Senin, 15 November 2010

Produk Indonesia di Iran

Cukup lama saya bolak-balik ke berbagai pasar baik modern maupun tradisional yang ada di Qom, hampir pasti saya tidak menemukan produk Indonesia di sana. Sepatu sebagian besar didatangkan dari Turki, dan juga dari industry lokal Iran sendiri. Harganya relative tidak terlalu jauh berbeda dengan berbagai merek sepatu Cibaduyut yang ada di negeri kita. Jaket yang terpampang di etalase toko-toko di Qom juga sebagian besar kata penjualnya dari Turki. Demikian produk lain seperti celana panjang, sebagian besar didatangkan dari tempat yang sama.

Tetapi di antara produk yang luar biasa banyaknya di Iran, hampir sebagian besar ternyata berasal dari Cina. Memang negeri Tirai Bambu ini sekarang memang produknya sedang meramaikan pasar dunia. Konon di Eropa produk Cina juga cukup meresahkan produk-produk lokal. Jurus yang digunakan produk Cina adalah harganya yang murah, meski kualitasnya dikenal tidak istimewa. Harga jual produk Cina relative murah di bandingkan produk sejenis dari negara Iran, dan negara-negara lain hal ini konon karena upah buruh terkenal rendah di negeri Tirai Bambu itu, selain bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk didapat dengan mudah, dengan harga yang juga rendah, sehingga ongkos produksi yang dikeluarkannya rendah, akibatnya harga jual berbagai produk Cina jadi murah. Selain itu, bangsa Cina juga dikenal piawai dalam menciptakan produk imitasi. Lihat saja produk-produk hand phone (HP) keluaran Cina, dari segi tampilan dia tidak kalah dengan produk Hand Phone (HP) bermerek terkenal, misalnya merek Blackberry dengan Nexian. Tidak kaget jika banyak orang sering tertipu disaat membeli suatu produk karena kurangnya ketelitian, dan kehati-hatian, semata terpukau oleh harga yang lebih murah.

Di Iran sediri produk Cina bermacam-macam, selain produk yang telah disebut di atas, produk lain yang mudah dijumpai adalah dolanan anak-anak, kaos, pakaian, celana, kalung, manik-manik, alat dapur, perabot memasak, alat tulis, bahkan berbagai macam barang mitasi, seperti produk-produk yang berasal dari bahan plastik. Pendek kata, produk Cina telah membanjiri Iran, dan dimasa datang banjiir produk Cina ini akan bertambah, apalagi diplomasi ekonomi yang dilakukan Cina terhadap Iran, ditambah penolakan Cina untuk mengikuti langkah US dalam pemberian sangsi terhdap Iran menyangkut soal pengkayaan uranium yang dilakukan Iran untuk pengembangan proyek pembangkit listrik bertenaga nuklirnya.

Di samping Cina, berbagai produk pertanian yang berasal dari negara Asia lain seperti Filipina juga nampak, misalnya pisang, beras, juga dari Thailand, berupa beras, produk konveksi, dan saya hampir merasa sedih karena tidak satupun produk Indonesia muncul di Iran, untunglah suatu kali ketika saya berada di Shiraz, saya menemukan produk konveksi Indonesia ada di sana. Ada sebuah toko pakaian yang ternyata menjual konveksi asal Indonesia. Nama toko itu adalah Saiba, milik orang Iran bernama Hamidi. Setelah saya wawancarai lebih lanjut, ternyata dia memang kerap berkunjung ke Indonesia untuk mengambil berbagai produk konveksi dari Pekalongan dan Tanah Abang. Yang menarik bahwa pak Hamidi cukup pandai berbahasa Indonesia. Dia juga mengakui selain Indonesia produk konveksi yang dipampang di etalasee tokonya diambil juga dari Thailand dan Cina.

Perasaan saya sedikit agak terhibur setelah bertemu pak Hamidi, di etalase tokonya saya menemukan konveksi yang berbahan dasar kain batik, dan harganya jika dikonversi ke mata uang rupiah berkisar Rp 125.000, di dalam hati saya produk konveksi Indonesia yang dijual di sana kualitasnya memang bukan yang istimewa, hal ini nampak dari kualitas kain batik yang terasa sangat kasar. Tetapi perjumpaan saya dengan produk Indonesia ini tentu sangat menyenangkan, setidaknya di dalam hati saya Indonesia telah ikut ambil bagian dalam kegiatan ekonomi, dan berharap semoga di masa datang produk Indonesia yang masuk ke Iran akan lebih banyak lagi. Selain pertemuan saya dengan Pak Hamidi saya juga melihat produk kecap ABC di Shiraz, tentu perjumpaan ini membuat hati saya makin senang, dalam hati berkata meskipun produk Indonesia hanya ada beberapa item, namun setidaknya keadaan ini masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tentu saja saya berharap di masa datang berbagai produk Indonesia dapat lebih dikenal di Iran melebihi produk dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Apa lagi dibanding tiga negara yang telah disebutkan di kawasan ASEAN Indonesia menduduki penduduk yang jauh lebih besar dari tiga negara itu. Namun sayangnya hingga saat ini jika kita pergi ke toko swalayan untuk mencari beras, maka yang muncul adalah beras Thailand, dan Filipina. Belum lagi kalau kita berbicara pariwisata, orang Iran ternyata lebih familiar dengan Malaysia ke timbang Indonesia, yang menarik negeri jiran itu kini telah menjadi tujuan pendidikan bagi sebagian anak muda Iran. Dalam benak kebanyakan orang Iran, Malaysia saat ini juga menjadi negara tujuan wisata yang cukup penting, hal ini berkat keberhasilan bangsa Malaysia dalam mengkonstruksi citra dirinya sebagai sebuah negeri islam yang aman, bersih, dan maju.

Meskipun konstruksi citra di atas di mata salah seorang Professor dari Ramin University Iran yang beberapa kali pernah bertandang baik ke Indonesia maupun Malaysia sangat berbeda, menurutnya justeru aneh, mengapa justeru Malaysia yang menjadi lebih terkenal di Iran ke timbang Indonesia? Padahal menurutnya Indonesia jauh lebih “istimewa” di banding Malaysia di tinjau dari berbagai macam aspek, baik budaya, jumlah penduduk, keaneka ragaman budaya, makanan, geografis, keramah tamahan penduduk, luas negara, keindahan panorama yang dimiliki, dsb. Sang Professor ini bahkan begitu jatuh hati pada Indonesia dan terus ingin berkunjung ke Indonesia jika memungkinkan. Dia bahkan menunjukkan kepada saya porsi pemberitaan Indonesia di televisi Iran sangat minim, bahkan ramalan cuaca di beberapa acara televisi di Iran pun tidak menyebut Indonesia, kecuali hanya salah satu stasiun televisi Iran, yakni Press TV.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi pada bangsa Indonesia yang notabene memiliki penduduk mayoritas beragama Islam dan terbesar pula jumlahnya di dunia? Tentu saja berbagai alasan bisa dikemukakan, misalnya di jaman rezim Orde Baru nampak bahwa pemerintah sangat khawatir dengan apa yang disebut ekspor revolusi, sehingga hubungan dengan negara Islam tersebut sangat dibatasi. Kendatipun zaman sudah berubah, dan Indonesia telah memasuki era reformasi namun hubungan bilateral dengan negara Islam Iran belum juga dapat berlangsung secara optimal, hal ini ditengarai bahwa adanya “tekanan” atau setidaknya ketakutan negara Indonesia akan stigma yang bakal diperoleh dari negara super power Amerika bila Indonesia terlalu dekat dengan Iran, mengingat hubungan Iran dengan negara super power khususnya Amerika dan Inggris terus berada dalam ketidak harmonisan akibat berbagai macam issue, seperti nuklir, pembelaan membabi buta terhadap Israel, dan politik standar ganda.
Berikutnya karena adanya perbedaan mazhab Islam, dimana Indonesia sebagian besar adalah muslim sunni sementara mayoritas penduduk Iran adalah penganut Islam shia’ah.

Tentu saja dari berbagai alasan yang dikemukakan di atas alasan terakhir nampaknya tidak terlalu relevan, apalagi setelah banyak negara-negara di dunia, seperti Cina, Jepang, dan Korea, terus mempererat hubungan bilateralnya dengan Iran. Sebagai negara Islam Iran memiliki banyak keunggulan disbanding dengan negara Islam lainnya, setidaknya hal ini dapat dilihat dari capaian ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aktualisasi semangat independensinya yang besar. Selain itu sejauh ini dilevel hubungan bilateral yang paling banyak memainkan peranan adalah negara atau pemerintah yang tengah berkuasa, bukan masyarakat ataupun warga negaranya. Berdasarkan argumen di atas, maka sudah saatnya jika kita meninjaau dan memperbaharui hubungan kita dengan Iran, apalagi hal ini diperkuat dengan berbagai alasan politik yang bebas aktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar