisme dan praktek kolonialisme. Nampak semua lapisan masyarakat tumpah ruah di lokasi rally yang dipusatkan di tempat suci utama di kota Qom, yaitu tempat suci Fatimah Ma’sumah. Berbagai foto, spanduk, bendera, yel-yel diusung oleh peserta rally. Sebagian besar saya lihat foto-foto itu bergambar Ayatollah Imam Khomeini, dan Rahbar Imam Khamenei, baik dalam posisi bersama maupun sendirian. Juga foto-foto para shuhada yang tengah di medan laga pertempuran Iran-Irak.
Yang tidak kalah seru arak-arakan juga dipenuhi oleh kibaran bendera Iran, dan tidak kalah menarik juga bendera Hisbullah dengan warna kuningnya. Nampak bahwa Iran dan Hisbullah memiliki hubungan yang sangat dekat. Mungkin bukan hanya karena sama-sama pengikut Shia’ah, atau karena Hasan Nasrallah pernah mengenyam pendidikan di salah satu hauzah yang ada di Qom Iran, atau bahkan karena bagaimana pun cikal bakal pasukan Hisbullah tidak bisa dilepaskan dari jasa Imam Khomeini. Namun sudah pasti di hati dan pikiran rakyat Iran bahwa kemenangan pasukan Hisbullah dalam perang selama 32 hari dengan pasukan Israel yang selama ini telah mempercundangi dunia Arab, dan Islam telah membangkitkan kepercayaan diri baru di kalangan dunia Islam, khusnya penganut Shi’ah. Oleh sebab itu, kehadiran bendera Hisbullah yang ikut menyemarakkan rally tentu memiliki maknanya tertentu di hati masyarakat Iran.
Di kerumunan rally juga nampak berbagai poster yang mengutuk Amerika dan Israel dengan tulisan pendek “Down with Amerika” dan “Down with Israel”. Jumlah poster kutukan terhadap dua negara ini cukup banyak. Ketika saya tanyakan kepada teman Iran saya tentang siapa musuh negara Iran? Dia menjawab dengan jelas dan tegas, musuh negara Iran ada tiga, “Amerika”, “Israel” dan “Inggris”. Ketika saya ajukan pertanyaan lain, bagaimana dengan “Jerman” dan “Prancis”, diapun menjawab tidak, negara kami tidak bermusuhan dengan dua negara itu. Mungkin jawaban ini maknanya akan bisa dimengerti lebih baik jika kita mau membaca sejarah kolonialisme dan imperialisme di Iran. Hubungan yang relatip lebih baik antara Iran dengan Prancis dan Jerman dibanding dengan hubungan Iran dengan Amerika, dan Inggris ini juga bisa dibuktikan lewat banyaknya jumlah mobil buatan Prancis dan Jerman yang hingga kini berseliweran di kota-kota Iran. Mungkin merek mobil Peugeot, Renault dan Mercedez yang jumlahnya relative masih cukup banyak di Iran itu bisa dijadikan salah satu bukti tentang tingkat kedalaman hubungan Iran dengan negara Prancis dan Jerman.
Selain poster kutukan terhadap Amerika dan Israel saya juga melihat bendera dan topi Amerika, di arak-arak oleh massa kerumunan rally. Ketika saya hendak memasuki ruang dalam “Haram” saya bertemu dengan seseorang yang membawa poster bergambar Presiden Bush dan Obama dengan topeng, gigi drakula, dan ular berbisa diwajahnya. Di poster itu, di sebelah gambar Bush tertulis kata off, dan pada Obama tertulis kata on yang kira-kira menyimbolkan bahwa Kebijakan Presiden Obama tak beda dengan pendahulunya, Presiden Bush. Kepemimpinan di Amerika hanya berganti orang, tetapi kebijakannya tetap sama, yakni sama-sama penghisap darah (drakula) dan membahayakan (ular berbisa).
Saat memasuki bangunan “Haram” saya pun sempat melihat dari kejauhan orasi yang sedang berlangsung, sayangnya isi orasi dinyatakan dalam bahasa Persi, sehingga saya akhirnya memutuskan untuk mengambil gambar di sekitar bangunan “Haram” saja. Tidak lama setelah itu, kumandang azan dzuhur dari dalam komplek masjid “Haram” pun terdengar. Peserta rally pun mulai membubarkan diri, dan saya bersama istri, juga teman Iran segera mencari jalan untuk pulang.
Exercise Demokrasi di Negeri Para Mullah
Sudah lama saya mendengar konsep willayatul faqih atau system pemerintahan di negeri Iran. Konsep ini merupakan terobosan genius yang didesign Ayatullah Imam Qomeini yang dikenal sebagai Bapak Revolusi Islam Iran. Di Iran sendiri almarhum Ayatollah Khomeini namanya sangat harum, dia menjadi salah satu sosok yang sangat dihormati dan dibanggakan masyarakat. Sang Ayatollah semasa hidupnya dikenal sebagai seseorang yang sangat pemberani, karena mediang di tahun 63-an berani secara vulgar mengkritik pemimpin Iran dikenal amat represif dan otoriter terhadap rakyatnya. Selain itu pula masih banyak kelebihan sang Imam, diantaranya beliau juga dikenal sebagai sosok yang cerdas. Diusianya yang reletaif sangat dini, yakni 6 tahun beliau hanya membutuhkan waktu 1 tahun saja untuk menghapal Qur’an. Dia juga dikenal sebagai seorang filsuf dan ahli irfan.
Saya sendiri sudah lama berpikiran bahwa Negara Islam Iran yang merupakan buah dari Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini saat ini telah memasuki usianya yang ke 31 tahun. Sebagai sebuah negara tentu usia 30 tahun itu bukan usia yang pendek, apalagi Negara Iran dari sejak awal keberhasilan revolusinya terus menerus dihujani dengan berbagai macam tekanan dari negara-negara barat yang dikomandoi Amerika. Negara-negara besar itu, terutama Amerika, Inggris, dan Eropa sampai saat ini amat tidak menyukai Iran, ekspresi ketidaksukaan ini tentu diungkapkan secara terus terang melalui berbagai sikap politiknya. Kendati tekanan internasional dari negara-negara barat sangat keras, namun Republik Islam ini tetap bertahan, bahkan terus menerus menunjukkan berbagai prestasinya di berbagai bidang kehidupan, seperti dalam bidang militer, nuklir, otomotif, rekayasa genetika, dll.
Keberhasilan Negara Republik Islam Iran mempertahankan dirinya dari berbagai tekanan Barat ini jelas jawabannya tidak bisa disederhanakan semata-mata karena kehebatan militer yang mereka miliki, dibalik keberhasilan itu tentu saja ada sistem pengetahuan, kebudayaan, nilai dan berbagai infrastruktur sosial politik yang mendukungnya, salah satunya yang cukup penting dilevel pemerintahan adalah berlakunya konsep Willayatul Faqih yang diarsitekturi oleh almarhum Imam Khomeini. Konsep ini dari segi ilmiah ketatanegaraan merupakan konsep yang orisinal, dan merupakan buah kedalaman dan kematangan pemikiran sang Imam. Disebut orisinal karena konsep ini bukan merupakan foto copy dari berbagai konsep pemerintahan yang ada baik di dunia Barat maupun Timur. Bahkan konsep Willayatul Faqih dapat menjadi pesaing berat sistem pemerintahan demokrasi yang dipromosikan dunia Barat, khususnya Amerika.
Seandainya sistem Willayatul Faqih yang digunakan Republik Islam Iran ini dalam jangka waktu panjang berhasil mengatasi dan melampaui berbagai problema pemerintahan dan berbagai krisis sosial politik dan anomali yang biasanya muncul di suatu negara modern, maka bisa jadi sistem tersebut akan menggeser supremasi sistem demokrasi Amerika yang selama ini diklaim sebagai sistem pemerintahan paling baik di dunia, dan menjadi kiblat sistem pemerintahan demokratis dunia. Tumbangnya supremasi tersebut secara perlahan-lahan akan menggeser posisi superioritas Amerika sebagai kiblat demokrasi dunia, dan menyebabkan Republik Islam Iran dengan konsep Willayatul Faqih yang digunakannya akan menjadi wacana dan praktek baru demokrasi dunia.
Keberhasilan system demokrasi Amerika nampaknya perlu dipersoalkan kembali, hal ini tidak hanya menyangkut efektivitas pemerintahannya dalam mengatasi berbagai persoalan dalam negeri, menyangkut masalah kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, angka bunuh diri, belum lagi krisis ekonomi serius yang tengah dihadapinya. Dalam bidang politik luar negeri persoalannya lebih runyam lagi, terlebih menyangkut politik double standart yang telah lama diterapkannya terhadap Israel di satu sisi dan dunia Islam di sisi yang lain. Tampilnya Presiden Obama yang semula diharapkan akan mendatangkan perdamaian di kawasan Timur Tengah, terutama penyelesaian masalah Palestina dan Israel namun ternyata harapan itu belum menampakkan tanda-tanda yang kuat. Lobi Yahudi dan kepentingan Amerika ternyata jauh lebih mengemuka dibandingkan kepentingan bangsa Palestina yang telah lama direnggut hak-haknya untuk mendirikan negara merdeka di atas wilayahnya sendiri.
Mungkin sampai kapanpun akan tetap sulit bagi Amerika untuk memperjuangkan dan mewujudkan ajaran tentang keadilan dalam medan politik internasionalnya, terutama jika keadilan itu tidak menguntungkan dirinya, apalagi membawa dampak yang merugikan bagi dirinya. Oleh sebab itu, mengingat demokrasi barat tidak memiliki prinsip transendensi pada dirinya, maka demokrasi Amerika tidak akan membawa prospek kemanusiaan yang jauh lebih cerah bagi masa depan umat manusia. Memang bisa jadi demokrasi Amerika mendatangkan kemakmuran, kesejahteraan bagi masyarakatnya, namun pada saat yang sama bisa jadi Amerika tetap menjalankan praktik muka dua, pelanggaran terhadap prinsip keadilan universal bagi negara lain. Praktek tersebut dapat berlangsung karena pilar penyangga demokrasi Barat, atau Amerika adalah materialisme dan individualisme.
Oleh sebab itu, sistem demokrasi Amerika banyak menunjukkan kelemahan dan patologinya di sana-sini. Sementara, konsep Wilayatul Faqih mengenal prinsip dan spirit transendensi sehingga survivalitasnya akan jauh lebih terjaga. Seperti demokrasi Barat, dalam konsep Wilayatul Faqih pun dikenal prinsip pemisahan kekuasaan pada tiga elemen yang terdapat dalam sistem pemerintahan, yaitu: Eksekutif yang dikepalai Presiden, dan pemilihannya dilakukan secara langsung oleh suara rakyat. Demikian juga Legislatif yang saat ini anggotanya berjumlah 300 orang, dan dipilih langsung oleh masyarakat. Kekuasaan judiciary atau kekuasaan peradilan anggotanya ditetapkan oleh supreme leader. Kendati demikian sistem pemerintahan di Republik Islam Iran memang mengenal Supreme leader yang memiliki kedudukan tertinggi dalam pemerintahan, namun hal tersebut tidak lantas berarti bahwa lembaga tersebut tidak memiliki kekuatan yang mengontrolnya.
Untuk menangkal terjadinya paraktek kesewenang-wenangan atau abuse of power maka ada lembaga yang disebut dengan assembly of expert yang saat ini anggotanya sebanyak 80 orang dan dipilih seca langsung oleh rakyat dari kelompok high scholar dan mujtahid. Biasanya mereka adalah terdiri dari Profesor senior universitas dan sekelompok orang yang di dalam system hauzah yang berlaku pada masyarakat shi’ah telah dianggap mumpuni dalam ilmu keagamaan. Kewenangan assembly of expert adalah memilih supreme leader, memberi pertimbangan, dan bila dianggap menyeleweng, maka lembaga ini bisa memberhentikan supreme leader yang biasanya dijabat oleh seorang grand Ayatollah (grand marja’ ) yang dalam hirarki sistem hauzah memiliki level tertinggi.
Selain lembaga yang telah dijelaskan di atas, Republik Islam Iran masih mengenal dua lembaga lain yaitu guardian council atau dewan keamanan yang keanggotaannya berjumlah 12 orang dengan formasi 6 orang Profesor dalam bidang hukum (ahli hukum) dan 6 orang sisanya adalah para mujtahid (mumpuni dalam bidang agama). Tugas lembaga ini adalah menjaga atau memberi penilaian apakah berbagai produk aktivitas yang dilakukan parlemen bertentangan dengan konstitusi dan hukum Islam atau tidak. Selain itu masih terdapat satu lembaga yang cukup penting dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran, yakni adanya lembaga expediency council yang memiliki tugas memberi penilaian apakah sesuatu masih bisa dijalankan atau disebut perkecualian (exception) atau tidak, meskipun telah ada penilaian dari parlemen dan guardian council. Adapun expediency council diangkat oleh supreme leader. Saat ini expediency council atau sering juga disebut lembaga kemaslahatan dipimpin oleh mantan Presiden dan politisi senior Iran, yakni Ayatollah Rafsanjani.
Dari uraian di atas maka peluang penyalah gunaan wewenang dari masing-masing badan sangat minimal, untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada peluang. Dan dalam konteks Republik Islam Iran kita tidak akan melihat pemerintah sebagai pelaksana kekuasaan selain bertugas melaksanakan pemerintahan, ia juga membuat peraturan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat atau Legislative, atau Instruksi Presiden. Apalagi menetapkan ketua Mahkamah Agung atau Judikatif seperti kita lihat dalam sistem pemerintahan Indonesia yang terkesan kedudukannya harus mendapat restu atau lebih rendah dari Presiden.
Sistem pemerintahan yang berlaku di Republik Islam Iran hingga kini masih bekerja dengan baik, meskipun di sejumlah media asing dibangun opini seolah-olah masyarakat mendesak untuk mereformasi posisi dan kedudukan pemimpin agama terutama Supreme Leader. Dengan melihat kondisi sosiologi dan histori masyarakat Shi’ah di Iran, rasanya sangat tidak mungkin mereformasi posisi keterlibatan agamawan atau pemimpin agama, karena masyarakat Islam Shi’ah di Iran memiliki struktur sosial model hauzah, dimana di dalam hirarki struktur tersebut agamawan memiliki peran yang amat penting. Mereformasi posisi dan keterlibatan agamawan, baik itu peran marja’, yang mengisi struktur tertinggi dalam hirarki masyarakat Shi’ah, kemudian kalangan mujtahid, dan teacher atau general clerk dan murid bisa berarti ingin mengembalikan posisi sistem pemerintahan ke era sebelum Revolusi Islam Iran.
Di mata mayoritas masyarakat Islam Shi’ah Iran reformasi tersebut jelas dianggap sebagai proyek barat yang ingin menggulingkan Republik Islam Iran dengan maksud agar kembali mudah diintervensi dan diobok-obok Barat sebagaimana pernah terjadi di era kolonial sebelumnya, namun berdirinya Republik Islam Iran bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan, melainkan berangkat dari referendum yang didukung oleh mayoritas rakyatnya.
Saya sendiri sudah lama berpikiran bahwa Negara Islam Iran yang merupakan buah dari Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini saat ini telah memasuki usianya yang ke 31 tahun. Sebagai sebuah negara tentu usia 30 tahun itu bukan usia yang pendek, apalagi Negara Iran dari sejak awal keberhasilan revolusinya terus menerus dihujani dengan berbagai macam tekanan dari negara-negara barat yang dikomandoi Amerika. Negara-negara besar itu, terutama Amerika, Inggris, dan Eropa sampai saat ini amat tidak menyukai Iran, ekspresi ketidaksukaan ini tentu diungkapkan secara terus terang melalui berbagai sikap politiknya. Kendati tekanan internasional dari negara-negara barat sangat keras, namun Republik Islam ini tetap bertahan, bahkan terus menerus menunjukkan berbagai prestasinya di berbagai bidang kehidupan, seperti dalam bidang militer, nuklir, otomotif, rekayasa genetika, dll.
Keberhasilan Negara Republik Islam Iran mempertahankan dirinya dari berbagai tekanan Barat ini jelas jawabannya tidak bisa disederhanakan semata-mata karena kehebatan militer yang mereka miliki, dibalik keberhasilan itu tentu saja ada sistem pengetahuan, kebudayaan, nilai dan berbagai infrastruktur sosial politik yang mendukungnya, salah satunya yang cukup penting dilevel pemerintahan adalah berlakunya konsep Willayatul Faqih yang diarsitekturi oleh almarhum Imam Khomeini. Konsep ini dari segi ilmiah ketatanegaraan merupakan konsep yang orisinal, dan merupakan buah kedalaman dan kematangan pemikiran sang Imam. Disebut orisinal karena konsep ini bukan merupakan foto copy dari berbagai konsep pemerintahan yang ada baik di dunia Barat maupun Timur. Bahkan konsep Willayatul Faqih dapat menjadi pesaing berat sistem pemerintahan demokrasi yang dipromosikan dunia Barat, khususnya Amerika.
Seandainya sistem Willayatul Faqih yang digunakan Republik Islam Iran ini dalam jangka waktu panjang berhasil mengatasi dan melampaui berbagai problema pemerintahan dan berbagai krisis sosial politik dan anomali yang biasanya muncul di suatu negara modern, maka bisa jadi sistem tersebut akan menggeser supremasi sistem demokrasi Amerika yang selama ini diklaim sebagai sistem pemerintahan paling baik di dunia, dan menjadi kiblat sistem pemerintahan demokratis dunia. Tumbangnya supremasi tersebut secara perlahan-lahan akan menggeser posisi superioritas Amerika sebagai kiblat demokrasi dunia, dan menyebabkan Republik Islam Iran dengan konsep Willayatul Faqih yang digunakannya akan menjadi wacana dan praktek baru demokrasi dunia.
Keberhasilan system demokrasi Amerika nampaknya perlu dipersoalkan kembali, hal ini tidak hanya menyangkut efektivitas pemerintahannya dalam mengatasi berbagai persoalan dalam negeri, menyangkut masalah kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, angka bunuh diri, belum lagi krisis ekonomi serius yang tengah dihadapinya. Dalam bidang politik luar negeri persoalannya lebih runyam lagi, terlebih menyangkut politik double standart yang telah lama diterapkannya terhadap Israel di satu sisi dan dunia Islam di sisi yang lain. Tampilnya Presiden Obama yang semula diharapkan akan mendatangkan perdamaian di kawasan Timur Tengah, terutama penyelesaian masalah Palestina dan Israel namun ternyata harapan itu belum menampakkan tanda-tanda yang kuat. Lobi Yahudi dan kepentingan Amerika ternyata jauh lebih mengemuka dibandingkan kepentingan bangsa Palestina yang telah lama direnggut hak-haknya untuk mendirikan negara merdeka di atas wilayahnya sendiri.
Mungkin sampai kapanpun akan tetap sulit bagi Amerika untuk memperjuangkan dan mewujudkan ajaran tentang keadilan dalam medan politik internasionalnya, terutama jika keadilan itu tidak menguntungkan dirinya, apalagi membawa dampak yang merugikan bagi dirinya. Oleh sebab itu, mengingat demokrasi barat tidak memiliki prinsip transendensi pada dirinya, maka demokrasi Amerika tidak akan membawa prospek kemanusiaan yang jauh lebih cerah bagi masa depan umat manusia. Memang bisa jadi demokrasi Amerika mendatangkan kemakmuran, kesejahteraan bagi masyarakatnya, namun pada saat yang sama bisa jadi Amerika tetap menjalankan praktik muka dua, pelanggaran terhadap prinsip keadilan universal bagi negara lain. Praktek tersebut dapat berlangsung karena pilar penyangga demokrasi Barat, atau Amerika adalah materialisme dan individualisme.
Oleh sebab itu, sistem demokrasi Amerika banyak menunjukkan kelemahan dan patologinya di sana-sini. Sementara, konsep Wilayatul Faqih mengenal prinsip dan spirit transendensi sehingga survivalitasnya akan jauh lebih terjaga. Seperti demokrasi Barat, dalam konsep Wilayatul Faqih pun dikenal prinsip pemisahan kekuasaan pada tiga elemen yang terdapat dalam sistem pemerintahan, yaitu: Eksekutif yang dikepalai Presiden, dan pemilihannya dilakukan secara langsung oleh suara rakyat. Demikian juga Legislatif yang saat ini anggotanya berjumlah 300 orang, dan dipilih langsung oleh masyarakat. Kekuasaan judiciary atau kekuasaan peradilan anggotanya ditetapkan oleh supreme leader. Kendati demikian sistem pemerintahan di Republik Islam Iran memang mengenal Supreme leader yang memiliki kedudukan tertinggi dalam pemerintahan, namun hal tersebut tidak lantas berarti bahwa lembaga tersebut tidak memiliki kekuatan yang mengontrolnya.
Untuk menangkal terjadinya paraktek kesewenang-wenangan atau abuse of power maka ada lembaga yang disebut dengan assembly of expert yang saat ini anggotanya sebanyak 80 orang dan dipilih seca langsung oleh rakyat dari kelompok high scholar dan mujtahid. Biasanya mereka adalah terdiri dari Profesor senior universitas dan sekelompok orang yang di dalam system hauzah yang berlaku pada masyarakat shi’ah telah dianggap mumpuni dalam ilmu keagamaan. Kewenangan assembly of expert adalah memilih supreme leader, memberi pertimbangan, dan bila dianggap menyeleweng, maka lembaga ini bisa memberhentikan supreme leader yang biasanya dijabat oleh seorang grand Ayatollah (grand marja’ ) yang dalam hirarki sistem hauzah memiliki level tertinggi.
Selain lembaga yang telah dijelaskan di atas, Republik Islam Iran masih mengenal dua lembaga lain yaitu guardian council atau dewan keamanan yang keanggotaannya berjumlah 12 orang dengan formasi 6 orang Profesor dalam bidang hukum (ahli hukum) dan 6 orang sisanya adalah para mujtahid (mumpuni dalam bidang agama). Tugas lembaga ini adalah menjaga atau memberi penilaian apakah berbagai produk aktivitas yang dilakukan parlemen bertentangan dengan konstitusi dan hukum Islam atau tidak. Selain itu masih terdapat satu lembaga yang cukup penting dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran, yakni adanya lembaga expediency council yang memiliki tugas memberi penilaian apakah sesuatu masih bisa dijalankan atau disebut perkecualian (exception) atau tidak, meskipun telah ada penilaian dari parlemen dan guardian council. Adapun expediency council diangkat oleh supreme leader. Saat ini expediency council atau sering juga disebut lembaga kemaslahatan dipimpin oleh mantan Presiden dan politisi senior Iran, yakni Ayatollah Rafsanjani.
Dari uraian di atas maka peluang penyalah gunaan wewenang dari masing-masing badan sangat minimal, untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada peluang. Dan dalam konteks Republik Islam Iran kita tidak akan melihat pemerintah sebagai pelaksana kekuasaan selain bertugas melaksanakan pemerintahan, ia juga membuat peraturan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat atau Legislative, atau Instruksi Presiden. Apalagi menetapkan ketua Mahkamah Agung atau Judikatif seperti kita lihat dalam sistem pemerintahan Indonesia yang terkesan kedudukannya harus mendapat restu atau lebih rendah dari Presiden.
Sistem pemerintahan yang berlaku di Republik Islam Iran hingga kini masih bekerja dengan baik, meskipun di sejumlah media asing dibangun opini seolah-olah masyarakat mendesak untuk mereformasi posisi dan kedudukan pemimpin agama terutama Supreme Leader. Dengan melihat kondisi sosiologi dan histori masyarakat Shi’ah di Iran, rasanya sangat tidak mungkin mereformasi posisi keterlibatan agamawan atau pemimpin agama, karena masyarakat Islam Shi’ah di Iran memiliki struktur sosial model hauzah, dimana di dalam hirarki struktur tersebut agamawan memiliki peran yang amat penting. Mereformasi posisi dan keterlibatan agamawan, baik itu peran marja’, yang mengisi struktur tertinggi dalam hirarki masyarakat Shi’ah, kemudian kalangan mujtahid, dan teacher atau general clerk dan murid bisa berarti ingin mengembalikan posisi sistem pemerintahan ke era sebelum Revolusi Islam Iran.
Di mata mayoritas masyarakat Islam Shi’ah Iran reformasi tersebut jelas dianggap sebagai proyek barat yang ingin menggulingkan Republik Islam Iran dengan maksud agar kembali mudah diintervensi dan diobok-obok Barat sebagaimana pernah terjadi di era kolonial sebelumnya, namun berdirinya Republik Islam Iran bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan, melainkan berangkat dari referendum yang didukung oleh mayoritas rakyatnya.
Menemukan Harmoni Alam di Istana Kashan
Tepatnya hari Jumat, 16 Januari 2010 saya dan rombonggan pergi mengunjungi istana Kashan. Perjalanan dari kota Qom menuju Kashan memakan waktu berjam-jam lamanya. Setelah melalui perjalanan panjang melewati jalan yang beraspal mulus dengan hamparan pemandangan tanah yang tandus, berbukit, kami akhirnya tiba di Kashan. Pagi itu, suasana di tempat itu masih terasa sepi, dan rombongan kamipun akhirnya memarkir kendaraan di taman publik yang letaknya hanya beberapa meter di depan istana Kashan.
Kamipun sarapan pagi beramai-ramai, sembari mencicipi roti khas Iran, yang dikenal dengan sebutan “nun”. Menurut penjelasan yang saya dengar dari seorang pembuat roti, “nun” memang memiliki berbagai jenis, selain ada yang dibuat dengan menggunakan tangan trampil. Ada juga yang diproduksi dengan menggunakan mesin. Tetapi kualitas “nun” yang bagus dan berharga lebih mahal biasanya dibuat dengan menggunakan tangan terampil, bukan dengan menggunakan mesin. Keterangan ini baru saya dapatkan setelah komunikasi dan interaksi saya semakin luas dengan orang Iran.
Setelah acara santap pagi selesai, kamipun meninggalkan taman dan bergegas menggulung tikar, mengembalikannya ke mobil dan segera memasuki istana Emir Kabir, Kashan yang juga dikenal dengan sebutan Finn Garden. Di gerbang depan nampak seorang penjaga karcis, dan rombongan kamipun mulai memasuki istana melalui gerbang besar yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua, dengan berbagai manik-manik dari besi yang kelihatan sudah berusia tua. Di pintu gerbang, sedikitpun keindahan istana belum terlalu nampak. Keindahan itu baru nampak jelas setelah kami melewati pintu gerbang, dan melewati jalan kecil berkelok, dan masuk ke dalam halaman istana.
Tembok pagar yang mengelilinginya setinggi lebih dari 3 meter membuat orang tidak mengira jika dibalik tembok terdapat istana yang megah dan indah. Berbagai keistimewaan di dalam istana memang mudah dilihat, misalnya air mancur yang terletak di dalam bangunan istana, dan di luar. Teknologi air mancur ini sangat istimewa, karena dibuat dengan teknologi masa lampau yang belum menggunakan mesin. Air mancur dapat memancar karena berasal dari sumber mata air yang letaknya di dalam bak penampungan yang dibuat lebih tingggi. Selain itu nampak bahwa mata air yang ada ternyata dalam sejarahnya hanya pernah mengalami kekeringan satu kali, setelah pembenahan sumber mata air yang jernih itupun tak pernah mengalami kekeringan. Padahal istana Kashan di kelilingi oleh daerah yang amat kering, berbukit, dan tergolong tandus. Selama perjalanan pulang ke Qum saya pun sempat memikirkan betapa istimewanya sang penemu mata air di istana itu, mengingat hingga saat ini air masih mengalir deras dan jernrih.
Selain itu Finn Garden di Kashan ini bagunannya dirancang sangat elok, memiliki latar depan ratusan mungkin ribuan pohon cemara yang usianya sudah cukup tua, bisa jadi sama tuanya dengan usia istana. Arsitektur bangunan istana juga dibagian dinding dan atapnya dihiasi dengan sentuhan lukisan seni Iran yang dikenal bernilai tinggi. Bahkan jika sekilas di amati dari muka, istna Finn Garden ini mirip dengan Mesjid Tajmahal India. Belum lagi air mancur yang muncul dimana-mana, yang letaknya di dalam dan di depan bangunan istana. Teknologi air mancurpun menjadi sesuatu yang menarik untuk di amati, karena sumber air mancur berada di tempat yang tinggi, dan air dialirkan menuju tempat yang lebih rendah kemudian diberi semacam tekanan. Semakin rendah posisi air mancur dari sumber mata air utama, maka semakin kuat pula daya sembur air mancur itu. Selain itu, bangunan juga dilengkapi dengan desain yang artistic, indah, lengkap dengan seni lukisan Iran yang terkenal. Di sekitar istana juga ditemukan bak mandi raja berukuran besar.
Menurut pandangan saya betapa tinggi nilai arsitektur yang terkandung pada istana Kashan, keindahan ini terdapat pada hampir seluruh bagian istana, semuanya seolah merupakan suatu kesatuan yang tersusun dari berbagai elemen yang saling mengisi dan melengkapi. Mulai dari seni banguan yang sangat indah, letaknya di sebuah lingkungan yang asri, dipenuhi pepohonan cemara, ditambah dengan gemericik suara air mancur yang mengalir tanpa henti, meski kemarau panjang tengah berlangsung di lingkungan sekitarnya. Inilai harmoni alam yang indah. Banyak pelajaran dan inspirasi kehidupan yang dapat dipetik dari balik Istana Kashan.
Kamipun sarapan pagi beramai-ramai, sembari mencicipi roti khas Iran, yang dikenal dengan sebutan “nun”. Menurut penjelasan yang saya dengar dari seorang pembuat roti, “nun” memang memiliki berbagai jenis, selain ada yang dibuat dengan menggunakan tangan trampil. Ada juga yang diproduksi dengan menggunakan mesin. Tetapi kualitas “nun” yang bagus dan berharga lebih mahal biasanya dibuat dengan menggunakan tangan terampil, bukan dengan menggunakan mesin. Keterangan ini baru saya dapatkan setelah komunikasi dan interaksi saya semakin luas dengan orang Iran.
Setelah acara santap pagi selesai, kamipun meninggalkan taman dan bergegas menggulung tikar, mengembalikannya ke mobil dan segera memasuki istana Emir Kabir, Kashan yang juga dikenal dengan sebutan Finn Garden. Di gerbang depan nampak seorang penjaga karcis, dan rombongan kamipun mulai memasuki istana melalui gerbang besar yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua, dengan berbagai manik-manik dari besi yang kelihatan sudah berusia tua. Di pintu gerbang, sedikitpun keindahan istana belum terlalu nampak. Keindahan itu baru nampak jelas setelah kami melewati pintu gerbang, dan melewati jalan kecil berkelok, dan masuk ke dalam halaman istana.
Tembok pagar yang mengelilinginya setinggi lebih dari 3 meter membuat orang tidak mengira jika dibalik tembok terdapat istana yang megah dan indah. Berbagai keistimewaan di dalam istana memang mudah dilihat, misalnya air mancur yang terletak di dalam bangunan istana, dan di luar. Teknologi air mancur ini sangat istimewa, karena dibuat dengan teknologi masa lampau yang belum menggunakan mesin. Air mancur dapat memancar karena berasal dari sumber mata air yang letaknya di dalam bak penampungan yang dibuat lebih tingggi. Selain itu nampak bahwa mata air yang ada ternyata dalam sejarahnya hanya pernah mengalami kekeringan satu kali, setelah pembenahan sumber mata air yang jernih itupun tak pernah mengalami kekeringan. Padahal istana Kashan di kelilingi oleh daerah yang amat kering, berbukit, dan tergolong tandus. Selama perjalanan pulang ke Qum saya pun sempat memikirkan betapa istimewanya sang penemu mata air di istana itu, mengingat hingga saat ini air masih mengalir deras dan jernrih.
Selain itu Finn Garden di Kashan ini bagunannya dirancang sangat elok, memiliki latar depan ratusan mungkin ribuan pohon cemara yang usianya sudah cukup tua, bisa jadi sama tuanya dengan usia istana. Arsitektur bangunan istana juga dibagian dinding dan atapnya dihiasi dengan sentuhan lukisan seni Iran yang dikenal bernilai tinggi. Bahkan jika sekilas di amati dari muka, istna Finn Garden ini mirip dengan Mesjid Tajmahal India. Belum lagi air mancur yang muncul dimana-mana, yang letaknya di dalam dan di depan bangunan istana. Teknologi air mancurpun menjadi sesuatu yang menarik untuk di amati, karena sumber air mancur berada di tempat yang tinggi, dan air dialirkan menuju tempat yang lebih rendah kemudian diberi semacam tekanan. Semakin rendah posisi air mancur dari sumber mata air utama, maka semakin kuat pula daya sembur air mancur itu. Selain itu, bangunan juga dilengkapi dengan desain yang artistic, indah, lengkap dengan seni lukisan Iran yang terkenal. Di sekitar istana juga ditemukan bak mandi raja berukuran besar.
Menurut pandangan saya betapa tinggi nilai arsitektur yang terkandung pada istana Kashan, keindahan ini terdapat pada hampir seluruh bagian istana, semuanya seolah merupakan suatu kesatuan yang tersusun dari berbagai elemen yang saling mengisi dan melengkapi. Mulai dari seni banguan yang sangat indah, letaknya di sebuah lingkungan yang asri, dipenuhi pepohonan cemara, ditambah dengan gemericik suara air mancur yang mengalir tanpa henti, meski kemarau panjang tengah berlangsung di lingkungan sekitarnya. Inilai harmoni alam yang indah. Banyak pelajaran dan inspirasi kehidupan yang dapat dipetik dari balik Istana Kashan.
Berkunjung ke Perpustakaan Ayatollah Mar’ashi al-Najafi
Persisnya tanggal 11 Januari 2010 lalu, saya berkesempatan mengunjungi sebuah perpustakaan terbesar milik seorang mullah bernama Ayatollah Mar’ashi al-Najafi. Sudah dapat diterka bahwa nama al-Najafi menunjukkan suatu wilayah atau tempat di Irak yaitu kota Najaf yang hingga kini dikenal sebagai basis bagi para pengikut Shi’ah di wilayah Irak. Tentu menjadi tanda tanya mengapa Seorang Ayatollah yang terpandang di daerah Najaf Irak membangun perpustakaannya di Iran, khususnya di kota Qum? Bagi orang Iran, dan penganut Syi’ah kota Qom dikenal sebagai kota suci. Di kota ini terdapat makam cucu Rasullullah SAW yang bernama Hajrat Fatimah Ma’sumah yang merupakan adik Imam Reza yang diyakini sebagai Imam ke 8 dalam tradisi Shi’ah.
Kecintaan orang Shi’ah terhadap Fatimah luar biasa dalamnya, karena alasan itu pula mengapa Ayatollah Mar’ashi al-Najafi hijrah dari al-Najafi Irak menuju ke kota suci Qum. Padahal di Najaf sang ayatollah memiliki status sosial yang tinggi, popularitas yang kuat, serta posisi kekuasaan sosial yang solid. Namun inilah faktanya, kecintaan religius menjadi motiv utama sang ayatollah. Menurut cerita salah seorang Indonesia yang telah tinggal puluhan tahun di Iran, ada suatu makna dan kebanggan tersendiri bagi seorang Mullah jika dapat meninggal dunia di Qum, apalagi bisa disemayamkan di komplek pemakaman suci Fatimah Maksumah. Oleh sebab itu, bisa dimengerti jika sejumlah Ayatollah banyak dimakamkan di sana, seperti Ayatollah Burujerdi, guru Imam Khomeini, Ayatollah Tabataba’i yang dikenal sebagai filsuf dan penulis Tafsir Al-Mizan, shahid Murtadha Muthahhari, salah seorang filsuf produktif yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh dan arsitek revolusi Islam Iran.
Perpustakaan Ayatollah Mar’ashi al-Najafi tidak pernah lengang dari pengunjung. Perpustakaan milik Ayatollah Mar’ashi Najafi ini memiliki koleksi buku yang sangat kaya bukan saja dari segi jumlah, namun dari segi kualitas dan nilai buku yang sangat langka. Ini juga seolah bisa menjadi salah satu simbol penting tentang betapa tingginya kecintaan seorang Ayatollah terhadap ilmu pengetahuan, dan keluasaan wawasan pengetahuannya. Bayangkan saja diperpustakaan milik Ayatollah Mar’ahsi ini tersimpan kitab Zabur yang masih ditulis dengan menggunakan bahasa latin, berbagai kitab suci kuno, dan Al-Quran kuno yang ditulis dengan berbagai macam gaya penulisan, kitab astronomi karya salah seorang pemikir besar Islam Al-Thusi, bahkan buku tulisan tangan karya filsuf besar Islam paling mutakhir, Mulla Sadra juga tersimpan di perpustakaan ini.
Begitu penting dan tingginya nilai karya-karya dalam perpustakaan milik Ayatollah Mar’ashi Najafi ini, maka untuk menyimpan dan merawatnya berbagai pengamanan dan teknologi modern lengkap dengan tenaga ahlinya terdapat diperpustakaan ini. Dari segi pengamanan perpustakaan ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga bagian penting dan tertentu dari perpustakaan ini menurut penjelasan dari petugas perpustakaan akan terhindar dari kerusakan akibat bom sekalipun. Untuk perawatan, saya dan beberapa teman dari Institute of Short Course and Sabbatical Leave diperlihatkan berbagai teknologi canggih mulai dari bagaimana cara untuk merestorasi buku yang hancur dimakan usia, juga bagaimana teknik duplikasi dengan teknologi microfilm, bagaimana teknologi penjilitan serta pewarnaan kertas sehingga restorasi tidak menghilangkan kekunoan nilai buku, bahkan perpustakaan ini bisa dibilang telah dilengkapi dengan sarana rumah sakit buku, sehingga buku benar-benar terjaga dari kepunahan akibat berbagai factor alam dan tangan jahil manusia.
Pada kesempatan kunjungan singkat itu pula salah seorang petugas perpustakaan yang amat professional dan mencintai pekerjannya menjelaskan kepada kami bahwa untuk mendapatkan berbagai koleksi yang amat bernilai ini sang Ayatollah melakukan berbagai ikhtiar, misalnya mengurangi kebutuhan konsumsinya sehingga dengan demikian memungkin dirinya untuk membeli berbagai buku, tidak jarang untuk mendapatkan kitab tertentu ia melakukannya dengan cara berdoa dan bermunajat kepada Allah sampai bertahun-tahun hingga buku yang diinginkannya didapat. Berbagai ikhtiar ini menunjukkan bahwa tidak semua buku didapat dengan cara membeli, bahkan ada pula yang diberikan oleh seseorang secara khusus kepadanya.
Fenomena kezuhudan ini menunjukkan betapa tinggi tingkat kecintaan dan penghargaan seorang Mullah, khususnya Ayatollah Mar’ashi terhadap ilmu pengetahuan, dan warisan intelektual sepanjang zaman. Namun, jika disadari lebih dalam sebenarnya semua usaha yang dilakukannya tidak lain ada dibawah kerangka semangat dan kecintaan transendentalnya kepada Tuhan, Rasullullah, Nabi dan para kekasih Allah. Termasuk keputusannya untuk meninggalkan Najaf-Irak dan memilih Qom sebagai tempat tinggalnya ketika itu. Meskipun alamnya keras, kandungan garam pada air juga sangat tinggi sehingga tidak cocok bagi kesehatan kulit manusia. Mungkin semua itu dilakukan Ayatollah Mar’ashi sebagai persembahan tertingginya terhadap sang Khalik, kecintaannya kepada Nabi, dan keluarganya, termasuk Fatimah-Ma’sumah yang dimakamkan di kota suci Qom, Iran.
Kecintaan orang Shi’ah terhadap Fatimah luar biasa dalamnya, karena alasan itu pula mengapa Ayatollah Mar’ashi al-Najafi hijrah dari al-Najafi Irak menuju ke kota suci Qum. Padahal di Najaf sang ayatollah memiliki status sosial yang tinggi, popularitas yang kuat, serta posisi kekuasaan sosial yang solid. Namun inilah faktanya, kecintaan religius menjadi motiv utama sang ayatollah. Menurut cerita salah seorang Indonesia yang telah tinggal puluhan tahun di Iran, ada suatu makna dan kebanggan tersendiri bagi seorang Mullah jika dapat meninggal dunia di Qum, apalagi bisa disemayamkan di komplek pemakaman suci Fatimah Maksumah. Oleh sebab itu, bisa dimengerti jika sejumlah Ayatollah banyak dimakamkan di sana, seperti Ayatollah Burujerdi, guru Imam Khomeini, Ayatollah Tabataba’i yang dikenal sebagai filsuf dan penulis Tafsir Al-Mizan, shahid Murtadha Muthahhari, salah seorang filsuf produktif yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh dan arsitek revolusi Islam Iran.
Perpustakaan Ayatollah Mar’ashi al-Najafi tidak pernah lengang dari pengunjung. Perpustakaan milik Ayatollah Mar’ashi Najafi ini memiliki koleksi buku yang sangat kaya bukan saja dari segi jumlah, namun dari segi kualitas dan nilai buku yang sangat langka. Ini juga seolah bisa menjadi salah satu simbol penting tentang betapa tingginya kecintaan seorang Ayatollah terhadap ilmu pengetahuan, dan keluasaan wawasan pengetahuannya. Bayangkan saja diperpustakaan milik Ayatollah Mar’ahsi ini tersimpan kitab Zabur yang masih ditulis dengan menggunakan bahasa latin, berbagai kitab suci kuno, dan Al-Quran kuno yang ditulis dengan berbagai macam gaya penulisan, kitab astronomi karya salah seorang pemikir besar Islam Al-Thusi, bahkan buku tulisan tangan karya filsuf besar Islam paling mutakhir, Mulla Sadra juga tersimpan di perpustakaan ini.
Begitu penting dan tingginya nilai karya-karya dalam perpustakaan milik Ayatollah Mar’ashi Najafi ini, maka untuk menyimpan dan merawatnya berbagai pengamanan dan teknologi modern lengkap dengan tenaga ahlinya terdapat diperpustakaan ini. Dari segi pengamanan perpustakaan ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga bagian penting dan tertentu dari perpustakaan ini menurut penjelasan dari petugas perpustakaan akan terhindar dari kerusakan akibat bom sekalipun. Untuk perawatan, saya dan beberapa teman dari Institute of Short Course and Sabbatical Leave diperlihatkan berbagai teknologi canggih mulai dari bagaimana cara untuk merestorasi buku yang hancur dimakan usia, juga bagaimana teknik duplikasi dengan teknologi microfilm, bagaimana teknologi penjilitan serta pewarnaan kertas sehingga restorasi tidak menghilangkan kekunoan nilai buku, bahkan perpustakaan ini bisa dibilang telah dilengkapi dengan sarana rumah sakit buku, sehingga buku benar-benar terjaga dari kepunahan akibat berbagai factor alam dan tangan jahil manusia.
Pada kesempatan kunjungan singkat itu pula salah seorang petugas perpustakaan yang amat professional dan mencintai pekerjannya menjelaskan kepada kami bahwa untuk mendapatkan berbagai koleksi yang amat bernilai ini sang Ayatollah melakukan berbagai ikhtiar, misalnya mengurangi kebutuhan konsumsinya sehingga dengan demikian memungkin dirinya untuk membeli berbagai buku, tidak jarang untuk mendapatkan kitab tertentu ia melakukannya dengan cara berdoa dan bermunajat kepada Allah sampai bertahun-tahun hingga buku yang diinginkannya didapat. Berbagai ikhtiar ini menunjukkan bahwa tidak semua buku didapat dengan cara membeli, bahkan ada pula yang diberikan oleh seseorang secara khusus kepadanya.
Fenomena kezuhudan ini menunjukkan betapa tinggi tingkat kecintaan dan penghargaan seorang Mullah, khususnya Ayatollah Mar’ashi terhadap ilmu pengetahuan, dan warisan intelektual sepanjang zaman. Namun, jika disadari lebih dalam sebenarnya semua usaha yang dilakukannya tidak lain ada dibawah kerangka semangat dan kecintaan transendentalnya kepada Tuhan, Rasullullah, Nabi dan para kekasih Allah. Termasuk keputusannya untuk meninggalkan Najaf-Irak dan memilih Qom sebagai tempat tinggalnya ketika itu. Meskipun alamnya keras, kandungan garam pada air juga sangat tinggi sehingga tidak cocok bagi kesehatan kulit manusia. Mungkin semua itu dilakukan Ayatollah Mar’ashi sebagai persembahan tertingginya terhadap sang Khalik, kecintaannya kepada Nabi, dan keluarganya, termasuk Fatimah-Ma’sumah yang dimakamkan di kota suci Qom, Iran.
Berkunjung ke Makam Hajrat Fatimah Ma’sumah
Setelah pagi hari menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk memperkenalkan diri dan berkenalan dengan beberapa experts dan staf di Institute of Short Course and Sabbatical milik Universitas Jamiatul Mustafa Internasional, tibalah waktunya bagi saya untuk berjalan-jalan di seputar tempat penting di kota suci Qom. Akhirnya di sore hari itu salah seorang pelajar agama (thalabeh) senior dari Indonesia yang telah lebih dari 20 tahun bermukim di Iran menjemput saya di apartemen tempat kediaman saya, persisnya di Ozodegon. Pelajar agama tersebut memiliki panggilaan akrab Abu Amar. Menurut biografi singkatnya yang diceritakan kepada saya, saat ini ia tengah menyelesaikan jenjang pendidikannya untuk menjadi seorang Mujtahid.
Jenjang ini merupakan jenjang yang cukup tinggi dalam struktur pendidikaan di hauzah ilmiyah.
Sebagaimana diketahui bahwa jenjang tersebut secara piramida dapat dibagi menjadi empat lapis. Pertama atau tingkat tertinggi adalah Marja’, jenjang Kedua, adalah Mujtahid. Orang yang telah meraih jenjang ini, maka dia dianggap telah memiliki otoritas dalam bidang agama, sehingga memiliki hak untuk tidak taklid dalam bidang agama. Ketiga, adalah guru atau lebih popular dengan panggilan Ustadz. Keempat adalah santri atau murid, yang dalam bahasa popular di Iran dikenal dengan talabeh.
Bersama dia saya akhirnya berkesempatan berkunjung ke Hajrat Fatimah Ma’sumah yang selalu padad dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai tempat di Iran, dan manca negara.
Tempat ini bukan hanya dikhususkan bagi penganut shi’ah namun tempat ini juga kerap dikunjungi oleh orang Islam dari mazhab sunni sekalipun. Menurut Abu Ammar banyak pejabat Indonesia jika datang ke Iran, mereka menyempatkan diri untuk berziarah di tempat yang sangat disucikan bagi penganut shi’ah di Iran khususnya dan penganut shi’ah dari berbagai belahan dunia umumnya. Dikalangan penganut shiah di Iran tempat ini dianggap sebagai salah satu tempat yang mustazab untuk memohon kepada Allah. Ada keyakinaan yang kuat bahwa bila berdoa ditempat ini dengan khusuk, nisacaya doa akan terkabul. Beberapa orang Iran yang saya kenal juga membenarkan opini ini, setidaknya hal ini seperti dikemukakan oleh seorang Professor Agriculture dari Shiraz University yang sempat mengunjungi saya di apartemen Shahid Bahesti, number two, tempat saya tinggal selama di Qom. Bahkan sang Professor juga menjelaskan kepada saya tentang tradisi yang biasa dijalankannya untuk berziarah mengunjungi tempat-tempat suci Islam Shia’ah.
Dia juga menceritakan kepada saya bahwa sosok Fatimah Ma’sumah adalah salah satu figure pemimpin baginya, bahkan bagi masyarakat Islam Shiah di Iran. Berziarah ke makamnya juga dianggap sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada sosok suci tersebut. Makanya tidak mengherankan jika di Iran berkembang suatu pandangan bahwa kendatipun kota Qom iklimnya ekstrim (panas atau dingin sekali) dan airnya sangat bergaram, namun kota tersebut tetap ramai dan hidup, hal ini semata-mata adalah karena alasan bahwa kadar kecintaan masyarakat Iran yang sangat besar kepada Fatimah Ma’sumah. Alasan yang sama juga menjadi motiv yang menggerakkan mengapa Ayatollah Mar’asyi Najafi (seorang mullah dari Irak) memilih hijrah dari tempat tinggalnya di Najaf, Irak menuju ke kota suci Qom.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa saat ini dekat komplek Holy Shrain Fatimah Ma’sumah sangat padad sekali. Pembangunan di seputar komplek Holy shrain juga terus berkembang. Selain di daerah itu toko-toko juga telah berjajar padad, namun tidak jauh dari komplek tersebut berdiri banyak kantor paara marja’ di Iran. Tidak hanya berbagai situasi yang telah dijelaskan di atas saja, di makam suci Fatimah Ma’sumah dikebumikan sejumlah tokoh penting Iran, misalnya Ayatollah Burujerdi, gurunya Imam Khomeini, Allamah Thabataba’i, Murthada Muthahhari, serta masih banyak yang lainnya.
Jenjang ini merupakan jenjang yang cukup tinggi dalam struktur pendidikaan di hauzah ilmiyah.
Sebagaimana diketahui bahwa jenjang tersebut secara piramida dapat dibagi menjadi empat lapis. Pertama atau tingkat tertinggi adalah Marja’, jenjang Kedua, adalah Mujtahid. Orang yang telah meraih jenjang ini, maka dia dianggap telah memiliki otoritas dalam bidang agama, sehingga memiliki hak untuk tidak taklid dalam bidang agama. Ketiga, adalah guru atau lebih popular dengan panggilan Ustadz. Keempat adalah santri atau murid, yang dalam bahasa popular di Iran dikenal dengan talabeh.
Bersama dia saya akhirnya berkesempatan berkunjung ke Hajrat Fatimah Ma’sumah yang selalu padad dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai tempat di Iran, dan manca negara.
Tempat ini bukan hanya dikhususkan bagi penganut shi’ah namun tempat ini juga kerap dikunjungi oleh orang Islam dari mazhab sunni sekalipun. Menurut Abu Ammar banyak pejabat Indonesia jika datang ke Iran, mereka menyempatkan diri untuk berziarah di tempat yang sangat disucikan bagi penganut shi’ah di Iran khususnya dan penganut shi’ah dari berbagai belahan dunia umumnya. Dikalangan penganut shiah di Iran tempat ini dianggap sebagai salah satu tempat yang mustazab untuk memohon kepada Allah. Ada keyakinaan yang kuat bahwa bila berdoa ditempat ini dengan khusuk, nisacaya doa akan terkabul. Beberapa orang Iran yang saya kenal juga membenarkan opini ini, setidaknya hal ini seperti dikemukakan oleh seorang Professor Agriculture dari Shiraz University yang sempat mengunjungi saya di apartemen Shahid Bahesti, number two, tempat saya tinggal selama di Qom. Bahkan sang Professor juga menjelaskan kepada saya tentang tradisi yang biasa dijalankannya untuk berziarah mengunjungi tempat-tempat suci Islam Shia’ah.
Dia juga menceritakan kepada saya bahwa sosok Fatimah Ma’sumah adalah salah satu figure pemimpin baginya, bahkan bagi masyarakat Islam Shiah di Iran. Berziarah ke makamnya juga dianggap sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada sosok suci tersebut. Makanya tidak mengherankan jika di Iran berkembang suatu pandangan bahwa kendatipun kota Qom iklimnya ekstrim (panas atau dingin sekali) dan airnya sangat bergaram, namun kota tersebut tetap ramai dan hidup, hal ini semata-mata adalah karena alasan bahwa kadar kecintaan masyarakat Iran yang sangat besar kepada Fatimah Ma’sumah. Alasan yang sama juga menjadi motiv yang menggerakkan mengapa Ayatollah Mar’asyi Najafi (seorang mullah dari Irak) memilih hijrah dari tempat tinggalnya di Najaf, Irak menuju ke kota suci Qom.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa saat ini dekat komplek Holy Shrain Fatimah Ma’sumah sangat padad sekali. Pembangunan di seputar komplek Holy shrain juga terus berkembang. Selain di daerah itu toko-toko juga telah berjajar padad, namun tidak jauh dari komplek tersebut berdiri banyak kantor paara marja’ di Iran. Tidak hanya berbagai situasi yang telah dijelaskan di atas saja, di makam suci Fatimah Ma’sumah dikebumikan sejumlah tokoh penting Iran, misalnya Ayatollah Burujerdi, gurunya Imam Khomeini, Allamah Thabataba’i, Murthada Muthahhari, serta masih banyak yang lainnya.
Sabtu, 13 November 2010
Islamic Research Institute for Culture and Thought
Seorang teman Indonesia yang telah lama belajar filsafat di Qum bersemangat mengajak saya menemui salah seorang ahli ekonomi islam di IICT (Islamic Research Institute for Culture and Thought). Dia menyadari bahwa wacana tentang ekonomi Islam relevan dengan kajian saya, apalagi kegiatan Sabbatical Leave yang disponsori DIKTI yang saya lakukan mengambil tema tentang hubungan agama dan ekonomi. Oleh sebab itu, dia tidak ingin membuang waktu terlalu lama dan ingin segera membawa saya ke IICT guna memperkenalkan saya pada peneliti dan pemikir “Ekonomi Islam” yang ada disana.
Tanpa melakukan konsultasi dan konfirmasi terlebih dahulu dengan Institute for Short Course and Sabbatical Leave, salah satu markas tempat saya menjalankan kegiatan sabbatical saya di Qom, kami langsung berangkat mengunjungi IICT untuk menemui salah seorang pemikir “Ekonomi Islam” di sana. Betul, siang itu kamipun bergegas tanpa membuang waktu sedikitpun langsung berangkat dengan sebuah mobil taxi ke markaz IICT. Lembaga ini menurut penjelasan teman Indonesia yang tengah studi master di salah satu institusi pendidikan yang ada di Qom, memang memiliki banyak pakar di berbagai bidang kajian, seperti Filsafat Barat dan Timur, Hukum Islam, Ekonomi Islam, dll. Nasib memang mujur hari itu, orang yang hendak kami temui ternyata ada di institute, dia kebetulan baru saja selesai melaksanakan sholat Dzuhur. Tak lama kami pun bertemu dan sambutannya sangat hangat.
Saat menunggu di luar, saya sempat berdecak kagum melihat jumlah buku yang begitu banyak dipajang dietalase dinding bagian muka Institute, persisnya di ruang depan gedung. Berbagai buku yang dipampang diklasifikasi berdasarkan tema-tema bahasan. Buku-buku itu sebagian besar tertulis dalam bahasa Parsi, dan Arab. Namun demikian saya setidaknya masih bisa meraba-raba beberapa isi buku itu dari judul dan kover buku. Dengan jumlah produksi buku yang begitu banyak saya membayangkan betapa produktifnya lembaga ini, tentu ini sedikit banyak mengindikasikan bahwa Iran bukan hanya negeri yang ingin sekedar berbeda dengan Amerika atau kiblat dunia lainnya. Iran juga bukan hanya negara yang sekedar berani melawan arogansi Barat dan menolak berbagai pemikiran yang berasal dari barat dengan apriori. Tetapi rupanya Iran sebagaimana yang saya amati seolah ingin menegaskan berbagai sikapnya pada sandaran ilmiah yang komprehensif terhadap berbagai sisi persoalan. Demikian setidaknya pandangan saya ketika melihat dari dekat berbagai center of excellent yang berkembang di Iran, semisal IICT.
Lembaga penelitian semacam IICT ini cukup menginspirasi saya dari berbagai aspeknya. Dari segi jumlah peneliti, institusi ini memiliki lebih dari seratus jumlah tenaga peneliti, keseluruhan peneliti dilembaga tersebut diwajibkan menghasilkan karyanya, seperti dalam bentuk jurnal, buku, dll. Disamping itu, lembaga ini juga bermitra dengan pemerintah meskipun seorang peneliti yang bekerja di sana yang juga staf pengajar Filsafat di Universitas Taheran, mengatakan bahwa IICT bukan lembaga partisan langsung pemerintah. Selain itu lembaga ini memiliki cabang di Ibu kota Iran, Taheran. Dilain kesempatan saya juga sempat membeli salah satu buku filsafat karya salah seorang staf peneliti di lembaga ini di salah satu gerai toko buku yang mereka miliki. Tidak hanya itu saja, dari segi fasilitas, institute ini memiliki perpustakaan yang sangat memadahi, dengan koleksi berbagai jenis buku yang tertulis dalam tiga bahasa, yaitu Persia, Inggris dan Arab. Untuk menjaga produktivitas dan konsentrasi dalam bekerja, lembaga ini mendesign kotak berukuran dua kali dua meter yang digunakan sebagai ruang kerja bagi setiap peneliti. Untuk menggenjot produktivitas, mengembangkan wawasan, dan mengembangkan jaringan kerja mereka pun memiliki akses internet yang berkecepatan tinggi yang sangat dibutuhkan bagi kerja research. Akses internet berkecepatan tinggi ini tentu merupakan sesuatu yang agak langka di Iran, karena pada umumnya hampir di seantero Iran akses internet umumnya berjalan sangat lambat, menurut berbagai kolega hal ini disebabkan karena alasan sosial dan politik yang diberlakukan negara kepada berbagai elemen masyarakat dan institusi. Ketika berada di University of Shiraz, saya juga mengalami hal yang sama.
Selain menjadi markasnya para peneliti, lembaga IICT ini juga memproduksi calon master dibidang theologi dan filsafat islam, sejauh ini lembaga tidak menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat sarjana. oleh sebab itu, bisa ditegaskan bahwaa IICT ini bentuknya adalah kombinasi antara lembaga research dengan lembaga pendidikan yang mencetak calon master. Fasilitas lain yang cukup menarik adalah bahwa mereka memiliki ruang seminar berukuran besar, berkapasitas 500 orang yang bertempat di ruang bawah tanah, dan ruang diskusi kecil yang berkapasitas tidak lebih dari 25 orang. Menurut Dr. Shoejaipoer ruang diskusi berkapasitas terbatas itu dimaksudkan untuk mendiskusikan dan mematangkan berbagai topik research yang tengah diangkat peneliti, sehingga outputnya kelak bisa dipertanggungjawabkan. Saya beruntung karena mendapat rekomendasi Institute Sabbatical Leave untuk berpatner dengan salah seorang peneliti ekonomi di IICT, selain itu saya juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa sekolah theologi IICT.
Para mahasiswa yang tengah melanjutkan studi untuk mengambil jenjang master di institute ini hampir keseluruhannya berstatus telah menikah, dan sore hari sehabis shalat maghrib di suatu sore itu materi yang kami diskusikan adalah poligami ditinjau dari berbagai perspektif; baik sunni, syiah dan praktek empirisnya di masyarakat Iran dan Indonesia. Pemandangan lain yang cukup mengesankan saya adalah bagaimana sebagian dari mereka tampil dengan pakaian lengkap bersama turban penutup kepalanya, sementara di sisi lain mereka pun memiiliki apresiasi yang tinggi dalam mendayagunakan teknologi informasi, sebagaimana nampak pada penggunaan laptop yang selalu menemani kemanapu mereka pergi. Laptop, jubah dan turban yang mereka kenakan seolah mewakili koeksistensi damai antara lembaga agama yang selalu diidentikkan sebagai simbol dunia tradisional di satu sisi dengan laptop yang mewakili dunia modern. Simbol-simbol tersebut seolah mau mengatakan bahwa untuk menjadi modern seseorang tidak harus meninggalakan tradisi keberagamaannya. Relasi antara teknologi dan agama tidak selalu digambarkan dengan dua hal yang saling bertolak belakang. Teknologi informasi dalam kadar tentu tetap bisa digunakan untuk menghasilkan wawasan keagamaan yang lebih segar.
Itulah sebagian fenomena sosial dan kebudayaan yang saya saksikan di Iran, negeri yang selama ini terus dideskreditkan secara sistematis sebagai negara teroris, antidemokrasi, dan terbelakang.
Tanpa melakukan konsultasi dan konfirmasi terlebih dahulu dengan Institute for Short Course and Sabbatical Leave, salah satu markas tempat saya menjalankan kegiatan sabbatical saya di Qom, kami langsung berangkat mengunjungi IICT untuk menemui salah seorang pemikir “Ekonomi Islam” di sana. Betul, siang itu kamipun bergegas tanpa membuang waktu sedikitpun langsung berangkat dengan sebuah mobil taxi ke markaz IICT. Lembaga ini menurut penjelasan teman Indonesia yang tengah studi master di salah satu institusi pendidikan yang ada di Qom, memang memiliki banyak pakar di berbagai bidang kajian, seperti Filsafat Barat dan Timur, Hukum Islam, Ekonomi Islam, dll. Nasib memang mujur hari itu, orang yang hendak kami temui ternyata ada di institute, dia kebetulan baru saja selesai melaksanakan sholat Dzuhur. Tak lama kami pun bertemu dan sambutannya sangat hangat.
Saat menunggu di luar, saya sempat berdecak kagum melihat jumlah buku yang begitu banyak dipajang dietalase dinding bagian muka Institute, persisnya di ruang depan gedung. Berbagai buku yang dipampang diklasifikasi berdasarkan tema-tema bahasan. Buku-buku itu sebagian besar tertulis dalam bahasa Parsi, dan Arab. Namun demikian saya setidaknya masih bisa meraba-raba beberapa isi buku itu dari judul dan kover buku. Dengan jumlah produksi buku yang begitu banyak saya membayangkan betapa produktifnya lembaga ini, tentu ini sedikit banyak mengindikasikan bahwa Iran bukan hanya negeri yang ingin sekedar berbeda dengan Amerika atau kiblat dunia lainnya. Iran juga bukan hanya negara yang sekedar berani melawan arogansi Barat dan menolak berbagai pemikiran yang berasal dari barat dengan apriori. Tetapi rupanya Iran sebagaimana yang saya amati seolah ingin menegaskan berbagai sikapnya pada sandaran ilmiah yang komprehensif terhadap berbagai sisi persoalan. Demikian setidaknya pandangan saya ketika melihat dari dekat berbagai center of excellent yang berkembang di Iran, semisal IICT.
Lembaga penelitian semacam IICT ini cukup menginspirasi saya dari berbagai aspeknya. Dari segi jumlah peneliti, institusi ini memiliki lebih dari seratus jumlah tenaga peneliti, keseluruhan peneliti dilembaga tersebut diwajibkan menghasilkan karyanya, seperti dalam bentuk jurnal, buku, dll. Disamping itu, lembaga ini juga bermitra dengan pemerintah meskipun seorang peneliti yang bekerja di sana yang juga staf pengajar Filsafat di Universitas Taheran, mengatakan bahwa IICT bukan lembaga partisan langsung pemerintah. Selain itu lembaga ini memiliki cabang di Ibu kota Iran, Taheran. Dilain kesempatan saya juga sempat membeli salah satu buku filsafat karya salah seorang staf peneliti di lembaga ini di salah satu gerai toko buku yang mereka miliki. Tidak hanya itu saja, dari segi fasilitas, institute ini memiliki perpustakaan yang sangat memadahi, dengan koleksi berbagai jenis buku yang tertulis dalam tiga bahasa, yaitu Persia, Inggris dan Arab. Untuk menjaga produktivitas dan konsentrasi dalam bekerja, lembaga ini mendesign kotak berukuran dua kali dua meter yang digunakan sebagai ruang kerja bagi setiap peneliti. Untuk menggenjot produktivitas, mengembangkan wawasan, dan mengembangkan jaringan kerja mereka pun memiliki akses internet yang berkecepatan tinggi yang sangat dibutuhkan bagi kerja research. Akses internet berkecepatan tinggi ini tentu merupakan sesuatu yang agak langka di Iran, karena pada umumnya hampir di seantero Iran akses internet umumnya berjalan sangat lambat, menurut berbagai kolega hal ini disebabkan karena alasan sosial dan politik yang diberlakukan negara kepada berbagai elemen masyarakat dan institusi. Ketika berada di University of Shiraz, saya juga mengalami hal yang sama.
Selain menjadi markasnya para peneliti, lembaga IICT ini juga memproduksi calon master dibidang theologi dan filsafat islam, sejauh ini lembaga tidak menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat sarjana. oleh sebab itu, bisa ditegaskan bahwaa IICT ini bentuknya adalah kombinasi antara lembaga research dengan lembaga pendidikan yang mencetak calon master. Fasilitas lain yang cukup menarik adalah bahwa mereka memiliki ruang seminar berukuran besar, berkapasitas 500 orang yang bertempat di ruang bawah tanah, dan ruang diskusi kecil yang berkapasitas tidak lebih dari 25 orang. Menurut Dr. Shoejaipoer ruang diskusi berkapasitas terbatas itu dimaksudkan untuk mendiskusikan dan mematangkan berbagai topik research yang tengah diangkat peneliti, sehingga outputnya kelak bisa dipertanggungjawabkan. Saya beruntung karena mendapat rekomendasi Institute Sabbatical Leave untuk berpatner dengan salah seorang peneliti ekonomi di IICT, selain itu saya juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa sekolah theologi IICT.
Para mahasiswa yang tengah melanjutkan studi untuk mengambil jenjang master di institute ini hampir keseluruhannya berstatus telah menikah, dan sore hari sehabis shalat maghrib di suatu sore itu materi yang kami diskusikan adalah poligami ditinjau dari berbagai perspektif; baik sunni, syiah dan praktek empirisnya di masyarakat Iran dan Indonesia. Pemandangan lain yang cukup mengesankan saya adalah bagaimana sebagian dari mereka tampil dengan pakaian lengkap bersama turban penutup kepalanya, sementara di sisi lain mereka pun memiiliki apresiasi yang tinggi dalam mendayagunakan teknologi informasi, sebagaimana nampak pada penggunaan laptop yang selalu menemani kemanapu mereka pergi. Laptop, jubah dan turban yang mereka kenakan seolah mewakili koeksistensi damai antara lembaga agama yang selalu diidentikkan sebagai simbol dunia tradisional di satu sisi dengan laptop yang mewakili dunia modern. Simbol-simbol tersebut seolah mau mengatakan bahwa untuk menjadi modern seseorang tidak harus meninggalakan tradisi keberagamaannya. Relasi antara teknologi dan agama tidak selalu digambarkan dengan dua hal yang saling bertolak belakang. Teknologi informasi dalam kadar tentu tetap bisa digunakan untuk menghasilkan wawasan keagamaan yang lebih segar.
Itulah sebagian fenomena sosial dan kebudayaan yang saya saksikan di Iran, negeri yang selama ini terus dideskreditkan secara sistematis sebagai negara teroris, antidemokrasi, dan terbelakang.
Babak Baru Perang Iran vs Barat
Konstruksi negatif media barat atas Iran berlangsung sangat massif dan sistematis. Iran oleh media barat di gambarkan sebagai negara teroris, poros kejahatan, anti demokrasi, dan negara yang tidak stabil. Sehingga wajar jika akibat konstruksi media yang demikian kuat banyak orang alergi dan terpengaruh konstruksi itu. Di dunia kampus, ternyata konstruksi itu pun berlangsung masif, meskipun banyak orang meyakini bahwa kampus adalah lembaga ilmu yang seharusnya memberdayakan akal sehat dan daya kritis. Sayangnya kampus pun tidak selalu dapat melampaui segala bentuk stigma dan konstruksi politik. Setidaknya konstruksi itupun saya rasakan menjelang keberangkatan saya ke Iran. Beberapa teman dengan nada bercanda mengolok-olok saya dengan predikat teroris seperti Alkaeda sepulang dari Iran, ada juga yang menstigma ekstrimis Islam, namun berbagai olokkan itu pun saya balas dengan canda tawa, bahwa sepulang dari Iran yang ditakutkan bukan teroris, melainkan kemungkinan melakukan kawin kontrak atau mut’ah sebagaimana di jaman perang. Ada juga kolega yang tidak respek dengan rencana saya ke Iran karena baginya mengapa harus ke Iran, pada hal jelas-jelas kehidupan wanita di negeri sebagaimana informasi yang diperoleh dari teman Iran nya saat studi di German sangat membatasi kehidupan politik kaum wanitanya.
Begitulah beberapa konstruksi negatif tentang negeri Iran. Padahal di negeri Iran saya melihat wanita dengan berbagai warna warni penampilan dalam berbagai medan kehidupannya. Di bandara Imam Khomeini saya melihat seorang ibu dengan pakaian khas chadurnya berwarna hitam-hitam bekerja sebagai petugas pengawas barang-barang yang dibawa penumpang, di kota Qom saya juga melihat wanita Iran menjadi sopir taksi, aktivis perempuan, bekerja di toko farmasi, mengendarai mobil sendiri, bahkan tampil modis dengan dandanan maksimal dengan rambut berjambul tertutup scarf nya. Meski saya juga mendengar kekerasan dalam rumah tangga juga masih terjadi di Iran. Namun secara garis besar budaya Iran tampaknya menempatkan wanita di tempat yang cukup tinggi, dan undang-undang menjamin posisinya itu.
Kendati demikian Iran kini tengah menghadapi gempuran budaya yang serius. Apalagi setelah Iran mendeklarasikan diri sebagai negara Islam. Usia revolusi Islam Iran hingga kini sudah memasuki masa 31 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang tidak pendek, dan tidak mungkin dengan usia itu sebuah negara dapat bertahan hanya dengan mengandalkan kekutan militer semata. Di balik revolusi Islam negara Iran pasti memiliki infrastruktur kebudayaan, sistem pengetahuan dan nilai yang menopangnya. Apalagi masa 31 tahun itu dijalaninya dengan berbagai perjuangan yang keras, mengingat negara-negara barat yang dipimpin Negara Superpower Amerika terus menerus menjatuhkan berbagai bentuk sangsi politik dan ekonominya melalui lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Tekanan demi tekanan terus dihadapi negara Iran, namun hingga kini bangsa Iran tetap memiliki daya tahan yang luar biasa. Independensi yang sejak awal ditegaskan oleh bapak Revolusi Iran Ayatullah Ruhullah Khomeini hingga kini terus bergema. Kecintaan sebagian besar masyarakat Iran akan figure dan ajaran Imam Khomeini pun begitu tinggi. Apalagi sosok sang imam di mata masyarakat Iran memang memiliki begitu banyak kelebihan, seperti dari segi keberaniannya, kesederhanaanya, kecerdasannya diberbagai bidang pengetahuan, khusunya agama, irfan dan filsafat. Rasanya sulit dibayangkan bahwa negara yang secara sistematis ditekan oleh berbagai bentuk sangsi ekonomi dan politik oleh negara-negara maju ternyata tetap mampu menorehkan berbagai prestasi pembangunannya.
Iran saat ini bukanlah seperti Iran sepuluh tahun yang lalu. Berbagai prestasi mereka raih dengan kekuatan sendiri, tanpa bergantung pada negara barat, bahkan sebaliknya kekayaan financial Iran di bank-bank asing hingga kini masih banyak yang dibekukan dengan berbagai dalih pembekuan, misalnya stigma untuk mensponsori terorisme, jihad, dan lain-lain. Iran kini jauh lebih mampu melindungi dirinya secara militer karena kepemilikannya akan berbagai macam bentuk rudal, peluru kendali buatan sendiri yang dapat menjangkau wilayah negara-negara barat yang menjadi musuh-musuh Iran, selain kepemilikan merreka atas satelit dan teknologi militer canggih lainnya yang juga merupakan buah dari produk usaha sendiri.
Selain itu negara Iran juga berdikari dalam banyak produk teknologi dan barang-barang untuk kepentingan konsumsi sehari-hari. Mobil misalnya, mereka memproduk berbagai jenis merk dan ukuran mobil, seperti: Saipa, Iran Khodro, Zantia, Peykan, Zamyad, Pride, Tondar 90 mulai dari ukuran sedan, hingga ukuran besar seperti bus, meski mobil dan kendaraan assembling dalam waktu yang bersamaan juga mudah ditemukan di kota-kota Iran, seperti Peuguot, Mercedes, Renault, KIA, motor merek Honda, dan lain-lain, tanpa melupakan pentingnya mengembangkan produk sendiri sebagai tuan di rumah sendiri. Belum lagi kemajuan usaha dibidang jasa, seperti perbankan, sebagaimana tampil lewat Bank Sepha, Mellat, dan lain-lain.
Dinamika kemajuan di berbagai bidang kehidupan sebagaimana dijelaskan di atas seolah menunjukkan bahwa bangsa Iran bukan bangsa yang mudah terganggu dengan berbagai macam tekanan dari negeri adikuasa. Belum lagi pengalaman perang selama lebih dari 8 tahun dengan negara Irak di bawah Saddam Husein yang ketika itu memiliki kekuatan militer besar dan didukung oleh Amerika dan sekutunya. Oleh sebab itu, ancaman militer tidak lagi menjadi hantu bagi Iran, meskipun kewaspadaan dan kesiapan menangkal itu selalu ada pada mereka. Meski negara adikuasa Amerika dan Barat tidak mudah menggertak Iran dengan kekuatan militer, namun peperangan dalam bentuk budaya sebenarnya telah dilancarkan secara mondial dan sistematis oleh mereka.
Setidaknya hal tersebut terbukti dengan adanya lebih dari 41 siaran televisi yang dipancarkan lewat satelit dari negara-negara barat dengan menggunakan bahasa Persia. Program siaran itu meliputi berita, kebudayaan, hiburan, konsumerisme, iklan, agama Kristen, yang kesemuanya sangat propokatif dan mengajak untuk berpikir dan berprilaku dengan gaya budaya barat (westernisasi). Provokasi barat melalui media ini sangat gencar karena nilai dan budaya yang dipancarkan sangat berlawanan dengan nilai-nilai dan ideology Islam yang dianut masyarakat Islam Shi’ah Iran.
Menghadapi gempuran media barat itu Republik Islam Iran tidak tinggal diam, gempuran media pun mereka respon dengan cara yang tidak kalah canggihnya. Untuk menghadapi invasi, infiltrasi budaya yang sangat halus itu, maka mereka pun memperkuat diri dengan 40 cannel televisi. Adapun pembagian channel sebagaimana dijelaskan Dr. Shahrial Soejaipour sebagai berikut. Setiap provinsi di Iran memiliki 1 channel televisi, sehingga 30 provisinsi di Iran keseluruhan memiliki jumlah 30 channel televisi. Selain itu Iran memiliki 7 channel televisi yang bersifat nasional, yang menyiarkan segala hal yang memiliki lingkup nasional. Selain channel-channel di atas mereka pun memiliki 10 channel televise internasional, yang masing-masing adalah: Press TV, dipancarkan dalam bahasa Inggris, Al-Alam, dalam bahasa Arab, Al-Kautsar, Jame-jame 1, dalam bahasa Persia, Jame-jame 2, dalam bahasa Persia, Sahar 1, dan 2, dalam berbagai macam bahasa, News Network, dalam bahasa Pesia dan dipancarkan 24 jam, Thaqalain, di semua bahasa, Arab, Inggris, dan Persia, dan Qur’an TV, juga dalam berbagai bahasa hanya berisi seputar Qur’an.
Dari data di atas nampak bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang jauh dari stigma negatip yang selama ini dikonstruksikan media barat, bahkan memilih independen di atas jerih payahnya sendiri, tanpa terjebak dalam slogan manis politik untuk menutupi borok eksploitasi ekonomi politik pada negara lain, sebagaimana dilakukan oleh negara imperialis.
Begitulah beberapa konstruksi negatif tentang negeri Iran. Padahal di negeri Iran saya melihat wanita dengan berbagai warna warni penampilan dalam berbagai medan kehidupannya. Di bandara Imam Khomeini saya melihat seorang ibu dengan pakaian khas chadurnya berwarna hitam-hitam bekerja sebagai petugas pengawas barang-barang yang dibawa penumpang, di kota Qom saya juga melihat wanita Iran menjadi sopir taksi, aktivis perempuan, bekerja di toko farmasi, mengendarai mobil sendiri, bahkan tampil modis dengan dandanan maksimal dengan rambut berjambul tertutup scarf nya. Meski saya juga mendengar kekerasan dalam rumah tangga juga masih terjadi di Iran. Namun secara garis besar budaya Iran tampaknya menempatkan wanita di tempat yang cukup tinggi, dan undang-undang menjamin posisinya itu.
Kendati demikian Iran kini tengah menghadapi gempuran budaya yang serius. Apalagi setelah Iran mendeklarasikan diri sebagai negara Islam. Usia revolusi Islam Iran hingga kini sudah memasuki masa 31 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang tidak pendek, dan tidak mungkin dengan usia itu sebuah negara dapat bertahan hanya dengan mengandalkan kekutan militer semata. Di balik revolusi Islam negara Iran pasti memiliki infrastruktur kebudayaan, sistem pengetahuan dan nilai yang menopangnya. Apalagi masa 31 tahun itu dijalaninya dengan berbagai perjuangan yang keras, mengingat negara-negara barat yang dipimpin Negara Superpower Amerika terus menerus menjatuhkan berbagai bentuk sangsi politik dan ekonominya melalui lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Tekanan demi tekanan terus dihadapi negara Iran, namun hingga kini bangsa Iran tetap memiliki daya tahan yang luar biasa. Independensi yang sejak awal ditegaskan oleh bapak Revolusi Iran Ayatullah Ruhullah Khomeini hingga kini terus bergema. Kecintaan sebagian besar masyarakat Iran akan figure dan ajaran Imam Khomeini pun begitu tinggi. Apalagi sosok sang imam di mata masyarakat Iran memang memiliki begitu banyak kelebihan, seperti dari segi keberaniannya, kesederhanaanya, kecerdasannya diberbagai bidang pengetahuan, khusunya agama, irfan dan filsafat. Rasanya sulit dibayangkan bahwa negara yang secara sistematis ditekan oleh berbagai bentuk sangsi ekonomi dan politik oleh negara-negara maju ternyata tetap mampu menorehkan berbagai prestasi pembangunannya.
Iran saat ini bukanlah seperti Iran sepuluh tahun yang lalu. Berbagai prestasi mereka raih dengan kekuatan sendiri, tanpa bergantung pada negara barat, bahkan sebaliknya kekayaan financial Iran di bank-bank asing hingga kini masih banyak yang dibekukan dengan berbagai dalih pembekuan, misalnya stigma untuk mensponsori terorisme, jihad, dan lain-lain. Iran kini jauh lebih mampu melindungi dirinya secara militer karena kepemilikannya akan berbagai macam bentuk rudal, peluru kendali buatan sendiri yang dapat menjangkau wilayah negara-negara barat yang menjadi musuh-musuh Iran, selain kepemilikan merreka atas satelit dan teknologi militer canggih lainnya yang juga merupakan buah dari produk usaha sendiri.
Selain itu negara Iran juga berdikari dalam banyak produk teknologi dan barang-barang untuk kepentingan konsumsi sehari-hari. Mobil misalnya, mereka memproduk berbagai jenis merk dan ukuran mobil, seperti: Saipa, Iran Khodro, Zantia, Peykan, Zamyad, Pride, Tondar 90 mulai dari ukuran sedan, hingga ukuran besar seperti bus, meski mobil dan kendaraan assembling dalam waktu yang bersamaan juga mudah ditemukan di kota-kota Iran, seperti Peuguot, Mercedes, Renault, KIA, motor merek Honda, dan lain-lain, tanpa melupakan pentingnya mengembangkan produk sendiri sebagai tuan di rumah sendiri. Belum lagi kemajuan usaha dibidang jasa, seperti perbankan, sebagaimana tampil lewat Bank Sepha, Mellat, dan lain-lain.
Dinamika kemajuan di berbagai bidang kehidupan sebagaimana dijelaskan di atas seolah menunjukkan bahwa bangsa Iran bukan bangsa yang mudah terganggu dengan berbagai macam tekanan dari negeri adikuasa. Belum lagi pengalaman perang selama lebih dari 8 tahun dengan negara Irak di bawah Saddam Husein yang ketika itu memiliki kekuatan militer besar dan didukung oleh Amerika dan sekutunya. Oleh sebab itu, ancaman militer tidak lagi menjadi hantu bagi Iran, meskipun kewaspadaan dan kesiapan menangkal itu selalu ada pada mereka. Meski negara adikuasa Amerika dan Barat tidak mudah menggertak Iran dengan kekuatan militer, namun peperangan dalam bentuk budaya sebenarnya telah dilancarkan secara mondial dan sistematis oleh mereka.
Setidaknya hal tersebut terbukti dengan adanya lebih dari 41 siaran televisi yang dipancarkan lewat satelit dari negara-negara barat dengan menggunakan bahasa Persia. Program siaran itu meliputi berita, kebudayaan, hiburan, konsumerisme, iklan, agama Kristen, yang kesemuanya sangat propokatif dan mengajak untuk berpikir dan berprilaku dengan gaya budaya barat (westernisasi). Provokasi barat melalui media ini sangat gencar karena nilai dan budaya yang dipancarkan sangat berlawanan dengan nilai-nilai dan ideology Islam yang dianut masyarakat Islam Shi’ah Iran.
Menghadapi gempuran media barat itu Republik Islam Iran tidak tinggal diam, gempuran media pun mereka respon dengan cara yang tidak kalah canggihnya. Untuk menghadapi invasi, infiltrasi budaya yang sangat halus itu, maka mereka pun memperkuat diri dengan 40 cannel televisi. Adapun pembagian channel sebagaimana dijelaskan Dr. Shahrial Soejaipour sebagai berikut. Setiap provinsi di Iran memiliki 1 channel televisi, sehingga 30 provisinsi di Iran keseluruhan memiliki jumlah 30 channel televisi. Selain itu Iran memiliki 7 channel televisi yang bersifat nasional, yang menyiarkan segala hal yang memiliki lingkup nasional. Selain channel-channel di atas mereka pun memiliki 10 channel televise internasional, yang masing-masing adalah: Press TV, dipancarkan dalam bahasa Inggris, Al-Alam, dalam bahasa Arab, Al-Kautsar, Jame-jame 1, dalam bahasa Persia, Jame-jame 2, dalam bahasa Persia, Sahar 1, dan 2, dalam berbagai macam bahasa, News Network, dalam bahasa Pesia dan dipancarkan 24 jam, Thaqalain, di semua bahasa, Arab, Inggris, dan Persia, dan Qur’an TV, juga dalam berbagai bahasa hanya berisi seputar Qur’an.
Dari data di atas nampak bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang jauh dari stigma negatip yang selama ini dikonstruksikan media barat, bahkan memilih independen di atas jerih payahnya sendiri, tanpa terjebak dalam slogan manis politik untuk menutupi borok eksploitasi ekonomi politik pada negara lain, sebagaimana dilakukan oleh negara imperialis.
Berkunjung ke Negeri Para Mullah
Perjalanan ke Iran akhirnya terwujud. Tepatnya tanggal 6 Januari 2010 saya beserta istri berangkat menuju Iran dengan menggunakan pesawat Qatar Airways. Sore itu nyaris saja saya tertinggal, karena taksi yang menjemput saya menuju bandara Soekarno-Hatta dari rumah persinggahan di daerah Pondok Kopi milik seorang teman semasa SMA, tak kunjung tiba. Kendati taksi tidak juga muncul, waktu itu tidak ada perasaan khawatir, apalagi pengalaman selama menggunakan pesawat lokal, dan internasional menunjukkan keterlambataan jadwal keberangkatan. Oleh sebab itu, meskipun Qatar Airways menuju Iran harusnya akan berangkat pukul 18.15. WIB namun saat itu perasaan saya tetap tenang, selisih waktu yang tersisa masih cukup untuk mengantar saya hingga tiba di Bandara Internasional Sukarno-Hatta.
Sepemahamn saya masih ada selisih waktu satu jam lebih di Bandara Sukarno Hatta, dengan demikian berdasarkan pengalaman, maka saya memiliki masih cukup waktu. Saat taxi mulai meluncur dari Kebun Kopi menuju Bandara Internasional Sukarno Hatta, Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, Direktur ICAS yang berkebangsaan Iran menelpon, menanyakan posisi taxi yang saya tumpangi. Dengan Inggris aksen Iran dia menanyakan posisi saya dan menjelaskan dimana posisi dirinya. Kepadanya saya menjelaskan bahwa saya berada di taxi menuju Bandara Internasional Sukarno-Hatta, dan dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapai bandara. Sebaliknya diapun menjelaskan bahwa posisinya ketika itu telah mendekati Bandara, dan menurut perkiraannya saya akan terlambat. Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tahu benar berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai menuju pesawat terbang, mengingat perjalanan internasional sarat dengan berbagai pemeriksaan administrasi, ticketing dan bagasi yang keseluruhannya memakan cukup banyak waktu.
Kemudian ia menugaskan asistennya bernama Muhamad Nur kembali memastikan dimana posisi saya. Ketika itu sayapun mengatakan bahwa diperlukan waktu satu jam dari posisi saya ketika itu untuk sampai ke bandara. Taklama setelah itu, saya pun tiba di Bandara Sukarno-Hatta, kemudian segera konfirmasi tiket, mengurus begasi, dan di tempat yang sama seorang bule yang nampaknya bagian dari petugas Qatar Airways meminta saya untuk bergegas, katanya waktu tinggal 15 menit. Di depan petugas ticket saya mengatakan bahwa saya ingin menunggu seorang teman, langsung bule itu menjawab tidak bisa, karena tidak lagi ada waktu. Mengetahui hal itu saya pun menelpon Prof. Dr Fazeli menanyakan posisinya. Saat itu ternyata dia telah berada di entrance alias pintu masuk, namun karena saya tidak terlalu paham dengan apa yang dimaksudnya, maka saya pun celingukan mencarinya dari berbagai arah. Saya mengira entrance adalah pintu masuk ke bandara, sehingga sempat terbesit dibenak bahwa ternyata saya tiba lebih dahulu ketimbang sang Professor itu.
Setelah pengurusan tiket dan bagasi selesai saya menanyakan dimana saya harus membayar fiskal untuk bepergian ke luar negeri, kemudian petugas ticket menunjukkan tempatnya sehingga saya bersama istri sesegera mungkin mengurusnya. Dengan C1 dan menunjukkan NPWP, serta paspor biru saya pun akhirnya bebas biaya fiskal, meskipun saat mengurusnya petugas loket meminta saya menujukkan surat nikah bukan C1, akhirnya petugas pun dapat menerima penjelasan saya tentang C-1 itu. Kemudian saya bergegas, mengingat waktu semakin singkat menuju antrian loket pemeriksaan, dan saat tiba giliran petugas pun meminta saya dan istri mengisi formulir data identitas, dan keterangan passport.
Saat mengisi formulir kamipun sempat dibuat bingung atas pertanyaan yang terdapat pada formulir, meskipun pengisian semacam itu bukan pertama dan baru sama sekali, setidaknya pengalaman saya ke luar negeri sebelumnya membuat saya memiliki pengetahuan berkenaan dengan pengisian formulir seperti itu, lagi saya pun bertanya kepada petugas loket pemeriksaan, dan merekapun dengan senang hati membantu. Akhirnya kami berdua segera masuk, mencari gate menuju pesawat Qaatar Airways yang akan berangkat menuju Doha. Karena waktu makin singkat istri saya nampak sedikit cemas, apalagi perjalanan dari gate menuju pesawat cukup jauh karena di gate bernomor kecil. Tidak lama kemudian saya pun sampai ditempat pemeriksan ticket terakhir, kemudian naik ke dalam ruang pesawat. Seorang bule yang sebelumnya meminta saya bergegas karena waktu yang terbatas pun terlihat di loket pemeriksaan itu. Sayapun merasa tenang, meski pemeriksaan di situ meminta kami untuk membuka sepatu dan sebagainya.
Di loket pemeriksaan terakhir itu juga saya mendengar bule yang meminta saya bergegas berkata masih ada satu orang lagi yang ditunggu selain saya dan istri, demikian percakapannya dengan petugas pemeriksaan. Kemudian saya bersama istri menuju pesawat hingga menemukan nomor kursi kami, dan ketika itulah saya melihat Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tengah menyusun barangnya dalam sebuah locker yang tersedia, dan saya kemudian memegang badannya, tak lama dia kemudian memperkenalkan saya dan istri kepada istrinya.
Sayapun akhirnya siap berangkat ke Taheran bersama Prof. Dr. Seyyed Ahamad Fazeli dan keluarganya. Di dalam pesawat kami banyak berdialog, apalagi dia membawa serta anaknya yang lucu, yang terlihat imut, dan pemberani. Saya dan istri terhibur dengan prilaku anaknya itu. Prof. Dr. Fazeli pun bercerita banyak tentang rencananya kelak di Iran untuk kepentingan kegiataan Sabbatical Leave yang akan saya lakukan. Selama di udara istri saya sempat berpindah tempat duduk untuk bermain bersama puterinya yang masih berusia kecil dan lucu itu, mereka bermain dengan menggunakan bahasa masing-masing, nampak bahwa komunikasi bisa berlangsung dua arah.
Sementara kami berdialog, istri saya asyik bermain dengan si kecil puteri Prof. Dr. Fazeli, dan sesekali nampak istri sayapun berdialog dengan istri sang Profesor. Entah apa saja yang mereka bicarakan, karena kami berdua tengah asik mendiskusikan berbagai hal. Prof. Dr. Fazeli memberitahukan saya bahwa sesampainya di Bandara Imam Khomeini seseorang akan menjemput saya menuju asrama atau tempat tinggal yang telah dipersiapkan selama saya berada di Iran, khusunya di kota Qum. Ia juga akan mengatur pertemuan saya dengan para expert di lembaganya, yakni Universitas Al-Mustafa International. Dia juga menyebut beberapa nama diantaranya Dr. Haji. Selama dalam perjalanan dia menceritakan bahwa sistem pendidikan di Iran memungkinkan seseorang untuk benar-benar menjadi seorang scholar, bukan hanya sekedar mendapat gelar sarjana, BA, Master, doctor dan sebagainya.
Seorang scholar katanya bukan hanya seorang sarjana, dia adalah lebih dari itu, yakni produsen teori. Dia juga menjanjikan kepada saya untuk bertemu dengan beberapa exspert, diantaranya adalah expert yang menguasai masalah ekonomi sebagaimana yang akan saya kaji. Di minggu pertama mungkin saya harus menunggu terlebih dahulu, karena program baru mulai berjalan efektif setelah satu minggu. Dia akan menyiapkan segalanya bagi saya dan istri. Istrinya juga nanti akan mengajak istri saya mendatangi pusat kajian perempuan. Prof. Fazeli juga mengatakan bahwa agendanya selama satu bulan di Iran adalah seminar yang hasilnya akana menjadi bahan pembuatan policy bagi lembaga pendidikan dibawah naungan Jamiatul Mustafa seluruh dunia.
Perjalanan dari Jakarta menuju Doha yang memakan waktu lebih dari 5 jam itu akhirnya tiba jua. Pesawat landing di bandara internasional Doha. Kamipun turun dari pesawat menuju pos pemeriksaan untuk kemudian menunggu diruang transit selama beberapa saat, menunggu pesawat Qatar lain yang akan mengantarkan kami menuju bandara internasional Imam Khomeini. Selama menunggu saya pun memandangi arus penumpang yang sangat ramai, mereka memiliki berbagai tujuan. Namun di bandara Doha suasana Arab terasa sangat kental. Bahasa Arab telah menjadi bahasa konversasi dari orang-orang yang duduk di sekitar saya. Tidak lupa saya pandangi saudara-saudara saya setanah air yang mayoritas wanita, mereka rupanya TKW yang telah banyak berjasa memberi devisa kepada Negeri Pertiwi, dan tengah menanti pesawat menuju Yordania, dan beberapa menuju tempat lainnya. Memang sebelum kami singgah di Doha, di pesawat saya menyaksikan betapa jumlah mereka begitu mendominasi penumpang Qatar Airways. Seolah mereka mencharter pesawat yang saya tumpangi itu. Luar biasa.
Akhirnya waktupun tiba, pesawat yang membawa kami terbang menuju bandara Imam Khomeini akan segera diberangkatkan, dan kamipun bergegas checking tiket, kemudian menuju mobil bus yang mengantarkan kami menuju pesawat. Setelah beberapa saat menunggu di dalam bus kamipun segera naik kedalam pesawat dan saat itu saya pun berbeda seat dengan Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, kali ini seat kami berjauhan, tidak seperti sebelumnya, dimana kami duduk bersebelahan. Di pesawat saya melihat ada banyak wanita yang tidak berkerudung, dalam hati saya berkata bahwa mungkin mereka ini adalah orang Iran yang sudah lama tinggal di luar negeri dan ingin mengunjungi sanak familinya di Iran. Saya juga menyaksikan lelaki Arab atau Iran yang pergi bersama seorang teman wanitanya, meskipun dari segi usia tampaknya mereka berkisar 45-an tahun. Mereka berdua cukup akrab, dan si wanita agaknya bule, alias orang barat, karena logat Inggrisnya kental sekali. Ada juga wanita tua berjilbab yang pergi bersama keluarga besarnya. Di pesawat itu suasana Iran sudah mulai terasa kental.
Seperti biasanya, waktu santap makanan pun tiba. Para pramugari berwajah Asia dan pramugara berwajah Afrika dengan senyumnya yang ramah menjangkau kami dengan menawarkan makanan, dan minuman. Menjelang urutan saya, sayapun segera membangunkan istri yang tertidur pulas di sisi kanan saya, dengan maksud agar dapat memilih jenis minuman yang diinginkannya. Perjalanan yang menyenangkan itu tanpa terasa akhirnya membawa kami memasuki wilayah Iran, dan tak lama kemudian pilot pesawatpun mengumumnkan bahwa sebentar lagi pesawat mendarat di bandara Internasional Imam Khomeini. Para penumpang wanita pun mulai bergegas mengenakan tutup kepala, dengan rambut sebagian yang masih terurai. Pemandangan ini tampaknya persis seperti cerita teman-teman di Fisipol UGM yang sering bolak-balik mengunjungi Aceh Nanggro Darosalam. Dimana mentup wajah dan rambut merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap wanita yang hendak memasuki wilayah Aceh. Dalam hati saya berkata, ternyata di Iran kondisinya sangat longgar, toleran, ini persis saya saksikan pada diri wanita-wanita yang duduk di kiri depan saya, demikian juga wanita yang berambut agak blonde yang menurut perkiraan saya adalah wanita keturunan Iran yang telah bermukim lama di luar negeri.
Dalam hati saya mengucapkan Alhamdullillah, karena akhirnya sampai juga di negeri para mullah yang selama ini hanya saya kenal lewat berita televisi, cerita, dan bacaan-bacaan. Saya pun bergegas turun. Kamipun akhirnya berpisah lagi karena Prof Dr. Fazeli melewati pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang yang khusus warga negara Iran, sementara saya masuk dalam pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang asing. Sebelum berpisah, Prof. Dr. Fazeli juga mengatakan kepada saya bahwa pengurusan visa on arrival akan berlangsung sangat mudah, dia pun kemudian menunjukkan tempat pengurusan itu kepada saya, sembari mengatakan bahwa nanti ada seseorang yang akan menjemput kedatangan saya, serta langsung membawa ke asrama, setelah itu dia pun meninggalkan saya.
Kamipun meliwati pintu pengecekan, setelah pengecekan visa istri selesai, kini giliran saya yang menanyakan tempat pengurusan visa on arrival untuk satu bulan. Meskipun memakan waktu, akhirnya pengurusan itu pun selesai. Sejumlah uang Europa harus saya bayarkan di loket pengurusan visa meski pembayaran itu bisa dilakukan dengan dollar Amerika dengan jumlah setara. Beberapa orang anak muda Eropa yang juga mengurus visa on arrival sempat menanyakan problem saya, dialog kecil antar kamipun sempat berlangsung. Anak-anak itu ternyata memiliki kerjasama dibidang arsitektur dengan orang Iran, bahkan mereka menyebut kunjungannya ketika itu merupakan kunjungaan kedua kalinya.
Setelah semua urusan visa on arrival selesai, saya pun mencari istri yang sudah lebih dahulu berada di lantai bawah, rupanya ia telah siap dengan barang-barang bawaan kami yang ada dibagasi. Segera kamipun mengambil troli, menaikkan barang-barang di atas troli, dan segera menukarkan sebagian uang dollar yang kami miliki dengan uang real Iran. Upaya menukarkan uang dollar Amerika ke real Iran sebenarnya jauh hari sudah saya lakukan, namun ternyata di money changer Yogyakarta tidak tersedia, bahkan menurut salah seorang petugas money changer tersebut di Jakarta pun uang real Iran tidak tersedia. Setelah itu kami pun bergegas keluar, melalui pintu pemeriksaan barang bawaan. Saya pandangi seorang wanita cukup usia dengan mengenakan cadur (jilbab khas Iran) berwarna hitam bertugas memantau barang bawaan kami di pintu menuju kearah luar. Kemudian, kamipun akhirnya duduk menunggu petugas yang akan menjemput di atas bangku yang terjejer panjang dan bersaf-saf untuk para penunggu di bandara Imam Khomeini.
Berhadapan di tempat saya duduk tiga orang wanita mengenakan celanan panjang ketat, jeans berwarna biru, sepatu panjang, tampil sangat modis, nampaknya mereka juga tengah menunggu sanak keluarganya. Tiga wanita yang tampil modis itu mengingatkan saya pada mahasiswi-wahasiswi yang kerap saya lihat diberbagai pusat perbelanjaan atau mal-mal yang ada di beberapa kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Yogyakarta. Pemandangan tiga wanita Iran ini juga mengingatkan saya pada buku yang berkisah tentang pesona Iran yang ditulis sepasang suami istri Indonesia yang pernah bermukim delapan tahun di Iran. Dalam hati saya benar, wanita muda Iran jika sudah bersolek luar biasa, modis abis, gak jauh beda dengan wanita-wanita muda yang pernah saya lihat di mal-mal Indonesia, bahkan dengan tinggi badan yang melebihi wanita Indonesia, wanita Iran terkesan lebih berbeda.
Selama beberapa saat sayapun bertanya-tanya dalam hati, siapa yang akan menjemput saya. Apakah dia adalah sosok yang sudah saya kenal, atau dia adalah orang yang baru sama sekali. Saat itu penumpang yang sepesawat dengan saya nampak sudah tidak terlihat lagi, kebanyakan mereka sudah meninggalkan bandara, dijemput atau naik taksi meninggalkan bandara Imam Khomeini. Saya pun segera mencari Iran sell, sim card yang dianjurkan oleh Prof. Dr. Fazeli agar dapat berkontak dan berkomunikasi dengannya. Sayangnya di bandara saya tidak mendapatkannya, di sebuah coffee net yang seharusnya menjual ternyata setelah saya tanyakan tidak juga ada. Walhasil saya hanya bisa celingukan, menunggu dan menunggu. Terkadang terdengar beberapa kali suara seseorang petugas melalui pengeras suara memanggil nama yang mirip-mirip dengan ajaan nama saya, tetapi alamat dan tujuan tidak terdengar jelas, jadi saya tidak menganggap nama yang disuarakan adalah nama saya. Sampai suatu ketika, saat saya memutuskan untuk sholat, kemudian bergegas mencari tempat wudlu dan mushalla. Usai berwudlu, saya pun kemudian pergi mencari tempat ibadah, dan ternyata seseorang bertubuh gemuk, berwajah ke Arab-Arab-an menanyakan kepada saya “Supraga”, Qom. Akhirnya saya tanyakan dalam bahasa Inggris apakah orang yang dimaksudkan benar-benar adalah saya? Namun sayangnya, dia tidak bisa berbahasa Inggris.
Akhirnya saya lihat sehelai kertas yang dibawa bertuliskan Dr. Supraga, dan sayapun yakin kalau yang dimaksudkan adalah saya. Apalagi yang dituju adalah kota Qom, itu pasti saya. Demikian lah keyakinan saya, dan akhirnya saya pun mantab, sayapun segera menghampiri istri, dan segera begegas menuju mobil yang dikendarainya. Diluar bandara udara udara serasa dingin sekali, dan sayapun cepat mengenakan jacket yang telah saya persiapkan dari Jakarta. Setelah semua barang masuk di begasi, kamipun berangkat menuju Qom. Selama diperjalanan sesekali waktu saya menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa Inggris kepadanya, tetapi dia menjawabnya dalam bahasa Persia. Tetapi saya melihat lelaki tambun yang mengendarai mobil ini ramah. Dia juga menjelaskan kepada saya bahwa jalan yang tengah kami lalui adalah jalan menuju Qom. Disepanjang jalan saya melihat papan penunjuk yang menyebutkan bahwa kota Qom berjarak 90-an KM dari bandara Imam Khomeini.
Di sepanjang perjalanan menuju Qom, saya menyaksikan betapa lampu-lampu jalan menerangi jalan panjang menuju kota Qom. Ini fenomena yang tidak saya jumpai di Indonesia, sehingga kesan yang terasa adalah rasa aman di sepanjang jalan. Selain itu saya juga menyaksikan bahwa jalan yang saya lalui ternyata terpisah dengan jalan yang dilalui mobil-mobil berat seperti bus dan truck. Sepertinya ada pemisahan yang cukup tegas antara mana jalan yang dilalui kendaraan pribadi atau sedan, atau taxi dengan mobil truck, bus, dan mobil berat jenis lain, sehingga perjalanan jadi terasa nyaman. Sesekali saya menengok ke arah driver ternyata rata-rata kecepatan sebagaimana nampak pada jarum penunjuk kecepatan adalah berkisar 100-120. Lumayan kencang, dan di kiri kanan saya melihat hamparan perbukitan tandus dengan satu dua rumah yang nampak dari kejauhaan.
Kedatangan saya di bandara Imam Khomeini terbilang cukup pagi, yakni jam 4 waktu setempat, mulai terlihat jelas di mata saya bahwa setelah mencapai beberapa puluh kilo meter meninggalkan bandara, sang sopir yang bertubuh tambun dan ramah itu kelihatan mengantuk. Di suatu kedai kecil ia menghentikan mobil, dan mengambil posisi pinggir kanan untuk beberapa menit ia pun memejamkan matanya. Saya juga demikian, taklama setelah itu ia pun turun, mengajak saya untuk ikut bersamanya, meski dengan bahasa Persia yang tidak saya mengerti sama sekali. Ia turun dengan membawa sebuah gelas kosong yang sebelumnya tergeletak di depan speedo meter mobil yang dikendarainya, dan kemudian bercakap-cakap dengan penjaga warung untuk meminta segelas air panas. Tangki air panas yang dimasak dengan menggunakan listrik ternyata tidak memiliki persediaan air panas di pagi buta itu, dibutuhkan waktu sesaat untuk memasak air hingga mendidih, dan nampak ia pun meminta satu buah teh celup dari penjaga warung dan siap menyedunya bersama air panas yang telah dipersiapkannya.
Ketika itu saya pun mengambil dua kotak minuman rasa nanas, serta menawari sang sopir agar ikut mengambilnya. Kemudian saya pun segera membayar tiga kotak minuman rasa nanas. Tak berapa lama setelah air mendidih sopir itu kemudian mengambil sebungkus teh sedu yang dituangkan di dalam gelas bersama air panas. Ia juga mengambil sebungkus makanan sejenis kacang yang disantap bersama segelas teh panas di dalam mobilnya, setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota suci Qom. Sepenjang perjalanan itu sang sopir terlihat asik dengan segelas tehnya sembari mengelupasi kulit kacang dengan mulutnya. Satu persatu kancang pun habis disantapnya, kemudian kulitnyapun dilempar lewat cendela kaca mobil yang sengaja dibukanya lebar-lebar. Dan kulit kacangpun berhamburan bersama udara pagi yang dingin menusuk tulang. Di sepanjang perjalanan menuju kota suci Qom aku juga menyaksikan sopir mobil itu menjadi lebih rileks ditemani teh dan kacang, sampai tak terasa fajar pun mulai menyingsing melewati kegelapan. Ketika mulai memasuki kota Qom saya pun mulai melihat keramaian kota di pagi buta. Di pagi yang masih berselimut gelap itu , nampak mobil mulai ramai berlalu lalang. Taklama kamipun sampai di tempat yang dituju, yakni mustama’ Shahid Bahesti number two.
Apartemen internasional Sahid Bahesti, number two, dari luar dan dalam
Sesampainya di apartment sepertinya penjaga telah tahu kedatangan saya, dan langsung saja mereka membantu membawakan tas koper ke ruangan yang akan saya tempati. Sayapun mengucapkan terimakasih kepada sopir yang telah mengantarkan saya hingga sampai di apartement. Tidak lama kemudian kamipun bergiliran mandi, kemudian bersiap-siap istirahat, karena badan mulai terasa capai dan rasa kantukpun mulai tak terbendung lagi.
Sepemahamn saya masih ada selisih waktu satu jam lebih di Bandara Sukarno Hatta, dengan demikian berdasarkan pengalaman, maka saya memiliki masih cukup waktu. Saat taxi mulai meluncur dari Kebun Kopi menuju Bandara Internasional Sukarno Hatta, Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, Direktur ICAS yang berkebangsaan Iran menelpon, menanyakan posisi taxi yang saya tumpangi. Dengan Inggris aksen Iran dia menanyakan posisi saya dan menjelaskan dimana posisi dirinya. Kepadanya saya menjelaskan bahwa saya berada di taxi menuju Bandara Internasional Sukarno-Hatta, dan dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapai bandara. Sebaliknya diapun menjelaskan bahwa posisinya ketika itu telah mendekati Bandara, dan menurut perkiraannya saya akan terlambat. Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tahu benar berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai menuju pesawat terbang, mengingat perjalanan internasional sarat dengan berbagai pemeriksaan administrasi, ticketing dan bagasi yang keseluruhannya memakan cukup banyak waktu.
Kemudian ia menugaskan asistennya bernama Muhamad Nur kembali memastikan dimana posisi saya. Ketika itu sayapun mengatakan bahwa diperlukan waktu satu jam dari posisi saya ketika itu untuk sampai ke bandara. Taklama setelah itu, saya pun tiba di Bandara Sukarno-Hatta, kemudian segera konfirmasi tiket, mengurus begasi, dan di tempat yang sama seorang bule yang nampaknya bagian dari petugas Qatar Airways meminta saya untuk bergegas, katanya waktu tinggal 15 menit. Di depan petugas ticket saya mengatakan bahwa saya ingin menunggu seorang teman, langsung bule itu menjawab tidak bisa, karena tidak lagi ada waktu. Mengetahui hal itu saya pun menelpon Prof. Dr Fazeli menanyakan posisinya. Saat itu ternyata dia telah berada di entrance alias pintu masuk, namun karena saya tidak terlalu paham dengan apa yang dimaksudnya, maka saya pun celingukan mencarinya dari berbagai arah. Saya mengira entrance adalah pintu masuk ke bandara, sehingga sempat terbesit dibenak bahwa ternyata saya tiba lebih dahulu ketimbang sang Professor itu.
Setelah pengurusan tiket dan bagasi selesai saya menanyakan dimana saya harus membayar fiskal untuk bepergian ke luar negeri, kemudian petugas ticket menunjukkan tempatnya sehingga saya bersama istri sesegera mungkin mengurusnya. Dengan C1 dan menunjukkan NPWP, serta paspor biru saya pun akhirnya bebas biaya fiskal, meskipun saat mengurusnya petugas loket meminta saya menujukkan surat nikah bukan C1, akhirnya petugas pun dapat menerima penjelasan saya tentang C-1 itu. Kemudian saya bergegas, mengingat waktu semakin singkat menuju antrian loket pemeriksaan, dan saat tiba giliran petugas pun meminta saya dan istri mengisi formulir data identitas, dan keterangan passport.
Saat mengisi formulir kamipun sempat dibuat bingung atas pertanyaan yang terdapat pada formulir, meskipun pengisian semacam itu bukan pertama dan baru sama sekali, setidaknya pengalaman saya ke luar negeri sebelumnya membuat saya memiliki pengetahuan berkenaan dengan pengisian formulir seperti itu, lagi saya pun bertanya kepada petugas loket pemeriksaan, dan merekapun dengan senang hati membantu. Akhirnya kami berdua segera masuk, mencari gate menuju pesawat Qaatar Airways yang akan berangkat menuju Doha. Karena waktu makin singkat istri saya nampak sedikit cemas, apalagi perjalanan dari gate menuju pesawat cukup jauh karena di gate bernomor kecil. Tidak lama kemudian saya pun sampai ditempat pemeriksan ticket terakhir, kemudian naik ke dalam ruang pesawat. Seorang bule yang sebelumnya meminta saya bergegas karena waktu yang terbatas pun terlihat di loket pemeriksaan itu. Sayapun merasa tenang, meski pemeriksaan di situ meminta kami untuk membuka sepatu dan sebagainya.
Di loket pemeriksaan terakhir itu juga saya mendengar bule yang meminta saya bergegas berkata masih ada satu orang lagi yang ditunggu selain saya dan istri, demikian percakapannya dengan petugas pemeriksaan. Kemudian saya bersama istri menuju pesawat hingga menemukan nomor kursi kami, dan ketika itulah saya melihat Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tengah menyusun barangnya dalam sebuah locker yang tersedia, dan saya kemudian memegang badannya, tak lama dia kemudian memperkenalkan saya dan istri kepada istrinya.
Sayapun akhirnya siap berangkat ke Taheran bersama Prof. Dr. Seyyed Ahamad Fazeli dan keluarganya. Di dalam pesawat kami banyak berdialog, apalagi dia membawa serta anaknya yang lucu, yang terlihat imut, dan pemberani. Saya dan istri terhibur dengan prilaku anaknya itu. Prof. Dr. Fazeli pun bercerita banyak tentang rencananya kelak di Iran untuk kepentingan kegiataan Sabbatical Leave yang akan saya lakukan. Selama di udara istri saya sempat berpindah tempat duduk untuk bermain bersama puterinya yang masih berusia kecil dan lucu itu, mereka bermain dengan menggunakan bahasa masing-masing, nampak bahwa komunikasi bisa berlangsung dua arah.
Sementara kami berdialog, istri saya asyik bermain dengan si kecil puteri Prof. Dr. Fazeli, dan sesekali nampak istri sayapun berdialog dengan istri sang Profesor. Entah apa saja yang mereka bicarakan, karena kami berdua tengah asik mendiskusikan berbagai hal. Prof. Dr. Fazeli memberitahukan saya bahwa sesampainya di Bandara Imam Khomeini seseorang akan menjemput saya menuju asrama atau tempat tinggal yang telah dipersiapkan selama saya berada di Iran, khusunya di kota Qum. Ia juga akan mengatur pertemuan saya dengan para expert di lembaganya, yakni Universitas Al-Mustafa International. Dia juga menyebut beberapa nama diantaranya Dr. Haji. Selama dalam perjalanan dia menceritakan bahwa sistem pendidikan di Iran memungkinkan seseorang untuk benar-benar menjadi seorang scholar, bukan hanya sekedar mendapat gelar sarjana, BA, Master, doctor dan sebagainya.
Seorang scholar katanya bukan hanya seorang sarjana, dia adalah lebih dari itu, yakni produsen teori. Dia juga menjanjikan kepada saya untuk bertemu dengan beberapa exspert, diantaranya adalah expert yang menguasai masalah ekonomi sebagaimana yang akan saya kaji. Di minggu pertama mungkin saya harus menunggu terlebih dahulu, karena program baru mulai berjalan efektif setelah satu minggu. Dia akan menyiapkan segalanya bagi saya dan istri. Istrinya juga nanti akan mengajak istri saya mendatangi pusat kajian perempuan. Prof. Fazeli juga mengatakan bahwa agendanya selama satu bulan di Iran adalah seminar yang hasilnya akana menjadi bahan pembuatan policy bagi lembaga pendidikan dibawah naungan Jamiatul Mustafa seluruh dunia.
Perjalanan dari Jakarta menuju Doha yang memakan waktu lebih dari 5 jam itu akhirnya tiba jua. Pesawat landing di bandara internasional Doha. Kamipun turun dari pesawat menuju pos pemeriksaan untuk kemudian menunggu diruang transit selama beberapa saat, menunggu pesawat Qatar lain yang akan mengantarkan kami menuju bandara internasional Imam Khomeini. Selama menunggu saya pun memandangi arus penumpang yang sangat ramai, mereka memiliki berbagai tujuan. Namun di bandara Doha suasana Arab terasa sangat kental. Bahasa Arab telah menjadi bahasa konversasi dari orang-orang yang duduk di sekitar saya. Tidak lupa saya pandangi saudara-saudara saya setanah air yang mayoritas wanita, mereka rupanya TKW yang telah banyak berjasa memberi devisa kepada Negeri Pertiwi, dan tengah menanti pesawat menuju Yordania, dan beberapa menuju tempat lainnya. Memang sebelum kami singgah di Doha, di pesawat saya menyaksikan betapa jumlah mereka begitu mendominasi penumpang Qatar Airways. Seolah mereka mencharter pesawat yang saya tumpangi itu. Luar biasa.
Akhirnya waktupun tiba, pesawat yang membawa kami terbang menuju bandara Imam Khomeini akan segera diberangkatkan, dan kamipun bergegas checking tiket, kemudian menuju mobil bus yang mengantarkan kami menuju pesawat. Setelah beberapa saat menunggu di dalam bus kamipun segera naik kedalam pesawat dan saat itu saya pun berbeda seat dengan Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, kali ini seat kami berjauhan, tidak seperti sebelumnya, dimana kami duduk bersebelahan. Di pesawat saya melihat ada banyak wanita yang tidak berkerudung, dalam hati saya berkata bahwa mungkin mereka ini adalah orang Iran yang sudah lama tinggal di luar negeri dan ingin mengunjungi sanak familinya di Iran. Saya juga menyaksikan lelaki Arab atau Iran yang pergi bersama seorang teman wanitanya, meskipun dari segi usia tampaknya mereka berkisar 45-an tahun. Mereka berdua cukup akrab, dan si wanita agaknya bule, alias orang barat, karena logat Inggrisnya kental sekali. Ada juga wanita tua berjilbab yang pergi bersama keluarga besarnya. Di pesawat itu suasana Iran sudah mulai terasa kental.
Seperti biasanya, waktu santap makanan pun tiba. Para pramugari berwajah Asia dan pramugara berwajah Afrika dengan senyumnya yang ramah menjangkau kami dengan menawarkan makanan, dan minuman. Menjelang urutan saya, sayapun segera membangunkan istri yang tertidur pulas di sisi kanan saya, dengan maksud agar dapat memilih jenis minuman yang diinginkannya. Perjalanan yang menyenangkan itu tanpa terasa akhirnya membawa kami memasuki wilayah Iran, dan tak lama kemudian pilot pesawatpun mengumumnkan bahwa sebentar lagi pesawat mendarat di bandara Internasional Imam Khomeini. Para penumpang wanita pun mulai bergegas mengenakan tutup kepala, dengan rambut sebagian yang masih terurai. Pemandangan ini tampaknya persis seperti cerita teman-teman di Fisipol UGM yang sering bolak-balik mengunjungi Aceh Nanggro Darosalam. Dimana mentup wajah dan rambut merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap wanita yang hendak memasuki wilayah Aceh. Dalam hati saya berkata, ternyata di Iran kondisinya sangat longgar, toleran, ini persis saya saksikan pada diri wanita-wanita yang duduk di kiri depan saya, demikian juga wanita yang berambut agak blonde yang menurut perkiraan saya adalah wanita keturunan Iran yang telah bermukim lama di luar negeri.
Dalam hati saya mengucapkan Alhamdullillah, karena akhirnya sampai juga di negeri para mullah yang selama ini hanya saya kenal lewat berita televisi, cerita, dan bacaan-bacaan. Saya pun bergegas turun. Kamipun akhirnya berpisah lagi karena Prof Dr. Fazeli melewati pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang yang khusus warga negara Iran, sementara saya masuk dalam pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang asing. Sebelum berpisah, Prof. Dr. Fazeli juga mengatakan kepada saya bahwa pengurusan visa on arrival akan berlangsung sangat mudah, dia pun kemudian menunjukkan tempat pengurusan itu kepada saya, sembari mengatakan bahwa nanti ada seseorang yang akan menjemput kedatangan saya, serta langsung membawa ke asrama, setelah itu dia pun meninggalkan saya.
Kamipun meliwati pintu pengecekan, setelah pengecekan visa istri selesai, kini giliran saya yang menanyakan tempat pengurusan visa on arrival untuk satu bulan. Meskipun memakan waktu, akhirnya pengurusan itu pun selesai. Sejumlah uang Europa harus saya bayarkan di loket pengurusan visa meski pembayaran itu bisa dilakukan dengan dollar Amerika dengan jumlah setara. Beberapa orang anak muda Eropa yang juga mengurus visa on arrival sempat menanyakan problem saya, dialog kecil antar kamipun sempat berlangsung. Anak-anak itu ternyata memiliki kerjasama dibidang arsitektur dengan orang Iran, bahkan mereka menyebut kunjungannya ketika itu merupakan kunjungaan kedua kalinya.
Setelah semua urusan visa on arrival selesai, saya pun mencari istri yang sudah lebih dahulu berada di lantai bawah, rupanya ia telah siap dengan barang-barang bawaan kami yang ada dibagasi. Segera kamipun mengambil troli, menaikkan barang-barang di atas troli, dan segera menukarkan sebagian uang dollar yang kami miliki dengan uang real Iran. Upaya menukarkan uang dollar Amerika ke real Iran sebenarnya jauh hari sudah saya lakukan, namun ternyata di money changer Yogyakarta tidak tersedia, bahkan menurut salah seorang petugas money changer tersebut di Jakarta pun uang real Iran tidak tersedia. Setelah itu kami pun bergegas keluar, melalui pintu pemeriksaan barang bawaan. Saya pandangi seorang wanita cukup usia dengan mengenakan cadur (jilbab khas Iran) berwarna hitam bertugas memantau barang bawaan kami di pintu menuju kearah luar. Kemudian, kamipun akhirnya duduk menunggu petugas yang akan menjemput di atas bangku yang terjejer panjang dan bersaf-saf untuk para penunggu di bandara Imam Khomeini.
Berhadapan di tempat saya duduk tiga orang wanita mengenakan celanan panjang ketat, jeans berwarna biru, sepatu panjang, tampil sangat modis, nampaknya mereka juga tengah menunggu sanak keluarganya. Tiga wanita yang tampil modis itu mengingatkan saya pada mahasiswi-wahasiswi yang kerap saya lihat diberbagai pusat perbelanjaan atau mal-mal yang ada di beberapa kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Yogyakarta. Pemandangan tiga wanita Iran ini juga mengingatkan saya pada buku yang berkisah tentang pesona Iran yang ditulis sepasang suami istri Indonesia yang pernah bermukim delapan tahun di Iran. Dalam hati saya benar, wanita muda Iran jika sudah bersolek luar biasa, modis abis, gak jauh beda dengan wanita-wanita muda yang pernah saya lihat di mal-mal Indonesia, bahkan dengan tinggi badan yang melebihi wanita Indonesia, wanita Iran terkesan lebih berbeda.
Selama beberapa saat sayapun bertanya-tanya dalam hati, siapa yang akan menjemput saya. Apakah dia adalah sosok yang sudah saya kenal, atau dia adalah orang yang baru sama sekali. Saat itu penumpang yang sepesawat dengan saya nampak sudah tidak terlihat lagi, kebanyakan mereka sudah meninggalkan bandara, dijemput atau naik taksi meninggalkan bandara Imam Khomeini. Saya pun segera mencari Iran sell, sim card yang dianjurkan oleh Prof. Dr. Fazeli agar dapat berkontak dan berkomunikasi dengannya. Sayangnya di bandara saya tidak mendapatkannya, di sebuah coffee net yang seharusnya menjual ternyata setelah saya tanyakan tidak juga ada. Walhasil saya hanya bisa celingukan, menunggu dan menunggu. Terkadang terdengar beberapa kali suara seseorang petugas melalui pengeras suara memanggil nama yang mirip-mirip dengan ajaan nama saya, tetapi alamat dan tujuan tidak terdengar jelas, jadi saya tidak menganggap nama yang disuarakan adalah nama saya. Sampai suatu ketika, saat saya memutuskan untuk sholat, kemudian bergegas mencari tempat wudlu dan mushalla. Usai berwudlu, saya pun kemudian pergi mencari tempat ibadah, dan ternyata seseorang bertubuh gemuk, berwajah ke Arab-Arab-an menanyakan kepada saya “Supraga”, Qom. Akhirnya saya tanyakan dalam bahasa Inggris apakah orang yang dimaksudkan benar-benar adalah saya? Namun sayangnya, dia tidak bisa berbahasa Inggris.
Akhirnya saya lihat sehelai kertas yang dibawa bertuliskan Dr. Supraga, dan sayapun yakin kalau yang dimaksudkan adalah saya. Apalagi yang dituju adalah kota Qom, itu pasti saya. Demikian lah keyakinan saya, dan akhirnya saya pun mantab, sayapun segera menghampiri istri, dan segera begegas menuju mobil yang dikendarainya. Diluar bandara udara udara serasa dingin sekali, dan sayapun cepat mengenakan jacket yang telah saya persiapkan dari Jakarta. Setelah semua barang masuk di begasi, kamipun berangkat menuju Qom. Selama diperjalanan sesekali waktu saya menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa Inggris kepadanya, tetapi dia menjawabnya dalam bahasa Persia. Tetapi saya melihat lelaki tambun yang mengendarai mobil ini ramah. Dia juga menjelaskan kepada saya bahwa jalan yang tengah kami lalui adalah jalan menuju Qom. Disepanjang jalan saya melihat papan penunjuk yang menyebutkan bahwa kota Qom berjarak 90-an KM dari bandara Imam Khomeini.
Di sepanjang perjalanan menuju Qom, saya menyaksikan betapa lampu-lampu jalan menerangi jalan panjang menuju kota Qom. Ini fenomena yang tidak saya jumpai di Indonesia, sehingga kesan yang terasa adalah rasa aman di sepanjang jalan. Selain itu saya juga menyaksikan bahwa jalan yang saya lalui ternyata terpisah dengan jalan yang dilalui mobil-mobil berat seperti bus dan truck. Sepertinya ada pemisahan yang cukup tegas antara mana jalan yang dilalui kendaraan pribadi atau sedan, atau taxi dengan mobil truck, bus, dan mobil berat jenis lain, sehingga perjalanan jadi terasa nyaman. Sesekali saya menengok ke arah driver ternyata rata-rata kecepatan sebagaimana nampak pada jarum penunjuk kecepatan adalah berkisar 100-120. Lumayan kencang, dan di kiri kanan saya melihat hamparan perbukitan tandus dengan satu dua rumah yang nampak dari kejauhaan.
Kedatangan saya di bandara Imam Khomeini terbilang cukup pagi, yakni jam 4 waktu setempat, mulai terlihat jelas di mata saya bahwa setelah mencapai beberapa puluh kilo meter meninggalkan bandara, sang sopir yang bertubuh tambun dan ramah itu kelihatan mengantuk. Di suatu kedai kecil ia menghentikan mobil, dan mengambil posisi pinggir kanan untuk beberapa menit ia pun memejamkan matanya. Saya juga demikian, taklama setelah itu ia pun turun, mengajak saya untuk ikut bersamanya, meski dengan bahasa Persia yang tidak saya mengerti sama sekali. Ia turun dengan membawa sebuah gelas kosong yang sebelumnya tergeletak di depan speedo meter mobil yang dikendarainya, dan kemudian bercakap-cakap dengan penjaga warung untuk meminta segelas air panas. Tangki air panas yang dimasak dengan menggunakan listrik ternyata tidak memiliki persediaan air panas di pagi buta itu, dibutuhkan waktu sesaat untuk memasak air hingga mendidih, dan nampak ia pun meminta satu buah teh celup dari penjaga warung dan siap menyedunya bersama air panas yang telah dipersiapkannya.
Ketika itu saya pun mengambil dua kotak minuman rasa nanas, serta menawari sang sopir agar ikut mengambilnya. Kemudian saya pun segera membayar tiga kotak minuman rasa nanas. Tak berapa lama setelah air mendidih sopir itu kemudian mengambil sebungkus teh sedu yang dituangkan di dalam gelas bersama air panas. Ia juga mengambil sebungkus makanan sejenis kacang yang disantap bersama segelas teh panas di dalam mobilnya, setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota suci Qom. Sepenjang perjalanan itu sang sopir terlihat asik dengan segelas tehnya sembari mengelupasi kulit kacang dengan mulutnya. Satu persatu kancang pun habis disantapnya, kemudian kulitnyapun dilempar lewat cendela kaca mobil yang sengaja dibukanya lebar-lebar. Dan kulit kacangpun berhamburan bersama udara pagi yang dingin menusuk tulang. Di sepanjang perjalanan menuju kota suci Qom aku juga menyaksikan sopir mobil itu menjadi lebih rileks ditemani teh dan kacang, sampai tak terasa fajar pun mulai menyingsing melewati kegelapan. Ketika mulai memasuki kota Qom saya pun mulai melihat keramaian kota di pagi buta. Di pagi yang masih berselimut gelap itu , nampak mobil mulai ramai berlalu lalang. Taklama kamipun sampai di tempat yang dituju, yakni mustama’ Shahid Bahesti number two.
Apartemen internasional Sahid Bahesti, number two, dari luar dan dalam
Sesampainya di apartment sepertinya penjaga telah tahu kedatangan saya, dan langsung saja mereka membantu membawakan tas koper ke ruangan yang akan saya tempati. Sayapun mengucapkan terimakasih kepada sopir yang telah mengantarkan saya hingga sampai di apartement. Tidak lama kemudian kamipun bergiliran mandi, kemudian bersiap-siap istirahat, karena badan mulai terasa capai dan rasa kantukpun mulai tak terbendung lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)