Universitas Shiraz merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas milik pemerintah di Iran. Banyak anak muda yang bermimpi dapat berkuliah di universitas ini, meskipun untuk mendapatkan kursi di sini mereka harus menyisihkan para pesaing lainnya. Bilaa berhasil menyisihkan para pesaing dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa,, maka berbagai bentuk beasiswa dan bantuan akan diberikan kepada para mahasiswa. Bukan haanya itu saja, sebagai universitas papan atas berbagai fasilitas pun ditemukan di sana, yang berupa pemandangan yang indah, tertata rapih, asrama mahasiswa, perpustakaan yang relative memadahi, cafeteria universitas yang bersih, berbagai fasilitas olah raga, dan bus kampus yang siap hilir mudik mengantar mahasiswa yang bergerak hampir setiap menitnya. Suasana akademik di kampus ini pun denyutnya amat terasa dengan kehadiran berbagai kegiatan intelektual seperti seminar, pameran berbagai jenis bungaa dan tanaman hias. Kesemarakan kampus juga makin Nampak dengan adanya berbagai macam baliho dan spanduk tawaran kegiatan akademik.
Berbagai gedung yang menjulang tinggi amat banyak saya temukan di sana. Gedung-gedung itu sebagaian besar seolah tanpa cat pewarna, pendek kata di lingkungan kampus ini saya menemukan adanya perencanaan atau tata kampus yang terencana dengan baik. Menurut beberapa orang mahasiswa yang selalu bersama dengan saya saat berada di Universitas Shiraz, memang kampus mereka dahulunya merupakaan kampus kesayangan Shah Iran. Oleh sebab itu Nampak bahwa dari segi pemilihan lokasi kampus pun diperhatikan oleh shah, yakni di daerah perbukitan, sehingga kemegahan kampus shiraz sudah nampak dari jarak kejauhan. Sejumlah mahasiswa yang selalu menyertai saya pun bercerita bahwa Shah Iran banyak meniri model-model gedung di kampus dari universitas yang ada di Prancis.
Selama berada di kampus shiraz sayapun menyempatkan diri untuk melksanakan berbagai kegiatan akademik, seperti memberi seminar, mengikuti seminar, berpartisipasi dalam kegiatan kuliah tertentu, menghadiri ujian terbuka doktoral, dan lain-lain. Salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah mendatangi seminar bertema seputar dampak revolusi Islam di dunia. Saya tertarik mengunjungi seminar, disebabkan berbagai alasan, seperti: thema yang ditawarkan menarik, pembicaranya juga adalah seorang Doctor filsafat berkebangsaan Spanyol yang dimasa lalunya merupakan pengikut setia ajaran komunis dan kemudian mengkonversi diri menjadi seorang penganut Islam Shi’ah, pernah tinggal di Iran selama belasan tahun, dan presentasi researchnyapun disampaiakan dalam bahasa Persia.
Sebagai orang asing saya juga kerap bertegur sapa dengan mahasiswa Iran dari berbagai latar belakng fakultas. Saat saya duduk di depan masjid masih di kompleks kampus Universitas Shiraz, dua orang mahasiswa fresh student dari Fakultas Pertanian pun menyapa saya. Keberanian mahasiswa Iran, dan orang Iran pada umumnya untuk menegur sapa orang asing seperti saya terlebih dahulu nampaknya mengisyaratkan rasa ingin tahu dan rasa percaya diri mereka yang kuat. Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang biasa-biasa saja ternyata mahasiswa-mahasiswa tersebut berani mengajak berkenalan dengan orang asing seperti saya. Pengalaman ini setidaknya saya alami berulang kali, bahkan di dalam bus yang kerap sayaa tumpangi di kampus sekalipun.
Di lingkungan kampus Shiraz University saya menemukan pemandangan yang berbeda dengan apa yang saya saksikan di Qom. Di Shiraz University segala bentuk relasi antar mahasiswa terasa lebih longgar, mahasiswa dan mahasiswi relative dapat berdiskusi di antara mereka. Demikian juga suasana apabila kita ada di dalam bus kampus, sekat pembeda antara lelaki dan perempuaan juga relative lebih longgar. Kadang-kadang, kursi bus yang seharusnya menjadi tempat mahasiwi, ternyata seringkali diduduki oleh rombongan mahasiswa. Mungkin karena di dalam teritori kampus, sehingga membandingkan keadaaan diseeputar kampus dengan lingkungan diseputar Qom tidak tepat. Tetapi secara umum suasana masyarakat di Shiraz sangat berbeda. Pengalaman saya memnunjukkan bahwa di Shiraz ketika saya menemukan kesulitan, misalnya saat saya hendak membeli perangko untuk koleksi, maka seorang wanita muda bahkan siaap sedia menunjukkaan dimana tempat untuk mendapatkannya. Ternyata pengalaman saya ini juga dialami oleh seorang pelajar agama Indonesia asal Siduarjo, yang mengatakan bahwa orang-orang Shiraz memang jauh lebih lembut dibandingkan orang Qom. Mungkin kaarakter budaya ini dibentuk oleh iklim dan lingkungan fisik geografis yang secara diametral berbeda pada kedua daerah tersebut.
Seorang mahasiswi di Shiraz juga dalam dialog bersama saya dan istri sebanarnya bertanya mengapa harus ada pemisahan antara lelaki dan perempuan di dalam bus. Karena baginya bagaimanapun juga lelaki adalah sesame makhluk Tuhan yang baik. Dari dialog kecil bersamanya saya juga merasakan bahwa sang mahasiswi memang tengah mengritisi berbagai aturan yang dipersepsinya sebagai pengekangan terhadap kebebesan. Atas pertanyaannya saya justeru membandingkannya dengan Indonesia, yang belakangan ini seringkali menghadapi banyak pengaduan tentang adanya kasus pelecehan seksual di dalam bus akibat tidak ada aturan pembeda antara lelaki dan perempuan. Atas jawaban saya itu nampaknya sang mahasiswi ini tidak puas, dia terus mengajukan gugatan bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Tuhan. Dalam pandangan saya mahasiswi ini sebenarnya sedang berada dalam proses pencarian jati diri, sehingga terus mengkritisi berbagaai keadaan yang ada di seputarnya.
Selain seorang mahasiswi yang masih duduk di tingkat master di salah satu fakultas ilmu humaniora, saya juga selama di berada di kamapus berkenalan dengan beberpa mahasiswa, mereka dengan antusias bercerita tentang masalah sosial politik yang tengah actual di masyakat. Mereka juga menceritakan suasana panas saat pemilihan Presiden di Iran beberapa waktu yang lalu. Pertarungan antara kubu reformis dan lawannya yang tradisional. Kebanyakaan mereka memang sangat kritis terhadap pemerintahan Ahmadinejad yang sedang berkuasa, selain itu mereka juga mengkritisi elit agama yang mendukung pemerintahan Ahmadinedjad. Bahkan di antara mahasiswa yang bersemangat itu ada yang saat ini masih menjalaani hukuman dalam bentuk pengisolasian asrama tempat tinggalnya ke lokasi yang sedikit lebih jauh jaraknya dari kampus shiraz. Ini konon akibat ulahnya dalam menentang dan mengkritik kelompok berkuasa.
Saya tentu saja tidak bisa berbicara banyak terhadap mereka, yang saya bisa lakukan adalah hanya mendengarkan berbagai cerita dan keluhan mereka. Sebagai seorang dosen yang pernah terlibat dalam dunia aktivis mahasiswa saya juga pernah mengalami hal serupa, terutama di era Suharto, betapa saat itu kejengkelan terhadap rezim berkuasa begitu besar, terutama melihat sepak terjang keluarganya yang memonopoli hampir semua aspek ekonomi dan politik yang menguasai hajat hidup orang banyak. Saya ketika itu bersama dengan kebanyakan para aktivis hanyut dalam kritisisme terhadap rezim yang berkuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar