Jauh hari sebelum berangkat ke Iran komunikasi saya berjalan relative bagus dengan rekan-rekan di Iran. Beberapa kolega di departmen sosiologi, Fakultas Ilmu sosial dan Kemanusiaan (Social Sciences and Humanities) terus membantu dan merespon saya melalui email yang saya tulis kepada mereka, terutama seputar keinginan saya untuk melakukan kegiatan sabbatical leave di department of Sociology, Faculty of Social Sciences and Humanities, University of Shiraz, Iran. Sebagai bentuk keseriusan mereka, maka sebelum memutuskan permohonan saya, rapat jurusan pun mereka adakan, intinya mereka menerima permohonan saya untuk melakukan kegiatan Sabbatical Leave di department Sociology, di universitas papan atas tersebut. Komunikasi via email terus saya lakukan, sebaliknya merekapun selalu membalas email yang saya kirimkan, meskipun terkadang balasan dari Iran sedikit agak lambat.
Sementara proses komunikasi via email berjalan, suatu kali seorang teman di Universitas Gadjah Mada, dari Fakultas Peternakan memberi saya kesempatan berkenalan dengan salah seorang rekannya dari Iran datang ke Universitas Gadjah Mada untuk menghadiri sebuah seminar Internasional. Ketika hari H seminar internasionalnya tiba, sayapun akhirnya bertemu dengan rekan teman saya dari negeri Iran tersebut, namanya adalah Dr. Nassiri, dari Ramin University, Ahwaz Iran. Pertemuan saya terbilang singkat dengannya, hanya berlangsung beberapa kali di selala-sela acara seminar yang padad di UGM. Dari beberapa sesi pertemuan dengan Doktor Iran tersebut, saya pun pernah pergi bersama keluarga mengantarkannya ke suatu pameran komputer di Yogya, rupanya ia bersama istri berminat melihat-lihat pameran komputer yang saat itu berlangsung di Yogyakarta expo center. Di sela-sela pertemuan itu saya menceritakan rencana saya untuk melakukan kegiatan Sabbatical Leave di Universitas Shiraz, Iran, dan sayapun menceriterakan proses komunikasi dengan kolega Sosiolog dari Shiraz University yang telah berjalan selama ini.
Ketika itu Dr. Nassiri pun berjanji akan membantu saya merealisasi rencana untuk pergi ke Shiraz University. Sayapun tidak tahu bagaimana caranya ia membantu? Apalagi saya sadar bahwa teman UGM saya itu berasal dari fakultas berbeda dan tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan disiplin ilmu yang saya geluti. Teman UGM saya, seorang Doktor dari Fakultas Peternakan itu cuma pernah berkata bahwa Dr. Nassiri itu punya banyak teman, katanya, mungkin saja dia akan mengontak teman-temannya yang memiliki relasi dekat dengan pengurus Department di Universitas Shiraz yang akan saya kunjungi.
Benar, setelah Dr. Nassiri kembali ke Iran diapun merekomendasi saya untuk menghubungi Prof. Dr. Shahvali, salah seorang temannya di Shiraz University.
Tak lama setelah itu, sayapun berkontak via email dengan Prof. Dr. Shahvali yang merupakan salah seorang tenaga edukatif di Shiraz University. Melalui email sayapun akhirnya tahu jika Prof. Dr. Shahvali adalah salah seorang dosen Fakultas Pertanian (agriculture) di Universitas itu, dan yang menarik dia pernah menjabat sebagai Direktur Kerjasama Internasional di Universitas tersebut, dan baru saja mengakhiri jabatannya itu setahun lalu. Tak lama setelah perkenalan itu Ia kemudian mulai membantu saya menghubungi orang-orang yang sebelumnya membantu saya di Department of Sociology di Shiraz University, yakni Dr. Saeid Zahed, dan Dr. Muqodas. Dan sayapun sejak itu terus mengabarkan kepada sang Profesor tentang perkembangan kemajuan pengurusan izin untuk mendapatkan an acceptance letter dari universitas tersebut. Dengan baik hati diapun membantu saya melalui updating kabar terbaru tentang progress pengurusan surat izin Sabbatical Leave saya, selain menginformasikan langkah yang telah dilakukannya dalam mempercepat penyelesaian pengurusan surat yang menjadi prasyarat untuk mendapatkan visa 3 bulan dari Kedubes Iran.
Sayangnya, sampai waktu saya harus berangkat ke Iran an acceptance dari Shiraz University itupun belum juga tuntas. Setelah beberapa waktu berada di Iran sayapun memberi pemberitahuan kepadanya melalui email, diapun senang sekali dan mengucapkan “Wellcome to Iran” setelah mengetahui bahwa saya akhirnya telah berada di Iran. Kendati saya akhirnya memutuskan untuk tidak sepenuhnya melaksanakan kegiatan Sabbatical Leave saya di Shiraz University, tetapi saya tetap berkeinginan melakukan kunjungan singkat, mendapatkan wawasan dan referensi dari Sociology Department di Shiraz University.
Diluar dugaan saya, Prof. Dr. Shahvali terus membantu saya untuk mewujudkan keinginan saya berkunjung ke Shiraz University dengan cara mengkontak koleganya di Sociology Department, dan terus mendorong dan menjembatani komunikasi saya dengan Jurusan Sosiologi, Faculty of Social Sciences and Humanities, Universitas Shiraz.
Dia juga menjelaskan pula bahwa di bulan Februari, tapatnya hari peringatan wafatnya Imam Ridlo (Reza) AS dia akan pergi ke kota Qom, berziarah ke makam Fatimah Ma’sumah, dan akan mengunjungi saya di apartment tempat tinggal saya. Benar, malam itu tepatnya tgl 14 Februari 2009 telpon saya pun berdering, dan diapun menanyakan alamat apartment saya, karena ternyata dia sudah berada di Ozodegon, tempat yang sebelumnya saya informasikan melalui sms kepadanya ketika saya telah berada di Iran.
Akhirnya diapun tiba di apartemen saya, dengan maksud untuk memberi penjelasan tentang berbagai hal yang akan memudahkan saya kelak jika mengunjungi Shiraz University. Tidak lama setelah kehadirannya di apartement ia meminta bantuan saya membooking hotel untuk bermalam, kemudian saya pun mencari bala bantuan pelajar Indonesia di sana yang pandai berbahasa Parsi untuk mencari hotel sebagaimana amanahnya, dan ternyata malam itu semua hotel penuh, dipadati pengunjung yang datang untuk berziarah ke Hazrat Fatimah Ma’sumah memperingati wafatnya Imam Reza. Rupanya para pengunjung hotel jauh hari telah membooking kamar sehingga tidak satupun tersisa.
Sayapun akhirnya menawarkannya tinggal di apartemen saya. Akhirnya diapun menerima tawaran itu, dan saya bersyukur karena saya sadar bahwa banyak informasi dan pelajaran yang bisa saya dapatkan bersamanya mesti cuma satu malam. Tentu kejadian ini menjadi pengalaman langka dan sangat berharga dalam hidup saya, apalagi tamu saya itu adalah seorang Professor senior, dengan pengalaman hidup yang panjang, baik di dunia akademik, maupun di dunia kehidupan nyata. Satu malam yang akan saya lalui bersamaanya pasti akan menjadi saat berharga dalam hidup saya, apalagi sejak dari awal saya merasakan bantuan sang Profesor ini dengan segala sikap dan kerendahan hatinya.
Bagi saya dia adalah seorang Professor yang langka. Seorang akademisi yang rendah hati. Bila suatu saat Tuhan mengizinkan, maka tibalah saatnya sayapun akan meraih gelar yang sama. Oleh sebab itu, kesempatan satu malam bersama sang Profesor akan menjadi media belajar istimewa yang tak terlupakan sepanjang waktu. Saya telah mendapatkan begitu banyak pelajaran berharga. Itulah Prof. Dr. Shahvali. Ia adalah secercah lentera di dalam perjalanan hidup saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar