Salah satu momen yang saya sukai selain melakukan kegiatan serius selama beberapa bulan di Iran adalah datangnya undangan makan malam dari beberapa kolega saya di sana. Ternyata dibutuhkan kepiawaian tersendiri untuk memastikan apakah undangan makan malam itu serius atau sekedar basa-basi. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran saya telah membakali diri dengan berbagai bacaan yang memberikan informasi berharga, satu diantaranya adalah buku yang ditulis Dina dan Otong Sulaimen, berjudul “Di Bawah Kaki Langit Persia”. Sepasang suami istri yang memiliki pengalaman delapan tahun tinggal di Iran ini, melalui bukunya memberikan berbagai informasi berharaga mengenai budaya orang Iran. Salah satu diantaranya adalah tentang kebiasaannya berbasa-basi, kebiasaan ini menurut mereka berdua ternyata lebih parah dari orang Jawa. Di dalam bukunya dia memberikan beberapa contoh karakter seperti itu lengkap dengan event kejadiannya. Tentu saja semula saya tidak terlalu percaya. Saya pikir itu mungkin hanya sebuah peristiwa unik yang secara individual dialami keluarga Dina dan Ottong Sulaeman. Di dalam benak ketika itu saya sempat mengkaitkan budaya dan Islam sebagai agama resmi di sana. Mana mungkin kultur mensubordinasi agama resmi, demikian yang ada dalam pikiran saya ketika membaca buku di atas.
Ternyata apa yang dikemukakan sang penulis buku di atas benar adanya. Berkali-kali saya mengalami berbagai undangan basa-basi dari patner yang baru saya kenal, bahkan dari patner kerja yang memiliki berhubungan intensif dengan saya. Yang lebih lucu lagi suatu kali disebuah akhir dari wawancara yang saya lakukan terhadap seorang informan, saya suatu kali mendapat undangan untuk makan malam. Undangan itu disampaikan dalam bahasa Persia kepada seorang penerjemah saya yang asli Iran. Melalui penerjemah itu kemudian saya balik konfirmasi kepadanya apakah undangan ini serius, atau sekedar basa-basi. Karena setahu saya kultur basa-basi sangat kuat di Iran. Rupanya pertanyaan saya kepada penerjemah disampaikan kembali kepada orang yang mengundang, kemudian pertanyaan itu langsung saja ditanggapinya dengan senyum, lucunya lagi dia justeru mengulas lebih dalam tentang kultur basa basi itu dalam keseharian orang Iran, namun diakhir penjelasannya ditegaskan bahwa undangan yang diajukannya kepada saya jelas bukan basa-basi. Sebagai orang Iran dia menegaskan dirinya mengetahui persis kultur basa basi itu, namun undangan yang ditujukan ke saya serius, bukan basa-basi.
Untuk itu melalui penerjemah Iran yang mendampingi saya ia pun meminta jadwal kegiatan saya, dan dia pun bertanya tentang waktu free yang saya miliki. Kemudian diakhir perjumpaan dia kembali menegaskan akan mengundang saya makan malam bersama keluarganya di rumah. Sampai seluruh kegiatan saya di Iran berakhir ternyata undangan itu tidak juga muncul. Kejadian serupa lainnya masih saya miliki, namun cukuplah cerita itu saya kenang dan simpan sendiri bagi pribadi saya. Sehingga pada akhirnya saya memaklumi dalam titik tertentu pengaruh budaya tidak mudah dikikis tuntas, sekalipun oleh agama. Butuh pergulatan dan dialektika panjang untuk mentransformasi budaya yang sudah berakar di suatu masyarakat.
Kendatipun mulai mengenal basa-basi orang Iran tetapi saya tidak juga ingin memukul rata pada setiap orang. Saya tetap memberi ruang pada kesungguahan sebuah janji sebagaimana spirit yang diajarkan Islam. Salah satu undangan makan malam pertama yang sempat berlangsung datang dari undangan Dr. Shahrial Shojaeipour. Undangan makan malam itu berjalan begitu istimewa, dia menjemput saya dengan mobil Peugeut kesayangannya, dan saya pun diperkenalkannya kepada anggota keluarganya. Suasana makan malam itu menjadi lebih semarak karena beliau juga mengundang tamu istimewanya, yakni Dr. Zaheedi yang ketika muda pernah menjadi pasukan pengawal (guardian) Imam Khomeini.
Malam itu nampak berbagai menu makan special dihidangkan, seperti ash, kabab, dan tak lupa minuman beer Iran yang bebas alkohol. Sayapun mencoba mencicipi berbagai hidangan yang ada, meskipun awalnya lidah sulit menerimanya. Acara diskusi dengan Dr. Zaheedi itu berlangsung hingga larut malam, apalagi tema pembicaraaan berkisar kepemimpinan Imam Khomeini di masa awal revolusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar