Senin, 15 November 2010

Berkunjung ke Makam Hajrat Fatimah Ma’sumah

Setelah pagi hari menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk memperkenalkan diri dan berkenalan dengan beberapa experts dan staf di Institute of Short Course and Sabbatical milik Universitas Jamiatul Mustafa Internasional, tibalah waktunya bagi saya untuk berjalan-jalan di seputar tempat penting di kota suci Qom. Akhirnya di sore hari itu salah seorang pelajar agama (thalabeh) senior dari Indonesia yang telah lebih dari 20 tahun bermukim di Iran menjemput saya di apartemen tempat kediaman saya, persisnya di Ozodegon. Pelajar agama tersebut memiliki panggilaan akrab Abu Amar. Menurut biografi singkatnya yang diceritakan kepada saya, saat ini ia tengah menyelesaikan jenjang pendidikannya untuk menjadi seorang Mujtahid.
Jenjang ini merupakan jenjang yang cukup tinggi dalam struktur pendidikaan di hauzah ilmiyah.

Sebagaimana diketahui bahwa jenjang tersebut secara piramida dapat dibagi menjadi empat lapis. Pertama atau tingkat tertinggi adalah Marja’, jenjang Kedua, adalah Mujtahid. Orang yang telah meraih jenjang ini, maka dia dianggap telah memiliki otoritas dalam bidang agama, sehingga memiliki hak untuk tidak taklid dalam bidang agama. Ketiga, adalah guru atau lebih popular dengan panggilan Ustadz. Keempat adalah santri atau murid, yang dalam bahasa popular di Iran dikenal dengan talabeh.
Bersama dia saya akhirnya berkesempatan berkunjung ke Hajrat Fatimah Ma’sumah yang selalu padad dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai tempat di Iran, dan manca negara.

Tempat ini bukan hanya dikhususkan bagi penganut shi’ah namun tempat ini juga kerap dikunjungi oleh orang Islam dari mazhab sunni sekalipun. Menurut Abu Ammar banyak pejabat Indonesia jika datang ke Iran, mereka menyempatkan diri untuk berziarah di tempat yang sangat disucikan bagi penganut shi’ah di Iran khususnya dan penganut shi’ah dari berbagai belahan dunia umumnya. Dikalangan penganut shiah di Iran tempat ini dianggap sebagai salah satu tempat yang mustazab untuk memohon kepada Allah. Ada keyakinaan yang kuat bahwa bila berdoa ditempat ini dengan khusuk, nisacaya doa akan terkabul. Beberapa orang Iran yang saya kenal juga membenarkan opini ini, setidaknya hal ini seperti dikemukakan oleh seorang Professor Agriculture dari Shiraz University yang sempat mengunjungi saya di apartemen Shahid Bahesti, number two, tempat saya tinggal selama di Qom. Bahkan sang Professor juga menjelaskan kepada saya tentang tradisi yang biasa dijalankannya untuk berziarah mengunjungi tempat-tempat suci Islam Shia’ah.

Dia juga menceritakan kepada saya bahwa sosok Fatimah Ma’sumah adalah salah satu figure pemimpin baginya, bahkan bagi masyarakat Islam Shiah di Iran. Berziarah ke makamnya juga dianggap sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada sosok suci tersebut. Makanya tidak mengherankan jika di Iran berkembang suatu pandangan bahwa kendatipun kota Qom iklimnya ekstrim (panas atau dingin sekali) dan airnya sangat bergaram, namun kota tersebut tetap ramai dan hidup, hal ini semata-mata adalah karena alasan bahwa kadar kecintaan masyarakat Iran yang sangat besar kepada Fatimah Ma’sumah. Alasan yang sama juga menjadi motiv yang menggerakkan mengapa Ayatollah Mar’asyi Najafi (seorang mullah dari Irak) memilih hijrah dari tempat tinggalnya di Najaf, Irak menuju ke kota suci Qom.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa saat ini dekat komplek Holy Shrain Fatimah Ma’sumah sangat padad sekali. Pembangunan di seputar komplek Holy shrain juga terus berkembang. Selain di daerah itu toko-toko juga telah berjajar padad, namun tidak jauh dari komplek tersebut berdiri banyak kantor paara marja’ di Iran. Tidak hanya berbagai situasi yang telah dijelaskan di atas saja, di makam suci Fatimah Ma’sumah dikebumikan sejumlah tokoh penting Iran, misalnya Ayatollah Burujerdi, gurunya Imam Khomeini, Allamah Thabataba’i, Murthada Muthahhari, serta masih banyak yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar