Sabtu, 13 November 2010

Babak Baru Perang Iran vs Barat

Konstruksi negatif media barat atas Iran berlangsung sangat massif dan sistematis. Iran oleh media barat di gambarkan sebagai negara teroris, poros kejahatan, anti demokrasi, dan negara yang tidak stabil. Sehingga wajar jika akibat konstruksi media yang demikian kuat banyak orang alergi dan terpengaruh konstruksi itu. Di dunia kampus, ternyata konstruksi itu pun berlangsung masif, meskipun banyak orang meyakini bahwa kampus adalah lembaga ilmu yang seharusnya memberdayakan akal sehat dan daya kritis. Sayangnya kampus pun tidak selalu dapat melampaui segala bentuk stigma dan konstruksi politik. Setidaknya konstruksi itupun saya rasakan menjelang keberangkatan saya ke Iran. Beberapa teman dengan nada bercanda mengolok-olok saya dengan predikat teroris seperti Alkaeda sepulang dari Iran, ada juga yang menstigma ekstrimis Islam, namun berbagai olokkan itu pun saya balas dengan canda tawa, bahwa sepulang dari Iran yang ditakutkan bukan teroris, melainkan kemungkinan melakukan kawin kontrak atau mut’ah sebagaimana di jaman perang. Ada juga kolega yang tidak respek dengan rencana saya ke Iran karena baginya mengapa harus ke Iran, pada hal jelas-jelas kehidupan wanita di negeri sebagaimana informasi yang diperoleh dari teman Iran nya saat studi di German sangat membatasi kehidupan politik kaum wanitanya.

Begitulah beberapa konstruksi negatif tentang negeri Iran. Padahal di negeri Iran saya melihat wanita dengan berbagai warna warni penampilan dalam berbagai medan kehidupannya. Di bandara Imam Khomeini saya melihat seorang ibu dengan pakaian khas chadurnya berwarna hitam-hitam bekerja sebagai petugas pengawas barang-barang yang dibawa penumpang, di kota Qom saya juga melihat wanita Iran menjadi sopir taksi, aktivis perempuan, bekerja di toko farmasi, mengendarai mobil sendiri, bahkan tampil modis dengan dandanan maksimal dengan rambut berjambul tertutup scarf nya. Meski saya juga mendengar kekerasan dalam rumah tangga juga masih terjadi di Iran. Namun secara garis besar budaya Iran tampaknya menempatkan wanita di tempat yang cukup tinggi, dan undang-undang menjamin posisinya itu.

Kendati demikian Iran kini tengah menghadapi gempuran budaya yang serius. Apalagi setelah Iran mendeklarasikan diri sebagai negara Islam. Usia revolusi Islam Iran hingga kini sudah memasuki masa 31 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang tidak pendek, dan tidak mungkin dengan usia itu sebuah negara dapat bertahan hanya dengan mengandalkan kekutan militer semata. Di balik revolusi Islam negara Iran pasti memiliki infrastruktur kebudayaan, sistem pengetahuan dan nilai yang menopangnya. Apalagi masa 31 tahun itu dijalaninya dengan berbagai perjuangan yang keras, mengingat negara-negara barat yang dipimpin Negara Superpower Amerika terus menerus menjatuhkan berbagai bentuk sangsi politik dan ekonominya melalui lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Tekanan demi tekanan terus dihadapi negara Iran, namun hingga kini bangsa Iran tetap memiliki daya tahan yang luar biasa. Independensi yang sejak awal ditegaskan oleh bapak Revolusi Iran Ayatullah Ruhullah Khomeini hingga kini terus bergema. Kecintaan sebagian besar masyarakat Iran akan figure dan ajaran Imam Khomeini pun begitu tinggi. Apalagi sosok sang imam di mata masyarakat Iran memang memiliki begitu banyak kelebihan, seperti dari segi keberaniannya, kesederhanaanya, kecerdasannya diberbagai bidang pengetahuan, khusunya agama, irfan dan filsafat. Rasanya sulit dibayangkan bahwa negara yang secara sistematis ditekan oleh berbagai bentuk sangsi ekonomi dan politik oleh negara-negara maju ternyata tetap mampu menorehkan berbagai prestasi pembangunannya.

Iran saat ini bukanlah seperti Iran sepuluh tahun yang lalu. Berbagai prestasi mereka raih dengan kekuatan sendiri, tanpa bergantung pada negara barat, bahkan sebaliknya kekayaan financial Iran di bank-bank asing hingga kini masih banyak yang dibekukan dengan berbagai dalih pembekuan, misalnya stigma untuk mensponsori terorisme, jihad, dan lain-lain. Iran kini jauh lebih mampu melindungi dirinya secara militer karena kepemilikannya akan berbagai macam bentuk rudal, peluru kendali buatan sendiri yang dapat menjangkau wilayah negara-negara barat yang menjadi musuh-musuh Iran, selain kepemilikan merreka atas satelit dan teknologi militer canggih lainnya yang juga merupakan buah dari produk usaha sendiri.
Selain itu negara Iran juga berdikari dalam banyak produk teknologi dan barang-barang untuk kepentingan konsumsi sehari-hari. Mobil misalnya, mereka memproduk berbagai jenis merk dan ukuran mobil, seperti: Saipa, Iran Khodro, Zantia, Peykan, Zamyad, Pride, Tondar 90 mulai dari ukuran sedan, hingga ukuran besar seperti bus, meski mobil dan kendaraan assembling dalam waktu yang bersamaan juga mudah ditemukan di kota-kota Iran, seperti Peuguot, Mercedes, Renault, KIA, motor merek Honda, dan lain-lain, tanpa melupakan pentingnya mengembangkan produk sendiri sebagai tuan di rumah sendiri. Belum lagi kemajuan usaha dibidang jasa, seperti perbankan, sebagaimana tampil lewat Bank Sepha, Mellat, dan lain-lain.

Dinamika kemajuan di berbagai bidang kehidupan sebagaimana dijelaskan di atas seolah menunjukkan bahwa bangsa Iran bukan bangsa yang mudah terganggu dengan berbagai macam tekanan dari negeri adikuasa. Belum lagi pengalaman perang selama lebih dari 8 tahun dengan negara Irak di bawah Saddam Husein yang ketika itu memiliki kekuatan militer besar dan didukung oleh Amerika dan sekutunya. Oleh sebab itu, ancaman militer tidak lagi menjadi hantu bagi Iran, meskipun kewaspadaan dan kesiapan menangkal itu selalu ada pada mereka. Meski negara adikuasa Amerika dan Barat tidak mudah menggertak Iran dengan kekuatan militer, namun peperangan dalam bentuk budaya sebenarnya telah dilancarkan secara mondial dan sistematis oleh mereka.

Setidaknya hal tersebut terbukti dengan adanya lebih dari 41 siaran televisi yang dipancarkan lewat satelit dari negara-negara barat dengan menggunakan bahasa Persia. Program siaran itu meliputi berita, kebudayaan, hiburan, konsumerisme, iklan, agama Kristen, yang kesemuanya sangat propokatif dan mengajak untuk berpikir dan berprilaku dengan gaya budaya barat (westernisasi). Provokasi barat melalui media ini sangat gencar karena nilai dan budaya yang dipancarkan sangat berlawanan dengan nilai-nilai dan ideology Islam yang dianut masyarakat Islam Shi’ah Iran.
Menghadapi gempuran media barat itu Republik Islam Iran tidak tinggal diam, gempuran media pun mereka respon dengan cara yang tidak kalah canggihnya. Untuk menghadapi invasi, infiltrasi budaya yang sangat halus itu, maka mereka pun memperkuat diri dengan 40 cannel televisi. Adapun pembagian channel sebagaimana dijelaskan Dr. Shahrial Soejaipour sebagai berikut. Setiap provinsi di Iran memiliki 1 channel televisi, sehingga 30 provisinsi di Iran keseluruhan memiliki jumlah 30 channel televisi. Selain itu Iran memiliki 7 channel televisi yang bersifat nasional, yang menyiarkan segala hal yang memiliki lingkup nasional. Selain channel-channel di atas mereka pun memiliki 10 channel televise internasional, yang masing-masing adalah: Press TV, dipancarkan dalam bahasa Inggris, Al-Alam, dalam bahasa Arab, Al-Kautsar, Jame-jame 1, dalam bahasa Persia, Jame-jame 2, dalam bahasa Persia, Sahar 1, dan 2, dalam berbagai macam bahasa, News Network, dalam bahasa Pesia dan dipancarkan 24 jam, Thaqalain, di semua bahasa, Arab, Inggris, dan Persia, dan Qur’an TV, juga dalam berbagai bahasa hanya berisi seputar Qur’an.

Dari data di atas nampak bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang jauh dari stigma negatip yang selama ini dikonstruksikan media barat, bahkan memilih independen di atas jerih payahnya sendiri, tanpa terjebak dalam slogan manis politik untuk menutupi borok eksploitasi ekonomi politik pada negara lain, sebagaimana dilakukan oleh negara imperialis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar