Jauh hari sebelum berangkat ke Iran komunikasi saya berjalan relative bagus dengan rekan-rekan di Iran. Beberapa kolega di departmen sosiologi, Fakultas Ilmu sosial dan Kemanusiaan (Social Sciences and Humanities) terus membantu dan merespon saya melalui email yang saya tulis kepada mereka, terutama seputar keinginan saya untuk melakukan kegiatan sabbatical leave di department of Sociology, Faculty of Social Sciences and Humanities, University of Shiraz, Iran. Sebagai bentuk keseriusan mereka, maka sebelum memutuskan permohonan saya, rapat jurusan pun mereka adakan, intinya mereka menerima permohonan saya untuk melakukan kegiatan Sabbatical Leave di department Sociology, di universitas papan atas tersebut. Komunikasi via email terus saya lakukan, sebaliknya merekapun selalu membalas email yang saya kirimkan, meskipun terkadang balasan dari Iran sedikit agak lambat.
Sementara proses komunikasi via email berjalan, suatu kali seorang teman di Universitas Gadjah Mada, dari Fakultas Peternakan memberi saya kesempatan berkenalan dengan salah seorang rekannya dari Iran datang ke Universitas Gadjah Mada untuk menghadiri sebuah seminar Internasional. Ketika hari H seminar internasionalnya tiba, sayapun akhirnya bertemu dengan rekan teman saya dari negeri Iran tersebut, namanya adalah Dr. Nassiri, dari Ramin University, Ahwaz Iran. Pertemuan saya terbilang singkat dengannya, hanya berlangsung beberapa kali di selala-sela acara seminar yang padad di UGM. Dari beberapa sesi pertemuan dengan Doktor Iran tersebut, saya pun pernah pergi bersama keluarga mengantarkannya ke suatu pameran komputer di Yogya, rupanya ia bersama istri berminat melihat-lihat pameran komputer yang saat itu berlangsung di Yogyakarta expo center. Di sela-sela pertemuan itu saya menceritakan rencana saya untuk melakukan kegiatan Sabbatical Leave di Universitas Shiraz, Iran, dan sayapun menceriterakan proses komunikasi dengan kolega Sosiolog dari Shiraz University yang telah berjalan selama ini.
Ketika itu Dr. Nassiri pun berjanji akan membantu saya merealisasi rencana untuk pergi ke Shiraz University. Sayapun tidak tahu bagaimana caranya ia membantu? Apalagi saya sadar bahwa teman UGM saya itu berasal dari fakultas berbeda dan tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan disiplin ilmu yang saya geluti. Teman UGM saya, seorang Doktor dari Fakultas Peternakan itu cuma pernah berkata bahwa Dr. Nassiri itu punya banyak teman, katanya, mungkin saja dia akan mengontak teman-temannya yang memiliki relasi dekat dengan pengurus Department di Universitas Shiraz yang akan saya kunjungi.
Benar, setelah Dr. Nassiri kembali ke Iran diapun merekomendasi saya untuk menghubungi Prof. Dr. Shahvali, salah seorang temannya di Shiraz University.
Tak lama setelah itu, sayapun berkontak via email dengan Prof. Dr. Shahvali yang merupakan salah seorang tenaga edukatif di Shiraz University. Melalui email sayapun akhirnya tahu jika Prof. Dr. Shahvali adalah salah seorang dosen Fakultas Pertanian (agriculture) di Universitas itu, dan yang menarik dia pernah menjabat sebagai Direktur Kerjasama Internasional di Universitas tersebut, dan baru saja mengakhiri jabatannya itu setahun lalu. Tak lama setelah perkenalan itu Ia kemudian mulai membantu saya menghubungi orang-orang yang sebelumnya membantu saya di Department of Sociology di Shiraz University, yakni Dr. Saeid Zahed, dan Dr. Muqodas. Dan sayapun sejak itu terus mengabarkan kepada sang Profesor tentang perkembangan kemajuan pengurusan izin untuk mendapatkan an acceptance letter dari universitas tersebut. Dengan baik hati diapun membantu saya melalui updating kabar terbaru tentang progress pengurusan surat izin Sabbatical Leave saya, selain menginformasikan langkah yang telah dilakukannya dalam mempercepat penyelesaian pengurusan surat yang menjadi prasyarat untuk mendapatkan visa 3 bulan dari Kedubes Iran.
Sayangnya, sampai waktu saya harus berangkat ke Iran an acceptance dari Shiraz University itupun belum juga tuntas. Setelah beberapa waktu berada di Iran sayapun memberi pemberitahuan kepadanya melalui email, diapun senang sekali dan mengucapkan “Wellcome to Iran” setelah mengetahui bahwa saya akhirnya telah berada di Iran. Kendati saya akhirnya memutuskan untuk tidak sepenuhnya melaksanakan kegiatan Sabbatical Leave saya di Shiraz University, tetapi saya tetap berkeinginan melakukan kunjungan singkat, mendapatkan wawasan dan referensi dari Sociology Department di Shiraz University.
Diluar dugaan saya, Prof. Dr. Shahvali terus membantu saya untuk mewujudkan keinginan saya berkunjung ke Shiraz University dengan cara mengkontak koleganya di Sociology Department, dan terus mendorong dan menjembatani komunikasi saya dengan Jurusan Sosiologi, Faculty of Social Sciences and Humanities, Universitas Shiraz.
Dia juga menjelaskan pula bahwa di bulan Februari, tapatnya hari peringatan wafatnya Imam Ridlo (Reza) AS dia akan pergi ke kota Qom, berziarah ke makam Fatimah Ma’sumah, dan akan mengunjungi saya di apartment tempat tinggal saya. Benar, malam itu tepatnya tgl 14 Februari 2009 telpon saya pun berdering, dan diapun menanyakan alamat apartment saya, karena ternyata dia sudah berada di Ozodegon, tempat yang sebelumnya saya informasikan melalui sms kepadanya ketika saya telah berada di Iran.
Akhirnya diapun tiba di apartemen saya, dengan maksud untuk memberi penjelasan tentang berbagai hal yang akan memudahkan saya kelak jika mengunjungi Shiraz University. Tidak lama setelah kehadirannya di apartement ia meminta bantuan saya membooking hotel untuk bermalam, kemudian saya pun mencari bala bantuan pelajar Indonesia di sana yang pandai berbahasa Parsi untuk mencari hotel sebagaimana amanahnya, dan ternyata malam itu semua hotel penuh, dipadati pengunjung yang datang untuk berziarah ke Hazrat Fatimah Ma’sumah memperingati wafatnya Imam Reza. Rupanya para pengunjung hotel jauh hari telah membooking kamar sehingga tidak satupun tersisa.
Sayapun akhirnya menawarkannya tinggal di apartemen saya. Akhirnya diapun menerima tawaran itu, dan saya bersyukur karena saya sadar bahwa banyak informasi dan pelajaran yang bisa saya dapatkan bersamanya mesti cuma satu malam. Tentu kejadian ini menjadi pengalaman langka dan sangat berharga dalam hidup saya, apalagi tamu saya itu adalah seorang Professor senior, dengan pengalaman hidup yang panjang, baik di dunia akademik, maupun di dunia kehidupan nyata. Satu malam yang akan saya lalui bersamaanya pasti akan menjadi saat berharga dalam hidup saya, apalagi sejak dari awal saya merasakan bantuan sang Profesor ini dengan segala sikap dan kerendahan hatinya.
Bagi saya dia adalah seorang Professor yang langka. Seorang akademisi yang rendah hati. Bila suatu saat Tuhan mengizinkan, maka tibalah saatnya sayapun akan meraih gelar yang sama. Oleh sebab itu, kesempatan satu malam bersama sang Profesor akan menjadi media belajar istimewa yang tak terlupakan sepanjang waktu. Saya telah mendapatkan begitu banyak pelajaran berharga. Itulah Prof. Dr. Shahvali. Ia adalah secercah lentera di dalam perjalanan hidup saya.
Iran Connection
Rabu, 17 November 2010
Gereja, Sinema, Tochal, dan Taxi Honum
Di mata kebanyakan orang asing Iran merupakan negeri yang tidak banyak dikenal. Informasi lengkap tentang apa dan bagaimana negeri para mullah ini tidak banyak diketahui orang. Tak terkecuali saya sebagai bagian dari masyarakat muslim Indonesia, yang juga dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Suasana dan warna Iran sebagaimana muncul di berbagai siaran televisi di Tanah Air merupakan produk konstruksi berbagai media internasional seperti Voice of Amerika (VOA), British Broadcasting Coorporation (BBC) yang cenderung menciterakan Iran sebagai negeri yang dikelola oleh sebuah pemerintahan yang represif, otoriter, anti-demokrasi, terbelakang dan masih banyak stereotif lainnya yang serba negative.
Sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memang amat disayangkan, karena hingga detik ini informasi kita tentang dunia muslim lainnya di berbagai belahan dunia masih amat bergantung dari media barat. Kalau toh ada media tandingan Barat, TV kita juga cenderung bersandar pada Al-Jazeera, karena sejauh ini program siaran TV ini dianggap sedikit lebih imbang ketika memberitakan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia muslim, meskipun di mata orang Iran media ini dianggap masih berat sebelah, meskipun jauh lebih baik dibanding dengan media barat dalam sisi pemberitaan.
Di mata barat jelas bahwa Iran adalah negara terbelakang, tidak aman, sarang teroris, dan kesemua pencitraan ini sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan riilnya. Demikianlah yang saya alami pada saat saya berada di Iran selama beberapa bulan. Saya kagum, terhdap keuletan bangsa Iran ketika menghadapi sangsi internasional yang datang bertubi-tubi menghunjamnya. Sepertinya tidak salah jika saya berpandangan bahwa bangsa ini sungguh-sungguh mempraktekkan spirit agama yang selalu meyakini pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan itu juga yang tampaknya telah mendidik mereka menjadi handal dalam mengubah sangsi menjadi peluang. Setidaknya terbukti dengan berbagai capain yang telah mereka raih sejauh ini di bidang sains, sosial mupun politik internasional.
Tidak banyak orang tahu bahwa dinegeri yang berideologi Islam ini, berbagai kebebasan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam bidang agama misalnya, saya setidaknya menyaksikan keanekaragaman agama, dimana masing-masing memiliki hak hidup, misalnya terjadi pada Agama Yahudi, Zoroaster, dan Kristiani. Memang orang Yahudi di Iran menurut informasi yang ada sangat eksklusif. Agama mereka juga tidak ditujukan kepada semua orang, melainkan hanya untuk mereka sendiri. Di zaman Shah Reza Pahlevi peran pedagang kaya Yahudi dalam memberikan dukungan terhadap rezim Iran yang otoriter sangat besar, mereka, sebagaimana ditulis para pengamat, diam-diam menjalankan dukungannya dalam bentuk support financial dan supply informasi seputar keadaan dalam negeri kepada Shah, Amerika dan Israel. Oleh sebab itu, di masa pergolakan revolusi Imam Khomeini sangat mengontrol ketat gerak-gerik mereka. Kendati demikian, setelah kemenangan revolusi islam keberadaan mereka tetap dilindungi.
Selain itu saya juga sempat kaget melihat sebuah gereja Armenia di kota Taheran yang berdiri megah dipinggir sebuah jalan utama. Sejauh ini eksistensi gereja tersebut aman. Letaknya tidak jauh dari toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan belanja bagi orang Asia, seperti cabai, beras, ikan, kecap, tempe, dll.
Tidak hanya itu saja, di Iran ternyata saya menemukan bioskop yang tersebar dibeberapa daerah, di Shiraz misalnya saya menemukan banyak bioskop di tempat-tempat keramaian kota, demikian juga di Esfahan.`Padahal semula saya menyangka pemimpin revolusi dan pemerintah melarang kehadiran cinema. Bioskop-bioskop tersebut pada umumnya memutar film-film produk dalam negeri. Untuk soal kualitas film produk Iran jangan ditanya. Mereka telah memiliki sutradara-sutradara handal, yang kerap memenangi berbagai penghargaan internasional. Film-film mereka biasanya berangkat dari ide sederhana, menyangkut persoalan kehidupan sehari-hari, namun kemampuan sutradara mengeksplorasi gagasan sederhana menjadi rancak ditonton ini menjadi salah satu kehandalan sutradara Iran. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran film-film yang diproduksi sutradara mereka nampak memang begitu menggetarkan jiwa. Oleh sebab itu, waktu saya di Taharan sayapun menyempatkan diri berburu produk film karya sutradara Iran yang namanya telah mendunia itu. Judulnya seperti: The Color of God, The Song of Sparrows, M Like Mother, dll.
Tentu cinema merupakaan salah satu tempat hiburan yang ada di Iran, selain itu masih ditawarkan beberapa tempat hiburan lain, seperti objek wisata bersejarah, pemandangan alam, objek wisata spiritual, dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu objek wisata pemandangan alam menarik di Taheran adalah Tochal. Ini adalah arena rekreasi dan sekaligus arena sport. Sebagai arena rekreasi saya menyaksikan banyak pengunjung yang bersantai di kedai-kedai sambil menikmati pemandangan indah dari atas pegunungan. Di lokasi ini saya juga melihat ekspresi orang lebih leluasa, meskipun para pengunjung wanita tetap mengenakan penutup aurat, terutama kerudung, namun ditempat ini para wanita nampak lebih ekspresif. Tidak jarang saya melihat wanita muda tengah berdiskusi, bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Di arena ini juga saya menjumpai banyak wanita muda dan setengah tua merokok dengan santai, sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan di kedai-kedai. Di bagian lain, masih di tempat objek wisata yang sama, saya melihat banyak mobil sedan lalu-lalang dengan begasi berisi sepatu sky. Di Tochol ini terdapat deretan pegunungan yang puncaknya masih ditutupi salju, sehingga cocok bagi mereka yang suka berselancar dengan papan ski. Sayangnya saya hari itu gagal mencapai puncak gunung tempat anak muda bermain sky, karena kebetulan hari itu bertepatan dengan suasana tahun baru atau Nooroz. Dan sayapun menemukan tidak ada penjual ticket yang bekerja, sehingga saya pun gagal suasana bermain sky anak muda. Mungkin para penjual tiket tengah menikmati suasana libur tahun baru (nooroz) bersama keluarga di rumahnya masing-masing.
Satu lagi fenomena menarik di Iran adalah keberadaan jasa taxi yang pengemudinya para wanita (taxi honum). Jika anda pergi ke kota Qom, anda akan dengan mudah mendapati jasa taxi wanita ini. Biasanya salah satu tanda pembedanya adalah pada warna taxi yang mereka kendarai berwarna hijau, sementara bagi pengendara taxi lelaki, warnanya kuning. Namun perbedaannya diantara kedua penjaja jasa angkutan ini adalah penjaja taxi wanita tarifnya lebih mahal dibanding pria. Saya tidak tahu persis mengapa ada perbedaan tariff di antara keduanya. Yang jelas untuk orang yang masih buta seluk beluk kota Qom taxi wanita biasanya lebih aman. Mereka akan sangat membantu sampai anda menemukan tempat tujuan anda dengan tariff yang pasti dan jauh dari kesan menipu, meskipun kalau anda mujur penjaja taxi priapun terkadang ada yang sama sopan dan baiknya pada tamu dan pendatang baru yang belum mengenal seluk beluk kota Qom. Sementara dari sisi kecepatan, pengemudi taxi wanita tidak kalah kencang dan ngoboinya saat mengendarai taxinya di jalan raya. Seorang mahasiswi sosiologi di Shiraz sambil tertawa memberi tahu saya bahwa juara balap mobil peringkat satu di kota Shiraz bukan lelaki, melainkan wanita. Sayapun akhirnya lama kelamaan bisa mempercayainya. Sayangnya untuk pengendara taxi wanita saya tak berkesempatan mendapatkan dokumentasinya. Karena saya tak ingin berurusan dengan hukum jika mengambil gambar tanpa izin pengendara wanita bersangkutan. Saya berharap lain kali, jika berkunjung lagi ke sana.
Sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memang amat disayangkan, karena hingga detik ini informasi kita tentang dunia muslim lainnya di berbagai belahan dunia masih amat bergantung dari media barat. Kalau toh ada media tandingan Barat, TV kita juga cenderung bersandar pada Al-Jazeera, karena sejauh ini program siaran TV ini dianggap sedikit lebih imbang ketika memberitakan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia muslim, meskipun di mata orang Iran media ini dianggap masih berat sebelah, meskipun jauh lebih baik dibanding dengan media barat dalam sisi pemberitaan.
Di mata barat jelas bahwa Iran adalah negara terbelakang, tidak aman, sarang teroris, dan kesemua pencitraan ini sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan riilnya. Demikianlah yang saya alami pada saat saya berada di Iran selama beberapa bulan. Saya kagum, terhdap keuletan bangsa Iran ketika menghadapi sangsi internasional yang datang bertubi-tubi menghunjamnya. Sepertinya tidak salah jika saya berpandangan bahwa bangsa ini sungguh-sungguh mempraktekkan spirit agama yang selalu meyakini pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan itu juga yang tampaknya telah mendidik mereka menjadi handal dalam mengubah sangsi menjadi peluang. Setidaknya terbukti dengan berbagai capain yang telah mereka raih sejauh ini di bidang sains, sosial mupun politik internasional.
Tidak banyak orang tahu bahwa dinegeri yang berideologi Islam ini, berbagai kebebasan bisa tumbuh dan berkembang. Dalam bidang agama misalnya, saya setidaknya menyaksikan keanekaragaman agama, dimana masing-masing memiliki hak hidup, misalnya terjadi pada Agama Yahudi, Zoroaster, dan Kristiani. Memang orang Yahudi di Iran menurut informasi yang ada sangat eksklusif. Agama mereka juga tidak ditujukan kepada semua orang, melainkan hanya untuk mereka sendiri. Di zaman Shah Reza Pahlevi peran pedagang kaya Yahudi dalam memberikan dukungan terhadap rezim Iran yang otoriter sangat besar, mereka, sebagaimana ditulis para pengamat, diam-diam menjalankan dukungannya dalam bentuk support financial dan supply informasi seputar keadaan dalam negeri kepada Shah, Amerika dan Israel. Oleh sebab itu, di masa pergolakan revolusi Imam Khomeini sangat mengontrol ketat gerak-gerik mereka. Kendati demikian, setelah kemenangan revolusi islam keberadaan mereka tetap dilindungi.
Selain itu saya juga sempat kaget melihat sebuah gereja Armenia di kota Taheran yang berdiri megah dipinggir sebuah jalan utama. Sejauh ini eksistensi gereja tersebut aman. Letaknya tidak jauh dari toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan belanja bagi orang Asia, seperti cabai, beras, ikan, kecap, tempe, dll.
Tidak hanya itu saja, di Iran ternyata saya menemukan bioskop yang tersebar dibeberapa daerah, di Shiraz misalnya saya menemukan banyak bioskop di tempat-tempat keramaian kota, demikian juga di Esfahan.`Padahal semula saya menyangka pemimpin revolusi dan pemerintah melarang kehadiran cinema. Bioskop-bioskop tersebut pada umumnya memutar film-film produk dalam negeri. Untuk soal kualitas film produk Iran jangan ditanya. Mereka telah memiliki sutradara-sutradara handal, yang kerap memenangi berbagai penghargaan internasional. Film-film mereka biasanya berangkat dari ide sederhana, menyangkut persoalan kehidupan sehari-hari, namun kemampuan sutradara mengeksplorasi gagasan sederhana menjadi rancak ditonton ini menjadi salah satu kehandalan sutradara Iran. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran film-film yang diproduksi sutradara mereka nampak memang begitu menggetarkan jiwa. Oleh sebab itu, waktu saya di Taharan sayapun menyempatkan diri berburu produk film karya sutradara Iran yang namanya telah mendunia itu. Judulnya seperti: The Color of God, The Song of Sparrows, M Like Mother, dll.
Tentu cinema merupakaan salah satu tempat hiburan yang ada di Iran, selain itu masih ditawarkan beberapa tempat hiburan lain, seperti objek wisata bersejarah, pemandangan alam, objek wisata spiritual, dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu objek wisata pemandangan alam menarik di Taheran adalah Tochal. Ini adalah arena rekreasi dan sekaligus arena sport. Sebagai arena rekreasi saya menyaksikan banyak pengunjung yang bersantai di kedai-kedai sambil menikmati pemandangan indah dari atas pegunungan. Di lokasi ini saya juga melihat ekspresi orang lebih leluasa, meskipun para pengunjung wanita tetap mengenakan penutup aurat, terutama kerudung, namun ditempat ini para wanita nampak lebih ekspresif. Tidak jarang saya melihat wanita muda tengah berdiskusi, bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Di arena ini juga saya menjumpai banyak wanita muda dan setengah tua merokok dengan santai, sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan di kedai-kedai. Di bagian lain, masih di tempat objek wisata yang sama, saya melihat banyak mobil sedan lalu-lalang dengan begasi berisi sepatu sky. Di Tochol ini terdapat deretan pegunungan yang puncaknya masih ditutupi salju, sehingga cocok bagi mereka yang suka berselancar dengan papan ski. Sayangnya saya hari itu gagal mencapai puncak gunung tempat anak muda bermain sky, karena kebetulan hari itu bertepatan dengan suasana tahun baru atau Nooroz. Dan sayapun menemukan tidak ada penjual ticket yang bekerja, sehingga saya pun gagal suasana bermain sky anak muda. Mungkin para penjual tiket tengah menikmati suasana libur tahun baru (nooroz) bersama keluarga di rumahnya masing-masing.
Satu lagi fenomena menarik di Iran adalah keberadaan jasa taxi yang pengemudinya para wanita (taxi honum). Jika anda pergi ke kota Qom, anda akan dengan mudah mendapati jasa taxi wanita ini. Biasanya salah satu tanda pembedanya adalah pada warna taxi yang mereka kendarai berwarna hijau, sementara bagi pengendara taxi lelaki, warnanya kuning. Namun perbedaannya diantara kedua penjaja jasa angkutan ini adalah penjaja taxi wanita tarifnya lebih mahal dibanding pria. Saya tidak tahu persis mengapa ada perbedaan tariff di antara keduanya. Yang jelas untuk orang yang masih buta seluk beluk kota Qom taxi wanita biasanya lebih aman. Mereka akan sangat membantu sampai anda menemukan tempat tujuan anda dengan tariff yang pasti dan jauh dari kesan menipu, meskipun kalau anda mujur penjaja taxi priapun terkadang ada yang sama sopan dan baiknya pada tamu dan pendatang baru yang belum mengenal seluk beluk kota Qom. Sementara dari sisi kecepatan, pengemudi taxi wanita tidak kalah kencang dan ngoboinya saat mengendarai taxinya di jalan raya. Seorang mahasiswi sosiologi di Shiraz sambil tertawa memberi tahu saya bahwa juara balap mobil peringkat satu di kota Shiraz bukan lelaki, melainkan wanita. Sayapun akhirnya lama kelamaan bisa mempercayainya. Sayangnya untuk pengendara taxi wanita saya tak berkesempatan mendapatkan dokumentasinya. Karena saya tak ingin berurusan dengan hukum jika mengambil gambar tanpa izin pengendara wanita bersangkutan. Saya berharap lain kali, jika berkunjung lagi ke sana.
Selasa, 16 November 2010
Suara Pluralisme Mahasiswa dari Universitas Shiraz
Universitas Shiraz merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas milik pemerintah di Iran. Banyak anak muda yang bermimpi dapat berkuliah di universitas ini, meskipun untuk mendapatkan kursi di sini mereka harus menyisihkan para pesaing lainnya. Bilaa berhasil menyisihkan para pesaing dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa,, maka berbagai bentuk beasiswa dan bantuan akan diberikan kepada para mahasiswa. Bukan haanya itu saja, sebagai universitas papan atas berbagai fasilitas pun ditemukan di sana, yang berupa pemandangan yang indah, tertata rapih, asrama mahasiswa, perpustakaan yang relative memadahi, cafeteria universitas yang bersih, berbagai fasilitas olah raga, dan bus kampus yang siap hilir mudik mengantar mahasiswa yang bergerak hampir setiap menitnya. Suasana akademik di kampus ini pun denyutnya amat terasa dengan kehadiran berbagai kegiatan intelektual seperti seminar, pameran berbagai jenis bungaa dan tanaman hias. Kesemarakan kampus juga makin Nampak dengan adanya berbagai macam baliho dan spanduk tawaran kegiatan akademik.
Berbagai gedung yang menjulang tinggi amat banyak saya temukan di sana. Gedung-gedung itu sebagaian besar seolah tanpa cat pewarna, pendek kata di lingkungan kampus ini saya menemukan adanya perencanaan atau tata kampus yang terencana dengan baik. Menurut beberapa orang mahasiswa yang selalu bersama dengan saya saat berada di Universitas Shiraz, memang kampus mereka dahulunya merupakaan kampus kesayangan Shah Iran. Oleh sebab itu Nampak bahwa dari segi pemilihan lokasi kampus pun diperhatikan oleh shah, yakni di daerah perbukitan, sehingga kemegahan kampus shiraz sudah nampak dari jarak kejauhan. Sejumlah mahasiswa yang selalu menyertai saya pun bercerita bahwa Shah Iran banyak meniri model-model gedung di kampus dari universitas yang ada di Prancis.
Selama berada di kampus shiraz sayapun menyempatkan diri untuk melksanakan berbagai kegiatan akademik, seperti memberi seminar, mengikuti seminar, berpartisipasi dalam kegiatan kuliah tertentu, menghadiri ujian terbuka doktoral, dan lain-lain. Salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah mendatangi seminar bertema seputar dampak revolusi Islam di dunia. Saya tertarik mengunjungi seminar, disebabkan berbagai alasan, seperti: thema yang ditawarkan menarik, pembicaranya juga adalah seorang Doctor filsafat berkebangsaan Spanyol yang dimasa lalunya merupakan pengikut setia ajaran komunis dan kemudian mengkonversi diri menjadi seorang penganut Islam Shi’ah, pernah tinggal di Iran selama belasan tahun, dan presentasi researchnyapun disampaiakan dalam bahasa Persia.
Sebagai orang asing saya juga kerap bertegur sapa dengan mahasiswa Iran dari berbagai latar belakng fakultas. Saat saya duduk di depan masjid masih di kompleks kampus Universitas Shiraz, dua orang mahasiswa fresh student dari Fakultas Pertanian pun menyapa saya. Keberanian mahasiswa Iran, dan orang Iran pada umumnya untuk menegur sapa orang asing seperti saya terlebih dahulu nampaknya mengisyaratkan rasa ingin tahu dan rasa percaya diri mereka yang kuat. Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang biasa-biasa saja ternyata mahasiswa-mahasiswa tersebut berani mengajak berkenalan dengan orang asing seperti saya. Pengalaman ini setidaknya saya alami berulang kali, bahkan di dalam bus yang kerap sayaa tumpangi di kampus sekalipun.
Di lingkungan kampus Shiraz University saya menemukan pemandangan yang berbeda dengan apa yang saya saksikan di Qom. Di Shiraz University segala bentuk relasi antar mahasiswa terasa lebih longgar, mahasiswa dan mahasiswi relative dapat berdiskusi di antara mereka. Demikian juga suasana apabila kita ada di dalam bus kampus, sekat pembeda antara lelaki dan perempuaan juga relative lebih longgar. Kadang-kadang, kursi bus yang seharusnya menjadi tempat mahasiwi, ternyata seringkali diduduki oleh rombongan mahasiswa. Mungkin karena di dalam teritori kampus, sehingga membandingkan keadaaan diseeputar kampus dengan lingkungan diseputar Qom tidak tepat. Tetapi secara umum suasana masyarakat di Shiraz sangat berbeda. Pengalaman saya memnunjukkan bahwa di Shiraz ketika saya menemukan kesulitan, misalnya saat saya hendak membeli perangko untuk koleksi, maka seorang wanita muda bahkan siaap sedia menunjukkaan dimana tempat untuk mendapatkannya. Ternyata pengalaman saya ini juga dialami oleh seorang pelajar agama Indonesia asal Siduarjo, yang mengatakan bahwa orang-orang Shiraz memang jauh lebih lembut dibandingkan orang Qom. Mungkin kaarakter budaya ini dibentuk oleh iklim dan lingkungan fisik geografis yang secara diametral berbeda pada kedua daerah tersebut.
Seorang mahasiswi di Shiraz juga dalam dialog bersama saya dan istri sebanarnya bertanya mengapa harus ada pemisahan antara lelaki dan perempuan di dalam bus. Karena baginya bagaimanapun juga lelaki adalah sesame makhluk Tuhan yang baik. Dari dialog kecil bersamanya saya juga merasakan bahwa sang mahasiswi memang tengah mengritisi berbagai aturan yang dipersepsinya sebagai pengekangan terhadap kebebesan. Atas pertanyaannya saya justeru membandingkannya dengan Indonesia, yang belakangan ini seringkali menghadapi banyak pengaduan tentang adanya kasus pelecehan seksual di dalam bus akibat tidak ada aturan pembeda antara lelaki dan perempuan. Atas jawaban saya itu nampaknya sang mahasiswi ini tidak puas, dia terus mengajukan gugatan bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Tuhan. Dalam pandangan saya mahasiswi ini sebenarnya sedang berada dalam proses pencarian jati diri, sehingga terus mengkritisi berbagaai keadaan yang ada di seputarnya.
Selain seorang mahasiswi yang masih duduk di tingkat master di salah satu fakultas ilmu humaniora, saya juga selama di berada di kamapus berkenalan dengan beberpa mahasiswa, mereka dengan antusias bercerita tentang masalah sosial politik yang tengah actual di masyakat. Mereka juga menceritakan suasana panas saat pemilihan Presiden di Iran beberapa waktu yang lalu. Pertarungan antara kubu reformis dan lawannya yang tradisional. Kebanyakaan mereka memang sangat kritis terhadap pemerintahan Ahmadinejad yang sedang berkuasa, selain itu mereka juga mengkritisi elit agama yang mendukung pemerintahan Ahmadinedjad. Bahkan di antara mahasiswa yang bersemangat itu ada yang saat ini masih menjalaani hukuman dalam bentuk pengisolasian asrama tempat tinggalnya ke lokasi yang sedikit lebih jauh jaraknya dari kampus shiraz. Ini konon akibat ulahnya dalam menentang dan mengkritik kelompok berkuasa.
Saya tentu saja tidak bisa berbicara banyak terhadap mereka, yang saya bisa lakukan adalah hanya mendengarkan berbagai cerita dan keluhan mereka. Sebagai seorang dosen yang pernah terlibat dalam dunia aktivis mahasiswa saya juga pernah mengalami hal serupa, terutama di era Suharto, betapa saat itu kejengkelan terhadap rezim berkuasa begitu besar, terutama melihat sepak terjang keluarganya yang memonopoli hampir semua aspek ekonomi dan politik yang menguasai hajat hidup orang banyak. Saya ketika itu bersama dengan kebanyakan para aktivis hanyut dalam kritisisme terhadap rezim yang berkuasa.
Berbagai gedung yang menjulang tinggi amat banyak saya temukan di sana. Gedung-gedung itu sebagaian besar seolah tanpa cat pewarna, pendek kata di lingkungan kampus ini saya menemukan adanya perencanaan atau tata kampus yang terencana dengan baik. Menurut beberapa orang mahasiswa yang selalu bersama dengan saya saat berada di Universitas Shiraz, memang kampus mereka dahulunya merupakaan kampus kesayangan Shah Iran. Oleh sebab itu Nampak bahwa dari segi pemilihan lokasi kampus pun diperhatikan oleh shah, yakni di daerah perbukitan, sehingga kemegahan kampus shiraz sudah nampak dari jarak kejauhan. Sejumlah mahasiswa yang selalu menyertai saya pun bercerita bahwa Shah Iran banyak meniri model-model gedung di kampus dari universitas yang ada di Prancis.
Selama berada di kampus shiraz sayapun menyempatkan diri untuk melksanakan berbagai kegiatan akademik, seperti memberi seminar, mengikuti seminar, berpartisipasi dalam kegiatan kuliah tertentu, menghadiri ujian terbuka doktoral, dan lain-lain. Salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah mendatangi seminar bertema seputar dampak revolusi Islam di dunia. Saya tertarik mengunjungi seminar, disebabkan berbagai alasan, seperti: thema yang ditawarkan menarik, pembicaranya juga adalah seorang Doctor filsafat berkebangsaan Spanyol yang dimasa lalunya merupakan pengikut setia ajaran komunis dan kemudian mengkonversi diri menjadi seorang penganut Islam Shi’ah, pernah tinggal di Iran selama belasan tahun, dan presentasi researchnyapun disampaiakan dalam bahasa Persia.
Sebagai orang asing saya juga kerap bertegur sapa dengan mahasiswa Iran dari berbagai latar belakng fakultas. Saat saya duduk di depan masjid masih di kompleks kampus Universitas Shiraz, dua orang mahasiswa fresh student dari Fakultas Pertanian pun menyapa saya. Keberanian mahasiswa Iran, dan orang Iran pada umumnya untuk menegur sapa orang asing seperti saya terlebih dahulu nampaknya mengisyaratkan rasa ingin tahu dan rasa percaya diri mereka yang kuat. Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang biasa-biasa saja ternyata mahasiswa-mahasiswa tersebut berani mengajak berkenalan dengan orang asing seperti saya. Pengalaman ini setidaknya saya alami berulang kali, bahkan di dalam bus yang kerap sayaa tumpangi di kampus sekalipun.
Di lingkungan kampus Shiraz University saya menemukan pemandangan yang berbeda dengan apa yang saya saksikan di Qom. Di Shiraz University segala bentuk relasi antar mahasiswa terasa lebih longgar, mahasiswa dan mahasiswi relative dapat berdiskusi di antara mereka. Demikian juga suasana apabila kita ada di dalam bus kampus, sekat pembeda antara lelaki dan perempuaan juga relative lebih longgar. Kadang-kadang, kursi bus yang seharusnya menjadi tempat mahasiwi, ternyata seringkali diduduki oleh rombongan mahasiswa. Mungkin karena di dalam teritori kampus, sehingga membandingkan keadaaan diseeputar kampus dengan lingkungan diseputar Qom tidak tepat. Tetapi secara umum suasana masyarakat di Shiraz sangat berbeda. Pengalaman saya memnunjukkan bahwa di Shiraz ketika saya menemukan kesulitan, misalnya saat saya hendak membeli perangko untuk koleksi, maka seorang wanita muda bahkan siaap sedia menunjukkaan dimana tempat untuk mendapatkannya. Ternyata pengalaman saya ini juga dialami oleh seorang pelajar agama Indonesia asal Siduarjo, yang mengatakan bahwa orang-orang Shiraz memang jauh lebih lembut dibandingkan orang Qom. Mungkin kaarakter budaya ini dibentuk oleh iklim dan lingkungan fisik geografis yang secara diametral berbeda pada kedua daerah tersebut.
Seorang mahasiswi di Shiraz juga dalam dialog bersama saya dan istri sebanarnya bertanya mengapa harus ada pemisahan antara lelaki dan perempuan di dalam bus. Karena baginya bagaimanapun juga lelaki adalah sesame makhluk Tuhan yang baik. Dari dialog kecil bersamanya saya juga merasakan bahwa sang mahasiswi memang tengah mengritisi berbagai aturan yang dipersepsinya sebagai pengekangan terhadap kebebesan. Atas pertanyaannya saya justeru membandingkannya dengan Indonesia, yang belakangan ini seringkali menghadapi banyak pengaduan tentang adanya kasus pelecehan seksual di dalam bus akibat tidak ada aturan pembeda antara lelaki dan perempuan. Atas jawaban saya itu nampaknya sang mahasiswi ini tidak puas, dia terus mengajukan gugatan bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Tuhan. Dalam pandangan saya mahasiswi ini sebenarnya sedang berada dalam proses pencarian jati diri, sehingga terus mengkritisi berbagaai keadaan yang ada di seputarnya.
Selain seorang mahasiswi yang masih duduk di tingkat master di salah satu fakultas ilmu humaniora, saya juga selama di berada di kamapus berkenalan dengan beberpa mahasiswa, mereka dengan antusias bercerita tentang masalah sosial politik yang tengah actual di masyakat. Mereka juga menceritakan suasana panas saat pemilihan Presiden di Iran beberapa waktu yang lalu. Pertarungan antara kubu reformis dan lawannya yang tradisional. Kebanyakaan mereka memang sangat kritis terhadap pemerintahan Ahmadinejad yang sedang berkuasa, selain itu mereka juga mengkritisi elit agama yang mendukung pemerintahan Ahmadinedjad. Bahkan di antara mahasiswa yang bersemangat itu ada yang saat ini masih menjalaani hukuman dalam bentuk pengisolasian asrama tempat tinggalnya ke lokasi yang sedikit lebih jauh jaraknya dari kampus shiraz. Ini konon akibat ulahnya dalam menentang dan mengkritik kelompok berkuasa.
Saya tentu saja tidak bisa berbicara banyak terhadap mereka, yang saya bisa lakukan adalah hanya mendengarkan berbagai cerita dan keluhan mereka. Sebagai seorang dosen yang pernah terlibat dalam dunia aktivis mahasiswa saya juga pernah mengalami hal serupa, terutama di era Suharto, betapa saat itu kejengkelan terhadap rezim berkuasa begitu besar, terutama melihat sepak terjang keluarganya yang memonopoli hampir semua aspek ekonomi dan politik yang menguasai hajat hidup orang banyak. Saya ketika itu bersama dengan kebanyakan para aktivis hanyut dalam kritisisme terhadap rezim yang berkuasa.
Undangan Makan Malam di Sebuah Keluarga Iran
Salah satu momen yang saya sukai selain melakukan kegiatan serius selama beberapa bulan di Iran adalah datangnya undangan makan malam dari beberapa kolega saya di sana. Ternyata dibutuhkan kepiawaian tersendiri untuk memastikan apakah undangan makan malam itu serius atau sekedar basa-basi. Jauh sebelum saya berangkat ke Iran saya telah membakali diri dengan berbagai bacaan yang memberikan informasi berharga, satu diantaranya adalah buku yang ditulis Dina dan Otong Sulaimen, berjudul “Di Bawah Kaki Langit Persia”. Sepasang suami istri yang memiliki pengalaman delapan tahun tinggal di Iran ini, melalui bukunya memberikan berbagai informasi berharaga mengenai budaya orang Iran. Salah satu diantaranya adalah tentang kebiasaannya berbasa-basi, kebiasaan ini menurut mereka berdua ternyata lebih parah dari orang Jawa. Di dalam bukunya dia memberikan beberapa contoh karakter seperti itu lengkap dengan event kejadiannya. Tentu saja semula saya tidak terlalu percaya. Saya pikir itu mungkin hanya sebuah peristiwa unik yang secara individual dialami keluarga Dina dan Ottong Sulaeman. Di dalam benak ketika itu saya sempat mengkaitkan budaya dan Islam sebagai agama resmi di sana. Mana mungkin kultur mensubordinasi agama resmi, demikian yang ada dalam pikiran saya ketika membaca buku di atas.
Ternyata apa yang dikemukakan sang penulis buku di atas benar adanya. Berkali-kali saya mengalami berbagai undangan basa-basi dari patner yang baru saya kenal, bahkan dari patner kerja yang memiliki berhubungan intensif dengan saya. Yang lebih lucu lagi suatu kali disebuah akhir dari wawancara yang saya lakukan terhadap seorang informan, saya suatu kali mendapat undangan untuk makan malam. Undangan itu disampaikan dalam bahasa Persia kepada seorang penerjemah saya yang asli Iran. Melalui penerjemah itu kemudian saya balik konfirmasi kepadanya apakah undangan ini serius, atau sekedar basa-basi. Karena setahu saya kultur basa-basi sangat kuat di Iran. Rupanya pertanyaan saya kepada penerjemah disampaikan kembali kepada orang yang mengundang, kemudian pertanyaan itu langsung saja ditanggapinya dengan senyum, lucunya lagi dia justeru mengulas lebih dalam tentang kultur basa basi itu dalam keseharian orang Iran, namun diakhir penjelasannya ditegaskan bahwa undangan yang diajukannya kepada saya jelas bukan basa-basi. Sebagai orang Iran dia menegaskan dirinya mengetahui persis kultur basa basi itu, namun undangan yang ditujukan ke saya serius, bukan basa-basi.
Untuk itu melalui penerjemah Iran yang mendampingi saya ia pun meminta jadwal kegiatan saya, dan dia pun bertanya tentang waktu free yang saya miliki. Kemudian diakhir perjumpaan dia kembali menegaskan akan mengundang saya makan malam bersama keluarganya di rumah. Sampai seluruh kegiatan saya di Iran berakhir ternyata undangan itu tidak juga muncul. Kejadian serupa lainnya masih saya miliki, namun cukuplah cerita itu saya kenang dan simpan sendiri bagi pribadi saya. Sehingga pada akhirnya saya memaklumi dalam titik tertentu pengaruh budaya tidak mudah dikikis tuntas, sekalipun oleh agama. Butuh pergulatan dan dialektika panjang untuk mentransformasi budaya yang sudah berakar di suatu masyarakat.
Kendatipun mulai mengenal basa-basi orang Iran tetapi saya tidak juga ingin memukul rata pada setiap orang. Saya tetap memberi ruang pada kesungguahan sebuah janji sebagaimana spirit yang diajarkan Islam. Salah satu undangan makan malam pertama yang sempat berlangsung datang dari undangan Dr. Shahrial Shojaeipour. Undangan makan malam itu berjalan begitu istimewa, dia menjemput saya dengan mobil Peugeut kesayangannya, dan saya pun diperkenalkannya kepada anggota keluarganya. Suasana makan malam itu menjadi lebih semarak karena beliau juga mengundang tamu istimewanya, yakni Dr. Zaheedi yang ketika muda pernah menjadi pasukan pengawal (guardian) Imam Khomeini.
Malam itu nampak berbagai menu makan special dihidangkan, seperti ash, kabab, dan tak lupa minuman beer Iran yang bebas alkohol. Sayapun mencoba mencicipi berbagai hidangan yang ada, meskipun awalnya lidah sulit menerimanya. Acara diskusi dengan Dr. Zaheedi itu berlangsung hingga larut malam, apalagi tema pembicaraaan berkisar kepemimpinan Imam Khomeini di masa awal revolusi.
Ternyata apa yang dikemukakan sang penulis buku di atas benar adanya. Berkali-kali saya mengalami berbagai undangan basa-basi dari patner yang baru saya kenal, bahkan dari patner kerja yang memiliki berhubungan intensif dengan saya. Yang lebih lucu lagi suatu kali disebuah akhir dari wawancara yang saya lakukan terhadap seorang informan, saya suatu kali mendapat undangan untuk makan malam. Undangan itu disampaikan dalam bahasa Persia kepada seorang penerjemah saya yang asli Iran. Melalui penerjemah itu kemudian saya balik konfirmasi kepadanya apakah undangan ini serius, atau sekedar basa-basi. Karena setahu saya kultur basa-basi sangat kuat di Iran. Rupanya pertanyaan saya kepada penerjemah disampaikan kembali kepada orang yang mengundang, kemudian pertanyaan itu langsung saja ditanggapinya dengan senyum, lucunya lagi dia justeru mengulas lebih dalam tentang kultur basa basi itu dalam keseharian orang Iran, namun diakhir penjelasannya ditegaskan bahwa undangan yang diajukannya kepada saya jelas bukan basa-basi. Sebagai orang Iran dia menegaskan dirinya mengetahui persis kultur basa basi itu, namun undangan yang ditujukan ke saya serius, bukan basa-basi.
Untuk itu melalui penerjemah Iran yang mendampingi saya ia pun meminta jadwal kegiatan saya, dan dia pun bertanya tentang waktu free yang saya miliki. Kemudian diakhir perjumpaan dia kembali menegaskan akan mengundang saya makan malam bersama keluarganya di rumah. Sampai seluruh kegiatan saya di Iran berakhir ternyata undangan itu tidak juga muncul. Kejadian serupa lainnya masih saya miliki, namun cukuplah cerita itu saya kenang dan simpan sendiri bagi pribadi saya. Sehingga pada akhirnya saya memaklumi dalam titik tertentu pengaruh budaya tidak mudah dikikis tuntas, sekalipun oleh agama. Butuh pergulatan dan dialektika panjang untuk mentransformasi budaya yang sudah berakar di suatu masyarakat.
Kendatipun mulai mengenal basa-basi orang Iran tetapi saya tidak juga ingin memukul rata pada setiap orang. Saya tetap memberi ruang pada kesungguahan sebuah janji sebagaimana spirit yang diajarkan Islam. Salah satu undangan makan malam pertama yang sempat berlangsung datang dari undangan Dr. Shahrial Shojaeipour. Undangan makan malam itu berjalan begitu istimewa, dia menjemput saya dengan mobil Peugeut kesayangannya, dan saya pun diperkenalkannya kepada anggota keluarganya. Suasana makan malam itu menjadi lebih semarak karena beliau juga mengundang tamu istimewanya, yakni Dr. Zaheedi yang ketika muda pernah menjadi pasukan pengawal (guardian) Imam Khomeini.
Malam itu nampak berbagai menu makan special dihidangkan, seperti ash, kabab, dan tak lupa minuman beer Iran yang bebas alkohol. Sayapun mencoba mencicipi berbagai hidangan yang ada, meskipun awalnya lidah sulit menerimanya. Acara diskusi dengan Dr. Zaheedi itu berlangsung hingga larut malam, apalagi tema pembicaraaan berkisar kepemimpinan Imam Khomeini di masa awal revolusi.
Senin, 15 November 2010
Produk Indonesia di Iran
Cukup lama saya bolak-balik ke berbagai pasar baik modern maupun tradisional yang ada di Qom, hampir pasti saya tidak menemukan produk Indonesia di sana. Sepatu sebagian besar didatangkan dari Turki, dan juga dari industry lokal Iran sendiri. Harganya relative tidak terlalu jauh berbeda dengan berbagai merek sepatu Cibaduyut yang ada di negeri kita. Jaket yang terpampang di etalase toko-toko di Qom juga sebagian besar kata penjualnya dari Turki. Demikian produk lain seperti celana panjang, sebagian besar didatangkan dari tempat yang sama.
Tetapi di antara produk yang luar biasa banyaknya di Iran, hampir sebagian besar ternyata berasal dari Cina. Memang negeri Tirai Bambu ini sekarang memang produknya sedang meramaikan pasar dunia. Konon di Eropa produk Cina juga cukup meresahkan produk-produk lokal. Jurus yang digunakan produk Cina adalah harganya yang murah, meski kualitasnya dikenal tidak istimewa. Harga jual produk Cina relative murah di bandingkan produk sejenis dari negara Iran, dan negara-negara lain hal ini konon karena upah buruh terkenal rendah di negeri Tirai Bambu itu, selain bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk didapat dengan mudah, dengan harga yang juga rendah, sehingga ongkos produksi yang dikeluarkannya rendah, akibatnya harga jual berbagai produk Cina jadi murah. Selain itu, bangsa Cina juga dikenal piawai dalam menciptakan produk imitasi. Lihat saja produk-produk hand phone (HP) keluaran Cina, dari segi tampilan dia tidak kalah dengan produk Hand Phone (HP) bermerek terkenal, misalnya merek Blackberry dengan Nexian. Tidak kaget jika banyak orang sering tertipu disaat membeli suatu produk karena kurangnya ketelitian, dan kehati-hatian, semata terpukau oleh harga yang lebih murah.
Di Iran sediri produk Cina bermacam-macam, selain produk yang telah disebut di atas, produk lain yang mudah dijumpai adalah dolanan anak-anak, kaos, pakaian, celana, kalung, manik-manik, alat dapur, perabot memasak, alat tulis, bahkan berbagai macam barang mitasi, seperti produk-produk yang berasal dari bahan plastik. Pendek kata, produk Cina telah membanjiri Iran, dan dimasa datang banjiir produk Cina ini akan bertambah, apalagi diplomasi ekonomi yang dilakukan Cina terhadap Iran, ditambah penolakan Cina untuk mengikuti langkah US dalam pemberian sangsi terhdap Iran menyangkut soal pengkayaan uranium yang dilakukan Iran untuk pengembangan proyek pembangkit listrik bertenaga nuklirnya.
Di samping Cina, berbagai produk pertanian yang berasal dari negara Asia lain seperti Filipina juga nampak, misalnya pisang, beras, juga dari Thailand, berupa beras, produk konveksi, dan saya hampir merasa sedih karena tidak satupun produk Indonesia muncul di Iran, untunglah suatu kali ketika saya berada di Shiraz, saya menemukan produk konveksi Indonesia ada di sana. Ada sebuah toko pakaian yang ternyata menjual konveksi asal Indonesia. Nama toko itu adalah Saiba, milik orang Iran bernama Hamidi. Setelah saya wawancarai lebih lanjut, ternyata dia memang kerap berkunjung ke Indonesia untuk mengambil berbagai produk konveksi dari Pekalongan dan Tanah Abang. Yang menarik bahwa pak Hamidi cukup pandai berbahasa Indonesia. Dia juga mengakui selain Indonesia produk konveksi yang dipampang di etalasee tokonya diambil juga dari Thailand dan Cina.
Perasaan saya sedikit agak terhibur setelah bertemu pak Hamidi, di etalase tokonya saya menemukan konveksi yang berbahan dasar kain batik, dan harganya jika dikonversi ke mata uang rupiah berkisar Rp 125.000, di dalam hati saya produk konveksi Indonesia yang dijual di sana kualitasnya memang bukan yang istimewa, hal ini nampak dari kualitas kain batik yang terasa sangat kasar. Tetapi perjumpaan saya dengan produk Indonesia ini tentu sangat menyenangkan, setidaknya di dalam hati saya Indonesia telah ikut ambil bagian dalam kegiatan ekonomi, dan berharap semoga di masa datang produk Indonesia yang masuk ke Iran akan lebih banyak lagi. Selain pertemuan saya dengan Pak Hamidi saya juga melihat produk kecap ABC di Shiraz, tentu perjumpaan ini membuat hati saya makin senang, dalam hati berkata meskipun produk Indonesia hanya ada beberapa item, namun setidaknya keadaan ini masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tentu saja saya berharap di masa datang berbagai produk Indonesia dapat lebih dikenal di Iran melebihi produk dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Apa lagi dibanding tiga negara yang telah disebutkan di kawasan ASEAN Indonesia menduduki penduduk yang jauh lebih besar dari tiga negara itu. Namun sayangnya hingga saat ini jika kita pergi ke toko swalayan untuk mencari beras, maka yang muncul adalah beras Thailand, dan Filipina. Belum lagi kalau kita berbicara pariwisata, orang Iran ternyata lebih familiar dengan Malaysia ke timbang Indonesia, yang menarik negeri jiran itu kini telah menjadi tujuan pendidikan bagi sebagian anak muda Iran. Dalam benak kebanyakan orang Iran, Malaysia saat ini juga menjadi negara tujuan wisata yang cukup penting, hal ini berkat keberhasilan bangsa Malaysia dalam mengkonstruksi citra dirinya sebagai sebuah negeri islam yang aman, bersih, dan maju.
Meskipun konstruksi citra di atas di mata salah seorang Professor dari Ramin University Iran yang beberapa kali pernah bertandang baik ke Indonesia maupun Malaysia sangat berbeda, menurutnya justeru aneh, mengapa justeru Malaysia yang menjadi lebih terkenal di Iran ke timbang Indonesia? Padahal menurutnya Indonesia jauh lebih “istimewa” di banding Malaysia di tinjau dari berbagai macam aspek, baik budaya, jumlah penduduk, keaneka ragaman budaya, makanan, geografis, keramah tamahan penduduk, luas negara, keindahan panorama yang dimiliki, dsb. Sang Professor ini bahkan begitu jatuh hati pada Indonesia dan terus ingin berkunjung ke Indonesia jika memungkinkan. Dia bahkan menunjukkan kepada saya porsi pemberitaan Indonesia di televisi Iran sangat minim, bahkan ramalan cuaca di beberapa acara televisi di Iran pun tidak menyebut Indonesia, kecuali hanya salah satu stasiun televisi Iran, yakni Press TV.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi pada bangsa Indonesia yang notabene memiliki penduduk mayoritas beragama Islam dan terbesar pula jumlahnya di dunia? Tentu saja berbagai alasan bisa dikemukakan, misalnya di jaman rezim Orde Baru nampak bahwa pemerintah sangat khawatir dengan apa yang disebut ekspor revolusi, sehingga hubungan dengan negara Islam tersebut sangat dibatasi. Kendatipun zaman sudah berubah, dan Indonesia telah memasuki era reformasi namun hubungan bilateral dengan negara Islam Iran belum juga dapat berlangsung secara optimal, hal ini ditengarai bahwa adanya “tekanan” atau setidaknya ketakutan negara Indonesia akan stigma yang bakal diperoleh dari negara super power Amerika bila Indonesia terlalu dekat dengan Iran, mengingat hubungan Iran dengan negara super power khususnya Amerika dan Inggris terus berada dalam ketidak harmonisan akibat berbagai macam issue, seperti nuklir, pembelaan membabi buta terhadap Israel, dan politik standar ganda.
Berikutnya karena adanya perbedaan mazhab Islam, dimana Indonesia sebagian besar adalah muslim sunni sementara mayoritas penduduk Iran adalah penganut Islam shia’ah.
Tentu saja dari berbagai alasan yang dikemukakan di atas alasan terakhir nampaknya tidak terlalu relevan, apalagi setelah banyak negara-negara di dunia, seperti Cina, Jepang, dan Korea, terus mempererat hubungan bilateralnya dengan Iran. Sebagai negara Islam Iran memiliki banyak keunggulan disbanding dengan negara Islam lainnya, setidaknya hal ini dapat dilihat dari capaian ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aktualisasi semangat independensinya yang besar. Selain itu sejauh ini dilevel hubungan bilateral yang paling banyak memainkan peranan adalah negara atau pemerintah yang tengah berkuasa, bukan masyarakat ataupun warga negaranya. Berdasarkan argumen di atas, maka sudah saatnya jika kita meninjaau dan memperbaharui hubungan kita dengan Iran, apalagi hal ini diperkuat dengan berbagai alasan politik yang bebas aktif.
Tetapi di antara produk yang luar biasa banyaknya di Iran, hampir sebagian besar ternyata berasal dari Cina. Memang negeri Tirai Bambu ini sekarang memang produknya sedang meramaikan pasar dunia. Konon di Eropa produk Cina juga cukup meresahkan produk-produk lokal. Jurus yang digunakan produk Cina adalah harganya yang murah, meski kualitasnya dikenal tidak istimewa. Harga jual produk Cina relative murah di bandingkan produk sejenis dari negara Iran, dan negara-negara lain hal ini konon karena upah buruh terkenal rendah di negeri Tirai Bambu itu, selain bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk didapat dengan mudah, dengan harga yang juga rendah, sehingga ongkos produksi yang dikeluarkannya rendah, akibatnya harga jual berbagai produk Cina jadi murah. Selain itu, bangsa Cina juga dikenal piawai dalam menciptakan produk imitasi. Lihat saja produk-produk hand phone (HP) keluaran Cina, dari segi tampilan dia tidak kalah dengan produk Hand Phone (HP) bermerek terkenal, misalnya merek Blackberry dengan Nexian. Tidak kaget jika banyak orang sering tertipu disaat membeli suatu produk karena kurangnya ketelitian, dan kehati-hatian, semata terpukau oleh harga yang lebih murah.
Di Iran sediri produk Cina bermacam-macam, selain produk yang telah disebut di atas, produk lain yang mudah dijumpai adalah dolanan anak-anak, kaos, pakaian, celana, kalung, manik-manik, alat dapur, perabot memasak, alat tulis, bahkan berbagai macam barang mitasi, seperti produk-produk yang berasal dari bahan plastik. Pendek kata, produk Cina telah membanjiri Iran, dan dimasa datang banjiir produk Cina ini akan bertambah, apalagi diplomasi ekonomi yang dilakukan Cina terhadap Iran, ditambah penolakan Cina untuk mengikuti langkah US dalam pemberian sangsi terhdap Iran menyangkut soal pengkayaan uranium yang dilakukan Iran untuk pengembangan proyek pembangkit listrik bertenaga nuklirnya.
Di samping Cina, berbagai produk pertanian yang berasal dari negara Asia lain seperti Filipina juga nampak, misalnya pisang, beras, juga dari Thailand, berupa beras, produk konveksi, dan saya hampir merasa sedih karena tidak satupun produk Indonesia muncul di Iran, untunglah suatu kali ketika saya berada di Shiraz, saya menemukan produk konveksi Indonesia ada di sana. Ada sebuah toko pakaian yang ternyata menjual konveksi asal Indonesia. Nama toko itu adalah Saiba, milik orang Iran bernama Hamidi. Setelah saya wawancarai lebih lanjut, ternyata dia memang kerap berkunjung ke Indonesia untuk mengambil berbagai produk konveksi dari Pekalongan dan Tanah Abang. Yang menarik bahwa pak Hamidi cukup pandai berbahasa Indonesia. Dia juga mengakui selain Indonesia produk konveksi yang dipampang di etalasee tokonya diambil juga dari Thailand dan Cina.
Perasaan saya sedikit agak terhibur setelah bertemu pak Hamidi, di etalase tokonya saya menemukan konveksi yang berbahan dasar kain batik, dan harganya jika dikonversi ke mata uang rupiah berkisar Rp 125.000, di dalam hati saya produk konveksi Indonesia yang dijual di sana kualitasnya memang bukan yang istimewa, hal ini nampak dari kualitas kain batik yang terasa sangat kasar. Tetapi perjumpaan saya dengan produk Indonesia ini tentu sangat menyenangkan, setidaknya di dalam hati saya Indonesia telah ikut ambil bagian dalam kegiatan ekonomi, dan berharap semoga di masa datang produk Indonesia yang masuk ke Iran akan lebih banyak lagi. Selain pertemuan saya dengan Pak Hamidi saya juga melihat produk kecap ABC di Shiraz, tentu perjumpaan ini membuat hati saya makin senang, dalam hati berkata meskipun produk Indonesia hanya ada beberapa item, namun setidaknya keadaan ini masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tentu saja saya berharap di masa datang berbagai produk Indonesia dapat lebih dikenal di Iran melebihi produk dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Apa lagi dibanding tiga negara yang telah disebutkan di kawasan ASEAN Indonesia menduduki penduduk yang jauh lebih besar dari tiga negara itu. Namun sayangnya hingga saat ini jika kita pergi ke toko swalayan untuk mencari beras, maka yang muncul adalah beras Thailand, dan Filipina. Belum lagi kalau kita berbicara pariwisata, orang Iran ternyata lebih familiar dengan Malaysia ke timbang Indonesia, yang menarik negeri jiran itu kini telah menjadi tujuan pendidikan bagi sebagian anak muda Iran. Dalam benak kebanyakan orang Iran, Malaysia saat ini juga menjadi negara tujuan wisata yang cukup penting, hal ini berkat keberhasilan bangsa Malaysia dalam mengkonstruksi citra dirinya sebagai sebuah negeri islam yang aman, bersih, dan maju.
Meskipun konstruksi citra di atas di mata salah seorang Professor dari Ramin University Iran yang beberapa kali pernah bertandang baik ke Indonesia maupun Malaysia sangat berbeda, menurutnya justeru aneh, mengapa justeru Malaysia yang menjadi lebih terkenal di Iran ke timbang Indonesia? Padahal menurutnya Indonesia jauh lebih “istimewa” di banding Malaysia di tinjau dari berbagai macam aspek, baik budaya, jumlah penduduk, keaneka ragaman budaya, makanan, geografis, keramah tamahan penduduk, luas negara, keindahan panorama yang dimiliki, dsb. Sang Professor ini bahkan begitu jatuh hati pada Indonesia dan terus ingin berkunjung ke Indonesia jika memungkinkan. Dia bahkan menunjukkan kepada saya porsi pemberitaan Indonesia di televisi Iran sangat minim, bahkan ramalan cuaca di beberapa acara televisi di Iran pun tidak menyebut Indonesia, kecuali hanya salah satu stasiun televisi Iran, yakni Press TV.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi pada bangsa Indonesia yang notabene memiliki penduduk mayoritas beragama Islam dan terbesar pula jumlahnya di dunia? Tentu saja berbagai alasan bisa dikemukakan, misalnya di jaman rezim Orde Baru nampak bahwa pemerintah sangat khawatir dengan apa yang disebut ekspor revolusi, sehingga hubungan dengan negara Islam tersebut sangat dibatasi. Kendatipun zaman sudah berubah, dan Indonesia telah memasuki era reformasi namun hubungan bilateral dengan negara Islam Iran belum juga dapat berlangsung secara optimal, hal ini ditengarai bahwa adanya “tekanan” atau setidaknya ketakutan negara Indonesia akan stigma yang bakal diperoleh dari negara super power Amerika bila Indonesia terlalu dekat dengan Iran, mengingat hubungan Iran dengan negara super power khususnya Amerika dan Inggris terus berada dalam ketidak harmonisan akibat berbagai macam issue, seperti nuklir, pembelaan membabi buta terhadap Israel, dan politik standar ganda.
Berikutnya karena adanya perbedaan mazhab Islam, dimana Indonesia sebagian besar adalah muslim sunni sementara mayoritas penduduk Iran adalah penganut Islam shia’ah.
Tentu saja dari berbagai alasan yang dikemukakan di atas alasan terakhir nampaknya tidak terlalu relevan, apalagi setelah banyak negara-negara di dunia, seperti Cina, Jepang, dan Korea, terus mempererat hubungan bilateralnya dengan Iran. Sebagai negara Islam Iran memiliki banyak keunggulan disbanding dengan negara Islam lainnya, setidaknya hal ini dapat dilihat dari capaian ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aktualisasi semangat independensinya yang besar. Selain itu sejauh ini dilevel hubungan bilateral yang paling banyak memainkan peranan adalah negara atau pemerintah yang tengah berkuasa, bukan masyarakat ataupun warga negaranya. Berdasarkan argumen di atas, maka sudah saatnya jika kita meninjaau dan memperbaharui hubungan kita dengan Iran, apalagi hal ini diperkuat dengan berbagai alasan politik yang bebas aktif.
Iran di Mata Para Pelajar Indonesia
Iran merupakan salah satu negara yang di lirik oleh anak muda Indonesia karena berbagai alasan. Selama berada beberapa bulan di negeri para mullah itu saya mendapat informasi dari mahasiswa kita yang berada di sana bahwa jumlah keseluruhan mereka kurang lebih 250 orang. Sebagian besar mahasiswa Indonesia itu pergi ke Iran untuk belajar agama, filsafat islam di berbagai hauzah ilmiyah yang ada di Iran, terutama di Qom. Memang kota ssuci Qom merupakan salah satu kota suci penting bagi penganut Shia’h, selain itu para marja’ biiasanya memiliki kantor perwakilan di kota tersebut, terutama di Savaye Street. Ambil contoh Kota ini juga sekaligus menjadi salah satu gudang ilmu filsafat islam dan agama. Bahkan beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di sana menjelaskan bahwa sebagai gudang ilmu maka, kota suci Qom dikenal sebagai salah satu kota yang memberi kontribusi signifikan dalam memproduksi berbagai karya pemikiran (buku). Hal ini dapat dilihat dari indeks jumlah buku yang diterbitkan dalam setiap tahunnya, dimana kota suci Qom menurut informasi pelajar di sana, dapat digolongkan yang tertinggi di Iran.
Selain di Qom para pelajar Indonesia ada juga yang tengah menyelesaikan studinya di kota Taheran, bahkan menurut informasi ada juga yang belajar di kota Mashad dan Esfahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mereka banyak yang meneruskan studinya di hauzah-ilmiyah Qom. Mereka yang belajar di Iran tentunya telah melalui berbagai proses seleksi yang berlangsung dalam proses perekrutan. Tentunya mereka adalah orang-orang pilihan, karena telah lolos dalam berbagai tingkat seleksi yang dilakukan lembaga yang merekrutnya. Selain itu seleksi masuk di universitas terkenal, seperti University of Taheran juga bukan merupakan sesuatu yang mudah, karena universitas tersebut dikenal sebagai salah satu universitas papan atas di Iran.
Jumlah 250 orang pelajar Indonesia di Iran tentu saja bukan jumlah yang sedikit, namun jumlah tersebut menurut sumber yang saya dapatkan di sana, dianggap masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang berasal dari negara lain, seperti Malaysia, Pakistan. Namun yang cukup menarik, di kota suci Qom saya menemukan pelajar dari berbagai macam negara asal, seperti Filipina, Cina, Bosnia, Amerika, Maroko, Mauritania, dll. Dari gambaran tersebut maka dapat kita sebutkan bahwa kota Qom adalah kota internasional yang sebagian besar dihuni oleh para pelajar yang ingin mendalami Filsafat Islam, Bahasa Persia, Bank Islam. Semaraknya kota Qom itu dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan terutama hauzah ilmiyah, dan berbagai lembaga research atau ilmu pengetahuan.
Berbagai alasan umumnya dikemukakan oleh para pelajar Indonesia di sana. Sebagian mereka memilih Iran karena pendidikan yang mereka jalankan sepenuhnya gratis alias ditaanggung oleh lembaga yang merekrut mereka, bahkan pemerintah. Selain itu khusus bagi mereka yang studi di Qom, berbagai fasilitas tambahan masih mereka dapatkan, misalnya tidak ada larangan untuk melahirkan, bahkan bagi mereka yang melahirkan, mereka dapat memperoleh bantuan keuangan untuk melahirkan, bantuan untuk penitipan anak, dan lain-lain. Dalam konteks berbagai bantuan ini saya teringat adanya kontras dengan teman-teman yang belajar di negara-negara barat. Tidak hanya itu saja, setahu saya ada larangan bagi mahasiswa yang tengah studi untuk menjalanai proses kehahamilan, dan bila kedapatan hamil, sangsinya cukup berat, yakni bisa dikeluarkan dan dicabut beasiswanya. Tentu saja negara barat pemberi beasiswa ini memiliki alasannya sendiri, seperti efisiensi waktu dan efektivitas belajar, keterbatasan jumlah uang yang diberikan, dan sebaginya. Alasan-alasan tersebut memamng cukup rasional, meskipun terkadang tidak manusiawi juga. Sering kali muncul di dalaam benak pikiran saya, apakah hal ini karena beasiswa di Iran di danai oleh uang uang para imam yang memiliki ketinggian pemahaman keagamaan dan moralitasnya, dan beasiswa darri barat itu di danai oleh perusahaan atau negara yang lebih pragmatis-sekularistik pertimbaangannya? Sayaa belum punya jawaban yang yang memadai dalama hal tersenbut.
Sejumlah mahasiswa juga mengatakan kepada saya bahwa mereka tertarik belajar di Iran, karena negara atau pemerintah memang memberikan dukungan yang kuat pada dunia pendidikan di sana, misalnya harga buku-buku relative jauh lebih murah, hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah memberi subssidi terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam dunia perbukuan, kamus bahasa Inggris terkenal misalnya, di salah satu toko buku Iran berharga Rp 150.000 di sini harganya sudah mencapai Rp 500.000, hal ini bisa terjadi karena buku impor tersebut telah dicetak kembali di Iran, sementara untuk buku-buku impor langsung yang tidak dicetak di Iran harganya sedikit lebih mahal, namun tetap lebih murah dibandingkan dengan harga di toko buku terkenal di Indonesia. Menurut para pelajar Indonesiaa di Iran, harga-harga buku akan jauh lebih murah saat pameran buku internasional (book fair) tiba.
Alasan lain yang tak kalah menarik adalah nara sumber yang otoritataif dalam berbagai bidang, terutama filsafat dengan berbagai macam cabangnya dan ilmu-ilmu islam dengan berbagai macam cabangnya mudah kita temukan di sana. Apa lagi jika menguasai bahasa Persia atau Arab, hal ini disebabkan banyak sumber-sumber otoritatif menggunakan dua bahasa tersebut, meskipun terdapat beberapa yang juga menguasai bahasa Inggris. Selain itu mahasiswa dengan persyaratan tertentu dapat memperoleh fasilitas asrama pelajar yang cukup memadahi. Masih ada peluang lain yang membuat mahasiswa Indonesia merasa lebih betah tinggal di Iran, yakni adanya kegiatan selingan yang dilakukan pihak asrama dimana si pemanang akan mendapatkan berbagai hadiah serta bonus yang menarik. Mulai dari hadiah kipas angin, mesin penyedot debu, hingga tiket pulang ke tanah air.
Seorang pelajar Indonesia di sana terkadang setelah merasakan tinggal selama beberapa tahun mengatakan bahwa mereka sangat betah, karena fasilitas belajar sangat baik, dan nara sumber yang otoritatif mudah ditemui di Iran, tanpa harus melalui jalur birokrasi yang ribet. Selain berbagai fasilitas yang memudahkan di atas, bila mereka ingin mendapatkan uang tambahan biasanya mereka menjalankan kegiatan penerjemaah buku. Kegiatan menterjemah buku biasanya dilakukan di selaa-sela waktu kesibukan mereka. Selain itu beberapa dari mereka aktif juga di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) yang sering menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kegiatan, seperti diskusi, seminar, dan lain-lain.
Hubungan pelajar Indonesia dengan KBRI di Iran memiliki sejarah pasang naik dan surut. Di zaman Orde Baru hubungan KBRI dengan para pelajar kita di sana memang kurang harmonis, hal ini bisa dimengerti karena KBRI lebih banyak memantau, mengontrol, mengarahkan, bahkan seolah memata-matai pelajar Indonesia yang ada di Iran. Kecenderungan semacam ini dapat berlangsung karena rezim Orde Baru yang tengah berkuasa sangat khawatir terhadap gejala ekspor revolusi dari negeri yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai republic Islam Iran. Selain itu Orde Baru sebelum kelahiran ICMI juga sangat phobi terhadap Islam.
Selain dukungan negara yang kuat dalam dunia pendidikan di Iran, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari komitmen para marja’ yang sejak dari dulu memiliki sejarah panjang dalam membangun masyarakat yang agamis, rasional, kritis, dan berkeadilan sosial. Komitmen lembaga agama terhadap dunia pendidikan tidak perlu diragukan, ekspresi tersebut muncul dalam bentuk pembangunan sarana research, lembaga pendidikan, program bantuan beasiswa bagi para pelajar yang tengah mengikuti pendidikan diberbagai jenjang. Seorang pelajar agama di Iran mendapatkan beasiswa (shahriar) untuk biaya pendidikan, biaya buku, hidup, dan lain-lain, dengan besaran yang berbeda-beda, sesuai dengan jenjang pendidikan yang sedang diikutinya. Jenjang pendidikan yang setara dengan S1 tentu lebih rendah disbanding mereka yang tengah menjalani pendidikan di jenjang master (S2), ataupun doctoral (S3). Demikian juga status lajang dan tidaknya seseorang juga ikut menentukan besaran beaseswa yang akan diperolehnya.
Besarnya komitmen para marja’ terhadap dunia pendidikan ini sebagian dapat diamati pada saat tanggal-tanggal awal bulan, dimana ribuan pelajar, tua-muda, dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat pembagian shahriar, yang pusatnya ditempatkan di lokasi sekitar Holly Shrain Fatimah Ma’sumah. Biasanya pengambilan shahriar akan berlangsung selama beberapa hari, sebagaimana telah ditentukan.
Selain di Qom para pelajar Indonesia ada juga yang tengah menyelesaikan studinya di kota Taheran, bahkan menurut informasi ada juga yang belajar di kota Mashad dan Esfahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mereka banyak yang meneruskan studinya di hauzah-ilmiyah Qom. Mereka yang belajar di Iran tentunya telah melalui berbagai proses seleksi yang berlangsung dalam proses perekrutan. Tentunya mereka adalah orang-orang pilihan, karena telah lolos dalam berbagai tingkat seleksi yang dilakukan lembaga yang merekrutnya. Selain itu seleksi masuk di universitas terkenal, seperti University of Taheran juga bukan merupakan sesuatu yang mudah, karena universitas tersebut dikenal sebagai salah satu universitas papan atas di Iran.
Jumlah 250 orang pelajar Indonesia di Iran tentu saja bukan jumlah yang sedikit, namun jumlah tersebut menurut sumber yang saya dapatkan di sana, dianggap masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang berasal dari negara lain, seperti Malaysia, Pakistan. Namun yang cukup menarik, di kota suci Qom saya menemukan pelajar dari berbagai macam negara asal, seperti Filipina, Cina, Bosnia, Amerika, Maroko, Mauritania, dll. Dari gambaran tersebut maka dapat kita sebutkan bahwa kota Qom adalah kota internasional yang sebagian besar dihuni oleh para pelajar yang ingin mendalami Filsafat Islam, Bahasa Persia, Bank Islam. Semaraknya kota Qom itu dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan terutama hauzah ilmiyah, dan berbagai lembaga research atau ilmu pengetahuan.
Berbagai alasan umumnya dikemukakan oleh para pelajar Indonesia di sana. Sebagian mereka memilih Iran karena pendidikan yang mereka jalankan sepenuhnya gratis alias ditaanggung oleh lembaga yang merekrut mereka, bahkan pemerintah. Selain itu khusus bagi mereka yang studi di Qom, berbagai fasilitas tambahan masih mereka dapatkan, misalnya tidak ada larangan untuk melahirkan, bahkan bagi mereka yang melahirkan, mereka dapat memperoleh bantuan keuangan untuk melahirkan, bantuan untuk penitipan anak, dan lain-lain. Dalam konteks berbagai bantuan ini saya teringat adanya kontras dengan teman-teman yang belajar di negara-negara barat. Tidak hanya itu saja, setahu saya ada larangan bagi mahasiswa yang tengah studi untuk menjalanai proses kehahamilan, dan bila kedapatan hamil, sangsinya cukup berat, yakni bisa dikeluarkan dan dicabut beasiswanya. Tentu saja negara barat pemberi beasiswa ini memiliki alasannya sendiri, seperti efisiensi waktu dan efektivitas belajar, keterbatasan jumlah uang yang diberikan, dan sebaginya. Alasan-alasan tersebut memamng cukup rasional, meskipun terkadang tidak manusiawi juga. Sering kali muncul di dalaam benak pikiran saya, apakah hal ini karena beasiswa di Iran di danai oleh uang uang para imam yang memiliki ketinggian pemahaman keagamaan dan moralitasnya, dan beasiswa darri barat itu di danai oleh perusahaan atau negara yang lebih pragmatis-sekularistik pertimbaangannya? Sayaa belum punya jawaban yang yang memadai dalama hal tersenbut.
Sejumlah mahasiswa juga mengatakan kepada saya bahwa mereka tertarik belajar di Iran, karena negara atau pemerintah memang memberikan dukungan yang kuat pada dunia pendidikan di sana, misalnya harga buku-buku relative jauh lebih murah, hal tersebut dapat terjadi karena pemerintah memberi subssidi terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam dunia perbukuan, kamus bahasa Inggris terkenal misalnya, di salah satu toko buku Iran berharga Rp 150.000 di sini harganya sudah mencapai Rp 500.000, hal ini bisa terjadi karena buku impor tersebut telah dicetak kembali di Iran, sementara untuk buku-buku impor langsung yang tidak dicetak di Iran harganya sedikit lebih mahal, namun tetap lebih murah dibandingkan dengan harga di toko buku terkenal di Indonesia. Menurut para pelajar Indonesiaa di Iran, harga-harga buku akan jauh lebih murah saat pameran buku internasional (book fair) tiba.
Alasan lain yang tak kalah menarik adalah nara sumber yang otoritataif dalam berbagai bidang, terutama filsafat dengan berbagai macam cabangnya dan ilmu-ilmu islam dengan berbagai macam cabangnya mudah kita temukan di sana. Apa lagi jika menguasai bahasa Persia atau Arab, hal ini disebabkan banyak sumber-sumber otoritatif menggunakan dua bahasa tersebut, meskipun terdapat beberapa yang juga menguasai bahasa Inggris. Selain itu mahasiswa dengan persyaratan tertentu dapat memperoleh fasilitas asrama pelajar yang cukup memadahi. Masih ada peluang lain yang membuat mahasiswa Indonesia merasa lebih betah tinggal di Iran, yakni adanya kegiatan selingan yang dilakukan pihak asrama dimana si pemanang akan mendapatkan berbagai hadiah serta bonus yang menarik. Mulai dari hadiah kipas angin, mesin penyedot debu, hingga tiket pulang ke tanah air.
Seorang pelajar Indonesia di sana terkadang setelah merasakan tinggal selama beberapa tahun mengatakan bahwa mereka sangat betah, karena fasilitas belajar sangat baik, dan nara sumber yang otoritatif mudah ditemui di Iran, tanpa harus melalui jalur birokrasi yang ribet. Selain berbagai fasilitas yang memudahkan di atas, bila mereka ingin mendapatkan uang tambahan biasanya mereka menjalankan kegiatan penerjemaah buku. Kegiatan menterjemah buku biasanya dilakukan di selaa-sela waktu kesibukan mereka. Selain itu beberapa dari mereka aktif juga di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) yang sering menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kegiatan, seperti diskusi, seminar, dan lain-lain.
Hubungan pelajar Indonesia dengan KBRI di Iran memiliki sejarah pasang naik dan surut. Di zaman Orde Baru hubungan KBRI dengan para pelajar kita di sana memang kurang harmonis, hal ini bisa dimengerti karena KBRI lebih banyak memantau, mengontrol, mengarahkan, bahkan seolah memata-matai pelajar Indonesia yang ada di Iran. Kecenderungan semacam ini dapat berlangsung karena rezim Orde Baru yang tengah berkuasa sangat khawatir terhadap gejala ekspor revolusi dari negeri yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai republic Islam Iran. Selain itu Orde Baru sebelum kelahiran ICMI juga sangat phobi terhadap Islam.
Selain dukungan negara yang kuat dalam dunia pendidikan di Iran, fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari komitmen para marja’ yang sejak dari dulu memiliki sejarah panjang dalam membangun masyarakat yang agamis, rasional, kritis, dan berkeadilan sosial. Komitmen lembaga agama terhadap dunia pendidikan tidak perlu diragukan, ekspresi tersebut muncul dalam bentuk pembangunan sarana research, lembaga pendidikan, program bantuan beasiswa bagi para pelajar yang tengah mengikuti pendidikan diberbagai jenjang. Seorang pelajar agama di Iran mendapatkan beasiswa (shahriar) untuk biaya pendidikan, biaya buku, hidup, dan lain-lain, dengan besaran yang berbeda-beda, sesuai dengan jenjang pendidikan yang sedang diikutinya. Jenjang pendidikan yang setara dengan S1 tentu lebih rendah disbanding mereka yang tengah menjalani pendidikan di jenjang master (S2), ataupun doctoral (S3). Demikian juga status lajang dan tidaknya seseorang juga ikut menentukan besaran beaseswa yang akan diperolehnya.
Besarnya komitmen para marja’ terhadap dunia pendidikan ini sebagian dapat diamati pada saat tanggal-tanggal awal bulan, dimana ribuan pelajar, tua-muda, dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat pembagian shahriar, yang pusatnya ditempatkan di lokasi sekitar Holly Shrain Fatimah Ma’sumah. Biasanya pengambilan shahriar akan berlangsung selama beberapa hari, sebagaimana telah ditentukan.
Menengok Fasilitas Publik di Iran
Mengamati kemajuan pembangunan fasilitas publik di Iran sangatlah menarik. Apalagi jika kita mengetahui bahwa pembangunan di Iran sesungguhnya baru dimulai secara efektif pasca revolusi Islam 1978-an, dimana di tahun itu sebagian besar masyarakat Iran menganggap era pasca revolusi merupakan momentum baru bagi bangsa Iran. Era dimana rezim represif otoriter yang dipimpin Shah atau rezim boneka Inggris dan Amerika telah berhasil ditumbangkan, dan digantikan oleh sebuah rezim pemerintahan baru yang dikendalikan langsung oleh Imam Khomeini, sang arsitek revolusi.
Selama bertahun-tahun membangun tentu pasang surut atau krisis dialami oleh bangsa Iran, ini terutama terjadi di saat anasir-anasir kekuatan lama tidak rela membiarkan bangsa Iran memilih jalannya sendiri. Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun membuat pembangunan yang dilakukan oleh rezim pemerintahan baru dibawah Imam Khomeini tidak dapat berlangsung efektif, apalagi Bani Shadr selaku Presiden pemimpin pemerintahan memiliki motif-motif politik terselubung yang dapat memperlemah efektivitas negara yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Islam Iran lewat sebuah revolusi agama yang menghentak dunia.
Berbagai gelombang besar krisis di masa-masa awal pemerintahan baru pun bisa dilalui dengan baik, meskipun krisis kepemimpinan yang sempat terjadi di masa awal revolusi bisa mensirnakan harapan besar masyarakat Iran untuk hidup mandiri, lepas dari segala bentuk kolonialisme bangsa asing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa krisis selalu memiliki dua sisi, yakni sisi positif dimana setiap keberhasilan mengatasinya akan membuat suatu negara semakin kuat, dan tahan banting, setidaknya itulah yang bisa kita saksikan pada Republik Islam Iran pada saat ini. Sementara di sisi lain, jika kriris tidak mampu di atasi, maka republik Islam yang baru berusia muda tersebut akan kembali jatuh kedalam hagemoni dan kolonialisasi bangsa asing. Untunglah berbagai krisis di era-era awal revolusi berhasil diatasi oleh kepiawaian, dan keteguhan pemimpin dan rakyat Iran yang cinta pada kemandirian. Dan tak ingin mengulang pengalaman suramnya hidup dibawah kendali negara asing.
Berbagai fasilitas publik yang ada membuat saya bertanya-tanya dan mengkomparasikannya dengan Indonesia yang usianya sudah lebih dari setengah abad merdeka, dan praaktis usia pembangunannya juga lebih paanjang dengan usia pembangunan di negara mullah itu. seandainya pemerintah kita menjalankan pembangunan fasilitas publik dengan serius, maka pastilah kondisi fasilitas publik di Indonesia bisa jadi lebih baik dibanding dengan Iran. Jika kita berasumsi pembangunan di Indonesia di mulai sejak jaman Presiden Suharto, maka kondisi kita seharusnya lebih baik, karena kita memulai lebih dahulu melalui program pembangunan yang dilaksanakan oleh negara. Sayangnya kondisi kita tidak demikian, sekali Indonesia tetap Indonesia. Pembangunan diindonesia tetap saja menjadi wacana sendiri yang amat panjang jika didiskusikan.
Salah satu aspek perbedaan yang cukup menonjol jika membandingkan pemandangan antara Jakarta dan Taheran adalah sulitnya kita menemukan gedung-gedung pencakar langit di sana. Namun jika urusan fasilitas publik ada berbagai aspek menonjol yang menarik jika diperbandingkan. Di Jakarta kita memiliki sarana angkutan publik Trans Jakarta, sementara di Taheran mereka memiliki Metro yang juga dipadati sepanjang hari oleh para penumpang sebagaimana halnya di Jakarta. Yang menarik lagi di Taheran dan Iran pada umumnya ticket metro disubsidi oleh pemerintah, sehingga tarifnya jauh dekat sama saja, yakni sekitar Rp 200. Selain metro di Taheran kita masih menemukan kereta bawah tanah yang juga tiketnya bersubsidi meskipun yang agak aneh pedagang asongan sering kali menawarkan baraang dagangaannya di dalam kereta bawah tanah tersebut.
Sebenarrnya dari segi fasilitas public Iran memang telah melakukan berbagai terobosan besar, karena kereta bawah tanah ternyata tidak hanya dibangun di Ibu kota, tetapi fasilitas semacam ini saat ini tengah dipersiapkan pula dibeberapa daerah, misalnya Ahwaz, Shiraz, Isfahan, Mashad, dan beberapa kota-kota penting lainnya. Pemandangan juga akan sangaat lain jika kita bepergian ke beberapa tempat di Iran dengan menggunakan bus kota, selain tiketnya yang murah, berlaku juga kebijakan pembedaan tempat bagi wanita dan pria. Wanita umumnya masuk dari pintu kanan belakang, dan tempat duduknya ada di bagian belakang, sedangkan priya menempati tempat duduk di kanan bagian muka. Mereka menaiki bus lewat pintu kanan muka. Meskipun pemandangan ini akan berbeda jika sepasang suami dan istri bepergian, karena pasangan tersebut boleh menempati kursi dibagian pria.
Tentu keadaan seperti ini tidak berlaku di kampus Shiraz University, karena di kampus batas antara pria dan wanita sedikit agak lebih longgar. Beberapa mahasiswi ada yang mempersoalkan tentang kebijakan pemisahan ini, mereka merasa bahwa pemisahan ini tidak menarik buat mereka, karena dimata mereka lelaki sama dengan wanita, sama-sama makhluk Tuhan yang dimulyakan.
Masih banyak pemandangan lain yang sangat khas Iran, jika kita berjalan-jalan di beberapa kota, kita akan menemukan jalan aspal yang berukuran lebar, mulus, setiap jalan didesain dua jalur namun terpisah satu dengan yang lain. Bahkan pemisahan itu juga dilakukan untuk kendaraan yang berukuran kecil dan besar seperti truck, bus, dengan sedan berukuran kecil. Ini terjadi dibeberapa tempat di Iran. Yang cukup menarik lagi adalah penerangan jalan. Ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi tingkat bahaya berlalu lintas. Terutama kecelakaan antara mobil kecil dan bus. Selain itu hampir sebagian besar jalan raya di Iran memiliki penerangan yang baik, hal ini termasuk di jalan-jalan utama yang lengang penduduknya. Sehingga orang yang bepergiaan merasa lebih aman dan nyaman. Ini sedikit agak berbeda dengan di ndonesia, dimana penerangan jalan pada umunya hanya terdapat di tempat-tempat tertentu yang dianggap penting, terutama terletak di daerah pemukiman manusia.
Tentu tindakan memberi penerangan jalan dilokasi yang tak dihuni manusia bisa saja dinilai inefisiensi dimata para pejabat di Indonesia.
Yang juga cukup menarik adalah taman kota yang banyak dijumpai di pinggiran jalan. Taman-taman seperti itu biasanya digunakan sebagai tempat duduk santai, terkadang dibeberapa tempat dilengkapi dengan air mancur, pepohonan nan rindang, permainan anak-anak, alat olah raga, bahkan terkadang di waktu-waktu tertentu sering kali dipakai sebagai tempat kemah terutama menjelang musim semi (summer). Selain itu taman kota sering kali menjadi tempat pilihan pavorit bagi warga Iran di musim semi untuk mendirikan tenda-tenda kecil sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Meraka biasanya selain bersantai bersama keluarga dengan membawa serta kendaraan pribadi roda empatnya, mereka juga ziarah ke tempat-tempat suci, sebagaimana pemandangan menarik ini dapat dilihat di Kota Suci Qom, dan beberapa tempat lainnya.
Fasilitas telp umum juga tidak luput saya amati, meskipun fasilitas yang satu ini tidak lagi banyak digunakan oleh anggota masyarakat akibat semaraknya kehadiran handphone. Hampir setiap anggota masyarakat memiliki handphone. Namun demikian fasilitas telp umum nampak sebagian besar masih utuh dan terpelihara secara baik. Tidak jarang masih ada satu dua orang yang menggunakan fasilitas telp koin itu.
Selama bertahun-tahun membangun tentu pasang surut atau krisis dialami oleh bangsa Iran, ini terutama terjadi di saat anasir-anasir kekuatan lama tidak rela membiarkan bangsa Iran memilih jalannya sendiri. Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun membuat pembangunan yang dilakukan oleh rezim pemerintahan baru dibawah Imam Khomeini tidak dapat berlangsung efektif, apalagi Bani Shadr selaku Presiden pemimpin pemerintahan memiliki motif-motif politik terselubung yang dapat memperlemah efektivitas negara yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Islam Iran lewat sebuah revolusi agama yang menghentak dunia.
Berbagai gelombang besar krisis di masa-masa awal pemerintahan baru pun bisa dilalui dengan baik, meskipun krisis kepemimpinan yang sempat terjadi di masa awal revolusi bisa mensirnakan harapan besar masyarakat Iran untuk hidup mandiri, lepas dari segala bentuk kolonialisme bangsa asing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa krisis selalu memiliki dua sisi, yakni sisi positif dimana setiap keberhasilan mengatasinya akan membuat suatu negara semakin kuat, dan tahan banting, setidaknya itulah yang bisa kita saksikan pada Republik Islam Iran pada saat ini. Sementara di sisi lain, jika kriris tidak mampu di atasi, maka republik Islam yang baru berusia muda tersebut akan kembali jatuh kedalam hagemoni dan kolonialisasi bangsa asing. Untunglah berbagai krisis di era-era awal revolusi berhasil diatasi oleh kepiawaian, dan keteguhan pemimpin dan rakyat Iran yang cinta pada kemandirian. Dan tak ingin mengulang pengalaman suramnya hidup dibawah kendali negara asing.
Berbagai fasilitas publik yang ada membuat saya bertanya-tanya dan mengkomparasikannya dengan Indonesia yang usianya sudah lebih dari setengah abad merdeka, dan praaktis usia pembangunannya juga lebih paanjang dengan usia pembangunan di negara mullah itu. seandainya pemerintah kita menjalankan pembangunan fasilitas publik dengan serius, maka pastilah kondisi fasilitas publik di Indonesia bisa jadi lebih baik dibanding dengan Iran. Jika kita berasumsi pembangunan di Indonesia di mulai sejak jaman Presiden Suharto, maka kondisi kita seharusnya lebih baik, karena kita memulai lebih dahulu melalui program pembangunan yang dilaksanakan oleh negara. Sayangnya kondisi kita tidak demikian, sekali Indonesia tetap Indonesia. Pembangunan diindonesia tetap saja menjadi wacana sendiri yang amat panjang jika didiskusikan.
Salah satu aspek perbedaan yang cukup menonjol jika membandingkan pemandangan antara Jakarta dan Taheran adalah sulitnya kita menemukan gedung-gedung pencakar langit di sana. Namun jika urusan fasilitas publik ada berbagai aspek menonjol yang menarik jika diperbandingkan. Di Jakarta kita memiliki sarana angkutan publik Trans Jakarta, sementara di Taheran mereka memiliki Metro yang juga dipadati sepanjang hari oleh para penumpang sebagaimana halnya di Jakarta. Yang menarik lagi di Taheran dan Iran pada umumnya ticket metro disubsidi oleh pemerintah, sehingga tarifnya jauh dekat sama saja, yakni sekitar Rp 200. Selain metro di Taheran kita masih menemukan kereta bawah tanah yang juga tiketnya bersubsidi meskipun yang agak aneh pedagang asongan sering kali menawarkan baraang dagangaannya di dalam kereta bawah tanah tersebut.
Sebenarrnya dari segi fasilitas public Iran memang telah melakukan berbagai terobosan besar, karena kereta bawah tanah ternyata tidak hanya dibangun di Ibu kota, tetapi fasilitas semacam ini saat ini tengah dipersiapkan pula dibeberapa daerah, misalnya Ahwaz, Shiraz, Isfahan, Mashad, dan beberapa kota-kota penting lainnya. Pemandangan juga akan sangaat lain jika kita bepergian ke beberapa tempat di Iran dengan menggunakan bus kota, selain tiketnya yang murah, berlaku juga kebijakan pembedaan tempat bagi wanita dan pria. Wanita umumnya masuk dari pintu kanan belakang, dan tempat duduknya ada di bagian belakang, sedangkan priya menempati tempat duduk di kanan bagian muka. Mereka menaiki bus lewat pintu kanan muka. Meskipun pemandangan ini akan berbeda jika sepasang suami dan istri bepergian, karena pasangan tersebut boleh menempati kursi dibagian pria.
Tentu keadaan seperti ini tidak berlaku di kampus Shiraz University, karena di kampus batas antara pria dan wanita sedikit agak lebih longgar. Beberapa mahasiswi ada yang mempersoalkan tentang kebijakan pemisahan ini, mereka merasa bahwa pemisahan ini tidak menarik buat mereka, karena dimata mereka lelaki sama dengan wanita, sama-sama makhluk Tuhan yang dimulyakan.
Masih banyak pemandangan lain yang sangat khas Iran, jika kita berjalan-jalan di beberapa kota, kita akan menemukan jalan aspal yang berukuran lebar, mulus, setiap jalan didesain dua jalur namun terpisah satu dengan yang lain. Bahkan pemisahan itu juga dilakukan untuk kendaraan yang berukuran kecil dan besar seperti truck, bus, dengan sedan berukuran kecil. Ini terjadi dibeberapa tempat di Iran. Yang cukup menarik lagi adalah penerangan jalan. Ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi tingkat bahaya berlalu lintas. Terutama kecelakaan antara mobil kecil dan bus. Selain itu hampir sebagian besar jalan raya di Iran memiliki penerangan yang baik, hal ini termasuk di jalan-jalan utama yang lengang penduduknya. Sehingga orang yang bepergiaan merasa lebih aman dan nyaman. Ini sedikit agak berbeda dengan di ndonesia, dimana penerangan jalan pada umunya hanya terdapat di tempat-tempat tertentu yang dianggap penting, terutama terletak di daerah pemukiman manusia.
Tentu tindakan memberi penerangan jalan dilokasi yang tak dihuni manusia bisa saja dinilai inefisiensi dimata para pejabat di Indonesia.
Yang juga cukup menarik adalah taman kota yang banyak dijumpai di pinggiran jalan. Taman-taman seperti itu biasanya digunakan sebagai tempat duduk santai, terkadang dibeberapa tempat dilengkapi dengan air mancur, pepohonan nan rindang, permainan anak-anak, alat olah raga, bahkan terkadang di waktu-waktu tertentu sering kali dipakai sebagai tempat kemah terutama menjelang musim semi (summer). Selain itu taman kota sering kali menjadi tempat pilihan pavorit bagi warga Iran di musim semi untuk mendirikan tenda-tenda kecil sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Meraka biasanya selain bersantai bersama keluarga dengan membawa serta kendaraan pribadi roda empatnya, mereka juga ziarah ke tempat-tempat suci, sebagaimana pemandangan menarik ini dapat dilihat di Kota Suci Qom, dan beberapa tempat lainnya.
Fasilitas telp umum juga tidak luput saya amati, meskipun fasilitas yang satu ini tidak lagi banyak digunakan oleh anggota masyarakat akibat semaraknya kehadiran handphone. Hampir setiap anggota masyarakat memiliki handphone. Namun demikian fasilitas telp umum nampak sebagian besar masih utuh dan terpelihara secara baik. Tidak jarang masih ada satu dua orang yang menggunakan fasilitas telp koin itu.
Langganan:
Postingan (Atom)