Senin, 15 November 2010

Antusiasme Menyambut Hari Kemenangan Revolusi

Jauh hari sebelum saya ke Iran, seorang teman berkebangsaan Iran yang pernah berkunjung ke Yogyakarta untuk mengikuti seminar internasional di Universitas Gadjah Mada mengatakan jika saya dibulan Januari hingga Maret berada di Iran, maka akan banyak peristiwa penting yang akan saya saksikan. Salah satunya adalah perayaan hari kemenangan Revolusi Islam Iran yang telah memasuki usia ke 31 tahun dan kali ini jatuh pada tanggal 11 Februari, atau di kalender Iran perayaan itu dilakukan setiap tanggal 22 Bahman.

Beberapa hari sebelum hari H itu tiba, sejumlah teman di Institute for Short Course and Sabbatical tempat saya merancang berbagai kegiatan akademik, saya juga dapat penjelasan bahwa akan ada really atau pawai besar-besaran, dan di hari nasional itu semua kegiatan akan liburkan, seperti kantor dan sekolah. Pernyataan yang kurang lebih sama juga datang dari teman-teman Indonesia yang tinggal satu apartemen dengan saya, bahkan mereka mengingatkan saya agar jangan sampai melewati momen itu.

Seperti biasanya, kendati hari itu hari libur nasional, namun di pagi hari saya tetap ada sesi pertemuan dengan Dr. Farati, yang materinya akan mengulas lebih lanjut tentang marja’. Bagi saya materi ini penting, karena menurut keyakinan saya sebagai sosiolog, marja’ telah memberi kontribusi yang luar biasa besar di sepanjang sejarah kehidupan masyarakat Iran, termasuk sumbangannya bagi independensi Iran hingga hari ini. Pagi itu, dari dalam mobil taxi yang membawa saya ke institute, saya menyaksikan betapa lengangnya suasana berlalu lintas, pada hal biasanya lalu lalang kendaraan memadati kota Qum. Jalan-jalan nampak sepi, dan beberapa ruas jalan juga ditutup.

Tak lama, saya pun sampai di institute dan memulai kegiatan akademik saya bersama Dr. Farati. Tidak beberapa lama setelah kegiatan dimulai, dari kejauhan terdengar suara orang berorasi dari atas sebuah mobil. Nampaknya suara itu menjadi tanda bahwa kegiatan perayaan kemerdekaan akan dimulai. Dan setelah kegiatan akademik saya selesai, saya bersama seorang penerjemah yang selama ini telah membantu kelancaran kegiatan di Iran pun segera bergegegas menuju “Haram”. Seperti biasanya kamipun segera memesan taksi dan langsung meluncur ke pusat rally di Qom.
Sopir taxi pun mencari jalan agar dapat mengantarkan kami tepat ke lokasi rally tanpa harus terhambat oleh kemacetan dan padatnya lalu lintas menuju lokasi rally. Alhamdullilah taxipun akhirnya berhasil menghantarkan ke lokasi yang kami inginkan. Sayapun bergegas turun dari taxi agar segera dapat menyaksikan dan mengabadikan kegiatan rally yang telah saya nanti-nantikan itu. Dan kamipun berjalan menuju “Haram” tempat rally tengah berlangsung. Mendekati pusat rally, mulai nampak kerumunan orang berlalu-lalang. Lelaki, wanita, tua muda, dengan berbagai kostum nampak memadati lokasi rally. Bahkan dalam rally ini banyak orang tua yang membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil, baik dengan di gendong maupun dengan kereta dorong.

Tidak ada mobilisasi untuk menghadiri acara itu, tetapi nampak antusiasme masyarakat begitu luar biasa untuk mendatangi acara peringatan hari kemenangan “Revolusi Islam Iran” atas berbagai kekuatan imperialisme dan praktek kolonialisme. Nampak semua lapisan masyarakat tumpah ruah di lokasi rally yang dipusatkan di tempat suci utama di kota Qom, yaitu tempat suci Fatimah Ma’sumah. Berbagai foto, spanduk, bendera, yel-yel diusung oleh peserta rally. Sebagian besar saya lihat foto-foto itu bergambar Ayatollah Imam Khomeini, dan Rahbar Imam Khamenei, baik dalam posisi bersama maupun sendirian. Juga foto-foto para shuhada yang tengah di medan laga pertempuran Iran-Irak.

Yang tidak kalah seru arak-arakan juga dipenuhi oleh kibaran bendera Iran, dan tidak kalah menarik juga bendera Hisbullah dengan warna kuningnya. Nampak bahwa Iran dan Hisbullah memiliki hubungan yang sangat dekat. Mungkin bukan hanya karena sama-sama pengikut Shia’ah, atau karena Hasan Nasrallah pernah mengenyam pendidikan di salah satu hauzah yang ada di Qom Iran, atau bahkan karena bagaimana pun cikal bakal pasukan Hisbullah tidak bisa dilepaskan dari jasa Imam Khomeini. Namun sudah pasti di hati dan pikiran rakyat Iran bahwa kemenangan pasukan Hisbullah dalam perang selama 32 hari dengan pasukan Israel yang selama ini telah mempercundangi dunia Arab, dan Islam telah membangkitkan kepercayaan diri baru di kalangan dunia Islam, khusnya penganut Shi’ah. Oleh sebab itu, kehadiran bendera Hisbullah yang ikut menyemarakkan rally tentu memiliki maknanya tertentu di hati masyarakat Iran.

Di kerumunan rally juga nampak berbagai poster yang mengutuk Amerika dan Israel dengan tulisan pendek “Down with Amerika” dan “Down with Israel”. Jumlah poster kutukan terhadap dua negara ini cukup banyak. Ketika saya tanyakan kepada teman Iran saya tentang siapa musuh negara Iran? Dia menjawab dengan jelas dan tegas, musuh negara Iran ada tiga, “Amerika”, “Israel” dan “Inggris”. Ketika saya ajukan pertanyaan lain, bagaimana dengan “Jerman” dan “Prancis”, diapun menjawab tidak, negara kami tidak bermusuhan dengan dua negara itu. Mungkin jawaban ini maknanya akan bisa dimengerti lebih baik jika kita mau membaca sejarah kolonialisme dan imperialisme di Iran. Hubungan yang relatip lebih baik antara Iran dengan Prancis dan Jerman dibanding dengan hubungan Iran dengan Amerika, dan Inggris ini juga bisa dibuktikan lewat banyaknya jumlah mobil buatan Prancis dan Jerman yang hingga kini berseliweran di kota-kota Iran. Mungkin merek mobil Peugeot, Renault dan Mercedez yang jumlahnya relative masih cukup banyak di Iran itu bisa dijadikan salah satu bukti tentang tingkat kedalaman hubungan Iran dengan negara Prancis dan Jerman.

Selain poster kutukan terhadap Amerika dan Israel saya juga melihat bendera dan topi Amerika, di arak-arak oleh massa kerumunan rally. Ketika saya hendak memasuki ruang dalam “Haram” saya bertemu dengan seseorang yang membawa poster bergambar Presiden Bush dan Obama dengan topeng, gigi drakula, dan ular berbisa diwajahnya. Di poster itu, di sebelah gambar Bush tertulis kata off, dan pada Obama tertulis kata on yang kira-kira menyimbolkan bahwa Kebijakan Presiden Obama tak beda dengan pendahulunya, Presiden Bush. Kepemimpinan di Amerika hanya berganti orang, tetapi kebijakannya tetap sama, yakni sama-sama penghisap darah (drakula) dan membahayakan (ular berbisa).

Saat memasuki bangunan “Haram” saya pun sempat melihat dari kejauhan orasi yang sedang berlangsung, sayangnya isi orasi dinyatakan dalam bahasa Persi, sehingga saya akhirnya memutuskan untuk mengambil gambar di sekitar bangunan “Haram” saja. Tidak lama setelah itu, kumandang azan dzuhur dari dalam komplek masjid “Haram” pun terdengar. Peserta rally pun mulai membubarkan diri, dan saya bersama istri, juga teman Iran segera mencari jalan untuk pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar