Senin, 15 November 2010

Menengok Fasilitas Publik di Iran

Mengamati kemajuan pembangunan fasilitas publik di Iran sangatlah menarik. Apalagi jika kita mengetahui bahwa pembangunan di Iran sesungguhnya baru dimulai secara efektif pasca revolusi Islam 1978-an, dimana di tahun itu sebagian besar masyarakat Iran menganggap era pasca revolusi merupakan momentum baru bagi bangsa Iran. Era dimana rezim represif otoriter yang dipimpin Shah atau rezim boneka Inggris dan Amerika telah berhasil ditumbangkan, dan digantikan oleh sebuah rezim pemerintahan baru yang dikendalikan langsung oleh Imam Khomeini, sang arsitek revolusi.

Selama bertahun-tahun membangun tentu pasang surut atau krisis dialami oleh bangsa Iran, ini terutama terjadi di saat anasir-anasir kekuatan lama tidak rela membiarkan bangsa Iran memilih jalannya sendiri. Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun membuat pembangunan yang dilakukan oleh rezim pemerintahan baru dibawah Imam Khomeini tidak dapat berlangsung efektif, apalagi Bani Shadr selaku Presiden pemimpin pemerintahan memiliki motif-motif politik terselubung yang dapat memperlemah efektivitas negara yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Islam Iran lewat sebuah revolusi agama yang menghentak dunia.

Berbagai gelombang besar krisis di masa-masa awal pemerintahan baru pun bisa dilalui dengan baik, meskipun krisis kepemimpinan yang sempat terjadi di masa awal revolusi bisa mensirnakan harapan besar masyarakat Iran untuk hidup mandiri, lepas dari segala bentuk kolonialisme bangsa asing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa krisis selalu memiliki dua sisi, yakni sisi positif dimana setiap keberhasilan mengatasinya akan membuat suatu negara semakin kuat, dan tahan banting, setidaknya itulah yang bisa kita saksikan pada Republik Islam Iran pada saat ini. Sementara di sisi lain, jika kriris tidak mampu di atasi, maka republik Islam yang baru berusia muda tersebut akan kembali jatuh kedalam hagemoni dan kolonialisasi bangsa asing. Untunglah berbagai krisis di era-era awal revolusi berhasil diatasi oleh kepiawaian, dan keteguhan pemimpin dan rakyat Iran yang cinta pada kemandirian. Dan tak ingin mengulang pengalaman suramnya hidup dibawah kendali negara asing.

Berbagai fasilitas publik yang ada membuat saya bertanya-tanya dan mengkomparasikannya dengan Indonesia yang usianya sudah lebih dari setengah abad merdeka, dan praaktis usia pembangunannya juga lebih paanjang dengan usia pembangunan di negara mullah itu. seandainya pemerintah kita menjalankan pembangunan fasilitas publik dengan serius, maka pastilah kondisi fasilitas publik di Indonesia bisa jadi lebih baik dibanding dengan Iran. Jika kita berasumsi pembangunan di Indonesia di mulai sejak jaman Presiden Suharto, maka kondisi kita seharusnya lebih baik, karena kita memulai lebih dahulu melalui program pembangunan yang dilaksanakan oleh negara. Sayangnya kondisi kita tidak demikian, sekali Indonesia tetap Indonesia. Pembangunan diindonesia tetap saja menjadi wacana sendiri yang amat panjang jika didiskusikan.

Salah satu aspek perbedaan yang cukup menonjol jika membandingkan pemandangan antara Jakarta dan Taheran adalah sulitnya kita menemukan gedung-gedung pencakar langit di sana. Namun jika urusan fasilitas publik ada berbagai aspek menonjol yang menarik jika diperbandingkan. Di Jakarta kita memiliki sarana angkutan publik Trans Jakarta, sementara di Taheran mereka memiliki Metro yang juga dipadati sepanjang hari oleh para penumpang sebagaimana halnya di Jakarta. Yang menarik lagi di Taheran dan Iran pada umumnya ticket metro disubsidi oleh pemerintah, sehingga tarifnya jauh dekat sama saja, yakni sekitar Rp 200. Selain metro di Taheran kita masih menemukan kereta bawah tanah yang juga tiketnya bersubsidi meskipun yang agak aneh pedagang asongan sering kali menawarkan baraang dagangaannya di dalam kereta bawah tanah tersebut.

Sebenarrnya dari segi fasilitas public Iran memang telah melakukan berbagai terobosan besar, karena kereta bawah tanah ternyata tidak hanya dibangun di Ibu kota, tetapi fasilitas semacam ini saat ini tengah dipersiapkan pula dibeberapa daerah, misalnya Ahwaz, Shiraz, Isfahan, Mashad, dan beberapa kota-kota penting lainnya. Pemandangan juga akan sangaat lain jika kita bepergian ke beberapa tempat di Iran dengan menggunakan bus kota, selain tiketnya yang murah, berlaku juga kebijakan pembedaan tempat bagi wanita dan pria. Wanita umumnya masuk dari pintu kanan belakang, dan tempat duduknya ada di bagian belakang, sedangkan priya menempati tempat duduk di kanan bagian muka. Mereka menaiki bus lewat pintu kanan muka. Meskipun pemandangan ini akan berbeda jika sepasang suami dan istri bepergian, karena pasangan tersebut boleh menempati kursi dibagian pria.

Tentu keadaan seperti ini tidak berlaku di kampus Shiraz University, karena di kampus batas antara pria dan wanita sedikit agak lebih longgar. Beberapa mahasiswi ada yang mempersoalkan tentang kebijakan pemisahan ini, mereka merasa bahwa pemisahan ini tidak menarik buat mereka, karena dimata mereka lelaki sama dengan wanita, sama-sama makhluk Tuhan yang dimulyakan.

Masih banyak pemandangan lain yang sangat khas Iran, jika kita berjalan-jalan di beberapa kota, kita akan menemukan jalan aspal yang berukuran lebar, mulus, setiap jalan didesain dua jalur namun terpisah satu dengan yang lain. Bahkan pemisahan itu juga dilakukan untuk kendaraan yang berukuran kecil dan besar seperti truck, bus, dengan sedan berukuran kecil. Ini terjadi dibeberapa tempat di Iran. Yang cukup menarik lagi adalah penerangan jalan. Ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi tingkat bahaya berlalu lintas. Terutama kecelakaan antara mobil kecil dan bus. Selain itu hampir sebagian besar jalan raya di Iran memiliki penerangan yang baik, hal ini termasuk di jalan-jalan utama yang lengang penduduknya. Sehingga orang yang bepergiaan merasa lebih aman dan nyaman. Ini sedikit agak berbeda dengan di ndonesia, dimana penerangan jalan pada umunya hanya terdapat di tempat-tempat tertentu yang dianggap penting, terutama terletak di daerah pemukiman manusia.
Tentu tindakan memberi penerangan jalan dilokasi yang tak dihuni manusia bisa saja dinilai inefisiensi dimata para pejabat di Indonesia.

Yang juga cukup menarik adalah taman kota yang banyak dijumpai di pinggiran jalan. Taman-taman seperti itu biasanya digunakan sebagai tempat duduk santai, terkadang dibeberapa tempat dilengkapi dengan air mancur, pepohonan nan rindang, permainan anak-anak, alat olah raga, bahkan terkadang di waktu-waktu tertentu sering kali dipakai sebagai tempat kemah terutama menjelang musim semi (summer). Selain itu taman kota sering kali menjadi tempat pilihan pavorit bagi warga Iran di musim semi untuk mendirikan tenda-tenda kecil sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Meraka biasanya selain bersantai bersama keluarga dengan membawa serta kendaraan pribadi roda empatnya, mereka juga ziarah ke tempat-tempat suci, sebagaimana pemandangan menarik ini dapat dilihat di Kota Suci Qom, dan beberapa tempat lainnya.

Fasilitas telp umum juga tidak luput saya amati, meskipun fasilitas yang satu ini tidak lagi banyak digunakan oleh anggota masyarakat akibat semaraknya kehadiran handphone. Hampir setiap anggota masyarakat memiliki handphone. Namun demikian fasilitas telp umum nampak sebagian besar masih utuh dan terpelihara secara baik. Tidak jarang masih ada satu dua orang yang menggunakan fasilitas telp koin itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar