Senin, 15 November 2010

Berkunjung ke Perpustakaan Ayatollah Mar’ashi al-Najafi

Persisnya tanggal 11 Januari 2010 lalu, saya berkesempatan mengunjungi sebuah perpustakaan terbesar milik seorang mullah bernama Ayatollah Mar’ashi al-Najafi. Sudah dapat diterka bahwa nama al-Najafi menunjukkan suatu wilayah atau tempat di Irak yaitu kota Najaf yang hingga kini dikenal sebagai basis bagi para pengikut Shi’ah di wilayah Irak. Tentu menjadi tanda tanya mengapa Seorang Ayatollah yang terpandang di daerah Najaf Irak membangun perpustakaannya di Iran, khususnya di kota Qum? Bagi orang Iran, dan penganut Syi’ah kota Qom dikenal sebagai kota suci. Di kota ini terdapat makam cucu Rasullullah SAW yang bernama Hajrat Fatimah Ma’sumah yang merupakan adik Imam Reza yang diyakini sebagai Imam ke 8 dalam tradisi Shi’ah.

Kecintaan orang Shi’ah terhadap Fatimah luar biasa dalamnya, karena alasan itu pula mengapa Ayatollah Mar’ashi al-Najafi hijrah dari al-Najafi Irak menuju ke kota suci Qum. Padahal di Najaf sang ayatollah memiliki status sosial yang tinggi, popularitas yang kuat, serta posisi kekuasaan sosial yang solid. Namun inilah faktanya, kecintaan religius menjadi motiv utama sang ayatollah. Menurut cerita salah seorang Indonesia yang telah tinggal puluhan tahun di Iran, ada suatu makna dan kebanggan tersendiri bagi seorang Mullah jika dapat meninggal dunia di Qum, apalagi bisa disemayamkan di komplek pemakaman suci Fatimah Maksumah. Oleh sebab itu, bisa dimengerti jika sejumlah Ayatollah banyak dimakamkan di sana, seperti Ayatollah Burujerdi, guru Imam Khomeini, Ayatollah Tabataba’i yang dikenal sebagai filsuf dan penulis Tafsir Al-Mizan, shahid Murtadha Muthahhari, salah seorang filsuf produktif yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh dan arsitek revolusi Islam Iran.

Perpustakaan Ayatollah Mar’ashi al-Najafi tidak pernah lengang dari pengunjung. Perpustakaan milik Ayatollah Mar’ashi Najafi ini memiliki koleksi buku yang sangat kaya bukan saja dari segi jumlah, namun dari segi kualitas dan nilai buku yang sangat langka. Ini juga seolah bisa menjadi salah satu simbol penting tentang betapa tingginya kecintaan seorang Ayatollah terhadap ilmu pengetahuan, dan keluasaan wawasan pengetahuannya. Bayangkan saja diperpustakaan milik Ayatollah Mar’ahsi ini tersimpan kitab Zabur yang masih ditulis dengan menggunakan bahasa latin, berbagai kitab suci kuno, dan Al-Quran kuno yang ditulis dengan berbagai macam gaya penulisan, kitab astronomi karya salah seorang pemikir besar Islam Al-Thusi, bahkan buku tulisan tangan karya filsuf besar Islam paling mutakhir, Mulla Sadra juga tersimpan di perpustakaan ini.


Begitu penting dan tingginya nilai karya-karya dalam perpustakaan milik Ayatollah Mar’ashi Najafi ini, maka untuk menyimpan dan merawatnya berbagai pengamanan dan teknologi modern lengkap dengan tenaga ahlinya terdapat diperpustakaan ini. Dari segi pengamanan perpustakaan ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga bagian penting dan tertentu dari perpustakaan ini menurut penjelasan dari petugas perpustakaan akan terhindar dari kerusakan akibat bom sekalipun. Untuk perawatan, saya dan beberapa teman dari Institute of Short Course and Sabbatical Leave diperlihatkan berbagai teknologi canggih mulai dari bagaimana cara untuk merestorasi buku yang hancur dimakan usia, juga bagaimana teknik duplikasi dengan teknologi microfilm, bagaimana teknologi penjilitan serta pewarnaan kertas sehingga restorasi tidak menghilangkan kekunoan nilai buku, bahkan perpustakaan ini bisa dibilang telah dilengkapi dengan sarana rumah sakit buku, sehingga buku benar-benar terjaga dari kepunahan akibat berbagai factor alam dan tangan jahil manusia.

Pada kesempatan kunjungan singkat itu pula salah seorang petugas perpustakaan yang amat professional dan mencintai pekerjannya menjelaskan kepada kami bahwa untuk mendapatkan berbagai koleksi yang amat bernilai ini sang Ayatollah melakukan berbagai ikhtiar, misalnya mengurangi kebutuhan konsumsinya sehingga dengan demikian memungkin dirinya untuk membeli berbagai buku, tidak jarang untuk mendapatkan kitab tertentu ia melakukannya dengan cara berdoa dan bermunajat kepada Allah sampai bertahun-tahun hingga buku yang diinginkannya didapat. Berbagai ikhtiar ini menunjukkan bahwa tidak semua buku didapat dengan cara membeli, bahkan ada pula yang diberikan oleh seseorang secara khusus kepadanya.

Fenomena kezuhudan ini menunjukkan betapa tinggi tingkat kecintaan dan penghargaan seorang Mullah, khususnya Ayatollah Mar’ashi terhadap ilmu pengetahuan, dan warisan intelektual sepanjang zaman. Namun, jika disadari lebih dalam sebenarnya semua usaha yang dilakukannya tidak lain ada dibawah kerangka semangat dan kecintaan transendentalnya kepada Tuhan, Rasullullah, Nabi dan para kekasih Allah. Termasuk keputusannya untuk meninggalkan Najaf-Irak dan memilih Qom sebagai tempat tinggalnya ketika itu. Meskipun alamnya keras, kandungan garam pada air juga sangat tinggi sehingga tidak cocok bagi kesehatan kulit manusia. Mungkin semua itu dilakukan Ayatollah Mar’ashi sebagai persembahan tertingginya terhadap sang Khalik, kecintaannya kepada Nabi, dan keluarganya, termasuk Fatimah-Ma’sumah yang dimakamkan di kota suci Qom, Iran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar