Iran merupakan salah satu negara yang di lirik oleh anak muda Indonesia karena berbagai alasan. Selama berada beberapa bulan di negeri para mullah itu saya mendapat informasi dari mahasiswa kita yang berada di sana bahwa jumlah keseluruhan mereka kurang lebih 250 orang. Sebagian besar mahasiswa Indonesia itu pergi ke Iran untuk belajar agama, filsafat islam di berbagai hauzah ilmiyah yang ada di Iran, terutama di Qom. Memang kota ssuci Qom merupakan salah satu kota suci penting bagi penganut Shia’h, selain itu para marja’ biiasanya memiliki kantor perwakilan di kota tersebut, terutama di Savaye Street. Ambil contoh Kota ini juga sekaligus menjadi salah satu gudang ilmu filsafat islam dan agama. Bahkan beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di sana menjelaskan bahwa sebagai gudang ilmu maka, kota suci Qom dikenal sebagai salah satu kota yang memberi kontribusi signifikan dalam memproduksi berbagai karya pemikiran (buku). Hal ini dapat dilihat dari indeks jumlah buku yang diterbitkan dalam setiap tahunnya, dimana kota suci Qom menurut informasi pelajar di sana, dapat digolongkan yang tertinggi di Iran.
Selain di Qom para pelajar Indonesia ada juga yang tengah menyelesaikan studinya di kota Taheran, bahkan menurut informasi ada juga yang belajar di kota Mashad dan Esfahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mereka banyak yang meneruskan studinya di hauzah-ilmiyah Qom. Mereka yang belajar di Iran tentunya telah melalui berbagai proses seleksi yang berlangsung dalam proses perekrutan. Tentunya mereka adalah orang-orang pilihan, karena telah lolos dalam berbagai tingkat seleksi yang dilakukan lembaga yang merekrutnya. Selain itu seleksi masuk di universitas terkenal, seperti University of Taheran juga bukan merupakan sesuatu yang mudah, karena universitas tersebut dikenal sebagai salah satu universitas papan atas di Iran.
Jumlah 250 orang pelajar Indonesia di Iran tentu saja bukan jumlah yang sedikit, namun jumlah tersebut menurut sumber yang saya dapatkan di sana, dianggap masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang berasal dari negara lain, seperti Malaysia, Pakistan. Namun yang cukup menarik, di kota suci Qom saya menemukan pelajar dari berbagai macam negara asal, seperti Filipina, Cina, Bosnia, Amerika, Maroko, Mauritania, dll. Dari gambaran tersebut maka dapat kita sebutkan bahwa kota Qom adalah kota internasional yang sebagian besar dihuni oleh para pelajar yang ingin mendalami Filsafat Islam, Bahasa Persia, Bank Islam. Semaraknya kota Qom itu dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan terutama hauzah ilmiyah, dan berbagai lembaga research atau ilmu pengetahuan.
Berbagai alasan umumnya dikemukakan oleh para pelajar Indonesia di sana. Sebagian mereka memilih Iran karena pendidikan yang mereka jalankan sepenuhnya gratis alias ditaanggung oleh lembaga yang merekrut mereka, bahkan pemerintah. Selain itu khusus bagi mereka yang studi di Qom, berbagai fasilitas tambahan masih mereka dapatkan, misalnya tidak ada larangan untuk melahirkan, bahkan bagi mereka yang melahirkan, mereka dapat memperoleh bantuan keuangan untuk melahirkan, bantuan untuk penitipan anak, dan lain-lain. Dalam konteks berbagai bantuan ini saya teringat adanya kontras dengan teman-teman yang belajar di negara-negara barat. Tidak hanya itu saja, setahu saya ada larangan bagi mahasiswa yang tengah studi untuk menjalanai proses kehahamilan, dan bila kedapatan hamil, sangsinya cukup berat, yakni bisa dikeluarkan dan dicabut beasiswanya. Tentu saja negara barat pemberi beasiswa ini memiliki alasannya sendiri, seperti efisiensi waktu dan efektivitas belajar, keterbatasan jumlah uang yang diberikan, dan sebaginya. Alasan-alasan tersebut memamng cukup rasional, meskipun terkadang tidak manusiawi juga. Sering kali muncul di dalaam benak pikiran saya, apakah hal ini karena beasiswa di Iran di danai oleh uang uang para imam yang memiliki ketinggian pemahaman keagamaan dan moralitasnya, dan beasiswa darri barat itu di danai oleh perusahaan atau negara yang lebih pragmatis-sekularistik pertimbaangannya? Sayaa belum punya jawaban yang yang memadai dalama hal tersenbut.
Sejumlah mahasiswa juga mengatakan kepada saya bahwa mereka tertarik belajar di Iran, karena negara atau pemerintah memang memberikan dukungan yang kuat pada dunia pendidikan di sana, misalnya harga buku-buku relative jauh lebih murah, hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah memberi subssidi terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam dunia perbukuan, kamus bahasa Inggris terkenal misalnya, di salah satu toko buku Iran berharga Rp 150.000 di sini harganya sudah mencapai Rp 500.000, hal ini bisa terjadi karena buku impor tersebut telah dicetak kembali di Iran, sementara untuk buku-buku impor langsung yang tidak dicetak di Iran harganya sedikit lebih mahal, namun tetap lebih murah dibandingkan dengan harga di toko buku terkenal di Indonesia. Menurut para pelajar Indonesiaa di Iran, harga-harga buku akan jauh lebih murah saat pameran buku internasional (book fair) tiba.
Alasan lain yang tak kalah menarik adalah nara sumber yang otoritataif dalam berbagai bidang, terutama filsafat dengan berbagai macam cabangnya dan ilmu-ilmu islam dengan berbagai macam cabangnya mudah kita temukan di sana. Apa lagi jika menguasai bahasa Persia atau Arab, hal ini disebabkan banyak sumber-sumber otoritatif menggunakan dua bahasa tersebut, meskipun terdapat beberapa yang juga menguasai bahasa Inggris. Selain itu mahasiswa dengan persyaratan tertentu dapat memperoleh fasilitas asrama pelajar yang cukup memadahi. Masih ada peluang lain yang membuat mahasiswa Indonesia merasa lebih betah tinggal di Iran, yakni adanya kegiatan selingan yang dilakukan pihak asrama dimana si pemanang akan mendapatkan berbagai hadiah serta bonus yang menarik. Mulai dari hadiah kipas angin, mesin penyedot debu, hingga tiket pulang ke tanah air.
Seorang pelajar Indonesia di sana terkadang setelah merasakan tinggal selama beberapa tahun mengatakan bahwa mereka sangat betah, karena fasilitas belajar sangat baik, dan nara sumber yang otoritatif mudah ditemui di Iran, tanpa harus melalui jalur birokrasi yang ribet. Selain berbagai fasilitas yang memudahkan di atas, bila mereka ingin mendapatkan uang tambahan biasanya mereka menjalankan kegiatan penerjemaah buku. Kegiatan menterjemah buku biasanya dilakukan di selaa-sela waktu kesibukan mereka. Selain itu beberapa dari mereka aktif juga di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) yang sering menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kegiatan, seperti diskusi, seminar, dan lain-lain.
Hubungan pelajar Indonesia dengan KBRI di Iran memiliki sejarah pasang naik dan surut. Di zaman Orde Baru hubungan KBRI dengan para pelajar kita di sana memang kurang harmonis, hal ini bisa dimengerti karena KBRI lebih banyak memantau, mengontrol, mengarahkan, bahkan seolah memata-matai pelajar Indonesia yang ada di Iran. Kecenderungan semacam ini dapat berlangsung karena rezim Orde Baru yang tengah berkuasa sangat khawatir terhadap gejala ekspor revolusi dari negeri yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai republic Islam Iran. Selain itu Orde Baru sebelum kelahiran ICMI juga sangat phobi terhadap Islam.
Selain dukungan negara yang kuat dalam dunia pendidikan di Iran, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari komitmen para marja’ yang sejak dari dulu memiliki sejarah panjang dalam membangun masyarakat yang agamis, rasional, kritis, dan berkeadilan sosial. Komitmen lembaga agama terhadap dunia pendidikan tidak perlu diragukan, ekspresi tersebut muncul dalam bentuk pembangunan sarana research, lembaga pendidikan, program bantuan beasiswa bagi para pelajar yang tengah mengikuti pendidikan diberbagai jenjang. Seorang pelajar agama di Iran mendapatkan beasiswa (shahriar) untuk biaya pendidikan, biaya buku, hidup, dan lain-lain, dengan besaran yang berbeda-beda, sesuai dengan jenjang pendidikan yang sedang diikutinya. Jenjang pendidikan yang setara dengan S1 tentu lebih rendah disbanding mereka yang tengah menjalani pendidikan di jenjang master (S2), ataupun doctoral (S3). Demikian juga status lajang dan tidaknya seseorang juga ikut menentukan besaran beaseswa yang akan diperolehnya.
Besarnya komitmen para marja’ terhadap dunia pendidikan ini sebagian dapat diamati pada saat tanggal-tanggal awal bulan, dimana ribuan pelajar, tua-muda, dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat pembagian shahriar, yang pusatnya ditempatkan di lokasi sekitar Holly Shrain Fatimah Ma’sumah. Biasanya pengambilan shahriar akan berlangsung selama beberapa hari, sebagaimana telah ditentukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar