Sabtu, 13 November 2010

Islamic Research Institute for Culture and Thought

Seorang teman Indonesia yang telah lama belajar filsafat di Qum bersemangat mengajak saya menemui salah seorang ahli ekonomi islam di IICT (Islamic Research Institute for Culture and Thought). Dia menyadari bahwa wacana tentang ekonomi Islam relevan dengan kajian saya, apalagi kegiatan Sabbatical Leave yang disponsori DIKTI yang saya lakukan mengambil tema tentang hubungan agama dan ekonomi. Oleh sebab itu, dia tidak ingin membuang waktu terlalu lama dan ingin segera membawa saya ke IICT guna memperkenalkan saya pada peneliti dan pemikir “Ekonomi Islam” yang ada disana.

Tanpa melakukan konsultasi dan konfirmasi terlebih dahulu dengan Institute for Short Course and Sabbatical Leave, salah satu markas tempat saya menjalankan kegiatan sabbatical saya di Qom, kami langsung berangkat mengunjungi IICT untuk menemui salah seorang pemikir “Ekonomi Islam” di sana. Betul, siang itu kamipun bergegas tanpa membuang waktu sedikitpun langsung berangkat dengan sebuah mobil taxi ke markaz IICT. Lembaga ini menurut penjelasan teman Indonesia yang tengah studi master di salah satu institusi pendidikan yang ada di Qom, memang memiliki banyak pakar di berbagai bidang kajian, seperti Filsafat Barat dan Timur, Hukum Islam, Ekonomi Islam, dll. Nasib memang mujur hari itu, orang yang hendak kami temui ternyata ada di institute, dia kebetulan baru saja selesai melaksanakan sholat Dzuhur. Tak lama kami pun bertemu dan sambutannya sangat hangat.

Saat menunggu di luar, saya sempat berdecak kagum melihat jumlah buku yang begitu banyak dipajang dietalase dinding bagian muka Institute, persisnya di ruang depan gedung. Berbagai buku yang dipampang diklasifikasi berdasarkan tema-tema bahasan. Buku-buku itu sebagian besar tertulis dalam bahasa Parsi, dan Arab. Namun demikian saya setidaknya masih bisa meraba-raba beberapa isi buku itu dari judul dan kover buku. Dengan jumlah produksi buku yang begitu banyak saya membayangkan betapa produktifnya lembaga ini, tentu ini sedikit banyak mengindikasikan bahwa Iran bukan hanya negeri yang ingin sekedar berbeda dengan Amerika atau kiblat dunia lainnya. Iran juga bukan hanya negara yang sekedar berani melawan arogansi Barat dan menolak berbagai pemikiran yang berasal dari barat dengan apriori. Tetapi rupanya Iran sebagaimana yang saya amati seolah ingin menegaskan berbagai sikapnya pada sandaran ilmiah yang komprehensif terhadap berbagai sisi persoalan. Demikian setidaknya pandangan saya ketika melihat dari dekat berbagai center of excellent yang berkembang di Iran, semisal IICT.

Lembaga penelitian semacam IICT ini cukup menginspirasi saya dari berbagai aspeknya. Dari segi jumlah peneliti, institusi ini memiliki lebih dari seratus jumlah tenaga peneliti, keseluruhan peneliti dilembaga tersebut diwajibkan menghasilkan karyanya, seperti dalam bentuk jurnal, buku, dll. Disamping itu, lembaga ini juga bermitra dengan pemerintah meskipun seorang peneliti yang bekerja di sana yang juga staf pengajar Filsafat di Universitas Taheran, mengatakan bahwa IICT bukan lembaga partisan langsung pemerintah. Selain itu lembaga ini memiliki cabang di Ibu kota Iran, Taheran. Dilain kesempatan saya juga sempat membeli salah satu buku filsafat karya salah seorang staf peneliti di lembaga ini di salah satu gerai toko buku yang mereka miliki. Tidak hanya itu saja, dari segi fasilitas, institute ini memiliki perpustakaan yang sangat memadahi, dengan koleksi berbagai jenis buku yang tertulis dalam tiga bahasa, yaitu Persia, Inggris dan Arab. Untuk menjaga produktivitas dan konsentrasi dalam bekerja, lembaga ini mendesign kotak berukuran dua kali dua meter yang digunakan sebagai ruang kerja bagi setiap peneliti. Untuk menggenjot produktivitas, mengembangkan wawasan, dan mengembangkan jaringan kerja mereka pun memiliki akses internet yang berkecepatan tinggi yang sangat dibutuhkan bagi kerja research. Akses internet berkecepatan tinggi ini tentu merupakan sesuatu yang agak langka di Iran, karena pada umumnya hampir di seantero Iran akses internet umumnya berjalan sangat lambat, menurut berbagai kolega hal ini disebabkan karena alasan sosial dan politik yang diberlakukan negara kepada berbagai elemen masyarakat dan institusi. Ketika berada di University of Shiraz, saya juga mengalami hal yang sama.

Selain menjadi markasnya para peneliti, lembaga IICT ini juga memproduksi calon master dibidang theologi dan filsafat islam, sejauh ini lembaga tidak menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat sarjana. oleh sebab itu, bisa ditegaskan bahwaa IICT ini bentuknya adalah kombinasi antara lembaga research dengan lembaga pendidikan yang mencetak calon master. Fasilitas lain yang cukup menarik adalah bahwa mereka memiliki ruang seminar berukuran besar, berkapasitas 500 orang yang bertempat di ruang bawah tanah, dan ruang diskusi kecil yang berkapasitas tidak lebih dari 25 orang. Menurut Dr. Shoejaipoer ruang diskusi berkapasitas terbatas itu dimaksudkan untuk mendiskusikan dan mematangkan berbagai topik research yang tengah diangkat peneliti, sehingga outputnya kelak bisa dipertanggungjawabkan. Saya beruntung karena mendapat rekomendasi Institute Sabbatical Leave untuk berpatner dengan salah seorang peneliti ekonomi di IICT, selain itu saya juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa sekolah theologi IICT.

Para mahasiswa yang tengah melanjutkan studi untuk mengambil jenjang master di institute ini hampir keseluruhannya berstatus telah menikah, dan sore hari sehabis shalat maghrib di suatu sore itu materi yang kami diskusikan adalah poligami ditinjau dari berbagai perspektif; baik sunni, syiah dan praktek empirisnya di masyarakat Iran dan Indonesia. Pemandangan lain yang cukup mengesankan saya adalah bagaimana sebagian dari mereka tampil dengan pakaian lengkap bersama turban penutup kepalanya, sementara di sisi lain mereka pun memiiliki apresiasi yang tinggi dalam mendayagunakan teknologi informasi, sebagaimana nampak pada penggunaan laptop yang selalu menemani kemanapu mereka pergi. Laptop, jubah dan turban yang mereka kenakan seolah mewakili koeksistensi damai antara lembaga agama yang selalu diidentikkan sebagai simbol dunia tradisional di satu sisi dengan laptop yang mewakili dunia modern. Simbol-simbol tersebut seolah mau mengatakan bahwa untuk menjadi modern seseorang tidak harus meninggalakan tradisi keberagamaannya. Relasi antara teknologi dan agama tidak selalu digambarkan dengan dua hal yang saling bertolak belakang. Teknologi informasi dalam kadar tentu tetap bisa digunakan untuk menghasilkan wawasan keagamaan yang lebih segar.

Itulah sebagian fenomena sosial dan kebudayaan yang saya saksikan di Iran, negeri yang selama ini terus dideskreditkan secara sistematis sebagai negara teroris, antidemokrasi, dan terbelakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar