Di mata kebanyakan orang asing Iran merupakan negeri yang tidak banyak dikenal. Informasi lengkap tentang apa dan bagaimana negeri para mullah ini tidak banyak diketahui orang. Tak terkecuali saya sebagai bagian dari masyarakat muslim Indonesia, yang juga dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Suasana dan warna Iran sebagaimana muncul di berbagai siaran televisi di Tanah Air merupakan produk konstruksi berbagai media internasional seperti Voice of Amerika (VOA), British Broadcasting Coorporation (BBC) yang cenderung menciterakan Iran sebagai negeri yang dikelola oleh sebuah pemerintahan yang represif, otoriter, anti-demokrasi, terbelakang dan masih banyak stereotif lainnya yang serba negative.
Sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memang amat disayangkan, karena hingga detik ini informasi kita tentang dunia muslim lainnya di berbagai belahan dunia masih amat bergantung dari media barat. Kalau toh ada media tandingan Barat, TV kita juga cenderung bersandar pada Al-Jazeera, karena sejauh ini program siaran TV ini dianggap sedikit lebih imbang ketika memberitakan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia muslim, meskipun di mata orang Iran media ini dianggap masih berat sebelah, meskipun jauh lebih baik dibanding dengan media barat dalam sisi pemberitaan.
Di mata barat jelas bahwa Iran adalah negara terbelakang, tidak aman, sarang teroris, dan kesemua pencitraan ini sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan riilnya. Demikianlah yang saya alami pada saat saya berada di Iran selama beberapa bulan. Saya kagum, terhdap keuletan bangsa Iran ketika menghadapi sangsi internasional yang datang bertubi-tubi menghunjamnya. Sepertinya tidak salah jika saya berpandangan bahwa bangsa ini sungguh-sungguh mempraktekkan spirit agama yang selalu meyakini pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan itu juga yang tampaknya telah mendidik mereka menjadi handal dalam mengubah sangsi menjadi peluang. Setidaknya terbukti dengan berbagai capain yang telah mereka raih sejauh ini di bidang sains, sosial mupun politik internasional.
Tidak banyak orang tahu bahwa dinegeri yang berideologi Islam ini, berbagai kebebasan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam bidang agama misalnya, saya setidaknya menyaksikan keanekaragaman agama, dimana masing-masing memiliki hak hidup, misalnya terjadi pada Agama Yahudi, Zoroaster, dan Kristiani. Memang orang Yahudi di Iran menurut informasi yang ada sangat eksklusif. Agama mereka juga tidak ditujukan kepada semua orang, melainkan hanya untuk mereka sendiri. Di zaman Shah Reza Pahlevi peran pedagang kaya Yahudi dalam memberikan dukungan terhadap rezim Iran yang otoriter sangat besar, mereka, sebagaimana ditulis para pengamat, diam-diam menjalankan dukungannya dalam bentuk support financial dan supply informasi seputar keadaan dalam negeri kepada Shah, Amerika dan Israel. Oleh sebab itu, di masa pergolakan revolusi Imam Khomeini sangat mengontrol ketat gerak-gerik mereka. Kendati demikian, setelah kemenangan revolusi islam keberadaan mereka tetap dilindungi.
Selain itu saya juga sempat kaget melihat sebuah gereja Armenia di kota Taheran yang berdiri megah dipinggir sebuah jalan utama. Sejauh ini eksistensi gereja tersebut aman. Letaknya tidak jauh dari toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan belanja bagi orang Asia, seperti cabai, beras, ikan, kecap, tempe, dll.
Tidak hanya itu saja, di Iran ternyata saya menemukan bioskop yang tersebar dibeberapa daerah, di Shiraz misalnya saya menemukan banyak bioskop di tempat-tempat keramaian kota, demikian juga di Esfahan.`Padahal semula saya menyangka pemimpin revolusi dan pemerintah melarang kehadiran cinema. Bioskop-bioskop tersebut pada umumnya memutar film-film produk dalam negeri. Untuk soal kualitas film produk Iran jangan ditanya. Mereka telah memiliki sutradara-sutradara handal, yang kerap memenangi berbagai penghargaan internasional. Film-film mereka biasanya berangkat dari ide sederhana, menyangkut persoalan kehidupan sehari-hari, namun kemampuan sutradara mengeksplorasi gagasan sederhana menjadi rancak ditonton ini menjadi salah satu kehandalan sutradara Iran. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran film-film yang diproduksi sutradara mereka nampak memang begitu menggetarkan jiwa. Oleh sebab itu, waktu saya di Taharan sayapun menyempatkan diri berburu produk film karya sutradara Iran yang namanya telah mendunia itu. Judulnya seperti: The Color of God, The Song of Sparrows, M Like Mother, dll.
Tentu cinema merupakaan salah satu tempat hiburan yang ada di Iran, selain itu masih ditawarkan beberapa tempat hiburan lain, seperti objek wisata bersejarah, pemandangan alam, objek wisata spiritual, dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu objek wisata pemandangan alam menarik di Taheran adalah Tochal. Ini adalah arena rekreasi dan sekaligus arena sport. Sebagai arena rekreasi saya menyaksikan banyak pengunjung yang bersantai di kedai-kedai sambil menikmati pemandangan indah dari atas pegunungan. Di lokasi ini saya juga melihat ekspresi orang lebih leluasa, meskipun para pengunjung wanita tetap mengenakan penutup aurat, terutama kerudung, namun ditempat ini para wanita nampak lebih ekspresif. Tidak jarang saya melihat wanita muda tengah berdiskusi, bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Di arena ini juga saya menjumpai banyak wanita muda dan setengah tua merokok dengan santai, sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan di kedai-kedai. Di bagian lain, masih di tempat objek wisata yang sama, saya melihat banyak mobil sedan lalu-lalang dengan begasi berisi sepatu sky. Di Tochol ini terdapat deretan pegunungan yang puncaknya masih ditutupi salju, sehingga cocok bagi mereka yang suka berselancar dengan papan ski. Sayangnya saya hari itu gagal mencapai puncak gunung tempat anak muda bermain sky, karena kebetulan hari itu bertepatan dengan suasana tahun baru atau Nooroz. Dan sayapun menemukan tidak ada penjual ticket yang bekerja, sehingga saya pun gagal suasana bermain sky anak muda. Mungkin para penjual tiket tengah menikmati suasana libur tahun baru (nooroz) bersama keluarga di rumahnya masing-masing.
Satu lagi fenomena menarik di Iran adalah keberadaan jasa taxi yang pengemudinya para wanita (taxi honum). Jika anda pergi ke kota Qom, anda akan dengan mudah mendapati jasa taxi wanita ini. Biasanya salah satu tanda pembedanya adalah pada warna taxi yang mereka kendarai berwarna hijau, sementara bagi pengendara taxi lelaki, warnanya kuning. Namun perbedaannya diantara kedua penjaja jasa angkutan ini adalah penjaja taxi wanita tarifnya lebih mahal dibanding pria. Saya tidak tahu persis mengapa ada perbedaan tariff di antara keduanya. Yang jelas untuk orang yang masih buta seluk beluk kota Qom taxi wanita biasanya lebih aman. Mereka akan sangat membantu sampai anda menemukan tempat tujuan anda dengan tariff yang pasti dan jauh dari kesan menipu, meskipun kalau anda mujur penjaja taxi priapun terkadang ada yang sama sopan dan baiknya pada tamu dan pendatang baru yang belum mengenal seluk beluk kota Qom. Sementara dari sisi kecepatan, pengemudi taxi wanita tidak kalah kencang dan ngoboinya saat mengendarai taxinya di jalan raya. Seorang mahasiswi sosiologi di Shiraz sambil tertawa memberi tahu saya bahwa juara balap mobil peringkat satu di kota Shiraz bukan lelaki, melainkan wanita. Sayapun akhirnya lama kelamaan bisa mempercayainya. Sayangnya untuk pengendara taxi wanita saya tak berkesempatan mendapatkan dokumentasinya. Karena saya tak ingin berurusan dengan hukum jika mengambil gambar tanpa izin pengendara wanita bersangkutan. Saya berharap lain kali, jika berkunjung lagi ke sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar